
Latif melajukan motornya menuju toko elektronik papanya. Pikirannya sedang pusing, dia ingin mengalihkan pikirannya dengan menyibukkan kerja.
Sesampainya di toko El Ektronik milik papanya yang diawasinya, Latif segera turun dari motornya dan menuju ruang kerjanya. Kedatangannya disambut Ahmad, selaku karyawan kepercayaannya sekaligus sahabat nya.
"Kenapa Tif?" tanya Ahmad.
"Lagi pusing aja." jawab Latif duduk di kursi kerjanya, dan tangan kanannya memegang pelipisnya.
"Pusing mikirin apa?" tanya Ahmad.
"Ehm... Mad."
"Ya?"
"Misal toko ini dipegang orang selain aku gitu, gimana? Misal mas Bayu, atau Mas Cakra gitu." kata Latif.
"Kenapa emangnya?" tanya Ahmad heran.
"Ya, gapapa. Aku mau fokus ngembangin usahaku aja." kata Latif.
"Ehm... aku sih, ngikut aja lah Tif. Soalnya aku juga belum pernah dibawah kepemimpinan mas Cakra ataupun mas Bayu." jawab Ahmad.
"Lagipula, emang mas Cakra bisa? Dia bukannya sibuk dengan tugas pilot nya? Terus mas Bayu, bukannya dia juga sibuk di kantor Dinasnya?" tanya Ahmad.
"Iya juga sih." gumam Latif.
"Lagian, kenapa juga kamu mau ninggalin El Ektronik? papamu yang minta?" tanya Ahmad.
"Engga, bukan kok. Itu karena aku sendiri." kata Latif.
"Kenapa, kamu ada masalah?" tanya Ahmad.
"Ehm... oya mad, Masmu, mas Amar setelah nikah, di rumah apa ikut istrinya?" tanya Latif.
"Di rumah. Kenapa emangnya?" tanya Ahmad.
"Aku udah lama banget ga ketemu sama mas Amar. Semenjak dia udah ga ngejabat jadi ketua pemuda, udah ga pernah lagi aku ketemu sama dia." kata Latif yang mengalihkan pertanyaan Ahmad.
"Iya lho, mas Amar juga nanyain kabarmu." kata Ahmad.
"Tapi kenapa kamu ga bilang sama aku?" tanya Latif.
"Lupa. Hehehe." kata Ahmad sambil mengukur kepalanya yang tidak gatal.
Latifpun fokus dengan beberapa laporan barang masuk dan keluar serta keuangan hari ini. Semua laporan dia teliti dengan baik, namun saat masih fokus dengan laporan, tiba-tiba ponselnya berdering.
📞Mas Widi (menantu pak Wahid)
'Assalamualaikum Mas Latif.'
"Wa'alaikumsalam mas."
'Kamu dimana Tif?'
"Di toko mas."
__ADS_1
'Jauh ga?'
"Engga mas, cuma deket. Ada apa mas?" tanya Latif yang mencium bau bau kabar kurang bagus.
'Ehm, segeralah pulang Tif. Ini mamamu bikin keributan di rumah bapak.' kata Widi.
"Keributan?"
'Iya Tif, mamamu marah-marah sama bapak. Sudahlah, segeralah pulang Tif!' pinya Widi.
"Ya mas. Latif segera pulang." kata Latif.
Latifpun keluar dari ruang kerjanya.
"Mad, nanti tolong kamu tutup ya tokonya, aku harus segera pulang." kata Latif.
"Siap." jawab Ahmad.
Dengan segera, Latif mengambil motornya, dan melaju membelah kesunyian malam. Sesampainya di rumah, Latif mendapati rumahnya tampak terang, berarti ada penghuni disana.
"Assalamualaikum." salam Latif saat masuk rumahm Tampak olehnya sosok wanita yang tak asing baginya.
"Dari mana kamu?" tanya bu Desi, tanpa menjawab salam Latif.
"Sejak kapan mama pulang?" tanya Latif tanpa menghiraukan pertanyaan mamanya.
"Kami ini kalau ditanya orang tua dijawab dong!" perintah mamanya.
"Dan mama, kalau ada orang ucap salam, juga harusnya di jawab." kata Latif membalikkan pernyataan mamanya.
"Darimana kamu?" tanya bu Desi lagi.
"Dari toko." jawab Latif.
"Mama ngapain ke rumah pak Wahid?" tanya Latif.
"Oh, jadi ada yang ngadu?" tanya bu Desi.
"Ma, tolong lah bersikap sopan sedikit di kampung ini." pinta Latif.
"Apa maksudmu?" tanya bu Desi.
"Pak Wahid itu orang baik ma, kenapa mama marah-marah sama beliau?" tanya Latif.
Bu Desi tersenyum kecut menanggapi pernyataan putranya.
"Baik? Orang yang udah manfaatin kamu, yang memperbudak kamu, yang udah bikin kamu kena gosip warga kampung, kamu bilang dia baik?"tanya bu Desi dengan amarhnya.
"Apa maksud mama?" tanya Latif.
"Jangan kamu kira mama ga denger gosip yang beredar di kampung ini Tif. Kamu tau, mama Malu Tif, mama Malu!" omel bu Desi.
"Kalaupun kamu digosipin suka sama cewek, fine! Tapi kenapa ceweknya harus cewek penyakitan, miskin ga berpendidikan kaya anaknya si Yudi itu? Ha?" bu Desi terus saja mengatai Melati seenaknya sendiri.
"Mama! Apa maksud mama?" tanya Latif dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Tif, sadar dong... Kamu ini siapa? Perempuan itu siapa. Kalian beda jauh Tif. Mama ga akan pernah ridho dengan hubungan kalian, paham?" kata bu Desi.
"Tapi aku mencintainya ma." kata Latif lirih.
"Latif!!" Hardik bu Desi sambil menunjuk wajah putranya.
"Jaga bicaramu!" lanjut bu Desi.
Latif hanya diam, dia tau ini salah, karena dia membatah perkataan mamanya, orang yang sudah melahirkannya, membesarkannya dengan penuh cinta. Latif adalah anak baik, dimana dia selalu patuh dan taat dengan didikan pak Wahid selaku guru ngajinya. Dia mengerjakan setiap amanah dari pak Wahid dengan baik, dan menawarkan diri untuk membantu tugas-tugas pak Wahid. Termasuk diamanahi pak Wahid untuk menjaga dan mengawasi Melati dan keluarganya, karena hanya dia tetangga terdekat yang memiliki power untuk membantu disaat dibutuhkan. Kebetulan, rumah sekitarnya Lagi adalah rumah yang kosong, penghuninya merantau, dan hanya ada nenek dan kakek serta anak kecil yang tinggal di sana.
"Besok, kamu harus ikut mama kembali ke Palembang." kata bu Desi.
Seketika Latif menatap wajah mamanya.
"Ga mau!" jawab Latif ketus.
"Harus mau. Mama ga sudi kamu diperbudak marbot masjid itu lagi!" kata Bu Desi.
Tanpa menjawab, Latif berlalu menuju kamarnya begitu saja, karena dia tidak ingin menambah dosa dengan beradu pendapat dengan mamanya.
"Latif! Mama belum selesai bicara!" teriak mamanya.
Latif tak menghiraukan teriakan mamanya. Dia terus masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Latif bersandar di pintu kamarnya.
"Maaf ma..." gumam Latif.
Latif merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya dengan perasaan tak karuan. Campur aduk perasaannya saat ini. Latifpun mengirim pesan kepada sahabatnya Ahmad.
📨Ahmad
Mad, jam segini mas Amar di rumah ga?
Tak berselang lama, pesan Latif dibalas Ahmad.
📩Ahmad
Ada Tif
📨Ahamad
Kasih tau mas Amar, aku mau ke sana sekarang.
📩Ahmad
Ok
Latifpun bersiap pergi dengan hanya membawa sling bag nya, yang berisi dompet dan ponselnya. Dia segera keluar kamar, dan bu Desi kembali berdiri dari duduknya saat melihat anaknya keluar dari kamarnya.
"Mau kemana lagi kamu?" tanya bu Desi.
"Bukan urusan mama." jawab Latif berlalu begitu saja.
"Latif!" panggil bu Desi dengan marah.
Latif tak menghiraukan mamanya. Dia terus berjalan menuju motornya lalu pergi menaiki motornya, dan memecah kesunyian malam yang menurutnya terasa panas, karena hatinya sedang panas.
__ADS_1
"Aku ga menyangka mama akan berbuat seperti ini. Maafkan Latif ma, maaf " Batin Latif.