Seputih Melati

Seputih Melati
Gundah


__ADS_3

Apabila telah tiba masa ku


Untuk segera mengakhiri lajangku


Dengan segenap kemampuan Allah berikan


InshaaAllah janjiku segera ku tunaikan


Tapi bila kuraba dalam hati


Datang seruntun pertanyaan silih berganti


Adakah semua kulakukan terlalu dini


Berdegup jantung di dada kendalikan diri


Namun pernikahan begitu indah kudengar


Membuatku ingin segera melaksanakan


Namun bila kulihat aral melintang pukar


Hatiku selalu maju mundur dibuatnya


Akhirnya aku segera tersadar


Hanya pada Allah lah tempat aku bersandar


Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar


InshaaAllah azzamku akan terwujud lancar


(Nasyid. Hasrat Hati by Suara Persaudaraan)


Pagi-pagi seusai sholat subuh, Ugi sudah beraktivitas dengan berlari pagi mengelilingi kampung tempat dia ngekos. Itu menjadi rutinitas dia setiap pagi, untuk selalu menjaga stamina nya, agar tetap fit. Karena meski dia bisa saja masuk sekolah kepolisian, tetapi dia tidak tertarik masuk ke sama. Padahal dahulu waktu masa aliyah, dia sangat aktif mengikuti Saka Bayangkara di Polres. Tetapi, lambat laun, dia lebih memilih melanjutkan studynya di Universitas Negeri, dan berkuliah di Bimbingan Konseling.


Ugi terus mengayun langkahnya untuk berlari sambil mendengarkan nasyid yang ada di ponselnya. Dan lagu dari Suara Persaudaraan dengan judul Hasrat Hati selalu menjadi penyemangat nya dikala sedang gundah. Ya, Ugi sedang gundah dengan hatinya yang mulai terusik oleh kata-kata Guntur semalam, tentang dia yang tak boleh menunggu Maryam menjanda, ya kalau janda, kalau justru suaminya menduda, bernasib sama dengan mas Dewa? Bagaimana? Kata itu selalu terngiang sepanjang malam. Ya, Ugi terlalu terobsesi dengan sosok Maryam, sahabatnya selama di Aliyah, sampai gadis itu telah menikah, rasanya hatinya tak rela.


Namun, kembali dia teringat oleh sosok gadis ayu, dengan wajah sayu ditengah guyuran hujan menahan dingin. Ternyata nama Sekar Melati Suka telah mengusik hatinya yang sedang gundah.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga." kata Ugi sambil duduk di teras kosan meluruskan kedua kakinya.


"Mas Ugi. Abis olahraga ya?" tanya Mala, gadis cantik yang ngekos di sebelah kosan Ugi. Gadis ini yang biasanya diantar Ugi kalau Ugi sekalian berangkat ke kantor PMI.


"Eh, Mala. Iya. Mau kuliah La?" tanya Ugi ramah sambil mengusap keringat di lehernya.


"Iya mas. Mas Ugi masuk siang ya?" tanya Mala.


"Iya Mala."


"Ehm, ya udah. Kalo gitu, Mala duluan ya mas." kata Mala ramah.

__ADS_1


"Okey. Hati-Hati." kata Ugi.


"Ya mas."


Ugi memang tipikal cowok yang perhatian dan ga tegaan, apalagi sama perempuan. Termasuk dengan Mala, kalau pas dia berangkat Kerja, melihat Mala jalan kaki menuju jalan raya untuk nyegat angkot, selalu Ugi menawarkan diri untuk mengantarkannya sampai di depan kampus. Tetapi, bagi Ugi, itu hanya hubungan Pertemanan saja, karena bagi Ugi, Mala tidak masuk kriterianya, karena Mala tidak berjilbab.


Setelah dirasa keringatnya mengering, Ugi segera masuk kamar mandi dan bersiap untuk mandi. Hari ini, rencananya dia akan ke perpustakaan umum dulu, tempat biasa dia nongkrong. Sekedar untuk nebeng WiFi dan sesekali baca-baca buku majalah terbaru.


Saat akan berangkat, dia teringat untuk mengembalikan kotak nasi milik Melati. Kemudian dia bawa dalam keadaan kosong, karena dia akan mengisinya dengan nasi uduk yang dia beli di dekat bengkelnya pak Haji Karyo.


"Eh, mas Ganteng, mau nasi uduk mas?" tanya bu Yati penjual nasi uduk.


"Iya bu."


"Mas ganteng nih udah lama lho ga main ke warung ibu. Kemana aja to mas?" tanya Bu Yati sambi meracik nasi uduk untuk pelanggannya.


"Hahaha, kangen ya bu? Biasalah bu, namanya juga anak muda. Healing, traveling, keliling keliling sampe pusing bu." seloroh Ugi.


"Ah mas ganteng ini bisa aja kalo bercanda. Emang keliling keliling nyari apa sih mas?" tanya bu Yati.


"Nyari jodoh bu. Timur ke barat, Selatan ke utara, tak jua...aku temukan..." kata Ugi sambil bernyanyi ala Wali Band.


"Wealah mas, lha kok jauh jauh lho nyarinya sampe muter-muter. Lha itu, si mbaknya yang biasa dibonceng? Kenapaa ga sama mbak cantik itu aja mas?" tanya bu Yati.


"Ha? Maksud ibu, Mala?" tanya Ugi.


"Iyo mas. Kan cantik tuh mas."


"Monggo mas." kata bu Yati menghidangkan nasi uduk untuk sarapan Ugi pagi ini.


"Terimakasih bu." jawab Ugi.


"Yo ga semua juga begitu to mas, harusnya mas Ganteng tu usaha. Wong mas Ganteng tu udah kaya film sinetron itu lho. Apa namanya? Ehm...GGS..." kata bu Yati.


"Apaan tu bu? Ganteng Ganteng Serigala?" tanya Ugi yang taunya GGS itu ganteng-ganteng Serigala.


"Ih... ya bukan to mas... mosok mas Ganteng di kaya Serigala? Kalo mas Ganteng ini, GGS, ganteng Ganteng, Sholih... Asheeek..." goda bu Yati sambil mengelap piring.


"Hahaha, ada ada aja bu Yati ini. Entar kepalaku ga muat tak pakein helm lho bu, gara gara dipuji begitu." kata Ugi.


"Ya gapapa mas, malah biar kelihatan kegantengannya. Terus, bisa cepet laku deh." kata bu Yati.


"Hadeh...bu Yati bu Yati."


"Oya bu, minta tolong ini diisi nasi uduk ya bu." kata Ugi sambil memberikan kotak nasi kepada bu Yati.


"Weleh, njanur gunung mas Ugi ini bawa kotak nasi begini? Buat bekel to mas?" tanya bu Yati.


Tadinya Ugi mau berkata jujur, tetapi dia urungkan, khawatir nanti digodain lagi sama bu Yati.


"Iya bu. Lagian udah lama ga makan nasi uduk bu Yati." kata Ugi.

__ADS_1


"Makannya, sering sering dong mas ke sini." kata bu Yati.


"InshaaAllah bu. Asal isi dompet bersahabat aja." kata Ugi.


"Hehehe, iya mas." jawab Bu Yati yang paham betul dengan sifat langganannya yang ganteng ini, dia sangat anti kalau di kasih kesempatan nge bon.


Setelah membeli nasi uduk, dan sarapan di sana, Ugi segera menuju perpustakaan, sebentar. Lalu saat mendengar suara adzan dzuhur, dia bergegap menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur. Barulah dia melajukan motornya ke SKB, tempat gadis pemilik kotak nasi itu menuntut ilmu.


Tak menunggu waktu lama, gadis itu muncul juga dengan seragam formalnya. Namun, gadis itu tak menyadari keberadaannya di bawah pohon dekat pintu gerbang masuk.


Saat Melati turun dari motornya, Ugi mencoba menelpon gadis itu.


"Halo assalamualaikum." salam Melati.


"Wa'alaikumsalam ukhti. Ehm... ukhti coba tengok keluar gerbang. Tepatnya di bawah pohon." kata Ugi.


Tampak Gadis itu memutar badannya dan menengok ke arahnya.


"Lhoh? Mas Ugi ngapain ke sini?" tanya Melati saat sudah sampai di dekat Ugi dengan panggilan yang dia putus sepikah.


"Ehm, gapapa. Cuma mau mastiin motor ukhti Melati baik-baik saja. Terutama keadaan pemilik motornya." kata Ugi dengan cengingas cengingis menampakkan giginya yang tertata rapi.


"Oh, iya. Alhamdulillah, saya baik." jawab Melati.


"Ehm, tapi maaf mas, saya langsung masuk dulu ya mas." kata Melati yang merasa tak nyaman, dia khawatir jika ada temannya yang melihat dirinya berduaan dengan laki-laki asing.


"Eh, bentar." kata Ugi.


"Saya mau balikin ini aja kok ukhti." kata Ugi sambil memberikan kotak nasi milik Melati.


"Eh, kenapa harus dibalikin mas? Harusnya mas bawa aja gapapa lho." kata Melati.


"Ah, engga ukhti. Takut kebayang wajah ukhti terus kalo liat kotak nasi itu di rumah. Hehehe." kata Ugi yang berhasil membuat wajah Melati merona.


"Ehm, ini...kok berat? Diisi apa mas?" tanya Melati heran.


"Oh, itu... Itu cuma nasi kok ukhti. Tolong dimakan ya, semoga ukhti suka." kata Ugi.


"Ya ampun, kenapa harus repot-repot sih mas?" tanya Melati.


"Hehe, engga repot kok. Ya kalo ga mau bikin repot, biar saya aja yang ngerepotin ukhti dehm Buat bikinin makan siang buat saya tiap hari. Masakan ukhti kemarin bener-bener bikin ketagihan lho. Hayo, tanggung jawab." kata Ugi.


"Ha? Tanggungjawab? Tanggungjawab gimana?" tanya Melati tidak mengerti.


"Ya, tanggung jawab dengan perasaan yang akhirnya tumbuh di hati saya ini." kata Ugi sambil menarik turunkan alisnya.


"Ish, apaan sih. Maaf, saya mau langsung masuk mas. Takut telat." kata Melati melangkah pergi.


"Eh, kok buru-buru ukhti? Ehm, saya tunggu jawabannya ya ukh, kalau ukhti berkenan, saya mau langsung serius sama ukhti. Mau main ke rumah ukhti." kata Ugi serius.


Seketika tubuh Melati terasa dingin, gemetar mendengar pengakuan pria baik yanh baru dikenalnya.

__ADS_1


"Ehm, assalamualaikum." salam Melati sambil menunduk lalu berlari masuk ke gedung. Ugi yang ditinggalkan hanya senyum senyum sendiri dibuatnya.


__ADS_2