
Visual Mugi Raharja (Ugi)
Sosok seorang laki-laki tampan, dari keluarga sederhana tetapi orangtuanya tuan tanah. Ugi mengenyam pendidikan sampai kuliah dengan usahanya sendiri, karena bapaknya tak mengijinkan dirinya lanjut sekolah, saat dia lulus SMP. Sehingga Ugi bersikeras untuk kuliah dengan usahanya sendiri, hingga dia masuk menjadi pegawai di kantor PMI.
Pagi itu, adzan subuh sudah berkumandang, Ugi sudah terjaga dari tidurnya. Namun, gadis yang dia pangku semalam sudah tidak ada di pangkuannya. Ugi segera menetralisir keadaannya.
"Mas..." panggil Melati dari pintu. Melatipun mendekati Ugi.
"Ini mas, diminum. Sudah adzan, mas Ugi mau sholat di rumah apa di masjid?" tanya Melati sambil menyerahkan segelas air putih hangat untuk Ugi.
"Ehm, ke masjid aja." jawab Ugi kikuk. Dia bingung mau memanggil apa untuk istrinya yang baru semalam sah baginya.
"Oh, ya mas. Aldo sama Aldi baru wudlu, mas Ugi bisa bareng mereka." kata Melati.
"Oh, iya." jawab Ugi sambil menyeruput air hangat yang diberikan Melati.
"Ehm...jenazah nenek dijaga siapa?" tanya Ugi.
"Biar Melati yang jaga mas. Sama itu ada warga yang jagain juga.
"Oh, ya udah. Mas ke masjid dulu ya." kata Ugi sambil berjalan menuju keluar kamar.
"Mas." panggil Melati.
Ugi menoleh ke arah Melati yang matanya sipit karena sembab semalaman menangis.
"Ya?" tanya Ugi.
Melati menghampiri Ugi, dan meraih tangan kanan Ugi, untuk dicium punggung tangannya. Ugi terkesima dengan apa yang dilakukan Melati, dengan mulut terbuka.
"Mas Ugi, mau bareng ke masjid engga?" tanya Aldo yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar.
"Oh, iya. I-ikut." jawab Ugi.
Sepeninggal Ugi, Melati bersiap ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, kemudian mengambil air wudlu, lalu menunaikan ibadah sholat subuh.
Setelah selesai sholat, Melati duduk di dekat jenazah neneknya, sambil mengaji untuk menenangkan hatinya.
Ugi sudah pulang dari masjid bersama Aldo dan Aldi, kemudian Ugi melihat mendapat telepon dari kampung. Ugi mengobrol dengan keluarganya dan menjelaskan tentang kejadian pernikahannya dengan Melati.
Jam Sembilan pagi, jenazah nenek diangkat dan dibawa ke makam untuk diantar ke tempat peristirahatan terakhir. Melati yang sudah merasa lebih baik, ikut melihat prosesi pemakaman neneknya. Melati yang masih merasa syok dengan kejadian yang begitu cepat ini, merasa lemah saat para ta'ziyah sudah meninggalkan area pemakaman. Melati masih terduduk di pusara neneknya bersama Ugi. Sedangkan si kembar sudah diamankan Widi dan pak Wahid, untuk diajak pulang.
"Kenapa nenek pergi secepat ini? Melati masih butuh nenek, Melati sayang sama nenek. Melati sendiri nek, kenapa nenek tinggalin Melati sendirian?" kata Melati dengan tangisan nya.
Ugi yang melihat istrinya masih menangis, Merangkul Melati dengan penuh kehangatan. Dielusnya lengan Melati, dan dikecupinya berkali-kali pucuk kepalanya.
__ADS_1
"Sabar. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan mas yakin, nenek akan bahagia di sana. InshaaAllah nenek khusnul khotimah." kata Ugi.
"Tapi aku belum membahagiakan nenek mas..." sesal Melati.
"Mas ngerti... kita do'akan nenek selalu, InshaaAllah itu akan membahagiakan nenek di sana." kata Ugi.
Disaat Melati duduk di atas pusara neneknya, dengan didampingi Ugi, ternyata tak jauh dari sana ada sepasang mata yang tak sengaja melihat kebersamaan mereka.
"Melati sedang bersama siapa?" gumam Satria, sahabat Melati yang baru tiba di kota Melati tinggal. Setelah dia melakukan perjalanan cukup jauh dari Jogja, ternyata dia terlambat datang, nenek Melati sudah dikebumikan, sehingga Satria langsung menyusul ke makam. Namun, sebuah pemandangan yang membuat dadanya sesak, telah membuat kakinya enggan mendekat ke pusara.
"Siapa laki-laki itu?" batin Satria.
"Apakah dia pacarnya Melati? Ataukah saudaranya? Ah, kalau pacar ga mungkin. Melati bukan tipe gadis yang suka pacaran. Pasti dia kakak Melati yang dari jauh." tebak Satria.
Saat Satria sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
"Satria?" panggil Melati yang sudah berdiri dihadapannya bersama seorang laki-laki yang merangkul pundaknya.
Satria mendongak, menatap seorang yang memanggilnya.
"Me...Melati?" Satria tergagap saat orang yang sedang dia fikirkan ternyata sudah berdiri di hadapannya.
"Ka-kamu di sini?" tanya Satria gugup.
"Iya, Kapan kamu datang?" tanya Melati dengan wajah sendu, dan mata sembab karena terlalu lama menangis.
"Iya gapapa Sat. Lagian, kamu kan juga sibuk kuliah." kata Melati.
"Aku baru dapet kabar pagi tadi dari Zia,
Tadi aku ke rumahmu, tapi kata tetanggamu. kamu masih di makam, makannya aku menyusulmu ke sini." kata Satria.
"Oh. Iya." kata Melati.
"Ehm, maaf. ini...Siapa?" tanya Satria menunjuk Ugi.
"Oiya, Kenalin Sat, ini mas Ugi, Suamiku." kata Melati kepada Satria.
"Ugi." kata Ugi sambil mengulurkan tangannya pada Satria, tetapi Satria tak segera menyambutnya.
"Suami? Sejak kapan Melati bersuami? Kapan dia nikah? kenapa aku ga tau? Kenapa Zia ga bilang?" batin Satria.
"Satria?" panggil Melati yang berhasil membuyarkan lamunan Satria.
"Eh, i-iya. Satria." kata Satria sambil menyambut uluran tangan Ugi.
"Ugi." kata Ugi mengulang perkenalannya.
__ADS_1
"Ka-kamu udah nikah?" tanya Satria berusaha menetralisir dirinya agar tidak gugup.
"Alhamdulillah, udah." jawab Melati.
"Oh, ya. Alhamdulillah." kata Satria.
"Selamat ya." lanjut Satria.
"Makasih." jawab Melati.
"Aku...aku juga turut berduka atas kepergian nenekmu." kata Satria lagi.
"Iya makasih Sat."
"Ehm, kamu yang sabar ya." kata Satria.
"InshaaAllah."
"Aku yakin, kamu pasti kuat. Karena kamu adalah gadis kuat yang aku kenal. Dulu kamu mampu jalani hidup, saat bapakmu pergi, InshaaAllah kini kami juga akan kuat jalani hidupmu tanpa nenek." kata Satria.
"Iya. Bismillah, semoga aku kuat. Karena dulu, saat ditinggal bapak, kalian juga meninggalkan aku. Disaat aku butuh teman, kalian justru pergi." kata Melati dengan suara tercekat di tenggorokan, yang membuat Satria terperanjat atas perkataan Melati. Dia sadar, bahwa dia salah. Karena saat dia pergi meninggalkan kota itu bersama papanya, Melati masih dalam keadaan berduka atas kepergian bapaknya.
"Maaf." Hanya kata itu yang sanggup diucapkan Satria sambil tertunduk dalam penyesalan.
"Kamu ga salah." kata Melati.
"Kamu... baik-baik saja 'kan?" tanya Satria.
"Iya. InshaaAllah. Karena sudah ada orang yang akan menemaniku kali ini." kata Melati sambil memegang tangan Ugi dan menoleh eka arah Ugi.
"Ehm...iya syukurlah." kata Satria.
"Kalau begitu, aku..." lanjut Satria yang kemudian diteruskan Melati.
"Pergilah. Kamu masih banyak urusan bukan?" kata Melati.
Satria tak mampu berkata-kata lagi, dia sadar bahwa sekuat-kuatnya Melati, dia pasti rapuh kala itu, tetapi terpaksa dia tinggalkan. Sejak kejadian itu, memang Melati lebih dingin terhadapnya di medsos.
Rasa yang terpendam lama pada gadis kuatnya itu, terpaksa harus dia pupus sekarang juga. Karena tak mungkin dia mengganggu Melati, karena itu akan merusak rumah tangga Melati.
"Ehm, kalau begitu, aku pamit." kata Satria.
"Hati-hati." kata Melati.
"Mas, saya titip Melati. Dia sahabat baik saya, dia gadis baik, sudah terlalu banyak beban hidupnya, saya harap anda senantiasa mendampinginya, menjadi teman hidupnya. Bahagiakan dia selalu. Jangan buat dia bersedih, karena saya akan buat perhitungan dengan anda." kata Satria kepada Ugi.
"Baik, InshaaAllah." jawab Ugi.
__ADS_1
Satriapun pergi meninggalkan sepadan suami istri itu dalam keadaan hati yang hancur berkeping-keping. Satria segera melajukan motor gedenya menuju kota tempat dia berkuliah.