Seputih Melati

Seputih Melati
Kecewa


__ADS_3

Sudah lima hari lamanya Ugi dirawat di rumah sakit. Di hari kelima, akhirnya Ugi diijinkan dokter untuk pulang. Namun, karena keluarga Melati tidak diberi tau tentang keadaan Ugi, sehingga Ugi memutuskan untuk pulang ke Wonogiri bersama ibunya serta Wawan adiknya. Mereka diantar pulang oleh Ayub, dengan mengendarai mobil milik pak Haji Karyo Sedangkan Guntur sudah tidak mau tau tentang Ugi, karena dia kecewa dengan sikap Ugi terhadap Melati.


Sudah dua hari Ugi dirawat oleh bu Yani di rumahnya, sedangkan Muna yang juga kecewa dengan sikap Ugi memilih kembali ke Jogja, karena dia juga masih harus melanjutkan study nya di sana.


Siang itu Ugi sedang tiduran sambil membaca-baca buku. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, sedangkan Bapak ibunya sedang pergi ke sawah, Wawan bekerja dan Nur sekolah, sehingga Ugi hanya sendirian di rumahnya.


"Assalamualaikum." salam suara perempuan dari luar.


"Wa'alaikumsalam. Siapa?" tanya Ugi.


"Aku Laili." jawab Laili.


"Oh, kamu Lel, masuk aja Lel, ga dikunci kok." kata Ugi.


Laili pun membuka pintu rumah Ugi, lalu masuk dan mencari sosok Ugi.


"Hai Gi, kok sepi banget rumahmu?" tanya Laili.


"Biasa kalau jam sepuluh gini, orang rumah lagi pada sibuk dengan kegiatannya." jawab Ugi.


"Oh, udah mulai di tinggal-tinggal ya Gi?" tanya Laili.


"Iya. Memang aku yang minta. Aku ga mau, kondisiku membuat mereka terbatas aktivitasnya." jawab Ugi.


"Ehm, gitu?"


"Ohya, ini aku bawain kue buat kamu."


"Ya ampun, kenapa repot-repot?" kata Ugi sungkan.


"Santai aja. Ini aku sendiri lho ya buat, kamu rasain ya. Kalo kemarin kan kamu ngerasain yang coklat vanila, nah, ini aku bawain yang coco pandan sama rasa ketela ungu." kata Laili.


"Iya, percaya bu koki. Emang kamu tu ter the best kalo masalah kue kue begini." kata Ugi.

__ADS_1


"Kamu tau darimana aku pulang ke sini?" tanya Ugi.


"Dari ibu. Kebetulan aku kemarin pingin ketemu ibu, ibuku kan diajak pulang ke kampung sama masku, terus kata ibu, kabarnya kamu udah diajak pulang ke sini. Ya udah, aku ke sini, mumpung belum balik ke Solo." kata Laili.


"Terus kedai bolumu siapa yang ngurusin?" tanya Ugi.


"Ya karyawan ku lah." jawab Laili sambil mengiris kuenya, dan mengiriskan sedikit untuk Ugi.


"Ini, kamu rasain ya Gi." kata Laili sambil mengarahkan garpu kecilnya ke mulut Ugi, untuk menyuapi Ugi.


Ugipun membuka Mulutnya, dan disaat itu juga, sepasang mata ternyata sedang menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kekecewaan.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Lima hari sudah Melati menjalankan beberaao programnya pak Richard. Dan Melati bisa melaluinya dengan lancar, bahkan saat melihaay syuting dan mengarahkan syuting, Melati jadi merasa jadi orang penting di sana. Melati bahagia bisa bekerja dan dengan Mega production yang mengunggah Novelnya dalam bentuk film.


Setelah semua urusannya sudah beres, Melati mohon ijin untuk pamit pulang ke Solo. Namun, atas ijin dari pak Richard, Melati dan Zia tidak lagi naik bis untuk menuju ke Solo. Melainkan mereka diantarkan oleh Latif, karena Latif juga mau berkenalan dengan keluarga Zia, meski sebelumnya mereka sudah saling kenal, saat Latif masih tinggal di dekat rumah Melati. Namun, kali ini rasanya berbeda, dia ingin mengenal lebih dekat dengan calon mertuanya setelah dia beberapa hari lalu sudah PDKT dengan Zia, selama mendampingi Melati beraktivitas.


"Bu, mas Ugi belum pulang ya?" tanya Melati.


"Belum mbak. Sejak kamu ke Jakarta, Ugi sama sekali ga pernah ke sini. Tapi kan, kamu pernah bilang, kalau Ugi menemani sahabatnya tidur di rumah sahabatny, karena istrinya pulang kampung dan ternyata sampai sekarang." kata bu Fatma.


Karena pernyaataan bu Fatma, Melatipun menghubungi Guntur, karena sejak pertama kali Melati menginjakkan kaki di Jakarta, Melati hanya sekali itu saja telponan dengan suaminya, dan sampai saat ini, Suaminya belum menghubunginya lagi.


Keesokan harinya, Melati berniat ke Wonogiri untuk menjenguk Suaminya, karena kabar dari Guntur, menyatakan bahwa Ugi sedang sakit, sehingga Ugi minta pulang ke Wonogiri.


Karena tidak tega, Latif mengajukan dirinya untuk mengantarkan Melati dan bu Fatma ke Wonogiri untuk bertemu dengan suami Melati. Sekaligus mengajak Zia, agar dia bisa merasakan lebih dekat lagi dengan gadia yang dia sukai itu. Melati sudah menyimpan rasa rindu yang teramat dalam dengan suaminya. Sehingga, pagi itu, Melati sudah bersiap dengan masakan kesukaan suaminya, asli buatan dia sendiri.


Dua jam perjalanan menuju kampung halaman Ugi, akhirnya tiba juga mereka di rumah Ugi. Karena mobil yang ditumpangi Melati adalah milik pak Richard yang suaranya sangat halus, sehingga orang yang ada di dalam rumah tidak mendengar ada suara mobil memasuki pekarangan rumahnya.


Seperti biasa, Melati masuk ke rumah itu, seperti rumahmu sendiri. Karena kabarnya Ugi sakit, sehingga Melati langsung berjalan menuju kamar tempat dia bermalam pertama dengan Ugi kala itu. Namun, sesampainya di mulut pintu kamar, Melati dikejutkan oleh penampakan yang membuat dada kirinya berdegup tak menentu. Kedua matanya mulai panas dan berkaca-kaca. Tubuh nya bergetar, panas dingin dia rasakan.


"Mas...." kata Melati lirih, dan bawaan yang dibawa Melati, tak terasa jatuh tanpa sadar.

__ADS_1


Brush....


Seketika dua pasang mata menoleh ke arah mulut pintu.


"Melati?" Gumam Ugi kaget.


Melati tak bisa berkata-kata, diapun berbalik badan dan berlari keluar rumah sambil menahan tangis yang ingin segera dia keluarkan.


"Mel?" panggil Bu Fatma saat Melati berlari keluar dengan menutup mulutnya dan menundukkan wajahnya.


"Melati?" panggil Zia yang kemudian berlari menyusul Melati.


"Aduh, Gi, gimana ini?" tanya Laili panik.


Ugi terdiam. Ada rasa sakit didadanya. Rasanya tak tega melihat Melati melihata kejadian salah paham itu, tetapi apa daya? Ugi tak mampu berlari, dia hanya bisa melihat punggung Melati yang berlari keluar dengan perasaan pilu. Rasa rindu didadanya menyeruak, tetapi dia tak mampu berbuat apa-apa. Ingin rasanya dia kecupi wajah istrinya seperti biasanya kalau dia rindu. Tetapi, kali ini dia tidak mampu.


Tak berapa lama kemudian, Bu Fatma melihat sosok seorang perempuan asing di kamar Ugi, dengan piring kecil berisi irisan bolu di tangannya. Diduga, perempuan itulah yang membuat Melati menangis dan berlari menjauh.


"Mas Latif!" terdengar suara Zia memanggil Latif. Sehingga Latif segera berlari menuju sumber suara.


Ugi di kamarnya, mendengar sebutan nama Latif, membuatnya teringat dengan kata nenek Melati yang pernah bercerita, bahwa ada laki-laki baik yang selalu menjaga Melati, sejak bapaknya Meninggal, dan laki-laki itu bernama Latif. Apakah Latif itu sama dengan Latif yang dipanggil barusan?


"Astaghfirullah. Mel." pekik Latif yang kemudian langsung menggendong tubuh Melati yang sudah tak sadarkan diri. Ternyata Melati pingsan di samping rumah Ugi. Lalu Melati dibawa ke sebuah kursi yang ada di ruang tamu.


"Melati? Melati kenapa?" tanya Ugi panik bertanya kepada Laili.


"Biar aku liat dulu ya Gi." kata Laili melangkah keluar kamar. Dan ternyata, Melati pingsan.


Beberapa saat kemudian Melati sudah sadar.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Mau tau gimana tanggapan Melati? Gimana juga nasib Melati setelah ini? Maaf ya, Author lanjut di bab berikutnya aja ya reader tercinta😍😘 love you

__ADS_1


__ADS_2