Seputih Melati

Seputih Melati
Belahan Jiwa


__ADS_3

Setelah ijab qobul di KUA, kedua mempelai beserta keluarga pulang ke rumah bahagia. Namun, karena memang tidak ada acara resepsi, sehingga setelah ijab qobul, keluarga Ugi memutuskan untuk segera pulang ke Wonogiri.


"Gi, keluarga ente mau pulang sekarang?" tanya Ayub.


"Iya Yub. Ya wajar sih, soalnya bapak kan punya ternak, ga bisa ditinggal lama-lama." kata Ugi.


"Iya juga sih. Terus, mereka balik naik apa?" tanya Ayub.


"Itu dia, ane juga masih bingung. Ini ane mau minjem mobil PMI, tapi kebetulan mobilnya baru dipake buat acara donor darah di Karanganyar." kata Ugi.


"Pake mobil bapak aja Gi." kata Ayub.


"Emang boleh?" tanya Ugi.


"Ya boleh lah." jawab Ayub.


"Lagian ente nih aneh, mau nganterin keluarga pulang kok naik mobil PMI, dikira mau baksos nanti, hahaha." ejek Ayub.


"Ya mau gimana lagi, nasib orang belum punya mobil, ya begini." kata Ugi merendah.


"Ya udah, entar ente ke rumah aja, ambil mobilnya. Biar ane yang bilang sama bapak, pasti boleh dah." kata Ayub.


"Beneran nih?"


"Beneran." jawab Ayub yakin.


"Ya udah, sekarang aja ane ke sana. Biar mereka beres-beres." kata Ugi saat Ayub akan beranjak pulang dari rumah bahagia.


"Okey." jawab Ayub.


💞💞💞


Belahan jiwa


Engkau mentari pelita hati ini


Tersenyumlah bahagiakanku


]Dengan tulusmu dengan cintamu


Belahan jiwa ingatkanlahku


Jika terlupa dalam menuju


Tersenyumlah bahagiakanku


Dengan beningmu dengan kasihmu


Engkau kurindu sepanjang waktu


Teguhlah memandu aku


Kudoakan engkau selalu


Di kala malam tengah menjelang


Menjadilah setegar karang


Sesejuk pagi seindah rembulan


Sejernih hati sebening embun


Sepeka nurani seperkasa mentari pagi


Tuhan teduhilah belahan jiwaku


Berikan cahya-Mu dekap teguh dijalan-Mu


Tuhan teduhilah kami di jalan-Mu


Berikan cahya-Mu dekap teguh dijalan-Mu


(Created by Abu Naufal)

__ADS_1


Nasyid yang mengalun di sepanjang perjalanan menuju kota tiwul itu, membuat hati Melati tersentuh.


"Cie...mas Ugi nih, mentang-mentang dah beristri terus muter musik nya itu terus." goda Muna.


"Apaan sih Mun, ini tu mobilnya Ayub, kebetulan aja musik yang dia puter tu lagu ini." kata Ugi.


"Tapi menyentuh banget lho mas. Iya 'kan mbak?" tanya Muna pada Melati yang duduk di samping Ugi.


Melati hanya tertunduk malu.


"Oya bu, ini kita mau mampir kemana dulu gitu ga?" tanya Ugi yang sudah memasuki gapura selamat datang kota Wonogiri.


"Ehm, ga usah gapapa le. Langsung ke rumah saja. Ini tadi Muna sama Melati juga sudah beliin oleh-oleh dari pasar." kata bu Yani.


"Okey, ya udah bu. Kita langsung ke rumah aja ya." kata Ugi.


"Iya le."


Dua jam perjalanan, akhirnya rombongan sudah sampai rumah pak Slamet yang sangat sederhana, jauh dari keramaian kota. Mereka telah memasuki halaman yang luas, dan rumah joglo yang cukup luas.


"Ayo mbak, masuk." ajak Muna kepada Melati.


Melati masuk rumah bersama kedua adiknya yang merasa asing dengan tempat yang baru saja mereka pijak.


Muna segera ke dapur untuk membantu ibunya menyiapkan minuman untuk keluarga baru mereka. Sedangkan Wawan langsung menggelar tikar untuk anggota keluarganya beristirahat.


Ugi yang baru turun dari mobil, setelah tadi dia mendapat telpon dari Bang Guntur, segera ke bagasi untuk membawa tas miliknya dan Melati yang sudah dijadikan satu, dan dibawanya ke dalam kamarnya.


"Wan, kamu nanti tidur di ruang tamu ya. Kamarnya buat mas sama mbak Melati dulu." kata Ugi.


"Okey mas, siap. Pengantin baru ya harus dikasih kamar khusus dong. Buat..." kata Wawan yang tertahan karena Ugi sudah mengepalkan tangannya di depan wajah Wawan.


"Belum nikah, jangan suka ngomong mesum kaya gitu. Mau mas kasih ini?" kata Ugi.


"Hehe, maaf mas. Maaf." kata Wawan.


"Ya wis, ayo bantuin mas beresin kamar dulu, ternyata kamu yang make berantakan banget to?" omel Ugi.


"Iya mas. Sebenernya juga Nur kalo pagi selalu mberesin, tapi selalu aja berantakan lagi." keluh Nur.


"Yah, mas masa' ganteng-ganteng gini tidur di kandang sapi sih?" kata Wawan.


"Ya kalo kamu ga suka bersih-bersih, kan mending tidur di kandang sapi." kata Ugi.


Adegan adu muluk kakak beradik terus berlanjut sampai acara beres-beres kamar sudah selesai. Melati yang ternyata juga ikut serta ke Dapur, sudah datang ke ruang tamu dengan membawakan teh panas yang baru saja dibuat oleh bu Yani.


"Ayo mas, Wan, diminum dulu teh nya. Bapak ke mana?" tanya Melati sambil celingak celinguk.


"Biasa mbak, si bapak kalo abis dari pergi-pergi, selalu nengokin sapi nya dulu mbak." kata Wawan.


"Oh... ya udah. Itu diminum dulu ya." kata Melati.


"Okey sayang, makasih ya." kata Ugi sambil mengambil segelas teh yang dibawakan Melati.


"Eh, mas..." tegur Melati, tetapi sudah ke duluan Ugi meletakkan gelasnya dengan spontan, dengan leher yang menjulur, karena kepanasan.


"Baru juga mau bilang, Awas hati-hati masih panas banget." kata Melati sambil mengambil tisu di tasnya lalu mengelap tangan Ugi yang sempat kena tumpahan Teh.


"Ya Allah Gusti... hati jomblo meronta-ronta ini..." kata Wawan drama, saat melihat adegan Mesra masnya dengan istrinya.


"Halah, ngapa to Wan..." kata Ugi.


Melatipun kembali ke dapur, until membantu bu Yani menyiapkan makan malam.


Setelah makan malam, Ugi mengajak Melati tidur di kamarnya, sedangkan di kembar tidur di ruang tamu bersama Wawan.


Saat malam tiba, Melati yang masih asyik dengan ponselnya untuk membalas chat dari bu Hayati, karena tadi dia minta ijin untuk besok belum bisa masuk, duduk di oinggiran ranjang, tiba-tiba tubuhnya dipeluk Ugi dari belakang, dengan dagunya ditempelkan di pundak Melati, dan kedua tangannya melingkar di pinggang langsing Melati.


"Sayang..." suara Ugi terdengar lembut di telinga Melati.


Seketika tubuh Melati bergidik, ini kali pertama dia merasakan di peluk seseorang yang menurutnya asing.


Melati masih terdiam, tanpa melakukan perlawanan.

__ADS_1


"Sayang..." kata Ugi lagi dengan lembut, dan kini wajahnya dia gosokkan di leher istrinya yang masih tertutup jilbab.


"Hem?" jawab Melati dengan malu, tanpa berani menoleh ke belakang.


"Bolehkah mas melihat keindahan rambutmu?" tanya Ugi.


"Ehm..." Melati mengangguk.


"Mas yang buka, boleh?" tanya Ugi.


Melati lagi-lagi hanya mengangguk.


Ugi memegang lengan atas Melati, dan memutar tubuh Melati untuk menghadapnya. Wajah Melati masih tertunduk malu.


Perlahan Ugi memegang dagu Melati, dan mengahadapkan wajah Melati tepat di depannya, namun, mata Melati justru terpejam.


"Mas buka ya." kata Ugi perlahan.


Melati hanya mengangguk.


Perlahan-lahan Ugi membuka jilbab Melati yang segiempat itu, dia lepaskan Bros di dada kirinya, lalu melepas peniti yang ada di dagunya, perlahan dia buka lembaran kain yang menutupi kepalanya.


"MaasyaaAllah, sungguh indah ciptaanMu yaa Robb. Kamu...cantik sekali sayangku." puji Ugi saat sudah melihat secara vulgar wajah istrinya yang dia angkat perlahan dagu istrinya.


"Bukalah matamu sayangku." kata Ugi dengan lembut.


Perlahan, Melati membuka matanya, dan manik mereka bertemu. Lama, tatapan mereka saling beradu, hingga Ugi mendekatkan wajahnya ke wajah Melati. Dekat dan semakin dekat.


Cup


Kecupan lembut pertama yang didapat Melati dari seorang laki-laki dibibirnya. Melati seketika menunduk malu. Wajahnya merona, dan sedang menahan senyum


"Apa kamu bahagia sayangku?" tanya Ugi.


Melati mengangguk.


"Ini bukan sebuah keterpaksaan bukan?" tanya Ugi lagi.


Melati menggeleng.


"Aku mencintaimu karena Allah." kata Ugi, lalu mengecup kening istrinya dengan cukup lama. Diresapinya setiap hembusan nafas mereka, detak jantung Melati begitu terasa, begitupun dengan detak jantung Ugi yang begitu jelas didengar oleh Melati.


"Mas tidak akan memaksamu, untuk segera melayani mas. Mas akan menunggu Melati benar-benar siap lahir batin." kata Ugi.


Melati mendongak. Benar, dalam pikiran Melati sudah meracau kemana-mana. Dia memang merasa belum siap jika harus melalui malam pertama sekarang. Batinnya masih syok dengan kejadian yang serba mendadak ini.


Ugi tersenyum lembut. Tangan kanannya mengelus kepala Melati,


"Tidurlah sayangku. Kamu pasti sudah capek banget. Besok mas mau ajak kamu pergi ke suatu tempat." kata Ugi.


Melati mengernyit,


"Ke mana?" tanya Melati.


"Ada deh." jawab Ugi, lalu Ugi melakukan adegan mesra dengan bersimpuh di bawah Melati, sambil kedua tangannya memegang kedua tangan Melati.


"Sayangku, Melati. Terimakasih ya, kamu sudah mau menerima mas dengan Segal kekurangan mas. Kamu lah belahan jiwaku, dan kamu adalah cinta terakhirku." kata Ugi sambil menggenggam kedua tangan Melati, lalu dikecupnya perlahan.


Melati hanya Mengangguk.


"Udah, ayo tidur. Mau mas kelonin, apa mau tidur sendiri?" tanya Ugi dengan bermain mata.


Lagi-lagi Melati tersipu malu.


"Mas kelonin ya." tawar Ugi.


Melati hanya mengangguk.


Kemudian, benar saja. Mereka tidur dalam satu ranjang. Ugi memeluk tubuh Melati dengan mesra, namun tidak dengan Melati. Melati masih kaku, belum bisa membalas kemesraan suaminya. Namun, Melati juga tidak menolak.


💞💞💞


Buat reader tercinta, pendukung pak duda keren, kalian tenang saja ya, InshaaAllah dalam waktu dekat, Author akan unggah cerita Melati bersama pak Duda keren deh. Tapi ini pak Duda nya baru ijin cuti, sibuk ngurusin anaknya dulu. jadi belum author keluarin di cerita.

__ADS_1


Kira-kira, gimana tanggapan pak dewa, kalau dia tai bahwa bunda Melati sudah bersuami ya? Yuk, ikuti terus ceritaku ini ya. love you😘


__ADS_2