
Sesampainya di rumah, Dirga yang sudah merindukan mainan-mainan nya langsung mengambil beberapa lego untuk dibuatnya bermain di ruang TV, sambil menonton TV. Sedangkan Melati langsung menuju kamar dengan di dampingi Dewa, sambil menggendong Tsabita yang tertidur pulas. Sedangkan Dewa membawa tas koper milik Melati yang berisi pakaian Melati.
Melati menidurkan Tsabita di kamar sebelah dengan perlahan, dan Dewa meletakkan koper Melati di kamar Dewa. Mulai hari ini, Tsabita dan Dirga ditempatkan Dewa di kamar sebelah, kembali ke kamar mereka, setelah lama ditinggalkan.
Dewa melihat sikap Melati terhadap Tsabita, dari ambang pintu. Ada rasa kagum dan rasa cinta yang semakin tumbuh.
"Kamu memang wanita luar biasa Mel. Aku ga salah milih kamu, kamu adalah wanita yang kuat, wanita yang sabar dan wanita yang sangat keibuan." batin Dewa dengan penuh kekaguman. Melati yang merasa bahwa ada orang di ambang pintu, menoleh ke arah pintu. Tampak Dewa tersenyum manis kepadanya, Melatipun membalas senyuman manis gurunya yang kini telah menjadi suaminya.
"Bisa minta waktunya sebentar, sayang?" tanya Dewa.
Tanpa ragu, Melati mengangguk lalu beranjak dari kasur tempat Tsabita tidur. Melatipun berjalan ke arah Dewa.
"Ada apa mas?" tanya Melati.
"Ikut mas yuk." ajak Dewa.
"Oh, ya mas." jawab Melati mengikuti saja.
Dewapun menggiring Melati masuk ke kamarnya, lalu mendudukkan Melati di ranjangnya.
"Kamu tunggu disini sebentar ya." kata Dewa.
"Ehm, ya mas." jawab Melati.
Dewapun keluar dari kamarnya, dilihatnya Dirga masih fokus dengan film kartun nya dan juga lego nya. Dewa tersenyum lalu melangkah menuju mobil. Diambilnya sebuket bunga dari bagasi mobil nya, lalu di bawanya ke dalam kamar tanpa sepengetahuan Dirga. Karena Dirga tampak khusyuk dengan film kesukaannya.
Sesampainya di kamar, Dewa melihat Melati yang masih duduk ditempat yang sama dengan posisi yang tak berubah dan penampilan yang tetap.
Dewa masuk kamar, lalu menutup pintu kamarnya. Buket bunga dibawanya di belakang badannya. Melati melihat gealgat suaminya, mulai deg degan tak karuan. Memang ini bukan kali pertama Dewa mencumbunya, tetapi, Melati masih merasa canggung jika waktu siang-siang harus melayani suaminya. Apalagi dia ingat, kalau Dirga belum tidur.
Dewa tersenyum, dan melangkah semakin dekat ke arah Melati, lalu Dewapun berjongkok di depan Melati, sambil memberikan sebuket bunga Melati untuk Melati.
"Sebuket bunga Melati, untuk seorang Melati." kata Dewa dengan penuh penghayatan. Senyumnya mengembang lebar, dengan suara yang telah berhasil menggetarkan hati Melati.
Melati tersenyum bahagia, ditutupnya mulutnya yang sempat menganga dengan kedua tangannya.
"Melati, ijinkan aku belajar cinta kepadamu, ijinkan aku belajar ikhlas bersamamu, ajari aku belajar tegar dengan menggenggam tanganmu, dan ijinkan aku untuk memasuki hatimu, yang seputih melati, seperti namamu, Melati." kata Dewa dengan penuh penghayatan.
"Melati, aku bukanlah pujangga, yang pandai merangkai kata. Aku juga buka seorang menyair, yang andai membuat lirik lagu, dan aku juga bukan seorang ulama, yang kaya akan ilmu, aku juga bukan seorang miliader, yang bisa membeli helikopter. Aku hanya seorang laki-laki sederhana dan menduda dengan dua anak, berprofesi guru, yang hanya bisa berusaha untuk tetap setia pada cinta terakhirnya. Terimalah sebuket bunga ini, sebagai tanda cintaku kepadamu Melati." kata Dewa dengan menundukkan kepalanya, dan kedua tangannya menyodorkan sebuket bunga Melati untuk istrinya, Melati.
__ADS_1
Dengan tanpa kata, Melati menerima sebuket bunga Melati itu dengan suka cita, lalu Melati refleks memeluk tubuh Dew, begitupun dengan Dewa yang membalas pelukan itu.
"Terimakasih mas. Terimakasih." kata Melati sambil menangis.
"Aku juga terimakasih sayang, karena kamu sudah berkenan membuka hati untukku." kata Dewa.
"Aku mencintaimu mas." kata Melati.
"Aku pun juga, sangat, sangat cinta padamu. Kita jalani hari-hari kita bersama ya sayang. Kita saling dukung, saling mengingatkan dan saling mengerti." kata Dewa.
"Ya mas."
Dewa melepaskan pelukannya dari Melati, di pegangnya wajah Melati dengan kedua tangannya, dan dihapusnya air mata Melati dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis lagi ya sayang." pinta Dewa.
"Aku cuma nangis haru kok mas." jawab Melati.
"Apa kamu bahagia?" tanya Dewa sambil menatap Melati dengan lekat
"Pertanyaan yang sama saat aku mendapat ijazah." komentar Melati sambil tersenyum, dia teringat, saat Dewa menjemputnya waktu Melati mengambil Ijazah di SKB.
"Kalau dulu pertanyaan untuk Ijazah, kalau ini pertanyaan untuk Ijab Sah." kata Dewa.
"Hem..."
"Apa kamu bahagia sayangku?" tanya Dewa lagi sambil mengubah posisinya dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Melati. Dia dekatkan wajahnya pada wajah Melati.
"Sangat. Sangat bahagia." jawab Melati dengan tangan kanannya menggenggam buket bunga Melati, dan tangan kirinya menggenggam tangan Dewa.
Dewa tersenyum bahagia.
"Mas sudah hadirkan aku di kehidupan mas. Mas Sudah ijinkan aku untuk menjadi bagian dari hidup Tsabita dan Dirga dengan menjadi mama mereka." kata Melati dengan berkaca-kaca.
"Apa kamu bahagia bersama mereka?" tanya Dewa sambil menghapus air mata Melati yang berhasil lolos dari kedua matanya.
"Iya mas. Mereka sudah seperti anakku sendiri. Jiwaku sudah menyatu dengan mereka mas." kata Melati.
"Terimakasih ya sayang." kata Dewa sambil mengecum kening Melati cukup lama, dan Melati mengikuti apa mau Dewa, Melati hanya diam tanpa menolak, hingga kecupan itu beralih ke bibir ranum Melati. Ciuman yang kesekian kalinya Melati rasakan, Pagutan yang dibalas oleh Melati, membuat Dewa semakin terangsang dan menginginkan lebih, tangan Dewa sudah mulai bergerilya, namun kemudian Melati melepaskan pagutan suaminya saat mendengar Dirga memanggil nama mereka.
__ADS_1
"Ayah...ayah..."
"Bunda...Mama..."
Suara khas Dirga ketika akan menangis, menghentikan gerakan panas kedua pasangan suami istri itu.
"Maaf mas, kak Dirga mencari kita." kata Melati sambil melepaskan pelukannya dari Dewa.
"Hhhh..." Dewa menarik napas dan mengeluarkannya dengan paksa. Tampak jelas wajah kekecewaan pada mimik wajah Dewa. Yang justru membuat Melati tersenyum geli melihatnya.
"InshaaAllah dilanjut nanti malam ya mas, siang-siang gini, masih terlalu gerah." bisik Melati di dekat telinga Dewa, yang membuat bulu roma Dewa berdiri. Lagi-lagi Dewa junior di bawah sana terangsang kembali, Dewapun tersenyum nakal.
Saat Melati akan keluar kamar untuk menemui Dirga, tiba-tiba Dewa menarik tangan kanan Melati yang sudah meletakkan buket bunga Melati di meja riasnya, hingga tubuh Melati terhuyung ke dalam pelukan Dewa lagi.
Wajah mereka saling tatap, dengan jarak yang sangat dekat, napas mereka mampu di rasakan satu sama lain.
"Beneran ya, janji?" tanya Dewa dengan tatapan penuh hasrat.
Melati tersipu malu, hanya tersenyum dan mengangguk. Namun Dewa tak segera melepaskan pelukannya, hingga Melati terpaksa melepaskan diri dari pelukan Dewa, karena mendengar suara Dirga sudah mulai menangis.
"Mama...huhuhu...ayah..." suara Dirga sudah mulai menangis.
"Mas...lepasin dulu ya, kasian Kak Dirga." pinta Melati sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Dewa.
"Tapi mas masih pingin berdua sama kamu sayang." rajuk Dewa dengan hasrat yang tertahan.
"Mas..." Kata Melati dengan lembut.
"Baiklah..." jawab Dewa.
Dewapun melepaskan pelukannyabpada tubuh Melati, dan membiarkan Melati keluar menangani Dirga yang sudah mulai menangis .
"Fiuh. kalau boleh minta, kita pinginnya bulan madu terus deh. Kaya kemarin, ga ada yang ganggu." keluh Dewa sambil membayangkan saat mereka di Bogor. Dewa sudah sangat puas dengan waktu berdua nya bersama Melati, dan selalu meluapkan hasratnya pada istri barunya itu.
"Ah, ya memang begini kalau duda ketemu janda." gumam Dewa sendiri sambil tersenyum.
Dewapun menyusul Melati keluar kamar dan mendekati Dirga yang tengah di pangku Melati dan sedang berusaha ditenangkan Melati dengan bermain lego. Dewa melihat Melati yang begitu sabar dan telaten menghadapi anak-anaknya, kembali tumbuh rasa bangga dan simpatinya pada istrinya itu.
"Seputih Melati, ya, hatimu memang seputih namamu Melati. Begitulah anak-anakku bisa membaca ketulusan hatimu, yang tiada kotoran pada hatimu. Mereka merasakan itu, sehingga mereka bisa begitu dekat denganmu ." Gumam Dewa. Lalu Dewa ikut bermain lego dengan Dirga dan Melati, sehingga Dirga tampak lebih bersemangat. Tak berapa lama kemudian, Tsabita pun juga bangun tidur, yang gantian di bantu Dewa.
__ADS_1