
Hari yang dinanti telah tiba, Hari dimana menjadi hari bersejarah bagi Melati dan Dewa.
"Saudara Dewantara Ash Saghara."
"Ya, saya."
"Saya nikah kan dan saya kawinkan engkau. dengan keponakan saya bernama Sekar Melati Sukma binti Wahyudi, dengan maskawin perhiasan emas lima puluh gram dan uang tunai senilai lima puluh juta rupiah di bayar tunai." kata pak Wahid yang kedua kalinya menikahkan putri dari adik sepupunya, Pak Wahyudi.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sekar Melati Sukma binti Wahyudi dengan maskawin tersebut, tunai." ucap Dewa lantang dan lancar.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu.
"Sah..." jawaban kompak dari para hadirin yang hadir di acara ijab qobul Melati di kediaman Melati.
Bu Fatma yang duduk disamping Melati, langsung memeluk tubuh putrinya yang berbalut gaun putih dan berjilbab putih dengan pernak-pernik hiasan pada kepalanya, membuat Melati semakin tambah cantik dan ayu dengan makeup dari juru rias yang cukup terkenal di kotanya.
"Selamat ya mbak." kata bu Fatma sambil mengusap air matanya dengan tisyu lalu menghapus air mata Melati dengan tisyu yang sama, membuat Melati semakin terharu dengan sikap ibunya.
Zia dan Bu Fatma menuntun Melati mendekat pada Dewa yang duduk di meja ijab qobul, lalu Melati duduk disamping Dewa dengan wajah menunduk. Jantung Melati berdetak tak berirama, begitupun dengan aliran darah di sekujur tubuhnya mendadak berjalan dengan kecepatan tinggi. Melati mencium tangan Dewa dengan perasaan beribu kata yang tak dapat terucap. Sedangkan tangan kiri Dewa memegang pucuk kepala Melati sambil mendo'akan istri keduanya ini, setelah istri pertamanya pergi.
Tak jauh dari mereka duduk, sepasang mata tampak berkaca bahkan sempat menitikkan air mata.
"Kamu ikhlas bro?" tanya Guntur pada Ugi yang masih terfokus pada pemandangan di hadapannya.
"Ya bang." jawab Ugi.
Guntur menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.
"Terkadang, dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri pada sebuah hati." kata Guntur.
Ugi tak bergeming, tak berkomentar dan tak memalingkan pandangannya. Ugi melihat raut wajah kebahagiaan pada diri mantan istrinya. Ada sayatan tajam menghujam dirinya, perih rasanya. Namun itu tak seberapa perih jika dibandingkan dirinya tetap bertahan dengan segala keterpaksaan jiwanya. Sedangkan Melati tetap harus berbagi kasih dengan anak-anak Dewa.
Ya, sesungguhnya ada setitik rasa cemburu pada diri Ugi, ketika Melati begitu dekat dengan kedua anak Dewa. Karena orangtua anak itu adalah seorang duda, ditambah lagi saat dia mengetahui bahwa Dewa menaruh hati pada istrinya. Sehingga di saat dia terjatuh, dia memilih untuk melepaskan istrinya demi masa depan istrinya yang lebih baik lagi.
Setelah menandatangani surat nikah dan berkas-berkas lainnya, Melati dan Dewa dituntun untuk menuju kursi pelaminan. Ya, meski Dewa seorang duda, tetapi Dewa tetap memberikan acara resepsi secukupnya dan sederhana untuk pernikahan mereka. Ini semua juga atas dukungan dari keluarga Tsania dan keluarga Dewa sendiri.
Dewa dan Melati foto berdua, lalu setelah itu, barulah mereka berfoto bersama anak-anak Dewa, dan keluarga dari dua mempelai.
__ADS_1
"Yeay, ayah menikah sama bunda Melati." celoteh Dirga dengan polosnya.
"Nda...nda..." kata Tsabita sambil tangannya meminta gendong.
"Ya sayang? Adek mau djgendong bunda?" tanya Melati ramah.
"Sama ayah saja sini ya. Sama bunda nanti ya, kalau bunda sudah ganti baju." kata Dewa sambil menggendong tubuh anak bungsunya.
Setelah itu, acara resepsi langsung di mulai.
"Terimakasih ya sayang." kata Dewa sambil memegang tangan Melati dengan mesra, dan membisikkan di telinga Melati.
Melati hanya menunduk malu dan tersenyum.
"Apa kamu bahagia?" tanya Dewa.
Lagi-lagi Melati hanya tersenyum namun sambil mengangguk.
Setelah prosesi acara adat selesai di laksanakan, Melati dan Dewa menerima foto bersama dengan beberapa keluarga dan teman.
"Selamat ya mas Dewa." kata Ugi.
"Terimakasih mas Ugi." jawab Dewa.
"Saya titip Melati ya mas. Cukup saya saja yang pernah menjadi titik hitam di hatinya, yang membuat dia sedih kecewa dan sakit hati. Saya harap, anda tidak pernah melakukan hal sama seperti saya." kata Ugi dengan suara tercekat di kerongkongan.
"InshaaAllah mas. Mohon tambah do'anya saja mas." jawab Dewa.
Lalu Ugi maju ke arah Melati.
"Selamat ya Melati." kata Dewa. Namun kemudian, Muna mengahambur kedalam pelukan Melati sambil menangis sesenggukan.
Ugi hanya menunduk melihat tingkah adiknya, Ugi berusaha kuat dengan kondisi dia duduk di kursi roda. Sesungguhnya raga nya juga ingin sekali memeluk tubuh kecil mantan istrinya, ingin sekali dia menerima rajukan manja dari Melati, namun apa daya, wanita berpakaian pengantin di hadapannya bukan lagi istrinya yang boleh dia sentuh seperti dulu.
"Selamat ya mbak, Semoga mbak Melati bahagia." hanya kata itu yang terlontar dari semua gejolak kata di hati Muna saat melihat Melati sah menjadi istri Dewa. Ingin rasanya Muna berkata banyak pada Melati, namun semua tak kuat dia sampaikan pada mantan kakak iparnya.
Dengan berat hati, akhirnya Muna dan Ugi meninggalkan pelaminan dan kembali pulang. Beberapa setelah kepergian Ugi dan Muna, yang menyisakan sesak di d ada Melati, atas cerita masa lalunya tiba-tiba muncul sosok seorang laki-laki berparas tampan, bersama istrinya hadir di acara pernikahan mereka.
__ADS_1
"Mbak Sekar." panggil laki-laki itu.
"Pak Richard?" pekik Melati sambil menutup mulutnya yang sempat menganga.
"Saya mendapat kabar dari mbak Zia dan Ahmad, bahwa penulis favorit istri saya ini telah menikah. Sehingga kami datang ke sini." jawab pak Richard.
"Ya ampun pak, suatu kehormatan bagi kami. Terimakasih banyak pak, bu." kata Melati bahagia.
"Siapa?" bisik Dewa.
"Ini pak Richard mas, produser Melati. Yang kemarin mengundang Melati ke Jakarta, dan mengunggah novel Melati menjadi film." jawab Melati dengan penuh kebahagiaan.
"MaasyaaAllah. Terimakasih banyak pak, ternyata tamu agung ya." kata Dewa sambil menjabat tangan pak Richard dengan semangat.
"Biasa saja..." jawab pak Richard santai.
"Oya, ini kami ada hadiah pernikahan untuk kalian." kata pak Richard dengan isyarat tangan meminta kepada istrinya.
Kemudian istri pak Richard mengeluarkan sebuah amplop coklat kecil kepada Melati. Lalu pak Richard menyerahkan amplop itu kepada Melati.
"Ini, hadiah dari kami. Coba dibuka." perintah pak Richard. Dan melatipun membukanya. Sebuah voucher liburan untuk bulan madu mereka di Bogor dan sekaligus sebuah tiket nonton Film di bioskop, dengan filmnya berjudul 'Sekeping Hati', yang sudah sangat jelas, bahwa itu film adalah cerita novelnya yang kemarin difilmkan dan di produksi oleh Mega Production.
"MaasyaaAllah, pak, bu. Ini serius?" tanya Melati tak percaya.
"Iya mbak Melati. Ciptakan novel keren lagi untuk kami ya, kami sangat suka dengan cerita anda yang menginspirasi." kata istri pak Richard.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak, bu, pak." kata Melati dengan tersenyum haru.
Setelah Pak Richard dan istrinya turun, beberapa tamu lainnya bergantian bersalaman dengan mempelai dan berswa foto. Setelah acara selesai, Dewa meraih tangan Melati dan menghujaninya dengan kecupan.
"Selamat ya sayangku." kata Dewa dengan tatapan penuh cintanya.
"Terimakasih banyak mas." jawab Melati. Lalu Melati memeluk erat tubuh gurunya, yang kini menjadi suaminya.
πππ
Kira-kira, lanjut apa berhenti sampai disini aja ya? Coba tolong masukannya ya readerπππ
__ADS_1