Seputih Melati

Seputih Melati
Melepas dan Mengikat


__ADS_3

Di rumah sakit, Jenazah nenek Melati segera di sucikan dan dikafani oleh pihak rumah sakit dengan didampingi Pak Wahid dan Widi. Sedangkan Ugi mendampingi Aldi dan Aldo yang juga terus menangis karena kehilangan nenek. Melati yang masih syok, dengan keadaan lemah karena sedari siang dia belum makan, membuatnya sering pingsan dalam pendampingan bu Siti.


"Bro, ane tinggal ga papa nih? Kasian bapak soalnya, sudah malam ane harus nganterin bapak pulang dulu." kata Ayub kepada Ugi.


"Iya, gapapa. Pulang aja, lagian ini juga udah aman semua. Jazakumullah khoir bro, udah mau aku repotin buat datang ke sini, mendadak." kata Ugi.


"MaasyaaAllah, mas manten, ga usah gitu lah. Ane malah seneng banget, tiba-tiba ente langsung dapet jodoh." kata Ayub.


"Semoga sakinah mawaddah warohmah antik jannah ya bro." lanjut Ayub.


"Aamiin yaa Rob." jawab Ugi.


"Mas Ugi, maaf. Bapak harus pulang dulu ini, InshaaAllah besok kalau jenazah sudah dibawa ke rumah duka, bapak akan ta'ziyah ke sana saja." kata pak Haji Karyo


"MaasyaaAllah, terimakasih banyak pak Haji, saya justru yang minta maaf, sudah merepotkan bapak malam-malam begini. Terimakasih juga sudah menjadi saksi pernikahan kami." kata Ugi.


"Alhamdulillah mas Ugi, jodoh mas Ugi sungguh dekat, mendadak pun tidak masalah. Nanti kalau urusan pemakaman neneknya mas Ugi sudah selesai, langsung saja datang ke KUA untuk mengurus pernikahan resminya ya." kata pak Haji Karyo.


"Ya pak haji, InshaaAllah. Terimakasih pak haji sekali lagi." kata Ugi.


"Iya mas, sama-sama. Semoga mas Ugi menjadi suami yang Sholih ya, istrinya juga menjadi istri yang Sholihah, sakinah mawaddah warohmah, sampai kaki kaki nini nini ya mas." kata pak Haji Karyo.


"Aamiin yaa Robb, terimakasih pak Haji."


"Ya sudah mas, saya pulang dulu. Yang sabar, kami turut berduka cita, semoga almarhum neneknya mas Ugi, termasuk orang yang khusnul khotimah." kata Pak Haji Karyo lagi.


"Aamiin, sekali lagi terimakasih banyak pak Haji." kata Ugi.


Sepeninggal Ayub dan bapaknya, Ugi kembali menemani Aldo dna Aldi yang ternyata sudah didampingi pak Wahid dan Widi.


"Oh, benar dugaan kami tadi berarti. Mas Ugi ini bukan sekedar teman dekatnya Mbak Melati ya?" tebak pak Wahid.


"Ehm. iya pak. Saya mau jawab calon suami, rasanya belum siap juga, karena memang baru sore tadi Melati menerima saya. Sedangkan pihak keluarga belum ada yang tau." kata Ugi.

__ADS_1


"Lalu, kenapa mendadak sekali nenek meminta kalian menikah?" tanya Widi.


"Sebelumnya, memang nenek menginginkan kami menikah mas, saya sih iya saja, tetapi Melati masih belum bisa menerima." jawab Ugi.


"Oh, begitu?"


"Apakah sebelumnya, ibu Melati sudah tau?" tanya pak Wahid


"Sudah pak."


"Justru, keluarga saya yang belum tau, tetapi ini tadi saya mengabari keluarga saya di kampung, dan mereka meridhoi langkah saya. Tetapi memang mereka tidak bisa hadir jika dalam hitungan jam." kata Ugi.


"Memangnya mas Ugi ini asli mana?" tanya pak Wahid.


"Saya asli Wonogiri pak."


"Oh. Ya lumayan jauh juga jika mengejar waktu ini tadi." kata pak Wahid.


"Iya pak."


"Iya pak."


Setelah percakapan itu, administrasi dan urusan perpulangan Jenazah ke rumah duka sudah selesai diurus oleh pihak rumah sakit. Jam duabelas malam. Jenazah bu Sri dibawa ke rumah duka dengan mengendarai mobil ambulance. Melati yang bersikeras ingin ikut satu mobil dengan neneknya, ditemani oleh pak Wahid dan Bu Siti. Sedangkan Widi membawa pulang mobilnya dengan membawa si kembar, dan Ugi membawa motor Melati untuk pulang ke rumah Melati.


"Mas Ugi, ibu nitip Melati dan si kembar ya. Ibu ini harus pulang dulu sama mas Widi. Biar bapak menemanimu di sini untuk berjaga-jaga. Bapak juga sudah mengumumkan ke warga, kalau mas Ugi ini adalah suaminya Melati, sehingga mereka akan mengerti dengan keberadaan mas Ugi di sini." kata Bu Siti sesampainya di rumah duka.


"Ya bu, terimakasih bu sudah membantu kami." kata Ugi.


"InshaaAllah besok pagi, ibu ke sini lagi." kata Bu Siti lagi.


"Ya bu."


Bu Siti pun pulang dengan diantarkan Widi, menantunya. Sedangkan pak Wahid masih di rumah duka bersama beberapa warga sekitar yang berjaga di rumah Melati.

__ADS_1


Melati belum bisa tidur, dia di kamarnya dengan ditemani Ugi, sedangkan kedua adiknya sudah terlelap sejak baru sampai rumah. Dan si kembar tidur di kamarnya, ikut serta menemani Melati.


"Melati...ehm, ini kamu makan dulu ya." kata Ugi sambil menyodorkan sepotong roti untuk Melati. Sepulang dari rumah sakit tadi, Ugi menyempatkan diri mampir ke mini market yang buka 24 jam, untuk membelikan makanan untuk istrinya. Untuk dirinya juga, karena sedari siang dia juga belum makan.


Ugi memilih membeli makanan di minimarket, karena mencari tempat yang bisa melakukan transaksi non tunai, karena uang tunai nya yang ada didompet sudah habis untuk mahar tadi.


Melati menggeleng.


"Ehm...mas suapin ya." kata Ugi lembut.


Melati menatap Ugi dengan tatapan nanar. Ugi melihat kepiluan yang mendalam di sorot mata istrinya.


"Kamu harus makan, seharian kamu belum makan. Sedikit aja. Pemakaman nenek masih besok pagi, kamu harus kuat, ga boleh sakit." kata Ugi.


"Tapi mas... nenek... huhuhuhu..." Seketika Melati memeluk tubuh Ugi dengan sesenggukan. Lagi-lagi air matanya tumpah. Ugi mengusap lembut kepala Melati yang tertutup jilbab. Dan mengecup pucuk kepala Melati berkali-kali, dengan sesak di dadanya juga, karena ikut merasakan duka yang mendalam.


"Mas Ngerti, tapi kamu harus makan. Biar ga sakit. Ibu ga bisa pulang, otomatis besok kamu yang harus kuat, demi menguatkan kedua adikmu." kata Ugi lagi.


Melati melepas pelukannya, lalu mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


"Makan ya...sayang." kata Ugi, dengan penuh perhatian dan sorot mata penuh cinta.


Melati mengangguk.


Lalu Ugi menyuapi Melati dengan perlahan. Malam ini adalah malam pertama bagi sepasang pengantin baru, ditengah suasana duka. Melati yang seharian beraktivitas dan sejak neneknya kritis terasa lemah, akhirnya Melati tertidur juga dipangkuan Ugi. Ugi mengelus kepala Melati dengan penuh cinta.


"Kamu gadis baik Melati, kamu gadis kuat. Aku janji, aku akan jagain kamu terus, jagaian kedua adikmu, sesuai permintaan nenekmu. Aku...mencintaimu Melati." kata Ugi pelan sambil mengecup kening Melati.


Ugi teringat dengan cincin yang tadinya mau dia berikan pada Melati. Tetapi, tadi dia belum sempat memakaikan cincin itu, nenek Melati keburu meninggal. Namun, Ugi urung untuk memakaikan cincin itu.


"Ga, aku ga boleh memberikan cincin ini kepada Melati. Ini Cincin ku niatkan untuk Maryam, jika ku pakaikan di jari Melati, aku takut, aku akan kembali teringat oleh sosok Maryam. Mending besok atau kapan, aku tukar kan dulu saja cincin ini" kata Ugi sambil memegang cincin emas itu.


Malam yang panjang dilalui Ugi, dengan menjaga Melati dan kedua adik kembarnya. Kepergian nenek, adalah persatuan kedua hati mereka.

__ADS_1


"Terimakasih nenek, akhirnya aku bisa meraih cintaku. Terimakasih nenek, kau sudah jodohkan kami dengan caramu. Terimakasih yaa Allah, sungguh rencanaMu sangat indah. Semoga nenek bahagia di sana." gumam Ugi.


__ADS_2