Seputih Melati

Seputih Melati
Lamaran


__ADS_3

Malam ini menjadi malam yang menegangkan bagi Melati. Karena malam ini, Melati akan memberikan sebuah jawaban untuk masa depannya. Ada rasa trauma yang muncul di relung hatinya. Dia memang belum pernah berada di posisi seperti ini dulunya, karena dulu waktu dengan Ugi, dia langsung menikah saja, tanpa ada acara lamaran.


Malam ini Melati memoles sedikit wajahnya dengan make up seadanya. Dengan mengenakan dress yang dirasa pantas untuk menerima tamu dari keluarga seorang guru tampan seperti Dewa. Dan Melati juga mengenakan jilbab pashmina yang senada dengan dressnya.


Tok tok tok


"Masuk." kata Melati sambil membenahi jilbabnya.


"Assalamualaikum Melati...cie...yang mau dilamar sama pak guru..." goda Zia tiba-tiba.


"Wa'alaikumsalam...eh ya ampun Zia...Ih, kamu nih apaan sih..." kata Melati tersipu malu.


"Ga nyangka deh aku, sahabatku ini akhirnya malah berjodoh sama pak guru ganteng." kata Zia sambil merangkul pundak Melati.


"Ish Zia...ini kan baru lamaran, belum sah, jadi belum bisa dikatakan berjodoh. Karena belum ada ijab qobulnya." komentar Melati.


"Ya tapi kan tinggal selangkah lagi." kata Zia berusaha membela diri.


"Kamu ga lupa kan sama perjalanan jodohku? Aku jelas-jelas menikah dengan Mas Ugi pun, ternyata Allah memisahkan kami, berarti kami belum bisa dikatakan berjodoh Zi. Berjodoh itu, kalau kita bersama sampai maut memisahkan." kata Melati.


"Itu persepsimu kan? Tidak semua orang sependapat denganmu bukan?" kata Zia lagi.


"Ah, terserahlah." kata Melati.


Tak lama kemudian, Melati dipanggil Aldo untuk keluar kamar, karena tamu sudah datang. Melatipun keluar dengan ditemani Zia, baru keluar dari kamarnya, Melati sudah di serbu pelukan oleh Dirga dan Tsabita yang juga ikut berjalan riang ke arahnya.


"Bunda..." teriak Dirga.


"Nda...nda..." panggil Tsabita sambil tangannya kedepan minta gendong Melati.


"Kakak...Adek... MaasyaaAllah, kalian ganteng cantik sekali..." puji Melati sambil menggendong Tsabita dan menggandeng Dirga.


"Bunda Melati juga cantik kok." puji Dirga.


"Ish, kamu ini masih kecil pintar memuji." komentar Zia sambil menoel pipi gembul Dirga.

__ADS_1


"Sini, Kakak sama tante Zia ya." ajak Zia. Namun Dirga menolaknya.


Kemudian Melati dan Zia duduk di dekat bu Fatma, yang menghadap dengan keluarga Dewa. Saat Melati mencoba mengabsen orang-orang yang ikut ke acara ini, awalnya Melati mengira hanya Dewa dan kedua orangtuanya saja, tetapi ternyata ada banyak yang ikut. Salah satunya adalah orang yang sama sekali tidak terdaftar dalam pikirannya. Yaitu mantan suaminya, Ugi.


"Mas Ugi?" gumam Melati.


"Kenapa mantanmu ada disana Mel?" tanya Zia berbisik.


"Ya mana aku tau?" bisik Melati.


Beberapa saat mereka saling sapa dan saling beramah tamah, akhirnya pak Wahid selaku wakil dari bapak nya Mealti memulai acaranya.


"Perkenalkan bapak, ibu, nama saya Danu, saya ayah dari Dewantara Ash Saghara, putra bungsu kami. Maksud Kedatangan kami ke rumah bapak ibu, ini kami ingin menyampaikan niat baik kami untuk putra kami." kata pak Danu setelah tadi menyampaikan pengantar dan kalimat pembuka.


"Putra saya seorang duda beranak dua, istri pertamanya meninggal dunia saat melahirkan anak keduanya. Melihat kedekatan kedua cucu kami dengan putri anda, kami bermaksud ingin memenuhi keinginan putra kami, untuk meminang putri bapak ibu, yang bernama Sekar Melati Sukma binti Wahyudi." kata pak Danu.


"Baik, terimakasih banyak kami sampaikan kepada pak Danu sekeluarga atas silaturahmi dan niat baiknya. Perkenalkan, nama saya Wahid, saya adalah kakak sepupu dari bapak nya Melati, sehingga disini saya juga menjadi Wali bagi Keponakan saya Melati. Untuk niat baik ini. kami selaku orang tua, tidak bisa memberikan jawaban atas lamaran dari pak Danu sekeluarga, tetapi semua jawaban kami serahkan kepada putri kami, Sekar Melati Sukma. Silakan Melati, bagaimana dengan jawabanmu?" tanya pak Wahid.


Melati masih tampak menunduk dan diam. Tak lama kemudian, Melati mengangkat wajahnya,


"Alhamdulillahirobbil'apa main." serentak para hadirim mengucap kalimat syukur dan mengusap wajah mereka dengan telapak tangan.


Setelah jawaban itu, Melati maju ke depan panggung, untuk dipakaikan cincin oleh bu Darsi. Melati sempat terkejut memang, namun bu Darsi membisikkan kata di telinga Melati saat memeluk Melati.


"Saya sangat lega, Dewa mau menikah lagi, dan menikahnya dengan wanita sepertimu nak, titip cucu-cucu ibu ya nak." bisik bu Darsi.


"Terimakasih bu." kata Melati.


Seperti acara lamaran pada umumnya, Melati pun berswa foto dengan Dewa di panggung, tentunya bersama pangeran dan putri mereka, Tsanka dan Dirga. Setelah sesi foto-foto, merekapun makan malam bersama, dan Tsania gang sudah mulai mengantuk, minta di gendong Melati, sedangkan Dirga minta disuapi Melati.


"Kakak sayang, itu adek lagi ngantuk, adek maunya sama bunda Melati, kakak mengalah dulu ya, kakak sama ayah dulu." bujuk Dewa.


Dengan berat hati, akhirnya Dirga luluh juga untuk makan disuapi Dewa. Tak memerlukan waktu lama bagi Melati untuk meninabobokkan Tsania, karena Tsania memang sudah sangat mengantuk, sehingga Melati meletakkan Tsania di kamarnya lalu menyusul Dirga yang sedang makan disuapi ayahnya.


"Sini, bunda Melati suapi ya." kata Melati lembut.

__ADS_1


"Yes, disuapin bunda." kata Dirga bahagia.


"Kamu ga makan?" tanya Dewa.


"Nanti aja pak. Pak Dewa makan duluan saja." jawab Melati.


"Saya ambilkan ya." kata Dewa sambil mengambil makanan untuk Melati.


Ugi melihat keharmonisan hubungan antara Melati, Dewa dan Dirga, tak terasa matanya memanas. Ada rasa sedih di sana, tetapi dia harus ikhlas. Ugi sendiri yang meminta pada Dewa agar dia bisa ikut ke acara lamaran Dewa dan Melati, dengan didampingi Guntur tentunya.


"Kenapa lo? Nyesel?" tanya Guntur.


"Engga bang " jawab Ugi sambil menghapus air matanya.


"Wajar sih, memang melepaskan sesuatu yang kita cintai itu beratm" kata Guntur.


"Tetapi lebih berat ketika kita mempertahankannya bang." jawab Ugi.


"Sabar ya, semoga elo segera mendapat pengganti yang lebih baik." kata Guntur.


"Aku ga terlalu berharap bang. Apalagi dengan kondisiku seperti ini." kata Ugi berputus asa.


"Semangat! Ga ada penyakit yang ga ada obatnya. Gue yakin, suatu saat nanti elo pasti bakal sembuh seperti sedia kala lagi." kata Guntur menyemangati.


"Aku pasrah bang."


"Yah... meski begitu, elo beruntung, karena menurut gue, ada cewek yang begitu peduli dan mau nerima elo apa adanya." kata Guntur. Ugi menoleh ke ada Guntur, dia tidak mengerti dengan yang dikatakan Guntur.


"Laila. Sepertinya dia mencintaimu." kata Guntur.


"Kalau memang iya, kejar, dan lamar dia." kata Guntur.


"Tapi aku..."


"Halah, rejeki udah ada yang ngatur." kata Guntur menapikkan kata pesimis Ugi.

__ADS_1


Merekapun akhirnya bebincnag banyak hal, lalu rombongan Dewa berpamitan untuk kembali pulang setelah acara selesai.


__ADS_2