
Setelah dilakukan transfusi darah, pihak rumah sakit sudah selesai menyiapkan kamar rawat inap untuk Dirga, sehingga perawat segera membantu Dewa untuk memindahkan Dirga ke rawat inap.
"Kakak maunya digendong ayah aja." kata Dirga menolak untuk di gledeg dengan hospital bad. Dan akhirnya Dewa menggendong Dirga yang badannya memang sedang-sedang saja, tidak terlalu gemuk, dan tidak pula terlalu kurus.
Saat keluar dari ruang IGD, Guntur dan Ugi melihat Dirga digendong Guntur dan Ugi segera berdiri dari duduknya.
"Jagoan mau dibawa kemana bro?" tanya Guntur.
"Dipindah ke kamar inap." kata Dewa.
"Gue ikut." kata Guntur.
"Bang, ane ikutan juga boleh?" tanya Ugi.
"Emang elo ga tugas?" tanya Guntur.
"Nanggung bang, bentar lagi jam pulang, sekalian aja nanti sampe kantor langsung pulang." kata Ugi.
"Oh, ya udah. Ayo."
Guntur dan Ugi mengikuti langkah Dewa yang juga mengekor perawat yang membawakan tiang infus. Setelah sampai di ruang rawat inap, perawat memberi beberapa penjelasan terkait penggunaan barang di ruangan itu. Kemudian pamit undur diri.
Dewa masih menggendong Dirga sambil meninabobokkannya.
"Bro, gue bilang juga apa. Udah, mending elo nikah lagi deh. Kasian gue liat elo kaya begini. Belum lagi keadaan si cantik di rumah, ga ada yang ngurusin." kata Guntur yang merasa iba dengan sahabatnya.
"Berisik lo." sewot Dewa.
"Ye...emang kalian berdua tu sama-sama bucin ya. Yang satu masih setia dengan jomblo nya karena menunggu wanita pujaan nya menjanda, yang satu masih setia dengan dudanya. Dasar emang ya, kalian ini, perempuan itu ga cuma satu bro, ada banyak perempuan di dunia ini. Ayolah, buka hati kalian buat mendampingi hari-hari kalian. Jujur, gue tu kasian ama kalian berdua, terlalu menyiksa diri tau ga sih." kata Guntur sekenanya.
"Bukannya gitu bang, kalo ane tu lagi nyari yang cocok aja. Ane ga nunggu dia menjanda kok, ane cuma lagi nyari yang pas aja gitu, biar ga salah pilih. Karena gue bercita-cita, nikah sekali aja seumur hidup." kata Ugi mengelak kata-kata Guntur yang tak enak didengar.
"Sampe umur elo kepala tiga gini masih mau nyari yang kaya gimana lagi? Jaman sekarang, nyari cewek sempurna tu ga gampang bro. Apa perlu, gue cariin?" tawar Guntur.
"Ga usah repot-repot bang. Entar gue cari sendiri aja." kata Ugi.
__ADS_1
"Lagian elo tu kaya kurang kerjaan aja bro, nyari-nyari cewek buat temen, palingan itu modus elo buat deketin cewek-cewek kan? Ngaku aja lo." tuduh Dewa sambil terus menggendong Dirga.
"Sialan lo, malah ngatain gue." umpat Guntur.
"Udah malem, mending elo pulang deh bro, entar bini lo nyariin." kata Dewa.
"Halah, entar aja lah. Dia mah kalo jam segini masih ngelonin bocah-bocah. Males gue." keluh Guntur.
"Kok gitu sih? Asal lo tau ya bro, keberadaan kita di rumah itu, udah bikin hati istri tenang bro. Apalagi kalo kasusnya kaya gue gini, anak sakit. Keberadaan suami di rumah itu, meski cuma tidur, udah bikin istri tenang. Karena ada teman di rumah. Udahlah, mending elo pulang gih, temenin bini lo. Kasian dia." kata Dewa.
"Hm...Ck ck ck... iya iya. Ngerti gue. Ngerti." kata Guntur sambil memakai jaket kulitnya.
"Ya sorry bro, bukannya gue ngusir, tapi gue cuma mengingatkan elo doang. Takut nya entar elo nyesel kaya gue." kata Dewa mulai melo, mengingat mendiang istrinya.
"Iya bro. Gapapa. Gue ngerti." kata Guntur sambil menepuk pundak Dewa.
"Elo yang kuat ya. Besok gue bawain baju ganti buat elo ya." kata Guntur.
"Oh, iya. Gapapa. Tadinya kalo elo ga bisa, gue mau minta tolong kakak ipar gue. Tapi gue sungkan, dia orangnya sibuk banget sih." kata Dewa.
"Sembarangan aja lo kalo ngomong. Bukan calon bini kedua. Dia cuma pengasuh anak gue. titik." kaya Dewa sewot lagi.
"Hahaha, iya iya iya. Sambil besok gue pingin ketemu dia, cantik ga sih pengasuh si cantik itu. Kalo cantik, ya boleh lah gue jadiin istri kedua gue." seloroh Guntur.
"Dasar buaya lo. Udah sana balik. Ganggu Jagoan gue aja lo." omel Dewa.
"Okey okey bos." kata Guntur sambil mengangkat kedua tangannya.
"Elo balik ga Gi?" tanya Guntur pada Ugi.
"Ya balik lah bang." kata Ugi.
"Ya udah ayo." ajak Guntur.
"Mas Dewa, yang sabar yam Semoga dek Dirga segera sehat kembali dan bis a beraktivitas seperti sedia kala." kata Ugi.
__ADS_1
"Aamiin. Makasih mas Ugi. Terimakasih juga sudah mengantarkan darah untuk putra saya." kata Dewa.
"Ya mas. Sama-sama. Assalamualaikum." kata Ugi.
"Wa'alaikumsalam." jawab Dewa.
Ugi dan Guntur pun turun ke lantai dasar untuk meninggalkan rumah sakit itu. Kemudian Mereka mengendarai kendaraan mereka masih-masing. Guntur menaiki motor Satrianya, sedangkan Ugi menaiki mobil PMI, yang dia bawa untuk membawakan kantong darah.
Ugi segera kembali ke PMI, sesampainya di kantor, dia mengemasi barang barangnya, karena teman saru sift nya sudah duluan pulang sejak jam sembilan tadi. Sedangkan Ugi jam setengah sepuluh baru sampai kantor lago, setelah tadi dia mengantarkan kantong darah ke rumah sakit.
Saat membuka lokernya, dia memegang kotak makan berwarna biru yang tadi dia dapat dari gadis cantik di depan gedung SKB. Gadis yang kemarin sempat dia tolongin, dan sampai saat ini justru matanya sering terbayang oleh sosok gadis itu.
"Kotak makan ini... Kapan ane balikin ya? Terus, balikinnya gimana?" gumam Ugi sambil memegang kotak makan itu.
Tanpa pikir panjang, kotak makan itu dia masukkan kembali ke dalam totebag, lalu dia bawa pulang, dengan niatan akan di cuci nya dirumah.
Ugi melajukan motor legend nya menuju komplek kosan tempat dia tinggal. Sesampainya di sana Ugi langsung menghubungi nomer gadis yang memberinya makan siang tadi.
📨Melati
Assalamualaikum ukhti. Maaf, mengganggu malam-malam begini. Ehm, ukhti besok masuk sekolah tidak ya?
Ternyata nomer yang dihubungi sedang dalam model online, sehingga pesannya langsung di read.
📩Melati
Wa'alaikumsalam mas. InshaaAllah masuk mas.
"Yes, dia masuk. Ehm. besok ane anterin ke SKB aja lah. Ehm, masak kosongan ya? Ehm...diisi apa ya enaknya?" gumam Ugi sambil berfikir.
"Ah, iya. Beliin nasi uduk nya bu Siti aja." Kata Ugi menemukan ide.
"Okey, sekarang saatnya tidur dulu." kata Ugi menarik sarung yang biasa dia gunakan untuk menyelimuti dirinya dari hawa dingin.
Namun, malam ini Ugi merasa sulit tidur, dia teringat oleh kata-kata Guntur tentang masa depan nya. Ya, dia teringat bahwa usianya sudah hampir kepala tiga. Meski untuk ukuran laki-laki, usia tigapuluh itu belum terbilang terlambat menikah, tetapi, dia juga merasa jenuh juga dengan statusnya yang jomblo. Ingin sekali dia mengakhiri kejombloannya dengan menikahi gadis pilihannya yang... kriterianya sebelas duabelas lah sama Maryam. Begitu pikirnya. Dan seketika, dia teringat sosok gadis yang besok akan dia temui, ya Melati. Dia kembali teringat dengan sosok gadis ayu dengan jilbab lebar itu, meski parasnya tak se ayu Maryam memang dan kata-katanya juga tak senormal Maryam, tetapi tetap saja dia masih bisa menerima perkataan Melati dengan baik.
__ADS_1