
Malam itu, Ugi sudah bersiap pulang, karena dia sift siang, sehingga jam sepuluh malam adalah jam pergantian sift.
"Gi, elo mau mampir-mampir dulu ga?" tanya Guntur tiba-tiba. Kebetulan hari ini mereka masuk kerja satu sift.
"Engga bang. Kenapa emang nya?" tanya Ugi.
"Gue nebeng ya." kata Guntur.
"Oh, iya bang."
"Mobil gue lagi di bengkel, motor gue dipake istri buat jemput sekolah sama nganter ngaji anak-anak soalnya." kata Guntur.
"Siap bang. Ayok." ajak Ugi.
Ugi dan Guntur melangkah menuju parkiran dan mengambil motor Ugi. Ugi mengemudi akan motornya, lalu Guntur mengajak mereka mampir makan dulu di sebuah angkringan.
"Bini lo kan ga di rumah, udah mending makan disini dulu aj." kata Guntur.
"Iya sih. Baru ditinggal sehari, rasanya udah setahun bang." kata Ugi sambil menggigit mendoan.
"Heleh, jangankan elo yang terbilang masih pengantin baru, belum punya anak pula, gue aja nih yang udah nikah bertahun-tahun dan berbuntut tiga, kalo ditinggal bini pulkam, rasanya bertahun-tahun ditinggalinnya. Hahaha, dapur udah jadi kaya pasar, berantakan, rumah kaya kapal pecah, ga ada yang beresin, terus gue juga ga keurus buat makannya. Makannya, gue tu salut sama si Dewa, dia ditinggal mati bininya, masih bisa aja tu anak ngurus rumah, ngurus anak, ngurus diri sendiri juga bisa." kata Guntur.
"Iya ya bang, Mas Dewa emang belum ada niatan buat nikah lagi bang?" pancing Ugi mengorek informasi dari mulut Guntur secara langsung.
"Belum. Katanya sih, masih pingin nunggu sampe seribu hari kepergian istrinya." kata Guntur.
"Lama dong bang, padahal ini baru dapet berapa lama bang?" tanya Ugi.
"Baru juga dapet setahun. Kalau seribu hari, perkiraan kan sekitar hampir tiga tahunan. Berarti masih dua tahunan lagi." kata Guntur.
"Ehm, lumayan lama juga ya?" gumam Ugi.
"aya gitu deh, sebenarnya udah ada beberapa wanita yang gue tawarin ke dia, dia juga bilang, udah ada beberapa wanita yang lagi deket sama dia, tapi menurut dia belum ada yang respek." jawab Guntur sambil menyeruput susu jahenya.
"Jelas ga respek, karena dia nunggu jandanya Melati kan? Apa iya aku harus mengalah demi mas Dewa dan anak-anak nya? Egoiskah aku? Bahkan sampe detik ini, belum ada benih tinta di dalam rahimnya." batin Ugi.
"Gi... Ugi." panggil Guntur yang ternyata sudah memanggilnya sejak tadi, Tetapi Ugi justru melamun, sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Eh, ya bang? Kenapa?" jawab Ugi tergagap.
"Udha yuk, pulang. Bini gue keburu nunggu nih. Udah di WA gue." kata Guntur.
"Ok bang, siap." jawab Ugi.
__ADS_1
Gunturpun mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan dan minuman mereka. Lalu Ugi melajukan motor legend nya menerjang angin malam. Hingga saat masuk perumahan tempat Guntur tinggal, Ugi melihat kepulan asap tebal yang tak jauh dari lokasi tempat dia berada.
"Bang, itu ada asep tebel, kaya ada kebakaran ya bang?" kata Ugi menunjuk ke sebuah arah. Gunturpun mengikuti telunjuk Ugi, dan memang benar apa yang dikatakan Ugi.
"Iya Gi. Jelas itu kebakaran, kita langsung ke sana aja Gi." titah Guntur.
"Ya bang."
Sesampainya di TKP, ada beberapa warga yang sibuk mbawa ember berisi air untuk memadamkan api, namun, api terlanjur besar membakar sebuah rumah.
"Tolong pak, didalam ada ibu saya, ibu saya struk ga bisa jalan, saya ga bisa bawa ibu saya keluar pak." tangis seorang gadis diantara kerumunan warga. Namun beberapa warga enggan untuk menolong, karena mereka tau bahwa akan beresiko jika menolong ibu gadis itu.
Ugi melihat gadis itu, dan dia mengenali gadis itu, hatinya tergerak untuk menerobos kobaran api yang menyala cukup besar, untuk menolong ibu gadis itu.
"Laili?" gumam Ugi.
"Tunggu sini bang." kata Ugi segera turun dari motornya, dengan mengenaskan jaket dan helmnya, Ugi berlari menerobos kobaran api.
"Gi, mau kemana Lo? Jangan nekad, bahaya!" teriak Guntur, namun teriakan Guntur tak diindahkan Ugi.
Tak lama setelah Ugi masuk ke dalam kobaran api, Mobil Damkar sudah memasuki lokasi kejadian,
"Pak, tolong teman saya, tadi teman saya nekad menerobos masuk untuk menyelamatkan ibunya mbak ini " kata Guntur sambil menunjuk Laili yang terus menangis histeris.
"Baik." jawab Petugas damkar.
Sedangkan di dalam, Ugi mencoba mencari orang yang dimaksud Laili.
"Halo, bu, ibu dimana uhuk, uhuk?" teriak Ugi sambil berusaha menghindari beberapa kayu yang jatuh karena terbakar.
"Tolong nak, saya disini." ada jawaban kecil di sebuah ruangan. Ugi segera berlari keruangan itu, dan ternyata benar, ada seorang wanita dengan tubuh cukup besar masih terbaring di atas kasur sambil tebatuk-batuk.
"Ibu, mari saya bantu." Ugi segera mencari alat untuk bisa membawa ibu berbadan besar itu keluar dari kamarnya. Lalu Ugi menemukan sebuah kursi roda di dekat almari, lalu segera dia ambil dan dia bantu ibu itu untuk duduk di kursi roda itu. Ugi segera mendorong kursi roda itu keluar dari kamar dengan membungkukkan badannya demi melindungi tubuh ibu itu dari beberapa serpihan benda yang terbakar.
Sesampainya di ruang tengah, tim damkar sudah tiba, dan Ugi juga sudah mulai tampak, namun tiba-tiba sebuah balok berukuran besar jatuh menimpa punggungnya, dan Ugi mendorong sekuat tenaga kursi roda itu agar segera diamankan oleh tim damkar. Beberapa tim damkar menolong Ugi yang tersungkur karena kejatuhan benda berat itu, dan beberapa membawa ibu itu keluar dari kobaran api.
"Yaa Allah, ibu. Alhamdulillah." teriak Laili sambil berlari memeluk ibunya yang lemah dna hampir pingsan karena terlalu banyak menghirup asap. Dan tak berselang lama beberapa tim damkar menolong tubuh Ugi keluar dari kobaran itu untuk segera diberi pertolongan dan dibawa ke rumah sakit.
"Gi, Ugi. Astaghfirullah." teriak Guntur saat melihat keadaan Ugi yang memprihatinkan.
"Ugi?" batin Laili saat mendengar teriakan Guntur pada pria yang sudah menolong ibunya. Lailipu. berlari ke arah laki-laki itu.
"Ugi?" pekik Laili yang tak percaya bahwa itu adalah temannya saat di SMA dulu.
__ADS_1
"Kamu mengenalnya?" tanya Guntur.
"Dia teman saya." jawab Laili.
"Kita harus bawa mereka ke rumah sakit." kata Guntur.
"Ya mas." jawab Laili.
Mobil ambulance telah datang, membawa Ugi dan ibu Laili ke rumah sakit terdekat. Sedangkan rumah Laili ditangani tim damkar dan beberapa warga sekitar.
πππ
Sesampainya di rumah sakit, Guntur baru sadar bahwa ponsel Ugi tadi dikantongi Ugi, namun saat di cari, ternyata ponsel Ugi tidak ada, kemungkinan ponselnya jatuh. Gunturpun ingat oleh Dewa, pasti Dewa punya nomernya Melati.
πDewa
'Halo, ada apa bro?'
"Elo punya nomernya Melati kan? Gue minta, penting." kata Guntur dengan panik.
'Ya, gue punya. Ada apa emangnya?' tanya Dewa kepo.
"Entar gue ceritain, kirimin dulu nomernya."
'Okey.'
Dewa sudah mengirim nomer WA Melati, lalu Guntur segera menghubungi Melati, namun nomer Melati tidak aktif. Gunturpun mencoba menghubungi lewat telepon seluler, tetapi tetap aja nihil hasilnya.
"Keluarga Mugi Raharja." panggil seorang Dokter di ruang IGD.
"Saya abangnya. Bagaimana keadaannya dok?" tanya Guntur.
"Keadaan pasien terbilang cukup kritis ya pak. Karena ada luka bakar cukup serius pada bagian punggungnya, yang menyebabkan tulang belakangnya mengalami cidera." kata Dokter.
"Apakah lukanya mempengaruhi yang lainnya dok?" tanya Guntur.
"Iya pak. Nanti kalau pasien sudah sadar, baru kami lakukan beberapa pemeriksaan lanjutan. Karena, untuk luka ini, ada kemungkinan terburuk yang terjadi." kata dokter.
"Apa dok?" tanya Guntur was-was.
"Jika tulang belakang cidera, dikhawatirkan mengenai syarafnya, yang bisa menyebabkan kelumpuhan." jawab Dokter.
"A-apa? Lum-Lumpuh?" Guntur tergagap karena saking terkejutnya.
__ADS_1
πππ
Yuh...kasihan sekali nasib Melati. Akan ada cobaan apa lagi yang menimpa keluarga kecil Melati? Akankah Ugi benar-benar lumpuh? ikuti terus cerita ini ya...ππ love you reader SM...