Seputih Melati

Seputih Melati
Menikah Lagi?


__ADS_3

Pagi itu Tsabita bermain di kasur bersama kakaknya, sedangkan bunda Hayati hanya mendampingi saja. Baby Tsabita tampak sangat bahagia, dia tertawa khas anak bayi, saat kakaknya mengajaknya bermain dengan ciluk ba.


Terdengar suara motor memasuki tempat parkir sekolahan, bu Hayatipun keluar sebentar untuk melihat siapa yang datang.


"Assalamualaikum bunda, maaf bunda saya terlambat." kata Melati langsung mencium punggung tangan bunda Hayati selaku kepala sekolah.


"Wa'alaikumsalam bunda Melati. Hem... tidak biasanya bunda datang sesiang ini, apakah ada masalah di jalan bu?" tanya bunda Hayati.


"Ehm, tidak bu. Halangan nya justru di rumah. Maaf bu, tadi saya bangun kesiangan, jadi saya terlambat." kata Melati menunduk mengakui kesalahannya.


"Owh, kenapa bu? Kok tumben bangun kesiangan? Lagi ada masalah ya?" tanya bunda Hayati yang sudah menganggap Melati seperti anak sendiri.


"Ti tidak kok bunda. Cuma semalem insomnia aja." kata Melati.


"Owh, ya sudah. Itu baby Tsabita sudah menunggu bunda Melati. Biarkan Dirga masuk kelasnya dan mengikuti pembelajaran dulu." kata Bunda Hayati.


"Iya bunda."


💞💞💞


Sedangkan di gedung sekolah negeri, Dewa sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkir guru. Kemudian Dewa bersiap merapikan pakaiannya dan keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ruang guru untuk meletakkan tasnya. Dewa segera menuju ke lapangan upacara untuk mengikuti kegiatan rutin setiap hari senin, yaitu upacara bendera.


Setelah selesai upacara, Dewa kembali ke ruang guru dan duduk di kursi kerjanya. Di teringat oleh pengasuh putri cantiknya yang tadi belum datang di sekolahan tanpa kabar. Dengan spontan, tangan Dewa mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan.


📨Melati


Assalamualaikum Bunda.


Tak menunggu waktu lama, pesannya dibalas.


📩Melati


Wa'alaikumsalam pak Dewa. Ada ada ya pak?


📨Melati


Apakah Bunda Melati baik-baik saja?


📩Melati


Alhamdulillah, saya baik.


"Ish, kenapa balasannya singkat banget sih." gerutu Dewa.


📨Melati


Tadi saya mengantar anak-anak, anda belum ada di sekolahan. Apakah anda sakit?


📩Melati


Oh, iya pak. Maafkan atas keterlambatan saya. Saya tadi datang terlambat, dan tidak sempat memberi kabar. Ini saya sudah bersama baby Tsabita pak.

__ADS_1


📨Melati


Oh...begitu? Saya kira anda sakit. Alhamdulillah kalau begitu.


"Kenapa aku merasa lega saat tau dia sudah bersama si cantik?" gumam Dewa.


📩Melati


Alhamdulillah, saya baik.


📨Melati


Saya mau ViCall bisa?


📩Melati


Bisa pak


Dewapun menekan tombol Video Call.


Tampak di layar ponselnya, wajah cantik putrinya yang tidak sedang tidur. Tampak putrinya bahagia dan tertawa tawa melihat ke arah ponsel.


"Halo cantik, ini ayah. Adek sama bunda Melati ya? Adek belum ngantuk?" tanya Dewa di depan ponselnya.


Dewa terus bercakap dengan Baby nya, dengan bahasa bayi. Tampak di layar ponselnya, Tsabita tertawa bahagia.


"Kenapa dia tidak menampakkan dirinya?" batin Dewa.


"Bunda, sudah vicallnya, saya mau mengajar." kata Dewa.


"Ya pak."


"Terimakasih bunda. Saya titip anak-anak ya." kata Dewa.


"InshaaAllah pak." jawab Melati ramah.


Kemudian panggilan diakhiri.


"Ehem, calon mama barunya anak-anak ya pak?" tanya bu Dian, guru matematika yang sedari tadi melihat obrolan Dewa di video call.


"Eh, bu Dian, bukan kok bu. Cuma guru nya anak-anak di sekolahan." jawab Dewa.


"Oh. kirain calon mamanya." kata bu Dian, sambil lalu.


Sesaat setelah bu Dian pergi, Dewa mengambil selembar foto dari dalam laci meja kerjanya. Disana sengaja dia menaruh foto mendiang istrinya, untuk memompa semangatnya ketika dia merasa kurang bersemangat.


"Sayang, Haruskah aku mencari calon mama untuk anak-anak? Sayang, aku kangen..." batin Dewa sambil mengelus gambar wajah mendiang istrinya, tak terasa matanya berkaca-kaca.


"Kangen ya pak?" tanya pak Lukman, rekan kerja Dewa di sekolahan saat pak Lukman melihat pak Dewa sedang menatap sendu sebuah foto perempuan cantik yang tak lain adalah istrinya yang sudah meninggal.


"Eh, pak Lukman. Ehm, ga ngajar pak?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Nanti pak, jam kedua." kata pak Lukman.


"Oh..."


"Wajar sih pak, memang paling berat itu adalah merindukan orang yang sudah meninggal pak." kata Pak Lukman sambil menggeret kursi dari meja sebelah.


Dewa hanya tersenyum menanggapi pak Lukman.


"Saya memang belum pernah ada di posisi anda pak Dewa, tetapi saya pernah berada di posisi anak anda yang Sulung, siapa itu namanya?" kata pak Lukman sambil mengingat-ingat.


"Dirga?" tanya Dewa.


"Ah, ya. Saya pernah berada di posisi Dirga. Menjadi anak yang ditinggal ibunya saat ibunya melahirkan adiknya. Ada rasa sedih, kecewa, marah. Ya, saat itu saya marah pada adik saya yang baru lahir. Saya menyalahkan dia, karena dia ibu meninggal. Karena saking sedihnya saya kehilangan sosok seorang ibu. Satu tahun lamanya bapak saya menduda. Beliau juga sama seperti anda pak Dewa, beliau seorang pegawai negeri, tetapi di sebuah kantor pelayanan masyarakat, bukan di sekolahan." kata Lukman terhenti sambil melihat langit-langit ruangan guru tempatnya bercerita.


"Semenjak ibu meninggal, saya sebagai anal sulung, menjadi tinggal bagi adik-adik saya. Bapak selalu menitipkan kedua adik saya kepada saya. Pagi adik-adik dititipkan pada seorang pengasuh, siangnya mereka saya yang jagain, hingga sore dan malam saya juga harus membantu bapak merawat dua adik saya." kenangnya.


"Belum lagi, kalau ada adik saya yang sakit, berat pak rasanya. Saya bakal gendongin adik saya yang sakit, karena dia akan rewel. Dan bapak saya fokus pada yang sakit. Dan suatu hari, bapak jatuh sakit juga. Bapak uring-uringan. Saya selalu jadi kena marah bapak saat itu kalau adik rewel. Sampai saya sempat menangis, meminta sosok ibu dihadirkan pada keluarga kami." kata Pak Lukman.


"Umur berapa anda ditinggalkan ibu pak?" tanya Dewa yang tertarik dengan kisah pak Lukman.


"Saya sudah gede sih pak, saya kelas empat SD. Adik saya pas, waktu itu berumur TK A, dan adik saya yang ketiga baru saja lahir. Ibu saya mengalami pendarahan saat melahirkan adik." kata pak Lukman.


"Ehm...udah agak besar ya pak?" tanya Dewa.


"Iya pak. Itu saja, satu tahun setelah ibu meninggal, bapak memutuskan menikah lagi, sesuai dengan do'aku. Akhirnya bapak menikahi gadis pengasuh adik saya. Dia masih singgel, dan dia sangat sabar mengasuh kami. Alhamdulillah, sampai saat ibu, beliau tetap menjadi ibu kami, meski hanya ibu tiri." kata pak Lukman.


"Apakah ibu tiri anda mempunyai anak dari bapak anda pak?" tanya Dewa.


"Iya pak, ada dua. Tetapi ibu tak pernah membedakan kami, bahkan terkadang, yang diprioritaskan justru anak-anak dirinya." kata pak Lukman.


"Ehm, gitu?"


"Jadi pak, kalau menurut saya, ada baiknya pak Dewa menikah lagi. Karena pak Dewa masih Muda, dan anak-anak pak Dewa juga masih sangat kecil, mereka masih membutuhkan sosok seorang ibu untuk merawat mereka." kata pak Lukman.


Dewa tampak berfikir.


"Pikirkan masa depan anak-anak pak. Pikirkan psikologis anak. Mumpung mereka masih kecil, kmereka masih bisa menerima kehadiran orang lain untuk dijadikan mamanya." kata pak Lukman.


"Dan, kalau boleh saran, ada baiknya anda menikahi gadis saja, agar anak yang kalian asuh, semuanya nanti menjadi anak dari nasabmu." kata Lukman.


"Dan, kalau bisa yang menyayangi anak-anak anda. Karena untuk menikah lagi, itu bukan lagi perkara cinta dan sayang lain jenis seperti saat kita menikah pertama kali dengan pilihan sendiri. Tetapi menikah lagi, setelah mendiang istri meninggal, alasan kita adalah masa depan anak-anak. Ya boleh saja menikahi janda, tetapi kalau menurut saya, kurang baik untuk psikologis anak kita." kata Lukman.


"Ehm, giti?" tanya Dewa manggut-manggut.


"Kalau saran saya sih pak, tetap, mending anda menikah lagi. Karena anak anda masih sangat membutuhkan sosok peran seorang ibu." kata Pak Lukman.


"Ehm, ya pak." jawab Dewa.


"Maaf, kalau begitu saya permisi dulu, sudah bel pergantian jadwal. pak Dewa ngajar jam berapa?" tanya pak Lukman sambil mengembalikan kuris yang dia duduki pada tempatnya.


"Ehm, ya. Ini juga jadwal ngajar pak. Terimakasih untuk pengalaman hari ini pak." kata Dewa.

__ADS_1


"Sama-sama pak. Semoga bermanfaat." kata pak Lukman.


Kemudian pak Lukman dan Dewa menyiapkan bahan ajar, lalu merekapun bersama melangkah ke kelas yang harus mereka ajar.


__ADS_2