
Perhiasan yang paling indah
Bagi seorang abdi Allah
Itulah ia... wanita sholehah
Ia menghiasi dunia
Aurat ditutup demi kehormatan
Kitab al-Quran didaulahkan
Suami mereka ditaatinya
Walau perjuangan di rumah saja
Karena iman dan juga Islam
Telah menjadi keyakinan
Jiwa raga mampu dikorbankan
Harta kemewahan dilaburkan
Di dalam kehidupan ini
Ia menampakkan kemuliaan
Bagai sekuntum mawar yang tegar
Di tengah gelombang kehidupan
Aurat ditutup demi kehormatan
Kitab al-Quran didaulahkan
Suami mereka ditaatinya
Akhlak mulia yang ia hadirkan
Wanita sholehah...
Wanita sholehah...
Wanita sholehah...
(Nasyid Wanita Sholihah, By: The Fikr)
POV Melati
Pagi ini aku pengajian bersama nenek ke masjid Agung. Sedangkan Kedua adikku pamit gowes bersama teman-temannya ke Car Free Day. Jujur, ini kali pertam aku melepas kedua adikku pergi sendiri tanpa aku maupun orang dewasa dari keluarganya. Sehingga, ada kekhawatiran berlebih dalam hatiku, aku sangat takut jika mereka kenapa-napa. Di culik, misalnya, karena banyak berita kasus penculikan anak-anak akhir-akhir ini. Dan aku juga khawatir kalau mereka nyasar, karena mereka belum pernah bepergian sendiri sehingga sudah pasti mereka tidak tau jalan pulang. Mereka tipikal anak rumahan, sama sepertiku. Namun, aku berfikir, mereka anak laki-laki dengan fisik yang sempurna, tidak ada kebutuhan khusus sepertiku, sehingga aku mencoba untuk memberikan mereka kebebasan, dan kepercayaan.
Sepulang pengajian, aku melanjutkan beberapa pekerjaan rumahku, seperti menyapu dan mengepel, karena tadi belum sempat. Sambil mendengarkan musik dari radio kesukaanku, hari ahad adalah hari kesukaanku, karena di hari ini akan banyak nasyid yang bikin baper di gelombang 91,2 FM. Akupun semangat bersih-bersih sambil mendengarkan nasyid dari The Fikr, Wanita Sholihah.
"Yaa Allah, semoga aku termasuk dalam golongan wanita Sholihah." batinku.
Saat sedang asyik mendengarkan nasyid, ponselku berbunyi tanda ada sebuah panggilan masuk. Ku angkat telepon itu, tertra sebuah nama di layar ponselku yang membuat hatiku mendadak berdegup tak beraturan tanpa irama.
__ADS_1
"Mas Ugi? Ada apa dia nelpon aku?"
Kuangkat telepon itu.
"Hah? Dia minta share lok rumahku? Dia mau ke sini sekarang? Haduh, ada apa ya dia ke sini, mendadak banget? Apa dia mau nagih jawabanku sebulan lalu? Haduh, gimana ini? Aku harus jawab apa? Aku belum punya jawaban apapun." batinku terbawa perasaan.
Akupun mengiyakan saja dan mengiriminya alamat tempat tinggal ku. Lalu aku melanjutkan aktivitas ku lagi, hingga tiba-tiba nenek datang dengan wajah cemas.
"Nduk, Mel. Ini udah mau dzuhur, adik adikmu kok belum pulang? Apa mainnya jauh nduk?" tanya nenek.
Aku terperanjat,
"Astaghfirullah. Ini udah mau dzuhur ya?" gumamku saat melihat jam dinding. Karena saling gugupnya aku tadi ditelpon mas Ugi, dan katanya mau ke rumah. Pikiranku seketika runyam.
"Nduk, perasaan nenek kok ndak enak, mbok coba kamu telpon Husein, apa mereka baik-baik saja." pinta nenek.
"Ya nek." kata ku sambil melangkah mengambil ponselnya.
"Iya ya, mereka kok sampe jam segini belum pulang ya?" gumam ku.
📞Husein
"Assalamualaikum mas Husein." Salam ku.
'Ha halo mbak. Wa'alaikumsalam. Ada apa ya mbak?' tanya Husein dari seberang.
"Ini kalian sudah perjalanan pulang belum ya? Kok belum ada kabar? Ini sudah siang lho. Apa mampir dulu? Soalnya nenek khawatirin si kembar." kata ku.
'Ehm, anu mbak... i-Iya mbak, kita sudah perjalanan pulang, tapi kita... ga... " kata Husein terbata-bata.
"Ga apa? Kembar bersama kalian 'kan?" tanya ku to the point.
"Apa? Jadi mereka?..."
"Iya mbak. Maaf mbak...." jawab Husein.
"Ada apa Nduk?" tanya Nenek.
Aku masih syok dengan kenyataan yang ada, aku sempat berfikir, bagaimana cara menemukan mereka jika mereka hilang? Aku harus minta tolong siapa? Gimana keadaan nenek nanti kalau tau si kembar hilang? Bagaimana ini?
Semua pikiran dan perasaan campur aduk jadi satu. Hingga akhirnya, sebuah suara yang tak asing bagiku, menyelamatkan apa yang harus aku katakan pada Nenek.
"Assalamualaikum." salam Aldo dan Aldi bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." jawab nenek dan aku bersamaan. Disaat itulah, langsung kupeluk kedua adikku, dan aku melihat sesosok wajah tampan yang tersenyum manis menatapku, membuat jantungku berdegup tak karuan.
"Mas Ugi?"
POV Melati Off
"Mbak Melati, maafin Aldi sama mas Aldo ya mbak." kata Aldi sambil menangis.
"Kalian kemana saja sih nak?" tanya nenek.
"Tadi kita kesasar nek." jawab Aldi polos.
Melati yang terkejut dengan kedatangan Ugi, baru tersadar bahwa Aldi telah mengatakan sesuatu yang membuat nenek kaget, karena nenek belum tau yang sebenarnya.
__ADS_1
"Apa? Kalian kesasar?" tanya nenek dengan wajah terkejut.
"Iya nek, tapi ini kita di tolongin mas Ugi." kata Aldo sambil memperkenalkan Ugi.
Ugi yang namanya disebut oleh Aldo menundukkan badannya sebagai isyarat menyapa.
"Oh, alhamdulillah. Terimakasih ya mas...sudah nolongin cucu nenek." kata Nenek.
"Halo, mbak... mbak Melati." suara panggilan diseberang membuyarkan lamunan Melati yang masih terkesima dengan sesosok pria tampan di hadapannya.
"Eh, ya Sen, Ehm, kamu tenang aja, ini Kembar udah sampe rumah. Ini baru aja, dianterin sama orang." kata Melati sambil melirik Ugi.
"Oh, ya mbak, alhamdulillah. Kalo gitu, kita ke sana mbak." kata Husein dan kemudian panggilan terputus.
"Siapa mbak?" tanya Aldo.
" Husein." jawab Melati.
"Mas Husein nelpon mbak Melati?" tanya Aldo.
"Bukan, tapi mbak yang nelpon Husein, karena sampe siang kalian belum pulang, Husein juga ga ngasih kabar. Nenek khawatir sama kalian, dan bener 'kan, kalian kenapa napa." kata Melati dengan mode ngomel ngomel, persis emak-emak kalo isi dompetnya menipis dan kebutuhan lagi banyak-banyaknya.
"Maaf mbak." kata Aldo dan Aldi menyesal dengan kepala tertunduk karena merasa bersalah.
"Lain kali, kalo mbak bilang ga usah ikut, ya ga usah." kata Melati lagi.
"Udah to nduk, lagipula mereka juga sudah mengakui kesalahan mereka. Jangan dimarahi terus. Mending sekarang kamu buatkan minum buat mas berdua ini." titah nenek yang tak terbantah oleh Melati.
Melatipun sigap masuk rumah dan menuju dapur untuk membuatkan minum untuk kedua tamunya.
"Silakan duduk mas." kata nenek mempersilakan Ugi dan Ayub duduk di kursi teras.
"Ya Nek Terimakasih nek." jawab Ugi sambil mengambil duduk di teras rumah Melati yang sudah disediakan kursi dan meja untukenerima tamu.
"Nak mas ini, namanya siapa?" tanya nenek.
"Nama saya Ugi nek. Mugi Raharja. Dan ini teman saya, Ayub, Sholahudin Al-Ayubi." kata Ugi memperkenalkan diri.
"Oh ya. mas ini rumahnya mana?"
"Saya asli wonogiri nek, tapi saya ngekos nek."
"Kalau teman saya Ayub ini, aslinya purwokerjo, tetapi dapet istri orang sini, sehingga Ayub sekarang tinggal di kota ini juga bersama istri dan mertuanya..
"Oh. begitu? Kalau mas Ugi ini? Belum menikah?" tanya nenek.
"I-Iya nek."
"Tapi sudah punya calon kan?"
"Belum nek, mohon tambah do'anya saja nek."
"Tentu."
Kemudian Mealti keluar dari dalam rumahnya dengan membawa nampak berisi air teh hangat dan sepiring mendoan.
"Silakan diminum mas." kata Melati sambil meletakkan dua gelas teh hangat di meja untuk Ugi dan temannya.
__ADS_1
Ada curi curi pandang antara Melati dengan Ugi.