
"Sejak pertama kali saya bertemu Melati, Saya melihat ada aura positif pada dirinya. Dia gadis yang ceria dan cerdas. Dia ramah dan santun, sangat menghargai setiap gurunya. Kebetulan, saya adalah guru TIKnya waktu dia duduk dibangku SMP reguler. Dia anak pintar, hingga suatu ketika, saya mendapati dia jatuh dari sepedanya, bersama sahabatnya. Kedua tangannya mati rasa, sehingga dia tak mampu mengendalikan sepedanya. Sampai di rumahnya, kami mendapat sambutan yang kurang hangat dari neneknya, tampak sekali wajah neneknya yang kurang menyukainya. Sampai, beberapa hari setelah kejadian itu, saya terus memperhatikan dia, dan dia sempat datang terlambat. Dia tidak diijinkan masuk kelas, dan sayapun menemaninya di luar. Tangannya bekas luka, saya yakin, ada sesuatu hal terjadi lagi padanya. Dan pada akhirnya di penghujung semester, saat upacara bendera, dia pingsan. Dan sahabat dia mengatakan, bahwa Melati sempat merasakan mati rasa lagi dibagian tangannya. Sayapun segera membawanya ke IGD. Sejak saat itu, dia berhenti sekolah atas rekomendasi dokter syarafnya." kata Dewa.
"Dokter syaraf? Memangnya, Melati sakit apa mas?" tanya Ugi penasaran.
"Dokter mengatakan bahwa ada gangguan syaraf di tangannya, yang disebabkan karena efek samping dari kejadian saat dia masih bayi dulu yang sempat kejang cukup lama." kata Dewa.
"Jadi, sejak kecil Melati sudah merasakan hal yang kurang menyenangkan?" tanya Ugi.
"Kalau menurut cerita dari sahabatnya yang sejak kecil bersamanya, iya. Melati termasuk anak yang terasingkan dari teman yang lain, dia tidak banyak beraktivitas di luar, dan dia lebih banyak mengurung diri, karena keadaan fisiknya yang kurang sempurna. Dan itu pula salah satu alasan neneknya sangat membenci Melati kala itu." kata Dewa.
"Hingga pada suatu hari, saat Melati mengalami kecelakaan bersama bapak nya, dan merenggut nyawa bapaknya, Melati mengalami patah tulang, di bagian tangannya. Baru saja dia akan semangat untuk bersekolah lagi ternyata dia harus beristirahat lagi untuk kesembuhan tulang tangannya. Hari yang berat dia jalani saat itu, karena ditinggal bapaknya, sedangkan kedua adik kembarnya masih kecil-kecil dan ibunya tidak bisa pulang dari Luar Negeri." kata Dewa.
"Belum lagi, sikap neneknya terhadap Melati sejak bapaknya meninggal. Neneknya tambah membenci Melati. Disaat yang sama, kala kesedihan melanda, Sahabatnya yang perempuan pergi sekolah ke pondok pesantren, dan sahabatnya yang laki-laki, ikut orangtuanya pindah ke luar jawa." kata Dewa.
"Pak Dewa ngerti banget tentang kisah Melati?" tanya Ugi.
"Istri saya yang cerita. Melati sering bercerita pada Tsania. Karna Tsania sudah seperti kakak dia sendiri. Itulah sebabnya, Tsania menyarankan Melati untuk menulis novel." kata Dewa.
"Oh, begitu?"
"Itu sebabnya, saya sangat senang saat mendengar kalau dia masih lanjut sekolah Paket B, dan paket C. Dan bahkan dia mulai aktif menulis." kata Dewa.
"Melati sudah kami anggap sebagai adik kami sendiri, sehingga saya akan sangat bahagia melihat dia bahagia dan bisa meraih mimpinya." kata Dewa.
"Ehm, begitu?"
"Oya. katanya mau Ziarah, bagaimana kalau sekarang saja? Makam Tsania ada di lingkungan kampung nya. Nanti biar Anak-anak dititipkan neneknya." kata Dewa.
"Oh ya mas."
Dewapum berjalan menuju kamarnya dan memanggil Melati.
__ADS_1
"Bunda Melati, katanya mau ziarah ke makam Tsania?" tanya Dewa yang berhasil menghentikan kegiatan bermainnya Melati bersama Tsabita dan Dirga.
"Oh, ya pak. Lalu, anak-anak bagaimana pak?" tanya Melati.
"Biar nanti sama neneknya. Karena makam Tsania ada di desanya." jawab Dewa.
"Oh, baik pak."
Dewa, bersama kedua anaknya bersiap untuk pergi. Atas permintaan Dirga, Melati ikut mobil Dewa, sedangkan Ugi mengendarai motor seorang diri.
Sesampainya di rumah bu Darsi, Bu Darsi tampak sangat bahagia menerima kedatangan cucu dan menantunya, serta Melati dan Ugi.
"Eh, bunda Melati ya. Senang sekali saya bisa bertemu anda." kata bu Darsi.
"Ibu apa kabarnya?" tanya Melati.
"Alhamdulillah sudah lebih baik bunda. Ini juga sudah mulai bisa jalan sedikit-sedikit." kata bu Darsi.
"Bu. kenalin, ini mas Ugi. suaminya Bunda Melati." kata Dewa segera mengenalkan Ugi, khawatirnya ibu Mertuanya akan bicara aneh-aneh kepada Melati.
"Iya bu." jawa Melati tersipu.
"Oh...ya, salam kenal ya mas. Saya ibu mertuanya Dewa. Anak saya sudah meninggal mas, saat melahirkan anak keduanya." kata bu Darsi melo.
"Ya bu. Kami turut berduka." kata Ugi.
"Ini saya titip anak-anak ya bu. Saya mau antar bunda Melati ziarah ke makam Tsania." kata Dewa.
"Oh, iya. Bisa bisa." jawab bu Darsi.
"Adek Tsabita bobok bu." kata Melati sambil menggendong baby imut itu.
__ADS_1
"Oh, ya kebetulan. Sini, dibobokin di kamar saja." kata Bu Darsi mengarahkan Melati untuk meletakkan baby Tsabita di kamar Tsabita dahulu.
"Kami tinggal dulu ya bu." kata Melati.
Dirga sudah asyik bermain dengan sepupunya, dan beberapa anak kecil di dekat rumah neneknya.
💞💞💞
Sesampainya di makam Melati khusyuk menghadap batu nisan bertuliskan nama Tsania Dwiatmaja binti Wiratmaja, dengan didampingi Ugi dan Dewa.
"Mbak, ini saya Melati. Saya kesini mau ziarah, berbagi cerita. Alhamdulillah, novel yang Melati garap dengan bimbingan mbak Tsania, lolos seleksi di penerbit mbak. Dan kemarin Melati sudah menandatangani kontrak. Terimakasih banyak ya mbak atas jasanya, tanpa mbak, mungkin Melati belum bisa seperti ini." kata Melati.
"Mbak, Melati juga sudah menikah. Mbak pernah berpesan sama Melati 'kan, kalau memilih suami itu yang mencintai kita sepenuh hati. Jangan menikah karena terpaksa. Alhamdulillah mbak, suamiku sangat baik, dia sangat menyayangimu dan mencintaiku sepenuh hati. Dan satu lagi, dia mengijinkan aku untuk selalu membantu pak Dewa mengasuh dan menjaga anak-anak lho mbak. Jadi mbak Tsania jangan khawatir ya. Aku akan menyayangi mereka seperti anakku sendiri, seperti halnya mbak Tsania menganggap ku sebagai adik mbak sendiri." kata Melati sambil menitikkan air mata.
"Maafkan aku mbak, yang ga tau akan kepergianku, sejak dirimu pindah ke Jakarta. Maafkan aku yang tidak ada di samping mu, diakhir hayatmu mbak. Maafkan aku." kata Melati sambil mengelus nisan itu.
"Semoga Allah menerima semua kebaikan mbak Tsania, aku menjadi saksinya mbak, kalau mbak adalah orang baik. Semoga surga menantimu mbak, karena kepergianmu karena perang sabil, melahirkan baby mungil seperti Tsabita. Semoga Tsabita dan Dirga menjadi anak Sholihah Sholihah yang bisa selalu mendo'akan mbak di sana ya." kata Melati.
Setelah itu, Melati menutup ziarah nya dengan membaca Al-fatihah dan do'a yang lainnya. Setelah dirasa cukup, Melati di gandeng Ugi dan berjalan bersama Dewa keluar dari makam.
"Terimakasih banyak ya mas atas waktunya." kata Ugi mewakili Melati.
"Iya sama-sama mas. Ini, kalian mau langsung aja nih?" tanya Dewa.
"Iya mas. Langsung aja ini." kata Ugi.
"Iya pak, mungkin lain waktu saja saya berkunjung lagi ke rumah ibum Nanti titip salam saja buat ibu dan anak-anak." kata Melati.
"Baiklah, hati-hati ya kalian." kata Dewa.
"Ya mas." jawab Ugi.
__ADS_1
Sepeninggal Ugi dan Melati yang berboncengan motor, Dewa terus menata kedua sejoli sepasang suami istri itu.
"Seandainya saja kau belum dimiliki Ugi, mungkin aku yang akan memilikimu Melati." gumam Dewa dan menatap punggung Melati dengan nanar.