Seputih Melati

Seputih Melati
Nenek


__ADS_3

Sesampainya di IGD, Melati segera menemui pak Wahid yang sedang berdiri di depan sebuah ruangan penanganan bersama mas Widi dan bu Siti istri pak Wahid.


"Assalamualaikum pak Wahid." salam Melati sambil mencium punggung tangan pak Wahid, dan bu Siti, sedangkan dengan mas Widi, Melati hanya mengangguk dan menelungkupkan tangan didepan dada. Lalu diikuti dengan Ugi yang juga menyalami ketiga orang yang juga berdiri di depan ruang penanganan.


"Wa'alaikumsalam." jawab pak Wahid, mas Widi dan bu Siti bersama.


"Bagaimana keadaan nenek, pak?" tanya Melati dengan wajah cemas.


"Nenek baru ditangani dokter." jawab pak Wahid.


"Melati, sebaiknya kamu ke bagian registrasi dulu untuk mendaftarkan nenek, karena kami tidak tau identitas nenek." kata mas Widi.


"Ya mas." jawab Melati.


"Bu, tolong temani Melati ya." titah pak Wahid.


"Baik pak." jawab bu Siti.


Melatipun ke ruang registrasi dengan didampingi bu Siti.


"Maaf, nak mas ini siapa ya?" tanya pak Wahid sopan kepada Ugi.


"Nama saya Ugi pak, Mugi Raharja." kata Ugi sopan.


"Ada hubungan apa anda dengan Melati?" tanya pak Wahid.


"Ehm, saya... saya temannya Melati pak." jawab Ugi.


"Teman?" tanya Pak Wahid dengan dahi mengernyit.


"Ehm, iya pak." jawab Ugi lagi.


"Oh... teman?" kata pak Wahid dengan nada yang tak biasa.


"Teman dekat ya mas?" tanya mas Widi.


"E... i-iya mas. Begitulah." jawab Ugi ragu.


"Apa pacar?" tanya Mas Widi dengan nada menggoda.


Pak Wahid yang bisa membaca bahasa tubuh Ugi, mengerti maksud Ugi. Pak Wahid tau ada hubungan khusus diantara pria yang baru dikenalnya ini dengan Melati.


"Ehm, bu-bukan mas. Anu, ehm, saya..." kata-kata Ugi terpotong karena suara pintu ruang penanganan nenek Melati terbuka, dan terlihat bad hospital yang di geledek perawat keluar ruangan dengan tergesa-gesa.


"Ehm, maaf suster, pasien mau dibawa kemana sus?" tanya Pak Wahid panik.


"Pasien harus segera dibawa ke ruang ICU untuk segera mendapatkan penanganan pak." jawab perawat yang terakhir keluar dari ruang penanganan.


Pak Wahid seketika terdiam, dia tau bahwa sakit yang dialami nenek Melati cukup serius, sehingga langsung dibawa ke ruang ICU.


Melati datang dengan tergopoh-gopoh setelah menyelesaikan urusan registrasi.


"Pak Wahid, nenek mau dibawa kemana?" tanya Melati.


"Ke ruang ICU Mel." jawab mas Widi yang melihat bapak Mertuanya masih tak bergeming.

__ADS_1


Melati yang sedari tadi menahan air matanya akhirnya tumpah juga, dia menutup mulutnya yang terbuka karena tangisan yang membuat sesak dadanya. Bu Siti senantiasa merangkul bahu Melati dan mengelus lengan kirinya agar sedikit mengurangi rasa cemasnya, dan berusaha menengankan Melati.


"Kita susul ke ICU sekarang." ajak mas Widi.


Melati mengangguk, lalu Melati masih didampingi bu Siti untuk berjalan menyusuri koridor menuju ruang ICU, dengan diikuti mas Widi pak Wahid dan Ugi tentunya.


Sesampainya di depan ruang ICU, Melati diajak duduk bu Siti, dan terus dalam pelukan bu Siti. Melati terus menangis, menerima kenyataan ini, bahwa neneknya harus mengalami hal buruk ini.


"Kita do'akan nenek, semoga nenek kuat, dan bisa melaluinya dengan baik. Istighfar sayang, jangan henti bersholawat, baca ummul kitab khususan untuk nenek ya sayang." nasehat bu Siti pada Melati sambil mengelus kepala Melati yang terbalut jilbab.


"Nenek..." rintih Melati dalam tangisan nya.


Ugi melihat Melati yang sejak tadi terua menangis, merasa iba dengan gadis pujaan hatinya.


"Nah, kalo nenek boleh berharap sih, pinginnya Melati sama mas Ugi aja. Baru sekali ketemu, nenek udah yakin, kalo mas Ugi ini orangnya baik." Ugi teringat oleh kata-kata Nenek kala dia ke rumah Melati. Ugi semakin yakin dan mantab, untuk memenuhi keinginan nenek Melati, yaitu untuk menikahi gadis yang telah mencuri hatinya.


"Kasian Melati." batin Ugi.


"Sungguh aku merasa tak sanggup melihat air mata itu jatuh, ingin rasanya aku menjadi sandaran dia disaat seperti ini." batin Ugi.


Tak berapa lama kemudian, dokter keluar dari ruang ICU.


"Bagaimana keadaan nenek saya dok?" tanya Melati yang seketika berdiri dan menghambur ke hadapan dokter yang menangani nenek.


"Syukurlah, Nenek anda sudah melewati masa kritisnya." kata dokter.


"Alhamdulillah yaa Allah..." ucap Melati dan diikuti orang-orang disekitar Melati.


"Tetapi, keadaan Nenek anda masih sangat lemah. Dan... maaf, dari hasil pemeriksaan, nenek anda menderita stroke total." kata dokter memberi penjelasan.


"Iya, karena ada pembuluh darah yang pecah, akibat tekanan darahnya yang tinggi, saat jatuh tadi." kata Dokter.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." ucap Melati dengan linangan air mata.


"Tapi... nenek saya akan baik-baik saja 'kan Dok?" tanya Melati.


"Kita do'akan saja." kata Dokter.


Kembali Melati lemas dalam pelukan bu Siti.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." kata dokter.


"Ya dok. Terimakasih." jawab mas Widi.


Bu Siti yang merasakan tubuh Melati yang semakin tak seimbang, menggiring tubuh Melati untuk duduk di kursi tunggu.


"Istighfar nak, istighfar." kata bu Siti mencoba menenangkan Melati.


"Astagfirullahal'adzim..." ucap Melati pelan.


"Kamu minum dulu ya." kata Ugi sambil menyerahkan sebotol air mineral dari dalam ranselnya.


Melati yang merasa lemah, menerima botol itu, lalu meminumnya.


Saat itu juga, terdengar suara panggilan dari ponsel pak Wahid.

__ADS_1


"Halo assalamualaikum."


"Tidak bisa?" tanya pak Wahid, sambil menoleh ke arah Ugi.


"Ya, baiklah. Saya sama ibu segera pulang sekarang." kata pak Wahid.


"Ada apa bah?" tanya bu Siti.


"Ustadz Akbar berhalangan hadir bu, untuk mengisi kajian nanti malam.


"Terus?"


"Ya, mau ga mau abah yang harus turun tangan." kata pak Wahid.


"Tadi juga ada pesan, kalau ibu juga diminta untuk tidak ijin, karena nanti ada bu Lurah juga." kata pak Wahid.


"Terus, nanti Melati sama siapa?" tanya bu Siti.


"Ehm..." pak Wahid menoleh ke arah Ugi.


"Mas Ugi, repot tidak?" tanya pak Wahid.


"Ehm, tidak pak, kenapa ya pak?" tanya Ugi.


"Kami harus segera pulang. Saya Titip Melati bisa? Tolong temani Melati dulu malam ini." kata pak Wahid.


"Oh, ya pak. InshaaAllah bisa." jawab Ugi.


"Baiklah. Melati, maaf, bapak ibu sama mas Widi harus pulang dulu. Kamu di sini ditemani mas Ugi ya."


"Ehm, ya pak." jawab Melati.


"Lhoh, mas ini siapa?" tanya bu Siti.


"Dia... temannya Melati." jawab Pak Wahid.


"Oh, ya mas. Kami titip Melati dulu ya mas." kata bu Siti.


"Ya bu, InshaaAllah." jawab Ugi .


Pak Wahid diikuti bu Siti dan Mas Widi, berpamitan kepada Melati dna Ugi.


"Kami pulang dulu ya Mel." pamit bu Siti.


"Ya bu, terimakasih banyak sudah membantu nenek." kata Melati.


"Sama-sama nak. Kamu yang sabar ya." kata bu Siti. Melati mengangguk.


"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan segera hubungi bapak ya." kata pak Wahid.


"Ya pak. InshaaAllah." jawab Melati


Setelah berpamitan, Pak Wahid, diikuti menantu dan istrinya segera meninggalkan ruang ICU, menuju parkiran untuk mengendarai mobil. Lalu Mereja segera menuju rumah, dengan di sopiri Widi.


,

__ADS_1


__ADS_2