Seputih Melati

Seputih Melati
Bertemu Keluarga


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Melati dan Ugi disambut hangat oleh keluarga Ugi. Ternyata tanpa sepengetahuan Ugi, Ayub memberikan alamat lengkap Melati kepada adiknya Ugi yang bernama Wawan.


"Pa'e Ma'e?" kata Ugi sambil memeluk ibunya yang disebutnya dengan sebutan Ma'e.


"Iya le...ini ma'e. Kamu gimana kabare? Tadi malem mau langsung datang ke pernikahanmu ga ada mobil cateran le, udah malem. Jadi, maaf pa'e ma'e baru bisa datang sekarang." kata bu Yani, ibu Ugi.


"Iya mak, gapapa. Ugi malah seneng banget kalian bisa datang ke sini pagi ini." kata Ugi masih tak percaya. Termasuk kedatangan adiknya yang kuliah di Jogja juga ada di tengah-tengah mereka.


Ugipun mencium punggung tangan bapaknya yang sudah berkeriput.


"Selamat ya le.. Turut berduka cita juga atas meninggalnya nenekmu." kata pak Slamet.


"Maturnuwun pak." jawab Ugi.


"Ehm, Melati, Kenalin. Ini keluargaku, ini ibu, ini bapak, ini saudara-saudara ku." kata Ugi memperkenalkan anggota keluarganya.


"Oh, iya mas."


"Aduh, kok di luar, mari masuk saja ke dalam." kata Melati.


Keluarga Ugi mengikuti langkah Ugi dan Melati untuk masuk ke dalam rumah Melati yang sudah terasa sunyi. Terpal di halaman rumah juga sudah di bongkar warga, kursi RT juga sudah dikembalikan, sehingga tamu langsung diajak masuk ke rumah.


"Mak, pak, ini istri Ugi. Namanya Melati." kata Ugi memperkenalkan Melati kepada kedua orangtuanya.


"Yaa Allah, cantik sekali... Ini ma'e nduk, ibunya Ugi." kata bu Yani.


"Terimakasih bu." jawab Melati sambil mencium punggung tangan ibu mertuanya.


Lalu berganti mencium punggung tangan bapak Ugi.


"Ini bapaknya Ugi nduk. Pakmu juga." kata pak Slamet.


"Ya pak. Terimakasih." jawab Melati.


"Nah, ini adik mas Mel, yang pernah mas bilang kalau mas juga punya adik perempuan di tanah rantau karena dia kuliah." kata Ugi sambil memperkenalkan adik pertamanya.


"Muna. Munawaroh mbak." kata Muna.


"Oh. ya. Kuliah dimana dek?" tanya Melati berusaha akrab.


"Di Jogja mbak. Di UIN jogja." jawab Muna.


"Oh...UIN jogja?" tanya Melati.


"Iya mbak."


"Kalo ga salah, Satria juga kuliah di sana 'kan?" batin Melati.


"Semester berapa dek?" tanya Melati lagi.


"Semester empat ini mbak." jawab Muna.


"Semester empat? Memang dek Muna ini umurnya berapa?" tanya Melati yang merasa bahwa mereka seumuran.


"Duapuluh tahun mbak." jawab Muna.


"Oh, ya Allah. Ternyata kita seumuran." kata Melati.


"Lhoh, kamu seumuran sama Muna?" tanya Ugi.

__ADS_1


"Lhoh, kamu baru tau? Bukannya sebelum menikah, kalian tanya-tanya umur, tanggal lahir dan lain-lain dulu?" tanya bu Yani.


Ugi menggeleng.


"Seperti yang kalian tau, Ugi nikah ini serba mendadak. Jadi belum tau umur Melati." jawab Ugi.


"Lha tapi, Melati tau ga kalau kamu itu sudah tua?" tanya bu Yani.


"Hahaha, dikata tua mas Ugi." ejek Wawan adik Ugi yang nomer dua.


"Mak...mosok masih ganteng gini dibilang tua lho." protes Ugi.


"Ya kan kamu udah umur tigapuluh. Selisih umur kalian jauh lho." kata bu Yani.


"Kalau umur mas Ugi, saya sudah tau kok bu. Mas Ugi juga sudah cerita. Tetapi memang mas Ugi belum cerita tentang keluarganya." kata Melati.


"Lha, ini kok sepi banget nduk, keluargamu mana?" tanya pak Slamet celingak celinguk.


"Saya..." kata-kata Melati tercekat, tak kuat rasanya dia berbicara.


"Melati ini di rumah cuma tinggal sama adik kembarnya dan neneknya pak. Tapi karena neneknya sudah meninggal, ya Melati tinggal sendiri pak. Bapaknya sudah meninggal. Dan ibunya bekerja di luar negeri." jawab Ugi.


"Oh...lha maksudnya, pakde bude, paklik buliknya apa ga ada?" tanya pak Slamet heran.


Melati menggeleng.


"Bapak saya anak tunggal pak. Saudara ibu jauh di luar jawa semua." jawab Melati sendu.


"Lha adik kembarmu mana nduk?" tanya bu Yani.


"Ehm. Sepertinya masih ikut pak Wahid, takmir masjid sekaligus adiknya kakek bu. Karena tadi mereka bersama pak Wahid." jawab Melati.


"Oya mbak, kenalin. Aku Wawan mbak, adiknya mas Ugi yang paling ganteng." kata Wawan sambil mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Mbak iparnya.


"Oh, ya. Kalau Wawan masih sekolah apa kuliah?" tanya Melati sambil menerima jabatan tangan Wawan.


"Harusnya sih kalau dia masih mau lanjut sekolah SMA, dia udah kelas Dua belas ini mbak. Tapi dia rada ndlewer mbak, jadi udah sama bapak suruh langsung kerja aja." jawab Muna.


"Oh... lha kerja dimana?" tanya Melati lagi.


"Di Sawah mbak. Hehe, bantuin bapak." jawab Wawan.


"Oh..."


"Oya Mel, ini masih satu lagi adikku. Yang paling kecil. Dia namanya Nurhayati. Masih SD, kelas berapa dek? Mas Lupa. " kata Ugi sambil membawa adik kecilnya berkenalan dengan Istrinya.


"Kelas lima." jawab Nur malu-malu.


"Harap maklum ya nduk, Ugi ini sodaranya banyak." kata bu Yani sungkan.


"Tidak masalah bu, malah Melati seneng, jadi tambah sodara banyak." kata Melati.


Saat perkenalan, Si kembar sudah pulang jalan kaki,


"Assalamualaikum." salam si kembar bersama.


"Wa'alaikumsalam." jawab semua orang yang ada disana.


"Aldo Aldi, sini. Kenalan dulu sama keluarganya mas Ugi." kata Melati

__ADS_1


Aldo dan Aldipun menurut. Lalu mereka berkenalan dengan semua anggota keluarga Ugi.


"Ini tadi kalian ke sini naik apa?" tanya Ugi heran.


"Aku pesenin grab mas." jawab Muna.


"Grab? Apa ga mahal sih dek?" tanya Ugi heran.


"Mahal dikit ga masalah. Banyak diskonnya juga kok. Yang penting bisa bawa bapak ibu sampe ke sini." kata Muna.


"Yaa Ampun dek. Makasih banyak ya." kata Melati pada Muna.


"Sama-sama mbak. Muna juga seneng kok bisa kumpul gini." jawab Muna.


"Ya ampun, maaf jadi lupa dianggurin. Saya buatkan minum dulu ya pak, bu." kata Melati sambil undur diri ke belakang.


"Aku bantuin mbak." kata Muna yang menyusul Melati.


Di dapur, Melati membuatkan minum teh hangat untuk rombongan keluarga Ugi. Lalu dihidangkan Muna. Selain itu, Melati juga menyiapkan beberapa makanan ringan yang biasa dia makan untuk camilan. Serta mulai mengambil beberapa bahan masakan.


"Mbak Melati mau bikin apa?" tanya Muna.


"Ehm. Muna mau dibikinin apa?" tanya Melati.


"Gimana sih mbak, ditanya kok nanya balik." protes Muna.


"Yaudah, tolong Bantu mbak potongin sayurnya itu aja deh kalo gitu." pinta Melati.


"Okey mbak." kata Muna.


Dengan sigap Muna mengikuti setiap arahan Melati. Dan membantu Melati menyiapkan makan siang untuk keluarganya.


Sedangkan di ruang tamu, Ugi masih berbincang dengan kedua orangtuanya.


"Kamu yakin le dengan pilihanmu ini?" tanya Bu Yani.


"Yakin mak." jawab Ugi.


"Sepertinya memang dia gadis baik-baik." kata pak Slamet berpendapat.


"Iya pak, dia memang baik." jawab Ugi.


"Dia juga pintar masak lho mak." kata Ugi.


"Oya? Beneran dong, kamu kan memang suka makan masakan rumahan." kata bu Yani.


"Itulah salah satunya mak, aku milih dia, karena dia pinter masak mak. Dan masakannya tu, selalu mengingatkan aku sama masakan ma'e." kata Ugi.


"Oya? Ma'e jadi penasaran." kata bu Yani.


"Dia kuliah juga?" tanya bu Yani.


"Engga mak. Dia ini masih sekolah paket C." kaga Ugi.


"Brati dia ga lulus sekolah ya dulu? Apa dia bodo?" tanya bu Yani yang sudah mengerti alur itu.


"Bukan itu masalahnya mak. Dia itu sempet sakit lama, sekitar dua tahun jadi dia memilih sekolah di SKB. Sanggar kegiatan belajar." kaga Ugi.


Merekapun banyak bercerita tukar pendapat tentang kehidupan selama Ugi di tanah rantau, hingga jam makan siang telah tiba dan Melati sudah menghidangkan beberapa masakan untuk makan siang bersama. Lalu mereka semua makan bersama di ruang tamu dengan penuh rasa kekeluargaan.

__ADS_1


__ADS_2