Seputih Melati

Seputih Melati
Lulus


__ADS_3

Siang itu Melati mendapat kabar dari pihak SKB untuk mengambil ijazahnya yang sudah jadi, setelah beberapa bulan lalu Melati telah dinyatakan lulus dari pihak SKB dengan predikat terbaik.


"Bunda, saya titip anak-anak dulu ya, saya mau ijin ke SKB dulu bu. Mau ambil ijazah." kata Melati dengan wajah berbinar.


"Alhamdulillah, ijazahnya bunda sudah jadi?" tanya bunda Hayati.


"Alhamdulillah sudah bu." jawab Melati.


"Syukurlah. Ya sudah, bunda segera saja ke SKB, nanti terlambat lho ambil ijazahnya." kata bunda Hayati.


"Kalau begitu, saya pamit dulu bunda. Assalamualaikum." salam Melati.


"Wa'alaikumsalam." jawab bu Hayati


Sesampainya di SKB, dan menuju ruang TU, Melati di sambut dengan hangat oleh karyawan.


"Selamat ya mbak, wah, cuma sekolah dua tahun saja, bisa lulus dengan predikat terbaik, pintar sekali mbak Melati ini." puji seorang karyawan TU.


"Biasa saja pak, saya juga tidak menyangka akan mendapat nilai terbaik pak." jawab Melati.


"Selamat ya mbak." kata seorang karyawan lainnya.


"Terimakasih pak. Maaf, kalau begitu, saya permisi dulu." kata Melati berpamitan.


Sesampainya di parkiran, Melati tidak langsung menjalankan motornya. Dia memeluk erat map berisi ijazahnya, dengan mata berkaca-kaca.


Teringat oleh Melati saat dimana dia direkomendasikan oleh Tsania untuk masuk ke SKB, agar dia mendapatkan ijazah setara dengan SMA. Dengan harapan Melati bisa mencari pekerjaan dengan mudah dan atau bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Disaat Melati masih sibuk dengan bayangan masa lalunya, terdengar seseorang berbicara kepadanya, tak jauh darinya.


"Kamu bahagia?" tanya seorang laki-laki.


Melatipun menoleh ke sumber suara. Ada sosok laki-laki tampan, dengan pakaian seragam batik dan bersepatu pantofel berdiri tegap di belakangnya.


"Pak Dewa?" Melati tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.


Dewa tersenyum kepada Melati.


"Pak Dewa sudah lama di sini?" tanya Melati.


Dewa menggeleng.


"Baru aja kok. Tapi, sempat melihat kamu mengusap air mata." kata Dewa.


"Kok pak Dewa ada di sini?" tanya Melati.


"Karena mencarimu." jawab Dewa singkat.

__ADS_1


Kening Melati mengernyit.


"Dari mana pak Dewa tau kalau saya ada di sini?" tanya Melati lagi.


"Pertanyaan saya belum dijawab, kenapa kamu bertanya terus pada saya?" Bukannya menjawab, Dewa justru protes atas pertanyaannya tadi yang belum dijawab oleh Melati.


"Eh, hehe, iya. Maaf pak. Iya, alhamdulillah, saya sangat bahagia pak." jawab Melati.


"Selamat ya." kata Dewa tulus.


"Terimakasih pak." jawab Melati.


"Tadi saya sudah ke sekolahan, menjemput anak-anak. Tapi saya tidak melihatmu di sana. Kata bunda Hayati, bunda Melati sedang ke SKB untuk mengambil Ijazah. Ya sudah, saya susul anda ke sini." kata Dewa.


"Oh, lha terus, anak-anak mana pak?" tanya Melati celingak celinguk.


"Tuh, di dalem mobil." jawab Dewa.


"Oh..."


"Ehm, sebagai apresiasi atas keberhasilanmu. ijinkan saya untuk mentraktirmu siang ini. Boleh ya." kata Dewa.


"Ehm...tapi pak..."


"Tidak ada tapi-tapian, anak-anak sudah pada lapar. Ayo." ajak Dewa.


Melatipun mengikuti mobil Dewa, hingga tiba disebuah rumah makan modern di kota. Melati yang baru turun dari motor sudah diserbu oleh polah tingkah Dirga yang merengek minta digendong. Sedangkan Tsabita digendong Dewa. Mereka berempat masuk ke rumah makan itu bersama. Pemandangan mereka sudah seperti keluarga utuh dan harmonis. Siapa sangka, kalau mereka hanyalah seorang janda dan duda yang kebetulan dipertemukan oleh Tuhan dalam sebuah pertemuan.


Setelah memesan makanan, Melati mengikuti polah tingkah kedua anak Dewa yang super aktif. Mereka sangat suka bermain bersama Melati, sehingga Melati tak ada waktu untuk duduk barang Sejenak dengan jenak. Hingga pesanan datang di bawakan oleh seorang bariton.


"Nda, mam." kata Tsabita merengek minta makan disuapi Melati.


"Bunda, kakak juga mam sama bunda." kata Dirga tak mau kalah.


"Okey, kita makan bersama-sama ya." kata Melati dengan sabar dan telatennya, Melatipun menyuapi keduanya secara bergantian.


"Kalau kamu sibuk menyuapi kedua anakku, kapan kamu makannya Mel?" tanya Dewa yang akhir-akhir ini jarang memanggil Melati dengan panggilan Bunda sebagai tanda penghormatan seorang wali murid kepada guru anaknya.


"Nanti saja pak, gampang. Ini yang penting anak-anak, keburu pada mau main." kata Melati sambil memasukkan nasi dan lauk ayam ke dalam mulut Tsabita.


Namun, saat Melati menoleh ke belakang, hendak mengambilkan minum untuk Dirga, tiba-tiba di depan mulutnya sudah ada sesendok nasi beserta lauknya dari tangan kanan Dewa.


"Ayo, dimakan." kata Dewa dengan tersenyum.


Melati tampak ragu untuk memakannya, rasanya malu jika dia harus membuka mulutnya dengan suapan dari tangan Dewa.

__ADS_1


"Ayo, tangan saya sudah capek ini." kata Dewa menyodorkan sendok hingga menempel ke mulut Melati. Dan mau tak mau, akhirnya Melati membuka mulutnya juga.


"Yey...bunda Melati disuapin ayah." teriak Dirga girang sambil bertepuk tangan.


"Sssttt." cegah Dewa dengan menempelkan telunjuknya di depan bibirnya.


Seketika Dirga menutup mulutnya, saat melihat ayahnya memberi isyarat untuk diam.


Melati pun merona malu, karena dia memang tak pernah disuapi laki-laki lain, kecuali adik, bapak, dan mantan suaminya.


"Kamu terlalu sibuk menyuapi kedua anakku, maka aku harus menyuapimu, agar kamu tidak kelaparan." kata Dewa.


"Eh, iya pak. Terimakasih." jawab Melati.


"Sudah empat bulan bukan, perjalanan masa nifasmu? Bukankah sudah usai Melati?" tanya Dewa.


"Su-sudah pak." jawab Melati malu-malu.


"Ehm, berarti boleh dong, saya main ke rumahmu bersama keluarga saya." tanya Dewa.


"Ma-maksud pak Dewa?" tanya Melati berpura-pura tidak mengerti, meski sebenarnya dia tau maksud Dewa.


"Aku ingin menindaklanjuti permintaan mantan suamimu. Boleh kan?" Tanya Dewa.


"Maksudnya pak?"


"Apa perlu saya perjelas di sini?" tanya Dewa.


"Eh, ehm...tidak pak." jawab Melati tersipu malu.


"Aku akan datang ke rumahmu nanti malam bersama keluargaku." kata Dewa.


Melati mendongak, menatap Dewa. Begitupun dengan Dewa yang menatap Melati.


"Bukan hanya anak-anak yang mencintaimu. Bukan hanya mereka yang menyayangimu. Dan bukan hanya mereka yang membutuhkan mu Melati, tetapi, Akupun juga." kata Dewa.


"Aku sangat mencintaimu, bahkan sebelum ada mereka. Aku menyayangimu sejak kita bertemu saat kamu masih di bang ku SMP, dan betapa aku juga ternyata sangat membutuhkan mu, ketika aku baru menyadari, bahwa hidupku terasa kurang tanpamu " lanjut Dewa dengan tulus.


Melati terkesima dengan kata-kata Dewa. Tetapi ada rasa trauma yang mendalam jauh di lubuk hatinya. Melati menunduk, dia benar-benar takut jika dia salah pilih, dan akhirnya kejadian yang belum lama terjadi, kembali terjadi menimpa dirinya lagi.


Dewa mengetahui rasa trauma pada diri Melati. Dia tau alasana Melati diam tanpa kata saat ini.


"Aku janji, aku tidak ajan melakukan hal yang sama seperti Ugi kemarin. Aku akan menjadikanmu yang terkahir hingga akhir, hingga maut memisahkan." kata Dewa. Melati menatap Dewa lagi.


"Aku tau, Ugi melakukan itu juga bukan tanpa alasan. Dia juga sungguh mencintaimu, tetapi dia telah mengetahui bahwa akupun juga mencintaimu, dan melihat anak-anakku yang sangat dekat denganmu, mas Ugi memilih untuk melepasmu. Karena kamu adalah permata, kamu layak di jaga, dan kamu layak tuk bahagia." kata Dewa menjelaskan semua unek-unek di hatinya.

__ADS_1


"Aku mohon, terimalah niat baik ku. " kata Dewa memohon.


Cukup lama berfikir, akhirnya Melatipun mengangguk setuju. Dewa dan Melati bersama kedua anak Dewa melanjutkan makan siang mereka, lalu merekapun pulang.


__ADS_2