
Seperti biasanya, lembaga pendidikan anak usia dini yang dikelola bu Hayati sudah buka sejak jam enam pagi. Karena ada beberapa anak penitipan yang diantarkan jam setengah tujuh pagi, termasuk baby Tsabita dan kakaknya Dirga.
Mobil Dewa sudah sampai di depan sekolahan, tampak seorang laki-laki dewasa menggendong seorang bayi dan menggandeng seorang anak balita, sambil menyangkleng sebuah tas baby.
"Assalamualaikum Kak Dirga dan dek Tsabita. Eh, adek bobok ya?" sapa bu Hayati ramah melihat baby Tsabita yang terlelap, lalu merendahkan tubuhnya, mensejajari tinggi Dirga
"Wa'alaikumsalam bunda Yati." jawab Dirga.
Dewa yang masih menggendong baby Tsabita, tampak celingak celinguk mencari seseorang.
"Ehm...bunda, Bunda Melati belum masuk ya?" tanya Dewa.
"Iya pak. Bunda Melati masih ijin, belum bisa masuk." jawab bu Hayati.
"Bunda Melati ga masuk?" tanya Dirga.
"Iya sayang, nanti kak Dirga sama bunda Novi dulu ya." kata Bunda Hayati mencoba memberi pengertian.
"Adek sih, sapa siapa?" tanya Dirga."Sama bunda Yati dong... bunda kan selalu bantu bunda Melati untuk menggendong Adikmu " kata bunda Hayati.
"Eh. iya ya." kata Dirga.
"Ya sudah, Dirga masuk kelas dulu ya sama bunda Novi." kata bunda Hayati.
"Ya bunda." kata Dirga.
"Eit, jangan lupa salim sama ayah." kata Bunda Novi mengingatkan. Lalu Dirga mencium punggung tangan ayahnya, dengan khidmat. Sambil masih menggendong baby Tsabita, tangan kanannya mengulurkan untuk dicium Dirga.
"Sekolah yang baik ya kak, jangan nakal. Nurut sama bunda ya kak." kata Dewa.
"Iya ayah." jawab Dirga
"Ini bobok tu bun, di pindah gendong, sekarang udah suka bangun. Apa saya langsung taruh di kamar ya bun?" tanya Dewa.
"Ya pak, silakan." kata bunda Hayati.
Dewapun meletakkan baby Tsabita ya masih terlelap di atas kasur bayi. Dewa mengecup kening putrinya dengan penuh cinta.
"Ayah kerja dulu ya sayang." kata Dewa pelan.
Dewa keluar kamar, lalu pamit pada para bunda.
"Saya titip anak-anak ya bunda." kata Dewa.
"Ya pak." jawab bunda Hayati.
Sepeninggal Dewa, bunda Novi kembali ke bunda Hayati, saat tadi sudah mengantarkan Dirga ke kelasnya.
__ADS_1
"Bunda." panggil bunda Novi.
"Ya bun?" tanya Bunda Hayati.
"Bunda ga bilang sama pak Dewa alasan bunda Melati masih ijin?" tanya bunda Novi.
Bunda Hayati menggeleng.
"Pernikahan bunda Melati berbeda dengan kita bun, beliau menikah tanpa di rencana, saya khawatirnya kalau kita sudah menyampaikan kepada wali murid, nanti malah menyebar kabarnya, sedangkan saya tidak tau isi hati bunda Melati. Beliau mengijinkan untuk diumumkan Atau tidak." kata bunda Hayati memberi pengertian.
"Iya juga sih." kata Bunda Novi manggut-manggut.
💞💞💞
Sesampainya di sekolahan tempat Dewa mengajar, Dewa berpapasan dengan rekan mengajarnya saat di parkiran.
"Eh, Pak Dewa juga baru datang ya?" sapa bu Nuri, guru Bahasa Indonesia.
"Iya bu. Abis nganterin anak ini tadi." kata Dewa sambil menutup pintu mobilnya, setelah tadi dia mengambil tas dan beberapa file kerjaannya.
"Wah, ayah yang baik anda ini. Dan suami yang setia. Meski sudah menduda, sepertinya anda masih lihai sekali merawat anak-anak ya pak." kata bu Nuri.
"Alhamdulillah bu, semangat selalu, demi anak-anak." kata Dewa sambil mengepalkan tangan kanannya.
"By The Way, anak-anak sehat semua 'kan pak?" tanya bu Nuri.
"Alhamdulillah." kata bu Nuri dengan tersenyum. Bu Nuri adalah teman kerja pak Dirga yang ramah dan tidak suka membuat dirinya tersinggung. Selain cantik, bu Nuri juga kabarnya masih gadis, tetapi usianya sudah terbilang berumur. Kalau ditanya kenapa belum menikah, bu Nuri selalu menjawab, belum ada yang cocok.
Bu Nuri dan Dewa berjalan beriringan di koridor menuju ruang Guru.
"Oya pak Dewa, misal nanti jam istirahat makan siang bareng sebentar, bisa ga pak?" tanya bu Nuri.
Dewa tampak berfikir.
"Kalau misal keberatan, juga gapapa kok pak. Ini kebetulan saya tuh abis dapet rejeki nomplok pak, saya dapet insentif. Saya tu pingin nraktir, tapi kalo nraktir banyak orang, ga kuat juga kantongnya, hehehe. Makannya, kalau pak Dewa mau, saya pingin ngajak pak Dewa aja untuk makan siang bareng." kata Bu Nuri.
"Ehm, ya boleh. Dimana bu?" tanya Dewa.
"Misal di warung bakso depan sekolahan itu aja, gimana pak?" tanya bu Nuri.
"Okey." jawab Dirga dengan tersenyum
"Ya udah, nanti saya tunggu ya pak."
"Siap." jawab Dewa.
Dewapun menjalankan tugasnya sebagai guru TIK, sehingga dia banyak menghabiskan waktu di Laboratorium Komputer. Dewa memang tipikal guru yang tidak suka mengajar hanya dengan teori, sehingga dia sangat jarang masuk kelas. Ruang kerjanya ya di lab komputer, tetapi kalah dipakai guru lain, ya dia mengalah untuk masuk ruang guru.
__ADS_1
Setelah selesai mengajar, seperti yang di rencanakan, Dewa memenuhi janjinya untuk makan siang bersama Bu Nuri. Dewa memesan bakso jumbo dengan air minum es lemon tea. Sedangkan bu Nuri memesan bakso jumbo dengan minuman es teh.
"Pak Dewa, ini usia Tsabita berapa tahun sih?" tanya bu Nuri.
"Masuk enam bulan bu." jawab Dewa.
"Sudah mulai MPASI dong pak." tanya bu Nuri.
"Iya bu. Kemarin saya sudah diberi tau bu bidan, untuk menyiapkan MPASI, terus karena saya ga ngerti masalah begituan, akhirnya saya dipandu bu bidan lewat pesan bu. untuk membuatkan MPASI." kata Dewa.
"Oh, begitu? Iya juga sih, biasanya yang melakukan hal seperti itu adalah ibunya. Tapi...emang pak Dewa bisa?" tanya bu Nuri setengah mengejek.
"Belum yakin jiga sih bu, tapi ya bisa saya coba. Nanti kalau gagal, ya... mending beli instan." kata Dewa sambil nyengir.
"Nah itu, maksud saya pak. Kenapa ga dibeliin yang instan saja." kata bu Nuri.
"Ya, paling nanti masak MPASI nya kalau saya longgar aja deh bu. Yah, tau sendiri. punya dua bocah itu kalo pagi repot banget." kata Dewa setengah curhat dan mengeluh.
"Ehm. Memangnya pak Dewa tidak menyewa ART gitu?" tanya bu Nuri.
"Cuma kadang-kadang aja kok bu, kalau pas saya bener-bener kewalahan, baru saya ngundang ART buat sekedar bantu beresin rumah." kata Dewa.
"Ehm, gitu?"
"Kalau istri? Pak Dewa belum ada niatan gitu untuk menikah lagi?" tanya Bu Nuri berusaha tidak menyinggung.
"Hem...Entahlah bu, belum terfikir." kata Dewa.
"Ehm, kalau menurut saya nih pak, ini cuma menurut saya lho. Karena saya juga belum pernah tau gimana rasanya menjalin hubungan pernikahan, tapi yang jelas, seperti yang pernah saya dengar, ketika single parent punya anak dengan jenis kelamin sama dengan diri orang tua itu, maka ada baiknya dia segera menikah lagi. Supaya kebutuhan rohani anak itu terpenuhi melalui orangtuanya itu." kata bu Nuri.
"Kalau orang-orang tu, menyebut saya orang yang egois bu. Karena saya punya dua anak balita, tapi saya masih bertahan dengan kesendirian saya." kata Dewa.
"Ya kalau egois itu engga juga sih pak. Karena pak Dewa memilih seperti itu tentunya ada alasannya bukan?" tanya bu Nuri.
"Yah, gitulah. Yang jelas, saya belum bisa move on dari bundanya anak-anak bu. Kalau saya menikah dalam waktu dekat, saya belum bisa menjamin, saya mencintai dia dengan sepenuh hati, karena hati saya masih penuh dengan bayang-bayang istri saya." kata Dewa.
"Iya juga sih..."
"Terus, rencananya pak Dewa kalau mau nikah lagi, kapan pak mau nikah nya?" tanya bu Nuri.
"Yang jelas, saya maunya seribu hari kepergian istri saya, baru saya akan menikah lagi." kata Dewa mantap.
"Oh... gitu ya?" jawab bu Nuri hanya ber oh ria.
Setelah isi mangkuk keduanya habis, Dewa dan bu Nuri kembali aktivitas di sekolahan seperti biasa. Mereka kembali menekuri tugas mereka masing-masing.
💞💞💞
__ADS_1
Yuhuuuu, buat yang kangen sama abang duda...nih Author ulas cerita tentang abang dud deh.