
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih delapan jam, akhirnya bus yang dinaiki Melati sudah sampai di terminal yang ada di Jakarta. Melati dan Ziapun turun dari bus, dan membawa barang-barang mereka lalu duduk di kursi yang ada di terminal. Namun, saat Melati akan menghubungi seseorang, HP melati ternyata lowbet, sehingga dia tidak bisa menghubungi pihak stasiun Televisi yang kemarin menghubunginya. Tetapi, untungnya Melati sudah mencatat alamat lengkap kantor yang akan ditujunya, beserta nomer yang menghubunginya.
"Haduh Zi, ternyata HP ku mati, mana aku ga bawa power Bank lagi." kata Melati panik.
"Tapi kamu masih nyimpen alamat sama nomer yang harus kita hubungi kan?" tanya Zia.
"Oh, iya. Nyimpen. Bentar." kata Melati sambil membuka dan mencari-cari benda di dalam tas kecilnya.
"Gimana?" tanya Zia.
"Nah, ini dia." kata Melati sambil memberikan sebuah note berukuran kecil kepada Zia.
"Pake nomerku dulu aja ya." kata Zia.
"Iya."
Melatipun memasukkan deretan angka ke dalam ponsel Zia, lalu menghubungi nomer itu.
"Halo, Assalamualaikum maaf pak, saya mengganggu malam-malam. Ini saya Sekar Melati pak, penulis Novel Sekeping Hati dari Solo, ini saya pakai HP teman saya, karena HP saya off."
'Ya. Tidak apa-apa. Mbak Melati sudah tiba di Jakarta?' tanya orang di seberang.
"Sudah pak."
'Baik, saya akan menjemput anda. Tolong fotokan lokasi anda berada.'
"Baik pak."
Lalu Melati memfoto lokasinya dan memberi keterangannya pada chat WA kepada orang itu.
Sambil menunggu jemputan, Melati dan Zia mengobrol sambil memakan camilan yang mereka bawa dari Solo.
"Zi, aku pinjem HP mu ya, buat ngehubungin mas Ugi." kata Melati.
"Oh, ya Mel." kata Zia, lalu memberikan ponselnya pada Melati.
Melatipun memasukkan deretan angka yang dia hafal. Namun, sayangnya suara seorang perempuan yang mengangkatnya, yang membuat Melati merasa khawatir pada keadaan suaminya. Karena tidak biasanya nomer Ugi tidak aktif seperti ini, apalagi posisi mereka sedang LDRan.
"Kenapa Mel?" tanya Zia saat Melati beberapa kali mencoba menelpon, tetapi gagal.
"Yang ngangkat operator terus. Nomernya ga aktif Zi. Ga biasanya mas Ugi kaya gini, aku kok ngerasa mas Ugi kenapa-napa ya?" tanya Melati.
"Hus, jangan berfikir yang aneh-aneh ah. Ga baik." tegur Zia.
"Tapi perasaanku ga enak Zi." kata Melati.
__ADS_1
"Ya mungkin itu karena HP kamu lowbet, dan kamu kecapekan aja. Jad kamu galau." kata Zia.
"Ih, engga ya Zi. Aku bisa bedain mana keadaanku galau sama perasaan ga enak gini." kata Melati menyanggah.
Namun saat mereka sedang berdebat, sudah ada seorang laki-laki berdiri tak jauh darinya.
"Assalamualaikum." salam laki-laki berjas itu.
"Wa'alaikumsalam." jawab Melati dan Zia bersamaan.
Saat keduanya menoleh ke sumber suara, Zia terkesima dengan kharisma wajah pria tampan itu. Tetapi tidak dengan Melati yang juga sempat terkejut dengan orang yang ada di hadapannya, membuat bibir mungilnya tak sengaja menyebut sebuah nama.
"Mas Latif?" gumam Melati namun tak didengar oleh Laki-laki itu.
"Mas Latif? Ah, tapi masa' iya mas Latif, mas Latif kan sudah meninggal... ah, mungkin cuma mirip aja. Duh, kenapa aku jadi kepikiran mas Latif sih?". batin Melati.
"Mbak, mbak. Mbak...halo..." sapa laki-laki itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah Melati.
"Eh, Oh, iya pak. Ma-maaf." jawab Melati tergagap.
"Maaf, apa Benar ini dengan Mbak Sekar Melati, penulis Novel yang diundang oleh pak Richard?" tanya Laki-laki itu.
"I-Iya mas, Eh, pak. bener." jawab Melati masih gugup.
"Oh, ya mas."
"Ada yang bisa saya bawakan?" tanya Ahmad.
"Oh, tidak usah mas." tolak Melati sungkan.
"Eh, ini minta tolong bawain kopernya, bisa mas?" tanya Zia.
"Oh. ya bisa." jawab Ahmad.
Merekapun memasukkan barang-barang ke dalam bagasi. Lalu mereka masuk mobil dan mobil pun melaju meninggalkan terminal.
Sesampainya di hotel, Ahmad mengantar Melati dan Zia ke resepsionis untuk melakukan chek in, lalu mengantarkan mereka sampai ke kamar.
"Sekali lagi, terimakasih ya mas Ahmad." kata Melati sambil menunduk.
"Sama-sama. Besok pagi akan saya jemput lagi ya mbak. Jam delapan tepat." kata Ahmad.
"Baik. InshaaAllah." jawab Melati.
"Kalau begitu, saya permisi." kata Ahmad.
__ADS_1
"Ya mas." jawab Melati. Sedangkan Zia sedari tadi hanya diam dengan sesekali mencuri pandang pada pria tampan itu.
Sesampainya di dalam kamar, Melati dan Zia bergantian mandi. Setelah Mandi, Melati mengaktifkan ponselnya yang sudah di chas, dia lihat aplikasi hijaunya. Berharap ada pesan dari suaminya.
Namun hanya ada satu pesan di jam tujuh malam,
Sayang, sudah sampai Jakarta belum? Nanti kalau sudah sampai, kabari ya. Dan jangan lupa kalau ada kendala langsung hubungi mas. Love You Full๐
Sambil membaca itu, Melati tersenyum, lalu dia menekan gambar telepon, dia sudah sangat rindu dengan suaminya itu. Dia ingin segera bertelfonan dengan suaminya, mendengar suara suaminya. Namun. hanya ada jawaban dari seorang wanita yang bertugas sebagai operator yang menjawab, mengatakan bahwa nomer Ugi tidak aktif. Lalu Melati mengirimi beberapa pesan pada Ugi. Namun semua centang satu.
Karena penasaran, Melatipun menghubungi ibunya.
๐Ibu
'Halo mbak.'
"Assalamualaikum bu."
'Wa'alaikumsalam. Ada apa mbak?'
"Bu. nomernya mas Ugi kok ga aktif ya bu? Apa mas Ugi sudah pulang bu?"
'Belum mbak. Mas Ugi belum pulang. Dari tadi nganterin mbak. Mas Ugi langsung ke kantor, katanya dia jaga siang.'
"Kalau jaga siang, harusnya jam segini dia udah pulang bu."
'Tapi, memang ini belum pulang mbak.'
Karena saking paniknya Melati, dia tadi memang tidak sempat melihat riwayat panggilan di Whatsapp nya, lalu dia baru ingat, kalau tadi ada panggilan dari nomer baru.
"Oh, apa yang tadi nelponin Melati ya bu? Ya udah bu, Melati hubungi nomer baru ini tadi dulu. Assalamualaikum bu."
'Wa'alaikumsalam.'
Melati pun mengecek di riwayat panggilan, ada nomer baru yang menelpon dia beberapa kali. Dan tampak di riwayat pesan, bahwa ada beberapa pesan yang dihapus dari pengirimnya. Melati pun membalas pesan itu,
Maaf, siapa ya?
Kemudian Melati menelpon balik nomer baru itu, dan akhirnya diangkat. Ternyata nomer itu adalah nomer Guntur, sahabat suaminya.
๐๐๐
Kira-kira apa yang akan dikatakan Guntur kepada Melati? Apakah Guntur akan mengatakan pada Melati tentang keadaan Ugi? Ataukah menuruti kemauan Ugi, untuk tidak memberitahukan keadaan Ugi kepada Melati? Apa alasan Ugi mau menerima tawaran Laili dan melarang Guntur untuk tidak memberitahukan kepada Melati?
Yuk, ikuti terus cerita ini ya reader tercinta๐
__ADS_1