
Sudah tiga hari Melati di rumah bersama kedua adik kembarnya, tanpa bapak tentunya. Setiap titik rumah, Melati selalu ada cerita bersama bapaknya, yang membuatnya selalu teringat oleh sosok cinta pertamanya. Ya. Bapak adalah cinta pertama bagi Melati, dan entahlah, akankah dia merasakan jatuh cinta pada laki-laki lain. Karena dirinya tau diri, siapa dia, bagaimana keadaan fisiknya. Tidak mudah bagi seorang laki-laki akan menerima dia begitu saja, kecuali dari hatinya. Setelah tujuh hari kematian bapaknya, sudah jarang orang berkunjung ke rumahnya untuk mengirim do'a untuk bapaknya. Sehingga suasana rumah jadi terasa sepi. Sejak hari pertama dia sampai di rumah, Melati langsung diberi HP oleh Latif atas amanah dari ibunya di luar negeri, sehingga Melati sering telfonan dengan ibunya. Dan tak lupa dia juga memasukkan nomer HP dokter Syarafnya.
Pagi itu, kedua adik Melati sudah selesai mandi, sarapan, lalu mereka berpamitan untuk main. Sedangkan Melati membersihkan diri, karena dokter Arifin akan ke rumahnya pagi ini bersama orang yang akan membantunya mengganti perban.
Tak berapa lama, tamu yang ditunggupun datang.
"Assalamualaikum." salam Dokter Arifin.
"Wa'alaikumsalam." jawab Melati yang langsung membukakan pintu untuk tamunya.
"Dokter Arifin, mbak... mari silakan masuk." kata Melati santun kepada dokter Arifin dan kepada seorang wanita berparas cantik, dengan rambut yang digelung, seperti perawat pada umumnya. Wanita itu masih mengenakan pakaian seragam kerjanya, dan membawa tas dan kotak P3K.
Kedua tamunyapun masuk, Melati hendak beranjak untuk ke dapur,
"Melati, mau kemana?" tanya dokter Arifin.
"Mau saya buatkan minum dulu dok." jawab Melati.
"Ga usah repot-repot Mel, kita hanya sebentar kok." kata dokter Arifin.
"Oh, ya dok." kata Melati lalu duduk di kursi tamu.
"Kenalin, ini Bianka, dia calon istri saya, dia yang akan membantumu mengganti perban dan merawatmu serta mengecek keadaanmu. Dia seorang perawat di sebuah rumah sakit tulang, dan setiap tiga hari sekali, dia akan kesini untuk membantumu mengganti perban." kata dokter Arifin.
"Oh. ya dokter."
"Kemarin, dokter Rafa juga berpesan untuk mengganti perban tiga hari sekali dok."lanjut Melati.
"Ya sudah, ini langsung saja ya Melati, karena kita juga mau ke rumah sakit." kata Bianka.
"Oh. ya mbak." kata Melati.
Melati dan Bianka masuk ke kamar Melati, untuk dibersihkan bekas lukanya, dan dibantu untuk mengganti perbannya. Sedangkan Arifin menunggu di ruang tamu.
Tak berapa lama kemudian, Melati dan Bianka keluar kamar, lalu Bianka dan Arifin pamit undur diri. Karena Bianka harus segera berangkat ke rumah sakit.
"Sekali lagi, terimakasih mbak, pak." kata Melati sambil melepas kepergian pak Arifin dan Bianka.
"Sama-sama Mleati, semoga lekas embuh ya." kata Bianka.
Saat dokter Arifin dan Bianka mau masuk mobil, ada Zia datang dengan sepedanya.
"Zia?" kata Melati yang cukup kaget dengan kedatangan Zia, karena hari masih pagi, Zia ke rumahnya.
__ADS_1
"Hehe, iya Mel." jawab Zia nyengir.
"Kamu ga sekolah?"
Zia menggeleng.
"Aku udah libur sekolah Mel. Kan abis Ujian." kata Zia.
"Oh, iya. Masuk Zi." ajak Melati.
Sesampainya didalam rumah, Melati dan Zia saling bercengkrama.
"Mel, itu tadi dokter Arifin kan? sama cewek ya? Kok pagi-pagi udah ke rumah kamu? Ada apa Mel?" tanya Zia kepo.
"Oh, iya Zi, itu dokter Arifin bersama calon istrinya, nanya mbak Bianka. Mbak Bianka ke sini untuk bantuin aku gantiin perban dan merawat lukaku ini." kata Melati menunjuk bagian yang sakit.
"Calon istri?" tanya Zia terkejut.
"Iya, calon istri. Kenapa emang nya?"
"Jadi, dokter Arifin udah punya calon istri? Aku kira dia deket banget sama kamu dan perhatian banget sama kamu, karena dia suka sama kamu." kata Zia.
Menanggapi itu, Melati justru tertawa.
"Ya kan siapa tau Mel. Kaya di cerita novel gitu."
"Kamu tu terlalu halu Zi. kebanyakan baca novel sih..."
"Ya kan siapa tau Raa, ga ada yang ga mungkin di dunia ini." sanggah Zia.
"Tapi tetep aja ga mungkin, karena dokter Arifin itu ganteng, pinter, kaya, perfect. Lha aku? Jauh banget Zi. Apalagi fisik aku ini ga normal Zi. Lagian aku masih kecil, baru juga usia SMP." kata Melati.
"Iya juga sih..."
"Oya, tumben banget kamu pagi-pagi udah ke sini Zi?" tanya Melati.
"Ehm, iya nih Mel. Aku ke sini... mau..." kata Zia ragu.
"Mau apa?"
"Mau... tapi kamu jangan marah sama aku ya Mel. Jangan membenciku." kata Zia.
"Kenapa sih?" Melati semakin penasaran.
__ADS_1
"Aku...mau... pamitan sama kamu Mel."kata Zia sambil menunduk.
"Pamitan? Pamitan kemana?" Melati semakin penasaran.
"Jadi, sebenarnya, aku tu mau pamitan sama kamu udah lama Mel. Sejak kamu masih Di RS. Tapi... rasanya aku ga tega kalau mau pamitan sama kamu waktu itu. karena kamu masih berduka atas kepergian bapak mu. Maafin aku, disaat kamu baru aja ditinggalin bapak, aku justru ikutan pergi." kata Zia tertunduk sedih.
Mata melati sudah memerah menahan air matanya. Entah mau pamitan kemana sahabatnya ini? Yang jelas, dia harus kehilangan orang yang dia sayang lagi setelah bapaknya pergi.
"Aku...aku mau mesantren Mel." kata Zia sambil menatap Melati.
Cukup lama Melati terdiam, dia berusaha menguasai hatinya agar dia tetap tenang. Jujur, Melati sangat bingung harus bagaimana jika sahabatnya tidak ada.
"Oh... ya bagus dong Zi. Dengan begitu kamu bisa belajar mandiri dan menuntut banyak ilmu agama disana. Semoga cita-citamu tercapai." kata Melati.
"Tapi Mel, sebenarnya aku berat, tapi bapak memaksaku, pesantren atau tidak sama sekali. Itu pilihan bapak." kata Zia.
"Turuti kemauan orangtuamu Zi, Ridho Allah ada pada orangtua. Raih citamu. Aku lebih bahagia kamu tinggal, daripada melihatmu bernasib sama sepertiku yang berhenti sekolah." kata Melati.
"Apa maksudmu? Bukannya kemarin kamu diantar bapak mu daftar sekolah Mel?" tanya Zia.
"Iya..."
"Berarti kamu mau lanjutin sekolah kan Mel?"
"Rencananya sih, tapi... ga jadi."
"Kenapa?"
"Ga papa. Mungkin memang aku ditakdirkan untuk ga sekolah lagi. Kamu lihat aku sekarang kan? Aku ga mungkin sekolah, dengan meninggalkan kedua adikku. Dan dengan keadaan tanganku seperti ini." kata Melati.
"Tapi tanganmu itu kan ga lama Mel."
Melati menggeleng.
"Aku bahagia dengan pilihanku ini. Dah, kamu mau berangkat kapan?" tanya Melati.
"Pagi ini Mel."
"Oh, ya. Kamu hati-hati. Ya udah sana, nanti kamu keburu ditunggu keluargamu lho Zi."
"Kamu jaga diri baik-baik ya Mel." kata Zia.
"InshaaAllah." kata Melati.
__ADS_1