Seputih Melati

Seputih Melati
Kebohongan


__ADS_3

"Halo, Wa'alaikumsalam." jawab Guntur. Saat itu Guntur sedang menemani Ugi di ruang rawat bersama Laili juga.


Ugi menoleh ke arah Guntur yang mengangkat Telpon. Guntur mengucap sebuah kata dengan tanpa bersuara.


"Melati." kata Guntur dengan tak bersuara.


"Melati? Siapa sebenarnya Melati?" batin Laili heran.


'Maaf, ini siapa?'


"Saya Guntur mbak Melati." jawab Guntur.


'Oh, bang Guntur. Maaf bang, saya ga tau karena ini ada nomer baru. Ada apa ya bang Guntur telpon tadi?' tanya Melati.


"Ehm, gapapa mbak Melati. Saya cuma mau kasih tau aja, kalau HPnya Ugi tu hilang, dan ga aktif. Jadi, ya mohon maaf, dia ga bisa menghubungi mbak Melati, dan ga bisa mengirim pesan ataupun menerima telepon." kata Guntur.


'Oh, pantesan. Tadi saya telpon berkali-kali ga diangkat, dan ga aktif. Lalu, ini mas Uginya kemana ya bang? Soalnya tadi saya nelpon ibu, kata ibu mas Ugi belum pulang dan ga ada kabar. Katanya mas Ugi masuk siang, harusnya kan tadi jam sembilan Atau jam sepuluh sudah pulang ya?'


"Oh, iya mbak. Lha ini bocah nya disini, sama saya." kata Guntur.


'Oh, ini ada sama bang Guntur? Boleh saya bicara sama mas Ugi?' tanya Melati.


"Oh. ya, boleh, boleh." jawab Guntur lalu menyerahkan ponselnya pada Ugi. Ugi menerima HP Guntur, ada rasa rindu yang menyeruak memenuhi relung hatinya. Ya, malam ini dia akhirnya bisa berbicara dengan wanita yang sangat dia cintai.


"Halo, Assalamualaikum sayangku." kata Ugi yang membuat kening Laili mengernyit.


"Sayang? Siapa sebenarnya Melati? Kenapa Ugi memanggilnya sayang? Adiknya kah? Atau istrinya? Ah, tapi Ugi kan belum nikah, atau...jangan jangan ini pacarnya? Dia kan dulu playboy?" batin Laili.


"Alhamdulillah, mas baik." jawab Ugi berbohong.


'Mas yakin baik-baik aja? Perasaan Melati tu ga enak banget mas, Melati kepikiran mas Ugi terus dari tadi.' kata Melati.


"Iya, mas gapapa. Mas baik-baik saja kok. Ya mungkin itu perasaan sayangku aja kali, karena sayangku sangat merindukan mas. Iya kan?" goda Ugi.


"Dasar buaya, keadaan sakit, masih bisa ngegombal aja lo." omel Guntur.


'Iya kali ya mas. Sejak kita menikah, kita kan belum pernah LDRan ya mas?'


"What? Menikah? Sejak kapan Ugi menikah? Kenapa aku ga tau?" Batin Laili.


"Iya ya? Tapi gapapa kan sayangku? Sayangku disana baik-baik saja kan? Udah sampe lokasi tujuan?" tanya Ugi.


'Iya mas, selama mas Ugi ridho, Melati akan baik-baik saja. Alhamdulillah, tadi sampe di terminal, langsung di sambut sama asistennya bos pemilik stasiun televisi, dan langsung di beri tempat istirahat yang layak.' jawab Melati.


"Syukurlah, Alhamdulillah. Iya sayangku. Tetap semangat ya." kata Ugi dengan senyum getirnya.

__ADS_1


'Iya mas, yang penting mas baik-baik aja, Melati akan tetap semangat.' jawab Melati yang membuat dada Ugi semakin sesak, karena perasaan bersalah.


"Ehm, ya udah. Udah malam sayang, sayangku istirahat ya. Besok kan sayangku pasti sibuk banget." kata Ugi.


'Ya mas. Mas juga istirahat ya. Ini mas Ugi dimana?' tanya Melati yang membuat Ugi gelagapan harus menjawab apa. Karena tak mungkin Ugi mengatakan posisi dia yang sebenarnya saat ini kepada Melati.


"Ehm, i-ini...mas sama bang Guntur di...di rumahnya bang Guntur. Soalnya istrinya lagi mudik, jadi mas diminta nemenin bang Guntur di rumahnya." jawab Ugi berbohong.


Guntur tampak geleng-geleng dengan sikap Ugi yang terus berbohong kepada istrinya.


'Oh, ya udah. Nanti Melati bilang sama ibu, kalau mas di rumah bang Guntur. Biar ibu ga khawatir ya mas.' kata Melati.


"Oh, iya. Iya sayang. Tolong kamu kasih tau ibu ya. Soalnya mas kan belum ada HP ini, InshaaAllah besok deh, mas beli HP baru." kata Ugi.


'Ya mas.'


"Ya udah, istirahat ya sayangku, selamat malam, selamat istirahat." kata Ugi menutup percakapan mereka.


'Ya mas. Assalamualaikum.' jawab Melati.


"Wa'alaikumsalam." jawab Ugi.


Setelah panggilan diakhiri, Ugi menyerahkan HP Guntur kepada pemiliknya.


"Sekali berbohong, maka akan terus muncul kebohongan-kebohongan berikutnya bro. Elo yakin bakal nutupin keadaan elo saat ini dari istri lo?" tanya Guntur menginterogasi.


"Kalau Melati pulang, dan dia tau keadaan kamu sebenarnya gimana?" tanya Guntur.


"Ya ga gimana-gimana." jawab Ugi masih enteng.


"Kondisi elo ini penyakit menahun, dan bahkan bisa seumur hidup bro, ga bisa seminggu sembuh. Kalau Melati tau yang sebenarnya, gue yakin, Melati bakal kecewa banget sama elo. Dia bakal menangis, marah, dan banyak perasaan yang ga enak lainnya." kata Guntur masih berusaha membujuk sahabatnya.


"Gue tau."


"Terus, Kenapa elo lakuin kaya gini? Hah?"


"Dia butuh waktu bang. Dia lagi mencapai keberhasilannya, mencapai impiannya, kalau dia tau, dia pasti bakal cancle semuanya demi nemuin gue di sini. Gue ga mau hal itu terjadi bang. Dia pantas mendapat kebahagiaan nya, sudah saatnya dia mendapat kebahagiaan nya bang." kata Guntur.


"Ah, terserah elo dah. Gue ga mau ikut campur urusan rumah tangga elo. Yang jelas, pesan gue, jaga hati elo. Jangan lo sakitin Melati dengan hati elo yang kotor." kata Guntur.


"Dah, gue mau pulang. Bini gue nungguin gue." kata Guntur mengambil jaket dan tasnya di meja.


"Oya, Muna otewe ke sini katanya. Jadi elo nanti dijagain adik elo ya." kata Guntur pamit pergi, sambil memegang handle pintu, hendak membuka pintu.


"Apa? Elo ngabarin Muna?" tanya Ugi terkejut.

__ADS_1


"Iya. Kenapa?" tanya Guntur.


"Kenapa elo juga ngabarin adik gue, tanpa seijin gue?" protes Ugi, membuat Guntur mengurungkan niatnya untuk keluar ruangan. Dia berbalik badan dan berjalan mendekati Ugi.


"Apa maksud lo? Elo ga mau sampe adik elo tau juga? Elo ga mau keluarga elo semuanya tau akan keadaan elo saat ini?" tanya Guntur dengan nada mulai meninggi.


"Gue ga mau mereka tau." kata Ugi dingin.


"Elo jangan egois dong bro. Elo tu lagi ga baik-baik akan Elo tu lagi sakit. Keadaan elo bahkan terbilang parah. Elo tu lumpuh! Nyadar diri dong. Kalau ada apa-apa sama elo, tetap keluarga yang berhak menyetujui setiap anjuran dokter. Bukan gue, bukan Laili." kata Guntur menggebu-gebu.


Ugi hanya diam, memang ada benarnya kata Guntur.


"Dah, gue pulang. Assalamualaikum." salam Guntur.


"Wa'alaikumsalam." jawab Ugi dan Laili bersamaan.


Sepeninggal Guntur, Ugi dan Laili mulai berbincang.


"Gi."


"Hem?" jawab Ugi dengan tanpa menoleh ke arah Laili.


"Sejak kapan kamu nikah? Kenapa aku ga tau?" tanya Laili sambil menahan sesak didadanya.


"Udah lama. Emang ga ngundang siapa-siapa. Kita cuma Akad di KUA aja." jawab Ugi dingin.


"Oh..."


"Aku minta maaf ya, kalau tadi aku memohon kamu, agar kamu mau aku urusin. Soalnya aku ga tau kalau kamu udah punya istri." kata Laili mendunduk.


"Iya."


"Ehm, kalau gitu, kata-kata ku aku cabut dehm Aku takut istrimu nanti cemburu." kata Laili.


Seketika Ugi menoleh ke arah Laili.


"Kenapa begitu?" tanya Ugi.


"Ya aku ga enak lah. Jadi orang ketiga diantara kalian nantinya." kata Laili.


"Gapapa. Melati di luar kota selama seminggu." jawab Ugi.


"Jadi, kamu masih tetap mau aku rawat?" tanya Laili.


Ugi mengangguk.

__ADS_1


Laili tersenyum bahagia. Karena Ugi adalah orang yang dia tunggu selama ini, namun Ugi selalu bersikap dingin padanya. Sebenarnya, Laili sudah menyukai Ugi sejak mereka SMA, tetapi Laili suka jaim dengan Ugi, dan berlagak membenci pria itu. Tetapi berbanding terbalik dengan hatinya, yang begitu mengharapkan sosok pria seperti Ugi. Sayangnya, Laili mengetahui bahwa di hati Ugi hanya ada Maryam, sehingga Laili memilih menjauh, daripada dia sakit hati.


__ADS_2