Seputih Melati

Seputih Melati
Kabar Berita


__ADS_3

"Mel..." suara panggilan dari neneknya.


"Ya nek..." jawab Melati.


"Ada tamu."


"Ya nek, sebentar." jawab Melati dari dalam kamarnya.


Melati segera keluar kamar dan memakai jilbabnya, lalu berjalan ke luar kamar, menuju toilet, dia cuci mukanya untuk menghapus sisa air mata yang menempel di wajahnya. Kemudian dia bercermin, memastikan dia tampak baik-baik saja. Barulah dia keluar dari kamar mandi dan melangkah ke ruang tamu.


"Assalamualaikum Melati." sapa pak Wahid beserta istrinya.


"Eh, Wa'alaikumsalam warohmatullah pak, bu." jawab Melati sambil mencium punggung tangan keduanya secara takzim.


"Sibuk ga Mbak Mel?" tanya pak Wahid.


"Engga pak. Kebetulan, saya berangkat kursusnya masih nanti siang. Ada apa ya pak?" tanya Melati heran atas kedatangan dua guru ngajinya.


"Jadi begini mbak Melati. Tadi pagi, mas Latif sudah berpamitan sama bapak, tetapi, bapak belum ada pandangan untuk penggantinya mas Latif. Tadinya, sementara mbak Melati saja dulu yang mengajar, tetapi kata mas Latif tadi, mbak Melati katanya mau ada kesibukan ya? Kalau tidak salah, mbak Melati mau lanjut sekolah kejar paket B, apakah benar mbak Melati?" tanya pak Wahid.


"Iya pak. Apa yang disampaikan mas Latif memang benar, InshaaAllah mulai bulan depan, saya sudah mulai masuk kelas pak." jawab Melati.


"Oh, masih bulan depan ya? Bapak kira mulai hari ini." kata pak Wahid.


"Ehm, sebenarnya, Melati bilang mau berhenti mengajar kepada mas Latif itu bukan karena Melati sekolah paket B pak, tetapi..." kata Melati menunduk dan tidak melanjutkan kata-katanya.


"Bapak dan ibu sudah tau tentang gosip yang beredar di kampung kita. Melati yang sabar ya, InshaaAllah perlahan-lahan nanti juga akan hilang sendiri gosipnya, apalagi ini mas Latif juga sudah pergi." kata istrinya pak Wahid.


"Iya bu." jawab Melati sambil mengangguk.


"Jadi, bagaimana mbak Melati? Masih sanggup untuk mengantar TPQ 'kan?" tanya pak Wahid memastikan.


"InshaaAllah pak." jawab Melati.


"Alhamdulillah..." jawab pak Wahid beserta istri.


"InshaaAllah nanti juga akan ditemani ibu, dan sesekali bapak juga akan bantu mengajar." kata pak Wahid.


"Alhamdulillah. Ya pak. Terimakasih pak." jawab Melati.

__ADS_1


"Ya sudah mbak Melati, kalau begitu bapak tidak perlu mencari pengganti lain lagi ya. Cukup Melati saja yang mengampu TPQ nanti, dibantu ibu. Gapapa 'kan?" tanya pak Wahid.


"Iya pak, gapapa." jawab Melati.


"Kalau begitu, bapak sama ibu pamit dulu ya Mbak Melati, kami titip adek-adek TPQ ya." kata pak Wahid.


"InshaaAllah pak." jawab Melati.


Sepeninggal pak Wahid dan istrinya, Melati langsung melaksanakan tuntutan pekerjaan rumahnya yang belum tersentuh sejak pulang mengantar kedua adiknya sekolah. Melati memulai dari mencuci piring, mencuci baju, menyapu, mengepel, lalu saat jam sudah menunjukkan pukul 11, Melati sudah bersiap untuk menjemput kedua adiknya di sekolahan. Dan sudah menjadi rutinan kesehariannya, setelah menjemput, Melati makan siang sambil menyiapkan makan siang kedua adiknya, serta menjalankan sholat dzuhur terlebih dahulu, barulab berangkat kursus. Karena kursus dimulai jam 13.00.


Siang itu, sepulang menjemput, saat sedang menyiapkan makan siang untuk kedua adiknya, Aldo dan Aldi berebut untuk menonton Televisi.


"Mas, ganti aja lah. Iklan itu." kata Aldi merajuk.


"Nanti aja, ga usah. Nanti ketinggalan ceritanya." kata Aldo bersikeras dengan pendiriannya.


Namun, ditengah keramaian kedua adiknya yang rebutan remot, tiba-tiba terdengar breaking news dari salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia.


"Sebuah pesawat Lion tujuan Solo-Palembang mengalami kecelakaan...." suara penyiar televisi telah berhasil menghentikan kegiatan Melati di dapur yang sedari tadi sibuk menyiapkan makan siang untuk kedua adiknya.


"Pesawat? Soli Palembang?" gumam Melati yang langsung berlari ke ruang televisi dan mengambil alih posisi kedua adiknya yang masih bersitegang rebutan remot.


"Tunggu bentar dek." kata Melati sambil menatap layar televisi dengan fokus.


Melati membaca berita dan menyimak berita yang baru saja didengarnya, mulutnya segera dia tutup dengan kedua tangannya, jantungnya berdegup dengan frekuensi cepat, hatinya berdesir dan kepalanya terasa pusing.


Refleks dia menggelengkan kepala, dengan pikiran yang masih belum percaya, Melati segera ke kamarnya dan mengambil ponselnya. Dia Googling di ponselnya, mencari informasi terkait kecelakaan pesawat yang baru saja terjadi. Dan benar dan, di semua pemberitaan sedang memberitakan pesawat yang jatuh di perairan laut jawa, pesawat Lion yang mengantarkan penumpang tujuan Solo-Palembang.


"Ga mungkin.... ga mungkin..." gumam Melati sambil menangis, kakinya terasa lemas, hingga tubuhnya tak kuat membawa beban tubuhnya, dan diapun terduduk lesu di dekat meja riasnya. Kepalanya terus menggeleng, giliran air mata terus mengalir.


"Mbak... Mbak Melati kenapa?" tanya Aldo dengan polosnya, menghapus air mata mbaknya.


"Mbak, Jangan nangis... Aldi ga nakal kok mbak. Aldi nurut kok mbak." kata Aldi adiknya yang memang lebih suka usil.


Melati menatap kedua adiknya yang ikut terduduk di kanan dan kirinya, wajah polos mereka harus ikut merasakan sebuah kekhawatiran.


Melatipun memeluk keduanya, dan kembali menangis.


"Mbak, ada apa?" tanya Aldo lagi.

__ADS_1


Melati belum kuat untuk menyampaikan alasannya menangis, dia hanya mampu menarik napas dalam dam mengeluarkannya perlahan. Melati masih berusaha menata hatinya, menata pernapasannya yang oksigen tadi sempat enggan dia masukkan dalam paru-parunya, menyisakan sebuah rasa sesak di dada.


"Ada... kecelakaan dek..." kata Melati terbata.


"Kecelakaan Pesawat tadi mbak?" tanya Aldo yang memang tadi sempat melihat breaking news.


Melati mengangguk.


"Terus? Kenapa mbak Melati menangis?" tanya Aldi heran.


"Gapapa. Mbak Melati cuma kaget aja. Semoga mas Latif sudah naik pesawat yang awal tadi atau pesawat yang nanti." kata Melati masih berharap.


"Mas Latif?" tanya Aldo menoleh pada Aldi.


Sepertinya kedua anak kembar ini sudah mulai paham maksud dari mbaknya.


"Mas Latif ada di pesawat itu mbak?" tanya Aldo yang memang kritis dan cerdas.


Melati mengangguk.


"Sepertinya iya dek. Tapi kita berdoa'a saja, semoga mas Latif engga ada di pesawat itu." kata Melati lagi berusaha menghibur diri.


"Saat ketiganya masih dalam suasana sedih dan duka, tiba-tiba ponsel Melati berbunyi, ada panggilan masuk dari Pak Wahid.


📞"Halo Assalamualaikum Mbak Melati."


"Wa'alaikumsalam pak Wahid."


"Apa mbak Melati sudah melihat berita siang ini?" tanya pak Wahid.


"Iya pak." jawab Melati lirih.


"Kamu yang tenang ya Mbak, ini bapak dan mas Widi baru akan cari informasi yang sebenarnya." kata pak Wahid yang ternyata juga terfikir oleh Melati akan kabar kurang baik ini.


"Iya pak, Melati tunggu kabar baiknya ya pak." kata Melati dengan isak tangis.


"Ya, bismillah. Semoga semuanya baik-baik saja." kata pak Wahid.


Panggilan pun terputus, Melati lalu menceritakan alasan dia menangis kepada kedua adiknya. Lalu Melati mempersiapkan diri untuk berangkat kursus. Karena dua hari lagi dia akan mengikuti ujian keterampilan, agar lulus dan mendapatkan sertifikat.

__ADS_1


💞💞💞


MaasyaaAllah, cobaan apalagi yang menimpa Melati?? Berikan kekuatan untuknya. Sabar ya Melati, akan ada pelangi setelah hujan kok.


__ADS_2