
Keesokan harinya, Melati dan Dewa sudah memakai pakaian couple. Namun tidak dengan Tsabita dan Dirga, keduanya akan dititipkan pada nenek Fatma. Dewa dan Melatipun berpamitan pada bu Fatma.
Sesampainya di lokasi, mereka duduk berdampingan di kursi tamu yang tak jauh dari meja ijab qobul. Dua mempelai sudah duduk bersanding di sana, dan ijab qobul telah terucap.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah...!!!" jawab serempak para hadirin.
Air muka Melati berubah sendu. Dewa memperhatikan nya dengan seksama. Lalu digenggamnya tangan Melati yang menggenggam tas slempangnya.
Dewa menarik napas dalam, dan menghembuskan nya perlahan.
"Mas yakin, sayangku kuat. Kamu adalah gadis yang kuat, mas yakin itu. Memaafkan itu memang tidak mudah, tetapi mas Yakin, istri mas yang cantik ini, yang kuat ini, pasti bisa memaafkan. Pasti." kata Dewa sambil mengelus pipi Melati dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih tetap menggenggam tangan Melati.
Melati menatap Dewa dengan lekat, begitupun juga Dewa. Tatapan mereka saling beradu, lalu Melati tersenyum pada Dewa, begitupun dengan Dewa, yang juga melebarkan senyumnya untuk istri tercintanya. Ada butiran bening keluar dari ujung mata Melati yang akhirnya terjatuh juga, lalu dihapus Dewa dengan perlahan.
"Mbak Melati..." sapa seseorang.
"Nur?" Melati terkejut atas kedatangan Nur, adik bungsunya Ugi.
Nur langsung menghambur ke dalam pelukan Melati.
"Nur kangen sama mbak Melati." kata Nur.
"Mbak juga." jawab Melati sambil mengusap kepala Nur.
"Kamu cantik sekali." puji Mealti pada Nur.
"Mbak Melati juga tetap cantik, dan tambah cantik." jawab Nur.
"Ah, kamu bisa aja Nur." kata Melati.
"Mbak Melati." sapa seseorang lagi.
Melati menoleh, sosok Muna berdiri bersama Wawan. Muna langsung menghambur ke dalam pelukan Melati.
"Maafkan masku ya mbak." kata Muna.
Melati hanya diam membisu. Lalu menegangkan pelukannya. Dan tersenyum kepada Muna, dan mengangguk.
"Yang lalu biarlah berlalu. Kita buka lembaran baru, untuk masa depan yang lebih baik." kata Melati sambil mengusap wajah ayu Muna.
"Kamu cantik sekali." puji Melati.
"Ah, mbak Melati bisa aja. Masih lebih cantik mbak Melati." jawab Muna tersipu.
"Mbak...maafin Wawan ya, kalau Wawan ada salah. " kata Wawan sambil mengalami Melati.
"Iya Wan, sama-sama. Mbak Juga banyak salahnya kok." kata Melati.
"Mbak...ehm, mbak Melati mau kan Foto dulu sama mereka?" tanya Muna.
"Oh, ya. Tentu." jawab Dewa dengan penuh semangat. Melati menoleh ke arah Dewa, Dewa memberi isyarat dengan mengeringkan matanya.
"Yuk." ajak Dewa sambil menggandeng tangan Melati berjalan menuju pelaminan, dimana kedua mempelai sudah duduk di atas pelaminan.
"Selamat ya mas Ugi." kata Dewa sambil menyalami Ugi dengan penuh senyuman.
Ugi yang duduk di Kursi roda, terperanjat saat melihat kedatangan Dewa dan Melati di belakangnya. Ada perasaan campur aduk di sana, namun berusaha dia tutup dengan ketenangan.
__ADS_1
"Te-terimakasih mas Dewa." jawab Ugi.
"Hem, ya. Semoga sakinah mawaddah warohmah ya mas. Dan langgeng sampai kakek nenek." kata Dewa lagi.
"Aamiin. Sekali lagi, terimakasih mas." jawab Ugi. Lalu Dewa maju selangkah, memberi ucapan pada Laili, mempelai wanitanya, sedangkan Melati mengikutinya di belakang Dewa. Melati menundukkan kepala saat di depan Ugi, dan menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Selamat." kata Melati dengan kaku.
"Terimakasih...Melati." jawab Ugi yang juga kaku.
Tanpa banyak bicara Melati langsung melangkah menuju mempelai wanita nya.
"Selamat ya mbak Laili." kata Melati.
"Ehm.. terimakasih mbak Melati." jawab Laili.
Melati tak mengucap apapun lagi, dia langsung mengikuti langkah Dewa yang sudah menunggu Melati di ujung panggung pelaminan.
"Ga ngucap apa-apa sayang?" tanya Dewa. Melati hanya menggeleng.
"Langsung pulang?" tanya Dewa. Melati hanya mengangguk.
"Okey. " jawab Dewa.
Dewa menggandeng mesra Melati saat turun dari pelaminan. Dan merekapun berjalan keluar dari tenda pernikahan. Ugi menatap keduanya dengan banyak arti, ada rasa sesal di dada, ada rasa cemburu masih menggebu, masih ada rasa cinta yang belum tersempurnakan. Semua jadi satu, dan menjadi sesak di dadanya.
"Ehem." deheman Laili berhasil membuyarkan semua bayangan Ugi.
"Eh, ehm. Maaf." kata Ugi.
"Aku mengerti." kata Laili.
"Melati." sapa seorang ibu-ibu paruh baya, yang tak lain adalah mantan ibu mertuanya.
"Eh, bu..." jawab Melati. Ternyata bu Yani sudah bersama dengan suaminya, pak Slamet.
Melatipun menyalami bu Yani dan pak Slamet bergantian. Begitupun dengan Dewa yang juga menyalami keduanya.
"Apa kabar nak?" tanya bu Yani.
"Alhamdulillah, baik bu." jawab Melati santun.
"Sekali lagi, ibu minta maaf ya nak." kata Bu Yani.
"Yang lalu. Biarlah berlalu bu, kita buka lembaran baru." kata Melati.
"Ya nak. Ehm, terimakasih juga sudah mau hadir ke acara pernikahan Ugi." kata Bu Yani.
"Iya bu." jawab Melati.
"Sama-sama bu, ya mohon tambah do'anya saja, semoga Melati sehat selalu sampai nanti saat bersalin, dan tidak keguguran lagi." kata Dewa yang seketika mendapat pelototan dari Melati.
"Ha? Melati hamil?" tanya bu Yani terkejut.
"Iya bu, mohon do'anya ya bu." kata Dewa.
"Oh, ya ya. Pasti nak. Semoga sehat selalu ya nak." kata bu Yani.
"Aamiin, terimakasih bu." jawab Melati.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Dewa segera mengajak Melati pulang, dan saat di dalam mobil merekapun bercakap.
"Kenapa mas bilang kehamilan Melati kepada bu Yani sih mas?" tanya Melati.
"Ya biar dia tau, kalau istriku ini bukan seorang yang mandul." jawab Dewa.
"Ya tapi harusnya jangan diumumin dulu lah mas, kan baru lima minggu umurnya."
"Tambah do'a InshaaAllah tambah kuat ya dek. Dah, pokoknya biar mereka tu ga semena-mena sama kamu." kata Dewa.
"Mas ga suka mereka mengatakan kamu mandul, kamu terlalu mementingkan karier dan lainnya. Mas akan buktikan, kalau kamu itu adalah wanita yang pantas untuk dipertahan kan, bukan untuk dilepaskan." kata Dewa.
"Ehem, tadi bilangnya aku harus kuat. Harus bisa memaafkan, ini kok?" protes Melati.
"Ah, ya. Demi orang yang aku cinta, aku akan melakukan apapun demi kehormatannya." jawab Dewa.
"Ish, kamu nih mas...."
"Gimana kabar anak-anak?" tanya Dewa.
"Mereka aman mas, baru aja Tsabita bobok kata ibu."
"Okey, kita mampir dulu yuk." ajak Dewa.
"Mampir kemana?"
"Udah, pokoknya ikut aja lah." kata Dewa.
"Ehm, okey." jawab Melati.
Merekapun berhenti di sebuah tempat wisata di kota Wonogiri. Melati turun dari mobil dan diajak Dewa berjalan menuju pinggiran bendungan. Dewa merangkul Melati sambil menatap birunya air bendungan.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Dewa.
"Seneng. Seneng banget." jawab Melati tersenyum.
"Apa yang membuatmu seneng?" tanya Dewa.
Melati menatap Dewa dan Dewapun juga menatap Melati.
"Aku sangat bersyukur dan seneng banget, karena satu hal." kata Melati.
"Apa?" tanya Dewa.
"Karena kamu." jawab Melati.
"Maksudnya?"
"Karena aku bisa menjadi istrimu, karena aku bisa menjadi bagian dari hidupmu. Terimakasih ya mas." kata Melati sambil meletakkan kepalanya dipunda Dewa.
"Sama. Akupun juga." jawab Dewa.
"Aku menikah dengan seorag duda beranak dua, tetapi kok ga kerasa ya? Rasanya menikah sama perjaka deh." goda Melati.
"Kok bisa?"
"Ya, karena anaknya selalu dititipin ibu. Jadi bisa merasakan keromantisan pengantin baru." kata Melati.
"Hahaha, bisa aja kamu nih..." kata Dewa sambil mencubit hidung Melati.
__ADS_1
Merekapun menghabiskan waktu berdua di bendungan itu dengan canda tawa bak remaja yang lagi di mabuk asmara. Dunia bagaikan milik bedua, dan yang lainnya hanya ngontrak.😁