
Mengetahui keadaan Melati yang sedang tidak baik-baik saja, Dewa segera menghubungi Guntur selaku sahabatnya, dengan harapan Guntur bisa mengabarkan kabar duka ini kepada Ugi. Karena walau bagaimanapun juga, janin yang gugur itu adalah anak Ugi, dan Ugi berhak tau akan kabar ini. Setelah Melati sudah lebih baikan, jam duabelas siang, setelah Dewa membantu prosesi pemakaman anak Melati bersama pak Wahid dan Widi, Melati diperbolehkan pulang.
Melati sangat terhibur dengan adanya kedua anak Dewa, sehingga Dewa sengaja meninggalkan kedua anaknya di rumah Melati untuk di jaga oleh bu Fatma. Sedangkan Dewa meminta ijin untuk ke sekolahan terlebih dahulu.
Tok tok tok
"Assalamualaikum." suara salam seorang wanita.
"Wa'alaikumsalam." jawab bu Fatma lalu membuka hendel pintu.
"Bu..." sapa Seorang wanita yang ternyata Muna, adik kandung Ugi.
Bu Fatma sangat terkejut dengan kedatangan keluarga Ugi.
"Ada apa kalian kesini?" tanya bu Fatma sinis.
"Maaf bu, kami mendapat kabar dari mas Guntur, katanya Mbak Melati mengalami keguguran." kata Muna menjelaskan.
"Hem, memang. Lalu apa tujuan kalian ke sini? Kalian mau menyalahkan Melati lagi? Mengatakan kalau Melati terlalu Egois, sehingga ga bisa menjaga anaknya? Begitu?" tanya bu Fatma.
"Tidak bu. Kami tidak ada niatan seperti itu sama sekali. Kamu tulus datang ke sini untuk berduka, kami ingin melihat kondisi Melati. Maafkan saya, atas kelancangan saya beberapa waktu lalu, yang telah membuat bu Fatma tersinggung." kini bu Yani angkat bicara.
"Hem... Baiklah, silakan masuk. Kurang etis jika kita mengobrol di depan pintu." kata bu Fatma yang akhirnya mengijinkan mantan besannya masuk ke rumah. Ugi yang duduk dikursi roda, di dorong oleh Wawan, dan mereka semua duduk di ruang tamu. Bu Fatma masuk kamar dan memanggil Melati yang sedang mengeloni Dirga dan Tsabita.
"Mbak, keluarlah. Ada tamu." kata bu Fatma.
"Siapa bu?" tanya Melati.
"Keluarganya mantan suamimu." jawab bu Fatma.
__ADS_1
Melati tak bergeming, ada setitik rasa trauma ketika harus berhadapan dengan mereka. Rasanya Melati masih belum sanggup untuk bertahap muka dengan mereka lagi.
"Ibu mengerti keadaan hatimu mbak. Tetapi, walau bagaimanapun juga, mereka pernah hadir di cerita kehidupanmu. Temui mereka ya. Tadi ibu sudah memastikan, bahwa kedatangan mereka tidak untuk menghakimimu lagi. Tetapi mereka memang ingin menjengukmu dan meminta maaf padamu." kata bu Fatma berusaha untuk membujuk Melati.
"Meminta maaf?" tanya Melati.
Bu Fatma Mengangguk.
"Bu Yani, mantan ibu mertuamu ingin meminta maaf padamu." kata bu Fatma.
Melati masih tak bergeming, ada setitik rasa trauma, sedih, kecewa dan beberapa rasa jadi satu di hatinya.
"Memaafkan memang tidak mudah nak. Tetapi Tuhan maha pemaaf, maha pengampun, Marah kecewa sedih, itu hak kita sebagai orang yang pernah tersakiti. Tetapi, Memaafkan adalah kewajiban kita mbak, agar tidak ada rasa dendam pada suatu hubungan yang membuat Allah menggantungkan rejeki kita. Semoga dengan kamu ridho dan ikhlas untuk memaafkan, Allah akan limpahkan semua rizkiNya untuk mu mbak." kata hu Fatma menasehati.
Melati menatap bu Fatma cukup lama. Dia mencoba mencari kenyamanan di sana, dan mencoba mencari perlindungan dari sosok ibu kandungnya yang tegar. Melatipun mengangguk dan berjalan keluar kamarnya, meninggalkan kedua bocil yang masih tertidur pulas di kasur nya.
Saat Melati tiba di ruang tamu, Melati langsung dipeluk Muna dengan linangan air mata.
Melati masih mematung tak bergeming. Tangannya terasa berat untuk membalas pelukan itu. Melati tak berani menatap orang-orang didepannya. Dia menatap kosong keluar rumahnya. Ada sesuatu yang hilang dalam jiwanya. Melati mencoba untuk menerima dan menata hatinya untuk bisa menerima semua yang ada ini.
"Mbak, Mbak Melati, aku mohon, maafin kita ya mbak." rengek Muna lagi sambil turun hendak menyentuh kaki Melati, namun dengan segera Melati meraih pundak Muna dan meminta Muna untuk berdiri.
Melati berusaha sekuat tenaga untuk menarik bibirnya untuk tersenyum, Melati berusaha untuk ikhlas, menghapus semua rasa dan noda dalam hatinya.
"Berdirilah. Aku bukan Tuhan." kata Melati.
"Tapi maafkan kami mbak." pinta Muna lagi.
"Ya. Aku sudah memaafkan kalian." jawab Melati dengan tersenyum. Lalu Melati duduk di sebuah kursi. Dia menatap mantan suaminya sekilas, ada sayatan tajam di hatinya, yang membuat perih di dada kirinya. Desiran darah sangat terasa saat melihat sosok laki-laki yang berjanji untuk menjaganya, namun justru kini dia tak berdaya, dia hanya bisa duduk di kursi roda, dengan wajah pucat dan terus menunduk.
__ADS_1
"Nduk, Melati. Ibu sangat menyesal dengan ucapan ibu waktu itu, maafkan ibu ya nduk " kini Bu Yani mendekati Melati dan mencoba untuk meraih tangan Melati, meminta maaf kepadanya.
Melati berusaha tersenyum, dan menerima tangan bu Yani, lalu di raih nya dan diciumnya dengan Khidmad. Cukup lama Melati mencumium punggung tangan bu Yani, dan deraian air mata akhirnya lolos juga. Begitupun dengan bu Yani yang juga akhirnya ikut menangis.
"Setiap orang berhak melakukan sebuah kesalahan. Tetapi setiap orang juga memiliki kewajiban untuk memberikan maafnya." kata Melati dengan suara berat.
"Lisan adalah bagian tubuh kita yang sangat ringan, tetapi dia sangat tajam. Menjaga Lisan memang tidaklah mudah. Hingga Rasulullah bersabda aagar kita berhati-hati menjaga lisan kita." lanjutnya.
"Usia memang tak menjanjikan kedewasaan seseorang, begitupun dengan Tua, juga tak menjanjikan kebijaksanaan seseorang." kata Melati lagi, dadanya semakin sesak. Dia kembali teringat oleh pernyataan Ugi, laki-laki yang usianya lebih tua darinya, dan Bu Yani yang menghujatnya beberapa waktu lalu, dia sudah tua, tetapi bagi Melati, dia kurang bijaksana.
Seketika Ugi tergugu dalam tangisan nya, Muna semakin menjadi pun begitu dengan bu Fatma dan bu Yani yang duduk berjajar di dekat Melati.
"Aku hanya manusia biasa. Aku lemah. Aku juga mempunyai hati." kata Melati.
"Aku dinikahkan dengan seorang laki-laki yang ku percaya dia adalah laki-laki baik, yang siap menemani hari-hariku hingga akhir hayatku. Aku percaya sepenuhnya padanya. Ku serahkan jiwa ragaku padanya, namun Allah berkehendak lain, Allah mencabut kenikmatan itu, dan Allah harus memisahkan kami pada sebuah kata yang sangat tidak aku inginkan namun terpaksa harus aku terima." kata Melati dengan berderai air mata."
"Aku seorang wanita, yang di usia dewasanya, memiliki pasangan, dan sangat mengharapkan adanya keturunan. Tapi siapa sangka, Tuhan menundanya beberapa bulan, hingga kata itu terucap, barulah benih itu di ketahui telah tumbuh di rahimku." kata Melati lagi.
"Namun Allah tak berhenti sampai di situ, Allah ingin aku lebih kuat, yaitu dengan menggugurkan kandunganku, dengan tanpa sebab. Terserah, ibu masih kaan mengatakan aku Egois atau apapun itu, karena demi karier aku telah menghilangkan nyawa anakku. huhuhu." kata Melati yang sudah tidak kuat berkata-kata lagi. Melati kembali teringat dengan segumpal darah yang digenggamnya semalam.
Bu Fatma dan Bu Yani merangkul Melati, Bu Yani terus menggelengkan kepalanya, dan bergumam.
"Tidak nak, tidak. Kamu tidak egois, kamu wanita hebat, kamu kuat." kata bu Yani dalam isak tangisnya.
Sedangkan Ugi dan Muna kini berpelukan, Muna memeluk Ugi dari depan, mereka menangis bersama. Hingga beberapa saat.
"Assalamualaikum." salam seorang laki-laki berpakaian keki, berdiri di ambang pintu.
Semua orang yang sedang menikmati air mata mereka seketika mendongak, menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Siapa sih?
Pasti sudah tau dong jawabannya? Lanjut besok ya gaes😁😁