Seputih Melati

Seputih Melati
NgeDate


__ADS_3

Setelah selesai menandatangani kontrak, Melati berjabat tangan dengan bu Ambar selaku menejer penerbit yang akan menerbitkan buku novelnya Melati yang berjudul 'Sekeping Hati'.


"Selamat ya, semoga kita bisa bekerjasama dengan baik." kata bu Ambar.


"Ya bu, terimakasih banyak." jawab Melati sambil tersenyum.


"Saya tunggu karya-karya berikutnya." kata bu Ambar.


"InshaaAllah bu. Saya usahakan." jawab Melati.


"Ehm, ini pacarnya ya?" tanya bu Ambar menunjuk Ugi.


"Ehm, iya bu. Pacar halal." jawab Melati sambi tersenyum canggung.


"Oh, suaminya?" tanya bu Ambar.


"I-iya bu." jawab Melati tak enak hati.


"Oh, kirain masih single. Abisnya mbak Melati ini masih keliatan muda banget, masih kaya anak SMA." kata bu Ambar.


"Memang dia masih SMA bu." jawab Ugi.


"Lhoh? Masa'?" tanya bu Ambar tak percaya.


"Iya bu, dia masih mengenyam pendidikan tingkat SMA di SKB, tepatnya pendidikan paket C. Tetapi meski dia sekolah paket C, tetapi nilainya selalu A bu, apalagi nilai mengarangnya, sudah dibayar kontrak sama Azzam Media." jawab Ugi dengan santai, karena Ugi memang tipikal orang yang mudah ramah dengan siapapun.


"Hahaha, ada-ada saja mas nya ini. Benar juga, mbak Melati ini karyanya bagus, saya yakin, tidak akan lama lagi, akan ada yang menghubungi anda untuk mengadakan bedah buku." kata bu Ambar.


"Oh ya? Masa' seperti itu bu?" tanya Melati.


"Iya mbak. Percaya deh sama saya." kata Ambar.


"Aamiin, semoga saja ya bu." jawab Melati.


Kemudian setelah beramah tamah dengan bu Ambar, Melati dan Ugi keluar dari kantor penerbit itu. Saat di luar, Ugi mencoba menggoda istrinya.


"Ehem...cie cie...yang tulisannya bakal di cetak." goda Ugi.


Melati tersenyum menanggapi Ugi.


"Seneng?" tanya Ugi sambil merangkul pundak Melati.


"Banget." jawab Melati sambil menatap lekat wajah Ugi.


"Alhamdulillah, semoga ini menjadi awal yang baik untukmu sayangku." kata Ugi mengecup kening Melati.


"Ih, mas. Ini di tempat umum, malu ah dilihat orang." protes Melati.


"Kan kita udah sah, kenapa musti malu? Sedangkan banyak diluaran sana, yang juga bermesraan, padahal mereka belum halal." kata Ugi menyanggah.


"Mas...ada baiknya kita menjaga diri dari hal-hal yang kurang baik, dengan kita menjaga sikap kita. Ketika di rumah, kita boleh saja melakukan apapun itu, tetapi ketika di luar rumah, kita usahakan berekspresi sewajarnya saja, agar tidak menjadikan pandangan negatif terhadap kita." jawab Melati panjang lebar.


"Okey, okey istriku sayang. Baiklah. Terus, sekarang adinda mau makan apa? Karena kakanda udah laper banget ini, pingin segera isi amunisi." kata Ugi mengelus perutnya yang datar.

__ADS_1


Melati tampak berfikir.


"Ehm, terserah mas aja lah." kata Melati.


"Yah, kok terserah sih?"


"Udah, ayuk. Kemanapun mas mau ajak Melati, Melati siap." jawab Melati.


"Termasuk ngajak ke kasur, buat makan dirimu... Sayangku juga mau?" tanya Ugi sambil mengerlingkan matanya.


"Iiih. Mas Ugi. Kok jadi mesum sih pikirannya?" omel Melati sambil mencubit lengan Ugi.


"Aduh, sakit sayangku..." kata Ugi sambil mengelus lengannya.


"Duh, maaf mas maaf, ga bermaksud. Abisnya mas Ugi gitu sih." kata Melati sambil mengelus lengan Ugi yang abis di cubit nya.


Nah, gitu dong. Kan enak." kata Ugi sambil memegang tangan Melati yang mengelus lengan kannanya.


"Tapi, Mesum sama istri sendiri gapapa kan ya?" kata Ugi sambil mengelus lengannya dan menaaik turunkan alisnya.


"Iiih...mas Ugi. Udah ah, ayo kita makan, Melati juga udah laper ini." kata Melati sambil berjalan menuju motornya, namun Melati menyadari bahwa Ugi tidak mengikuti langkahnya, membuat dirinya menoleh ke belakang.


"Mas..."


"Okey, okey sayangku, kita chayo." kata Ugi sambil berjalan menuju motornya dan mengendarainya, lalu melajukan


motornya menuju sebuah kafe yang cukup mewah, membuat Melati mendelik dibuatnya.


"Mas, kok ke sini sih?" tanya Melati sambil melepas helmnya saat turun dari boncengan.


"Ini kan Cafe mahal mas. Sayang ah uangnya buat beli makanan di sini." kata Melati.


"Santai aja sayangkuh... anggap saja ini hadiah dari mas untuk cintaku, sayangku yang udah berhasil lolos seleksi kontrak di penerbit. Lagian, kita 'kan belum pernah ngerasain ngedate kan? Nah, kini saatnya kita ngedate, meski ga terlalu romantis sih, karena waktunya siang." kata Ugi.


"Emang kalo siang kenapa?" tanya Melati polos.


"Ya kurang seru lah, karena ga bisa ditutup dengan malam panas." kata Ugi yang lagi-lagi membuat Melati mencubit pinggang Ugi.


"Iiih, mas Ugi nih. mesum mulu pikirannya." omel Melati.


"Hahaha, okey, okey. Maaf maaf." kata Ugi mengangkat tangan pasrah.


"Ya udah yuk. masuk." ajak Ugi sambil menawarkan lengannya untuk di gandeng Melati dengan menautkan lengannya di lengan Ugi.


"Ehm, ya mas." sambil menerima tawaran lengan Ugi untuk digandengnya.


Melati dan Ugi berjalan memasuki cafe yang didominasi anak muda berpasangan tiap mejanya. Ugi berjalan menuju kasir.


"Mbak, tempat yang saya pesan berada di mana ya? Atas nama Ugi." tanya Ugi pada petugas Kasir.


"Oh. mas langsung naik saja ke lantai dua. Nanti belok kanan ya mas. Nanti sudah kelihatan kok tempatnya, semuanya juga sudah disiapkan." kata petugas kasir.


"Okey, makasih mbak." kata Ugi.

__ADS_1


"Yuk sayang." kata Ugi.


Melati tampak terheran-heran, tetapi dia tidak ingin banyak bicara, karena di sekitar sana banyak orang yang sedang asyik mengobrol, meski sebenarnya mereka tidak melihat Melati, tetapi Melati merasa kurang percaya diri berada ditempat itu.


Sesampainya di lantai dua, di ruangan yang sepi, dan tampak sebuah meja dengan hiasan bunga di tengahnya, dan dua kursi berbalut kain merah muda, kemudian ada taburan bunga di lantainya, membuat suasana tampak romantis.


"Silakan duduk cintaku." kata Ugi sambil menggeser sebuah kursi untuk Melati, dengan tangan kirinya seolah bak seorang pelayan mempersilakan tuan putrinya untuk duduk.


"Ehm, makasih mas." jawab Melati yang masih melongo dengan segala hiasan yang ada di ruangan tersebut. Kemudian Ugi duduk di seberang Melati.


"Ehm, permisi mas, mbak. Ini pesanannya ya." kata seorang pelayan memberikan beberapa menu makanan dan minuman di atas meja.


"Okey." jawab Ugi.


"Ada yang bisa kami bantu lagi?" tawar pelayan itu.


"Ehm, cukup. Terimakasih." jawab Ugi. Kemudian pelayan itu membungkukkan badan sebagai isyarat berpamitan.


"Baik, permisi."


Melati masih tampak heran dengan semua yang dia lihat dan dia rasakan.


"Sayangku menyukainya?" tanya Ugi dengan berbinar.


"Ini, maksudnya apa sih mas?" tanya Melati heran.


Ugipun berjalan mendekati Melati, lalu Ugi berjongkok di hadapan Melati, sambil menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna merah berbentuk hati berisi sebuah cincin dan kalung.


"Terimakasih kau sudah memilihku untuk menjadi suamimu, istriku. Kita arungi bahtera rumah tangga ini bersama-sama hingga akhir hayat kita ya." kata Ugi dengan senyum manisnya.


Melati menutup mulutnya, dia tak menyangka suaminya kaan melakukan hal seromantis ini.


Melati tersenyum, dan mengangguk.


Ugi meraih jemari kanan Melati, lalu memakaikan cincin di jari Melati. Lalu, Ugi memakaikan kalung emas berlionting bentuk hati. Setelah itu, Ugi mengecup kening Melati dengan cukup lama, dan Melati menutup matanya, meresapi setiap detak jantungnya yang dia rasakan.


"Maaf, jika kita harus menikah dengan mendadak, sehingga mas baru sempat memakaikanmu cincin." kata Ugi sambil mencium tangan Melati.


Melati tak mampu berkata-kata, dia hanya mampu menangis bahagia. Lalu Melati memeluk Ugi dengan eratnya.


"Ehem, ini masih ditempat umum lho sayangku." bisik Ugi, yang seketika Melati melepaskan pelukannya.


"Ma-maaf mas." kata Melati sambi menunduk.


"Ga masalah. Ya udah yuk. kita makan dulu." ajak Ugi.


Lalu Ugi mengiris steak yang ada dihadapannya, lalu disodorkan ke mulut Melati.


"Hem, dimakan. Mas pingin nyuapin istri mas. Boleh kan?" tanya Ugi.


Dengan malu-malu, Melati membuka mulutnya, lalu memakan makanan yang disodorkan Ugi padanya. Bibir Melati tampak kotor oleh saus yang belepotan. Kemudian Ugi mengarahkan tangannya, mengusap saus yang menempel di ujung bibir kanan Melati. Dengan lembut Ugi mengusapnya, dengan ibu jarinya. Manik mereka bertemu, ada sorot cinta diantara keduanya. Lalu, Melati menundukkan kepalanya, karena malu.


"Yuk dilanjut lagi." kata Ugi sambil memotong lagi daging di hotplatnya.

__ADS_1


Siang itu, Melati dan Ugi makan bersama dengan suasana romantis.


__ADS_2