
Di kota Metropolitan, Latif sedang berkutat dengan beberapa tugas dari pak Richard. Sejak kepulangannya dari Solo, Latif kini semakin dekat dengan Zia, mereka sudah sering berkirim pesan satu sama lain, dan dalam waktu dekat, Latif akan membawa pak Richard ke Solo untuk meminang wanita pujaan nya.
📩Zia
Assalamualaikum mas Latif
Ditengah kesibukannya yang super, Latif kini mampu tersenyum saat membaca sebuah pesan dari gadisnya.
📨Zia
Wa'alaikumsalam dek Zia. Apa kabar? Sehat kan? Bapak ibu bagaimana? sehat semua kan?
📩Zia
Alhamdulillah sehat mas. Mas Latif gimana? Sehat kan? Jangan capek-capek kerjanya, nanti sakit lho.
📨Zia
Selama ada perhatian dari Zia, mas akan baik-baik saja. Zia udah makan belum?
📩Zia
Mas Latif bisa aja. Mas Latif sudah makan belum? Jangan bilang, karena masih dikantor berkutat dengan tugas dari pak Richard, mas Latif belum sempat makan.
Tebakan Zia memang benar, Latif hanya mampu tertawa sendiri membaca pesan itu. Tanpa disadarinya, ternyata sekretaris Pak Richard sedang menghadapnya.
"Maaf pak, mengganggu." kata seorang wanita yang bekerja sebagai sekretaris bosnya itu.
"Oh. ya, ada apa Sel?" tanya Latif.
"Ini ada beberapa laporan yang harus pak Ahmad teliti, sebelum kemudian ditandatangani oleh pak Richard. Tadi pak Richard berpesan seperti itu kepada saya." kata Gisel, sekretaris dengan pembawaan body yang sangat montok dan pakaian yang cukup ketat, meski tidak terlalu terbuka.
"Baok, nanti saya teliti." kata Latif.
"Ehm, pak Latif...baik-baik saja kan pak?" tanya Gisel.
"Iya. Kenapa?"
"Gapapa pak. Cuma tadi saya lihat anda tertawa sendiri."
"Oh, iya. Ini di HP ada yang lucu." jawab Latif dingin.
"Ya sudah, ga ada urusan lagi kan? Anda boleh keluar." kata Latif setengah mengusir.
"Baik pak."
Kemudian Latif lanjut membuka pesan dari Zia.
📩Zia
Mas, ada kabar terbaru dari Melati. Dan mohon tambah do'a dan dukungannya ya. Barusan Zia dapet kabar, kalau Melati mengalami keguguran mas.
__ADS_1
Seketika Latif terperanjat membaca pesan itu. Dada kirinya berdegup kencang, rasanya ada sesuatu yang menyayat hatinya, perih Rasanya. Kenapa Latif masih merasakan hal itu? Apa yang membuat hatinya peduli dengan sosok seorang Melati?
📨Zia
Innalillahi wainnailaihi roji'un. Lalu Bagaimana keadaan Melati sekarang Zi?
📩Zia
Zia belum sempat berkunjung ke sana sih mas, ini Zia masih di pondok, mungkin besok kalau pas hari jum'at, pas pondok libur, Zia baru akan menjenguk Melati.
📨Zia
Titip Melati ya Zi, tolong kamu kuatkan dia, jaga dia. Kalau ada apa-apa, hubungi mas Latif ya.
📩Zia
Ya mas
Komunikasi merekapun berhenti, Latif kembali menekuri beberapa berkas yang menumpuk di mejanya.
"Ya Tuhan, aku tak bisa mencintai dia untuk masa depanku, tetapi ijinkan aku mencintai dia seperti adikku sendiri. Aku mohon, jaga Melati ya Tuhan, kuatkan jiwa raga nya, dan pertemukan dia dengan jodoh yang lebih baik, untuk bisa mendampingi dia nantinya. Dan kau berikan keturunan yang baik untuknya." do'a Latif untuk Melati.
💞💞💞
"Wa'alaikumsalam." serentak orang-orang di dalam rumah menjawab salam Dewa.
"Eh, Ehm...maaf. Sepertinya saya mengganggu ya." kata Dewa sungkan.
"Tidak kok pak Dewa. Silakan masuk saja." jawab bu Fatma ramah.
"Oh, ya pak. Kebetulan anak-anak tadi tidur, tapi sepertinya ini mereka sudah bangun." kata Melati saat mendengar suara tangisna anak kecil dari dalam kamarnya.
"Biar ibu lihat dulu. Pak Dewa, silakan duduk dulu." kata bu Fatma sopan.
"Baik bu." jawab Dewa.
"Apa kabar mas Dewa?" sapa Ugi.
"Alhamdulillah, kabar baik mas Ugi. Mas Ugi sendiri, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Dewa.
"Alhamdulillah, ya seperti ini lah mas keadaan saya sekarang. Sudah tidak berguna." keluh Ugi.
"Ish, jangan bicara seperti itu mas Ugi. Sesungguhnya Tidak ada orang yang tidak berguna di dunia ini. Allah sudah menjamin rejeki setiap orang sesuai takaran nya. Mas Ugi di uji seperti ini, pasti nanti akan ada hikmah luar biasa." kata Dewa menyemangati.
"Ayah...." pekik Tsabita yang berada di gendongan bu Fatma, meronta ingin segera digendong ayahnya, saat melihat Dewa di sana.
"Anak-anak di sini mas sekarang?" tanya Ugi.
"Engga kok mas, kebetulan aja, sedari pagi anak-anak ini tadi tu rewel banget, saya antar ke sekolahan tidak mau, kebetulan juga bunda Hayati sedang berhalangan hadir, karena ada agenda menjemput putrannya pulang dari pondok. Jadi ini tadi, saya titipkan bu Fatma. Karena Melati belum bisa menggendong Tsabita." kata Dewa memberi penjelasan agar tidak ada ke salah pahaman.
"Iya mas, ga masalah." jawab Ugi.
__ADS_1
"Ayah, ayah." rengek Tsabita minta gendong.
"Oh, ya sayang. Adek udah bangun? Pulang yuk." ajak Dewa kepada Tsabita.
"No no no." Tsabita menggeleng. Dari bahasa isyaratnya, Tsabita tidak mau diajak pulang.
"Adek, adek pulang dulu ya." kata Melati lembut.
"Nda...tut nda..." kata Tsabita sambil tangannya meminta gending kepada Melati.
"No adek, Adek gendong nenek aja ya. Bunda Melati lagi sakit." kaga bu Fatma menerima ulurna tangan dari Tsabita.
"Bunda..." Suara anak kecil dari kamar, tiba-tiba juga muncul dan memeluk Melati
"Eh, kakak sudah bangun?" kata Melati lembut menyapa Dirga.
Dirga langsung memeluk Melati, meski dia tau ada ayahnya disana.
"Kakak, kita pulang yuk." ajak Dewa kepada Dirga.
"Ga mau, Kakak mau jagain bunda Melati di sini, biar bunda cepat sembuh." kata Dirga memberi alasan.
Melihat kedekatan kedua anak kecil itu pada sosok Melati, lagi-lagi Ugi dan ibunya semakin merasa menyesal dengan apa yang sudah mereka perbuat.
"Mereka ibunya ke mana?" bisik bu Yani kepada Muna.
"Ibu mereka sudah meninggal bu, sejak ibunya melahirkan dek Tsabita." kata Muna. Seketika bu Yani memeluk Melati.
"Maafkan ibu ya nak. betapa besar pengorbanan seorang wanita.." kata bu Yani.
Melatipun mengangguk sambil tersenyum.
"Melati sudah memaafkan semuanya." kata Melati.
Merekapun lega, karena akhirnya mereka mendapatkan maaf dari Melati.
"Kebetulan sekali, mas Dewa ada di sini." kata Ugi.
"Adaa apa mas?" tany Dewa.
"Saya...saya titip Melati pak. Sepertinya anak-anak lebih berhak atas Melati, daripada saya. Sehingga ini keputusan saya." kata Ugi.
"Apa maksud anda?" tanya Dewa.
"Saya ikhlaskan, saya lepas istri saya, untuk anda mas Dewa. Tolong bahagiakan Melati, dan jaga Melati dengan sepenuh hati." kata Ugi kepada Dewa.
Dewa benar-benar terkejut dengan apa yang disampaikan Ugi kepadanya.
"Saya yakin, Melati akan bahagia bersama anak-anak anda." kata Ugi.
Semua orang yang ada di Rumah itu terperanjat dengan kata-kata Ugi.
__ADS_1
"Melati, saya akan ikhlaskan kamu, untuk mas Dewa, dan anak-anaknya. Semoga kamu bahagia." kata Ugi.
Setelah beberapa saat. Ugi mengajak keluarganya kembali pulang dan tak Lupa Ugi mengambil pakaiannya yang masih tersisan di rumah Melati. Ugi berkemas dengan dibantu Wawan. Dan akhirnya mereka sekeluarga meninggalkan Sosok Melati beserta keluarnya dengan kelegaan dan keikhlasan.