Seputih Melati

Seputih Melati
Rewel


__ADS_3

Sesampainya di kelas, Melati segera menyiapkan segala alat tulisnya. Dia mulai menyiapkan diri untuk menerima pelajaran hari ini. Hingga seorang teman yang cukup akrab dengan dirinya, menyapa Melati.


"Ehem, Melati...tadi tu... siapa kamu?" tanya Nia.


"Siapa?" justru Melati balik bertanya.


"Ish, kamu nih. Kamu kira aku ga tau, tadi kamu ketemuan sama cowok di depan gedung ini?" tanya Nia.


"Eh, ehm... oh... itu tadi?" kata Melati tergagap.


"Cie... pacar ya Mel?" tanya Nia yang menjadi teman dekat Melati selama menempuh pendidikan paket C di SKB. Nia dua tahun lebih muda dari Melati. Dia bersekolah di SKB, karena tahun lalu dia tidak lulus sekolah, karena terlalu seringnya dia membolos sekolah, dan nilai Ujian Nasional nya juga sangat rendah. Sehingga dia dinyatakan tidak lulus.


"Bukan." jawab Melati santai.


"Masa'?"


"Iya. Itu tadi cuma temen. Dia kemarin nolongin aku pas motorku mogok, terus ini tadi motorku dianterin dengan keadaan sudah membaik." kata Melati.


"Kemarin motor kamu mogok? Padahal kemarin huja. deras lho Mel." kata Nia.


"Ya pas itu. Makannya mas nya itu nolongin aku Nia." jawab Melati.


"Oh... ya siapa tau jadi jodoh." seloroh Nia.


"Ish, ya ga mungkin lah." elak Melati.


"Ga ada yang ga mungkin di dunia ini, kalo Tuhan sudah berkehendak." kata Nia.


"Kalau ga mau, aku mau kok daftar jadi pacarnya." kata Nia cengar cengir.


Melati tak menanggapi Nia, kalau sudah bawa bawa nama Tuhan. Hingga akhirnya mentor mereka datang. Melati mengikuti pelajaran dengan sangat antusias dan sangat baik.


Jam perpulangan tiba, cuaca hari ini tidak seperti cuaca kemarin. Hari ini langit cerah dan berawan. Melati melajukan motornya hingga tiba di rumahnya. Sesampainya di rumah, Melati segera membersihkan tubuhnya yang Sudah terasa lengket karena beraktivitas seharian.


Baru beberapa menit Melati masuk kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berdering, tanda ada panggilan masuk.


"Mbak... Mbak Melati. Ini ada telpon." kata Aldo sambil membawa benda pipih milik mbaknya.


"Dari siapa dek?" tanya Melati.


Aldo yang sudah kelas 3 SD, tentu sudah bisa membaca bukan? Aldo pun membaca nama yang tertera di layar ponsel itu. Pak Dewa.


"Pak Dewa mbak." kata Aldo.

__ADS_1


Sejenak Melati menghentikan kegiatan mandinya.


"Kenapa pak Dewa menelponku sore-sore begini? Pasti ada yang penting." batin Melati.


"Angkat aja dulu dek, bilang mbak lagi mandi, nanti kalau udah selesai mbak telpon balik." titah Melati.


"Ya mbak." jawab Aldo, kemudian Aldo menekan gambar telpon berwarna hijau pada layar ponsel android itu.


"Halo, assalamualaikum." salam Aldo. Suatu kebiasaan yang diajarkan Melati kepada kedua adiknya, apabila akan memulai percakapan di telepon. Dan mengucap salam ketika masuk rumah.


'Wa'alaikumsalam. Maaf dek, mbak Melati nya ada?' tanya orang di seberang yang sudah jelas itu suara pak Dewa. Namun, saat laki-laki itu menjawab salam dan menanyakan keberadaan mbaknya, Aldo mendengar suara tangisna bayi.


"Mbak Melati nya lagi mandi pak. Kata mbak Melati, nanti kalau sudah selesai, mau ditelpon balik." kata Aldo.


'Oh, ya dek. Terimakasih.' jawab pak Dewa.


Tanpa salam, telepon itu terputus dari si penelpon.


Tak menunggu waktu berjam-jam, Karena Melati bukan tipe gadis yang suka bertapa di kamar mandi dengan banyaknya ritual di dalamnya, sehingga sepuluh menit saja dia sudah menyelesaikan mandinya, apalagi saat mengetahui pak Dewa menelpon dirinya.


Setelah selesai mandi, Melati segera ke kamarnya dan mengambil benda pipihnya yang diletakkan Aldo ditempat semula. Yaitu di meja riasnya.


Melati pun mencari sebuah nama di riwayat panggilan WhatsApp, lalu menekan gambar telepon pada nama kontak pak Dewa. Dan tak menunggu waktu lama, telepon langsung diangkat dari seberang.


📞Pak Dewa


'Wa'alaikumsalam. Bunda Melati. Maaf, mau tanya, hari ini bunda repot tidak?' tanya pak Dewa.


"Tidak pak." jawab Melati.


Saat Dewa bertanya tadi, Melati mendengar tangisan bayi, dan sudah bisa ditebak, bahwa itu tangisan Tsabita, anak asuhnya di PAUD.


"Itu Tsabita kenapa pak? Kok menangis terus?" tanya Melati.


'Itulah bunda, ini Tsabita rewel sedari pulang sekolah tadi. Dan ini kebetulan kakaknya juga demam, dan lemes. Kalau bunda Melati tidak repot, saya mau minta tolong untuk jagain Tsabita dulu bunda, tapi di rumah saya. Ini Saya mau antarkan kakaknya periksa dulu ke dokter. Disini ada ibu mertua saya kok, InshaaAllah nanti aman, tidak ada masalah.' kata Dewa.


"Oh, ya pak, tentu bisa. Ini saya langsung ke sana saja pak." jawab Melati.


'Ya bunda, terimakasih. Saya tunggu.' kata Dewa.


"Baik pak."


Setelah bertelponan dengan guru SMPnya itu, Melati segera menyiapkan barang bawaan yang perlu dia bawa, seperti tas, dompet dan ponsel. Kemudian dia teringat bahwa ini mendekati waktu maghrib, sedangkan di rumah pak Dewa tidak ada perempuan, sehingga Melati membawa mukena untuk sholat di sana.

__ADS_1


"Dek, Aldo, Aldi. Mbak mau ke rumah pak Dewa dulu ya. Karena Tsabita rewel, pak Dewa mau meriksain anaknya yang gede dulu, karena anaknya demam. Nanti kalau ada yang nyariin mbak, bilang aja mbak ke rumah temen gitu ya." kata Melati.


"Ya mbak."


"Makanannya masih 'kan? Nanti jangan lupa makan ya. Jangan main terus, dan kalau nanti mau ke masjid, waktunya pulang langsung pulang. Mengerjakan Tugas sekolah dulu." kata Melati memberi beberapa pesan kepad a kedua adiknya.


"Siap mbak." jawab Aldo dan Aldi kompak.


"Mbak tinggal dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab si kembar kompak lagi.


Sebelum Melati mengendarai motornya, Melati ke rumah neneknya terlebih dahulu untuk berpamitan pada neneknya dan juga sekalian titip si kembar.


Melati pun melajukan motornya menuju perumahan baru di dekat Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini tempat dia bekerja dengan waktu tempuh limabelas menit.


Sesampainya di perumahan Griya Permai blok D, nomer 5, Melati menghentikan motornya, lalu segera menuju rumah bercat biru itu.


"Assalamualaikum." salam Melati sambil mengetuk pintu. Terdengar dari luar suara tangisan bayi.


"Wa'alaikumsalam." jawab Dewa sambil menggendong baby Tsabita.


"Bunda, saya nitip Tsabita dulu ya. Itu Dirga demam dari tadi ga turun-turun. Kebetulan juga saya pas ga ada stok parasetamol." kata Dewa dengan wajah panik.


"Ya pak Dewa. Terus ini Dirga mau dibawa kemana pak?" tanya Melati.


"Ke IGD." jawab Dewa.


"Oh, ya pak."


"Oya, ini ada ibu Mertuaku, tetapi beliau tidak bisa jalan-jalan, nanti kalau Tsabita bisa tidur, bunda Melati mau sholat, biar dijagain ibu." kata Dewa memberi penjelasan.


"Ya pak."


"Ya sudah bunda, saya titip Tsabita dulu ya." kata Dewa sambil menggendong Dirga yang sudah lemas dan dengan mata yang merem terus.


"Ya pak." jawab Melati.


"Dewa, hati-hati nak." pesan ibu Mertua Dewa.


"Ya bu. Mohon tambah do'anya, semoga Dirga gapapa." kata Dewa.


Tak menunggu waktu lama, Dewa segera memasukkan Dirga ke dalam mobilnya yang terparkir di luar. Lalu melajukan mobilnya menuju IGD terdekat.

__ADS_1


💞💞💞


Maaf ya reader tercinta, author lagi ada hajatan, jadi rada repot di rumah. Maaf up nya lama...😍 dan author berharap, reader tetap setia menantikan bab berikutnya di seputih melati ini...


__ADS_2