
Malam harinya, Melati sudah bersiap memenuhi janjinya. Melati memakai pakaian pemberian Dewa saat menikah kemarin. Ya, Dewa selaku laki-laki dewasa sangat mengerti bagaimana memperlakukan istri agar bisa memuaskan nya dimalam hari. Dewa sudah menyiapkan lima lingerie berwarna cerah yang dia siapkan dalam sebuah kotak, dan dia berikan khusus untuk istri keduanya ini. Saat di Bogor, barulah Dewa memberikannya pada Melati. Dan Dewa meminta Melati memakainya saat di Bogor, dan malam ini, Dewa memintanya lagi untuk mengenakan pakaian itu yang sebenarnya Melati merasa sangat tidak nyaman. Namun, demi patuh pada suami, Melati mengusir rasa itu jauh-jauh.
Setelah menidurkan Dirga dan Tsabita, Melati berganti pakaian di dalam kamar mandi, namun karena masih malu, sedangkan Dewa masih tampak berkutat di depan Leptop, Melati mendobeli pakaian hotnya itu dengan piyama.
Melati tak berani mengusik suaminya, Melati hanya duduk di ranjang sambil bermain ponsel. Namun, tak disangkanya, ternyata Dewa sudah mengetahui Melati telah selesai dengan tugas-tugas malamnya. Dewapun segera mengakhiri kegiatannya, lalu menghampiri istrinya yang sedang duduk di pinggir ranjang dengan memainkan ponselnya.
"Lagi nulis novel ya?" tanya Dewa yang sudah duduk di dekat Melati sambil meletakkan dagunya dipundak Melati, dan tangan kirinya memegang paha Melati yang masih tertutup piyama.
"Eh, i-iya mas." jawab Melati tergagap.
"Misal dilanjut nanti, Atai besok, gimana?" tanya Dewa sambil tangan kirinya sudah mulai bergerilya.
"Ehm, iya mas. Bisa." jawab Melati sambil meletakkan ponselnya di nakas.
Dewa yang melihat Melati sudah tampak siap dengan permainan malam ini, merasa sangat bahagia.
"Sayangku..."
"Ya mas?"
"Ehm, sebelum memenuhi janjimu tadi siang, mas mau tanya dulu boleh?" tanya Dewa.
"Silakan mas." jawab Melati.
"Sayangku... mau lanjut kuliah dulu...apa mau punya anak dulu?" tanya Dewa dengan mengubah posisinya menatap wajah Melati yang tertunduk.
"Ma...maksud mas?" tanya Melati tak mengerti.
"Jadi gini, mas tau, sayangku sudah pernah mengalami kehamilan yang gagal, dan tentunya itu menyisakan suatu trauma bukan? Selain itu, mengingat sayangku yang baru saja lulus SMA, tentunya ada kesempatan emas bagi sayangku untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Nah, mas mau tanya, sayangku masih pingin merasakan kehamilan bersama mas dulu, apa mau lanjut kuliah dulu?" tanya Dewa.
"Ehm... kalau menurut mas?" bukannya menjawab, Melati justru kembali bertanya pada Dewa.
"Yah, gimana sih sayangku ini, ditanya kok balik tanya?" keluh Dewa.
"Bukannya gitu mas, karena disini posisi Melati adalah istri mas. Kalau memang mas menginginkan anak, ya Melati akan fokus dengan keinginan mas, tetapi kalau mas punya pandangan lain, ya Melati ngikut mas aja. Karena istri itu, keridhoan Allah ada pada suaminya." jawab Melati.
"Oh, gitu ya?" kata Dewa manggut-manggut.
"Sebenernya, mas tu pingin sih, segera punya momongan dari dirimu, tapi...mengingat sayangku ini baru lulus SMA, pastinya sayangku masih punya keinginan untuk menggapai cita-cita bukan? Lagipula, Adek jiga masih kecil, baru juga umur setahun, apa iya dia harus punya adik diusianya yang masih sangat kecil?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Mas pernah berada di posisi repot nya mengurus anak, sesungguhnya mengurus anak itu tidak mudah. Butuh tenaga ekstra." lanjut Dewa.
"Oh, begitu?" gumam Melati.
"Kalau menurut sayangku?" tanya Dewa.
"Memangnya, kalau mas pingin kita menunda keturunan, bisa ya?" tanya Melati yang membuat Dewa gemash, karena pertanyaannya belum juga dijawab, justru balik bertanya.
"Ya, bisa aja. Kaya kemarin waktu di Bogor. Karena mas belum tau, sayangku udah siap hamil lagi apa belum. Makannya kemarin mas pake pengaman. Atau, kalau sayangku mau, sayangku yang pasang pengaman." jawab Dewa.
"Alat pengaman itu, maksudnya KB?" tanya Melati yang masih belum terlalu paham hal-hal seperti itu.
"Iya." jawab Dewa.
"Jadi gimana?" tanya Dewa sudah tidak sabar.
"Anak itu adalah rejeki. Anak itu pembawa rejeki. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk menolaknya mas. Urusan anak itu langsung sama Allah, Allah yang menentukan. Kalau memang rejeki, meski kita memasang pengaman, kita KB, kalau sudah rejekinya. ya tetap nanti akan hamil. Begitupun dengan keinginan kita untuk mempunyai momongan, mau diprogrma bagaimanapun, jika Allah belum berkehendak memberi rejeki anak, tetap saja belum bisa hamil. Jadi, kalau menurut Melati, kita jalani saja secara alami mas. Jikapun nanti akhirnya Melati segera hamil, berarti Allah sudah percaya pada kita untuk bisa merawat dan mengasuhnya. Begitupun jika beberapa kali kita sudah berusaha, tetapi bertahun-tahun belum juga hamil, itu juga atas kehendak Allah. Allah belum memberikan rejeki berupa anak kepada kita, maka kita dilarang util bersedih, karena sesungguhnya Allah bersama kita." kata Melati.
"Ini nih, yang mas suka dari sosok seorang Melati. Ketauhidan dalam hati memang penting ya. Jadi tambah cinta deh mas sama sayangku ini." kata Dewa menowel dagu Melati.
"Berarti kalau Allah kasih rejeki anak dalam waktu dekat, sayangku siap?" tanya Dewa.
"Pastinya dong." jawab Dewa yang sudah mulai memandang Melati dengan tatapan nakalnya.
Dewapun perlahan membuka baju piayama Melati, dan tampaklah lingerie berwarna pink dusty yang menampakkan lipatan dada Melati. Dewa semakin liar dan mulai bergerilya, tatapan buasnya mulai menjadi, dan akhirnya merekapun melakukan hubungan dalam penyatuan cinta suci diantara mereka. Melati benar-benar pasrah dengan yang dilakukan suaminya.
💕💕💕
Keesokan harinya setelah melakukan malam panas, Melati segera mandi junub sebelum menjalankan ibadah sholat malam. Lalu dilanjut mengaji dan sholat subuh, sedangkan Dewa yang masih merasakan di zona nyaman, terpaksa bangun subuh dengan di bangunkan Melati secara paksa.
"A..ah...sayang, mas masih ngantuk ini." keluh Dewa yang tadinya dibangunkan, justru kembali merengkuh tubuh Melati lagi.
"Mas...udah ah, udah subuh. Keburu siang. Anak-anak keburu bangun, Melati harus menyiapkan sarapan dulu." kata Melati berusaha melepaskan pelukan Dewa.
"Hh... baiklah." jawab Dewa pasrah, lalu akhirnya Dewa dengan bermalas-malasan menuju kamar mandi dan melakukan mandi junub.
Setelah mandi, Dewa sholat subuh, sedangkan Melati sudah sibuk di dapur. Setelah sholat subuh, Dewa keluar kamar dan menyusul Melati ke dapur. Dari pintu dapur, Dewa melihat Melati dari arah belakang sedang sibuk menyiapkan sarapan dengan mengenakan daster selututnya dan tanpa jilbab, sehingga menampakkan leher jenjangnya.
Dewapun kembali mendekati Melati dan memeluk Melati dari belakang, di ciuminya leher Melati, dengan matanya yang masih mengantuk.
__ADS_1
"Mas... ih, Aku lagi masak lho, nanti gosong." kata Melati merasa risih.
"Mas ga mau jauh-jauh dari sayangku." kata Dewa dengan nada manja.
"Ih, mas Dewa nih...lebay deh ah, maaf bentar mas, Aku mau ambil baskom dulu." kata Melati.
Terpaksa Dewa melepaskan pelukannya demi kebebasan Melati dalam bergerak di dapur.
"Aromanya enak banget sih, bikin apa sih sayang?" tanya Dewa masih dengan bergelayut manja di pundak Melati.
"Bikin omlet mas, sama nasi goreng. Semoga anak-anak suka ya. Melati juga belum tau kesukaan mas, jadi maaf ya mas, sementara Melati buatin ini dulu buat mas." kata Melati lembut.
"Iya sayang, apapun masakanmu, mas suka kok." kata Dewa dengan mengeringkan matanya.
"Ih, genit..." kata Melati sambil cekikikan.
"Abisnya kamu ngegemisn sih." kata Dewa.
"Udah ah, jangan nempel terus mas, ga enak nanti kalau anak-anak udah bangun, ngeliat kita kaya gini." kata Melati risih.
"Hm...sebenarnya, mas tu masih pingin berlama-lama sama sayangku. Tapi, sayangnya hari ini mas udah harus masuk ngajar. Ehm, btw, sayangku masuk ngajar juga kah?" tanya Dewa.
"Menurut mas gimana? Kalau mas ijinin, Melati balik lagi hari ini, tapi kalau engga, mulai hari ini Melati akan resign." Jawab Melati.
"Di PAUD temennya cewek semua kan?" tanya Dewa.
"Iya mas."
"Okey, boleh dong...lanjutin aja." jawab Dewa.
"Emang kalau ada cowoknya, kenapa mas?" tanya Melati kepo.
"Kalo ada cowoknya, mas minta kamu resign aja. Karena mas akan sangat cemburu kalau sayangku bekerja dengan laki-laki." jawab Dewa terua terang.
Melati tersenyum senang.
"Berarti Melati boleh ngajar lagi kan mas?" tanya Melati.
"Tentu saja." jawab Dewa dengan mengeringkan matanya.
__ADS_1