Seputih Melati

Seputih Melati
Galau


__ADS_3

Pandanglah wajah istrimu yang tercinta


Bayangkanlah penat lelah yang dirasakan


Namun tak pernah istrimu berkeluh kesah


Mengabdikan jiwa raganya kepadamu


Jangan kau siakan pengorbanannya


Jangan kau sakiti permaisurimu


Jangan biarkan dia bersedih


Menitikkan air mata


reff:


Sebelum detak jantung istrimu berhenti


Kasihi Istrimu dengan sepenuh hati


Sebelum istrimu kembali pada Tuhan


Sayangi istrimu janganlah kau sakiti


Bahgiakan bidadarimu


Belailah permaisurimu


back to reff


Istriku sayang belahan jiwaku


Janganlah engkau bersedih hati


Istriku sayang permaisuriku


Bidadariku dunia akhirat


(Hawari: Belahan Jiwa)


Setelah meninabobokkan kedua buah hatinya, Dewa segera duduk di kursi kerjanya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan, sambil mendengarkan lagu yang dia putar dari USB milik istrinya dulu.


Tak terasa buliran bening lolos dari dua bola mata Dewa. Dewa meresapi lagu itu dengan sepenuh hati, hingga dia ulang beberapa kali. Tangan kanannya mengambil sebuah bingkai foto di meja itu, sebuah gambar seorang wanita berparas cantik, dengan hijabnya, tampak tersenyum tulus kepadanya. Tak lain, foto itu adalah istrinya yang kini telah meninggalkannya juga kedua buah hatinya.


"Maafkan mas sayang... maaf..." kata Dewa sambil meraba gambar wajah di foto itu.


Dewa menarik napasnya dalam, dan mengeluarkannya perlahan. Kembali dia teringat dengan kata-kata bu Nuri dan pak Lukman, rekan kerjanya yang menyarankan dia untuk menikah lagi. Begitupun dengan nasehat ibu mertua dan sahabatnya, Guntur, bahwa ada baiknya dia menikah lagi.


"Mas bener-bener bingung sayang, Mas belum bisa lupain kamu. Mas masih sayang banget sama kamu, tapi Tuhan lebih menyayangimu." kata Dewa sambil menatap kedua buah hatinya yang tertidur pulas di kasur nya.


Semenjak istrinya meninggal, kedua buah hatinya tak lagi ditempatkan di kamar sebelah, karena bagi dirinya, akan tambah repot jika dia bolak balik untuk menjenguk dan mengawasi keduanya dimalam hari. Kalau sekasur dengannya, maka akan memudahkan dirinya untuk mengawasi dan menemani keduanya. Lagipula, hal itu juga bisa mengurangi rasa kesepian pada dirinya atas kepergian istrinya.


"Apa aku egois sayang? Dengan menduda begini, tidak segera menikah lagi. Tapi kalau mas menikah lagi, mas bener-bener takut kalau mas salah pilih orang untuk menjadi ibu Bagi kedua anak kita. Mas ga rela jika mereka menjadi anak tiri yang tersakiti." kata Dewa dengan menatap kedua buah hatinya dan figura itu bergantian.


"Maafkan ayah nak, jika ayah termasuk orang tua yang egois." kata Dewa sambil terus menangis, dan mengecup kening kedua buah hatinya.


Lagi-lagi Dewa menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dewapun mencoba merefleksikan fikirannya dengan membuat kopi hitam kesukaannya.


"Kalau aku menikah lagi, aku menikah sama siapa coba?" gumam Dewa saat mengaduk kopinya.


"Ehm... kenapa aku mulai goyah?" batin Dewa lagi.


"Apa ga sebaiknya, Bunda Melati itu kamu jadikan istri saja? Biar bisa bantuin kamu mengurus anak-anak. Kelihatan sekali kalau dia sangat menyayangi kedua anakmu." kata-kata ibu mertuanya kembali terngiang saat dia menyeruput kopi panas buatannya.


"Melati? Ga mungkinlah, dia itu murid ku. Usia kami terpaut jauh. Lagipula dia bukannya masih terlalu dini jika aku nikahi sekarang? Satria sepertinya juga menyukainya dari SMP dulu. Selain itu, Melati kan cantik, pastilah banyak laki-laki diluaran sana yang jatuh cinta kepadanya." batin Dewa saat teringat dengan permintaan ibunya.

__ADS_1


"Hem...Pusing juga mikirin hidup. Dah lah, ngikutin arus aja lah. Semoga kamu tenang di sana sayangku. Tsania." kata Dewa yang lagi-lagi matanya berkaca-kaca..


Dewapun langsung mengusap wajahnya dengan kedua telpak tangannya. Lalu meletakkan bingkai foto istrinya. Kemudian dia menyusul kedua buah hatinya yang terlelap.


💞💞💞


Pagi hari, seperti biasa Melati sudah sibuk dengan segala rutinitas paginya.


"Sayang, kamu yakin, mulai hari ini masuk sekolah?" tanya Ugi.


"Iya mas." jawab Melati.


"Ehm...tapi ga siang nanti mas. Melati pagi ini juga ada aktivitas penting." kata Melati sambil mencuci perabot di dapur.


"Apa?"


"Melati harus mengasuh anak di lembaga pendidikan anak usia dini mas." kata Melati.


Ugi yang tadi sempat menyeruput teh hangatnya, dia hentikan sejenak kegiatannya.


"Maksudnya? Kamu ngajar?" tanya Ugi.


"Yang mengajar itu teman-teman yang berijazah mas, yang pendidikannya sudah tinggi. Kalau Melati, cuma pengasuh baby kok mas." kata Melati.


"Kebetulan baby yang Melati asuh Ini seorang baby yang ditinggal ibunya meninggal." kata Melati.


"Oh, ya harus kamu rawat dengan sepenuh hati dong." kata Ugi.


"Jika mas mengijinkan, Melati akan tetap melanjutkan profesi Melati ini mas, tapi kalau mas engga..." kata Melati terputus oleh kata-kata Ugi.


"Boleh, mas malah seneng." kata Ugi tersenyum manis.


Melatipun menatap wajah suaminya dengan penuh kebahagiaan, ada gurat kebahagiaan disana. Melati tersenyum.


"Terimakasih ya mas." kata Melati.


"Ya mas. Kalau begitu, Melati mau mandi dulu mas. Mau siap-siap." kata Melati.


"Okey." jawab Ugi.


"Tapi mas anterin ya." kata Ugi.


Melati menoleh pada Ugi, dan mengangguk sambil tersenyum bahagia.


Dan benar saja, setelah mandi dan mematut diri, Melati berangkat ke sekolahan tempat dia mengajar dengan diboncangkan Ugi, suaminya.


Ternyata di sana sudah tampak pak Dewa sedang mengobrol dengan bu Hayati. Melati turun dari boncengan, lalu meraih tangan Ugi.


"Terimakasih mas, Melati pamit. Assalamualaikum." salam Melati.


"Ok, baik-baik ya. Wa'alaikumsalam." jawab Ugi dengan tangan kirinya mengusap pucuk kepala Melati. Posisinya masih duduk diatas jok motor Matic milik Melati.


Melatipun melangkah menuju gedung tempatnya mengajar. Ugi fokus menatap punggung istrinya yang semakin menjauh darinya, tanpa dia perduli dengan pandangan seseorang yang terheran-heran. Setelah Melati tiba di dalam gedung, Ugi menyalakan mesin motornya, lalu memainkan gas dan melaju meninggalkan gedung tempat istrinya bekerja.


"Assalamualaikum." salam Melati.


"Wa'alaikumsalam." jawab bu Hayati dan Dewa bersama.


"Bunda Melati..." panggil Dewa dari dalam kelasnya memanggil Melati, dan menghabur ke dalam pelukan Melati.


Melati yang tadinya berdiri, karena dipeluk Dirga, segera merendahkan tubuhnya untuk mensejajarkan dengan tinggi anak didiknya itu.


"Kak Dirga? Kak Dirga apa kabar? Sehat kan?" tanya Melati.


"Sehat bunda. Kenapa bunda lama sekali ga masuk?" tanya Dirga.


"Iya, maafin bunda ya " kata Melati.

__ADS_1


"Kata ayah, neneknya bunda meninggal dunia ya?" tanya Dirga.


"Iya Sayang."


"Neneknya bunda, ikut nyusul bundanya Dirga?" tanya Dirga polos.


"Iya sayang."


"Bunda nangis?"


Melati tersenyum menanggapi ocehan anak PAUD itu.


"Iya, tapi sekarang engga, 'kan udah ada kak Dirga." kata Melati sambil menowel pipi Cubi Dirga.


"Sama kaya ayah dong, ayah kemarin pas bunda meninggal juga menangis. tapi terus engga nangis lagi karena ada Kak Dirga." kata Dirga.


Melati tersenyum menoleh ke arah Dewa.


"Ehm. adek ikut bunda Melati yuk, ayah mau seger masuk kerja." kata Melati sambil meraih Baby Tsabita dari tangan Dewa.


"Ehm. bunda, maaf itu suami saya sudah datang, saya tinggal dulu ya bun, pak." kata vu Hayati yang memang sejak awal sudah bilang pada Melati bahwa beliau ada acara keluarga.


"Oh. ya bun. Hati-hati ya bun." kata Melati sambil menjabat tangan bu kepalanya.


"Mari pak Dewa." kata bu Hayati berpamitan.


"Ya bu." jawab Dewa.


Sepeninggal bu Hayati, dan Dirga dipanggil bunda Novi untuk masuk kelas, tinggallah Dewa dengan Melati di ruang guru itu.


"Ehm bunda Melati, saya turut berduka atas kepergian nenek anda." kata pak Dewa.


"Oh, iya pak. Terimakasih pak." jawab Melati.


"Kemarin saya ta'ziyah, tapi bunda di dalam, jadi kita tidak bertemu, karena saya hanya sebentar." kata Dewa.


"Oh, ya? Terimakasih banyak pak sudah berkunjung ke rumah." kata Melati sambil menimang Bbay Tsabita.


"Ehm. bunda, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Dewa.


"Ya pak. Silakan." jawab Melati.


"Itu tadi yang nganterin anda, kaya saya kenal. Mas Ugi bukan?" tanya Dewa.


"Iya pak. Benar. Pak Dewa kenal?" tanya Melati.


"Iya, dia temannya sahabat saya. Dulu dia yang nganterin darah untuk Dirga saat Dirga harus transfusi darah." kata Dewa.


"Oh, iya. Mas Ugi memang bertugas di PMI pak." kata Melati.


"Ehm... saudara ya?" tanya Dewa.


"Bukan pak. mas Ugi itu...suami saya." kata Melati.


"A-apa? Su-suami?" tanya Dewa terkejut.


"Iya pak. Ehm, kami menikah saat nenek akan meninggal dunia kemarin. Sempat nikah siri, tetapi kemarin kami sudah nikah resmi." jawab Melati.


"O...oh...ya... Selamat bunda." kata Dewa.


"Terimakasih pak."


"Ya sudah, saya pamit ke sekolahan dulu. titip anak-anak ya bunda." kata Dewa.


"Ya pak." jawab Melati.


Dewapun meninggalkan tempat anaknya dititipkan dan pergi menuju tempat dia bekerja. Sedangkan Melati menggendong baby Tsabita ke kamar daycare dan merawatnya, dan mengajaknya bermain bersama penitipan yang lain.

__ADS_1


__ADS_2