Seputih Melati

Seputih Melati
Cerita pasca Kecelakaan


__ADS_3

Sesampainya di sebuah resto, Ahmad yang kini dipanggil Melati dengan panggilan Mas Latif, mengajak kedua wanita itu masuk ke dalam sebuah resto yang terbilang mewah. Resto itu adalah resto pilihan pak Richard untuk tamu undangannya seperti Melati Pak Richard juga sudah memesankan tempat duduk untuk mereka, sekaligus makanan untuk mereka.


"Maaf, ini pesanan atas nama pak Richard, pesan dari pak Richard tadi, jika tidak berkenan dengan menunya, bisa diganti sesuai selera anda." kata pelayan resto tersebut.


"Bagaimana Melati, apakah kamu berkenan dengan menu ini?" tanya Latif.


"Ini sudah lebih dari cukup mas. Ini aja ga usah ganti." kata Melati.


"Baiklah." jawab Latif.


"Cukup kak, ini saja." kata Latif kepada pelayan.


"Baik pak." jawab pelayan itu ramah lalu pergi kembali ke tempatnya beraktivitas.


"Pak Richard baik banget ya mas?" kata Melati.


"Iya, memang. Beliau dan keluarga nya sangat baik. Itulah sebabnya saya ada diantara mereka." jawab Latif.


"Oh, iya. Mas Latif katanya mau cerita kan? Gimana ceritanya mas, kok mas Latif bisa bekerja dengan pak Richard?" tanya Melati penasaran.


"Waktu kecelakaan itu, semua penumpang sudah bersiap dengan pelampung masing-masing karena keadaan pesawat sudah tidak memungkinkan. Begitupun mama, mama sangat ketakutan waktu itu. Namun akhirnya kamipun berpisah saat aku memutuskan untuk menjatuhkan diri ke laut. Sedangkan beberapa yang belum berani menjatuhkan diri, akhirnya masih di dalam saat pesawat mulai meledak, termasuk mama. Karena mama ternyata tidak menyusul ku untuk menjatuhkan diri ke laut." kata Latif dengan mata berkaca mengingat mamanya yang tidak menurut dengannya.


"Aku bermodal pelampung itu, terus berenang berusaha menuju tepian, meski aku tak tai harus ke arah mana, hingga beberapa hari aku terombang-ambing di lautan. Dan di hari ketiga, aku melihat ada sebuah kapal melintas. Aku melambai dengan menggunakan bajuku. Dan akhirnya kapal itu mendekat, namun saat aku diangkat ke kapal, ternyata aku sudah tidak sadarkan diri." kata Latif.


"Penumpang kapal itu segera membawaku ke rumah sakit, saat mengetahui aku masih hidup. Akhirnya beberapa hari di rawat di rumah sakit, akupun diajak pulang oleh pak Richard dan istrinya. Karena ingatanku masih bagus, akupun pulang ke Makassar, karena disanalah keluargaku. Namun, saat sampai disana, ada sesuatu hal yang membuatku enggan untuk kembali berkumpul dengan keluargaku. Akupun ikut pak Richard kembali ke Jakarta, dan bekerja dengan beliau." cerita Latif.


"Alhamdulillah, aku benar-benar ga nyangka lho mas, kalau mas Latif masih hidup." kata Melati.


"Melati udah frustasi mas. Dia galau berat, kesedihannya berhari-hari mas." kata Zia mengada-ada.


"Ih, apaan sih Zi. Engga. Kamu nih berlebihan." sanggah Melati.


"Hahaha, santai aja." jawab Latif.


"Oya Mel, gimana kabar si kembar dan nenek?" tanya Latif.


"Alhamdulillah mas, sikembar sehat dan sekarang sudah kelas empat mau masuk kelas lima." jawab Melati.


"Kalau nenek? Nenek sehat kan?" tanya Latif.

__ADS_1


"Ehm... nenek..." Melati tak kuasa untuk mengucapkannya.


"Nenek sudah meninggal mas." jawab Zia.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." spontan Latif mengucapkan lafadz tarjih itu.


"Kapan? Dan kenapa? Sakit?" tanya Latif beruntun.


"Sudah sekitar delapan bulan yang lalu mas. Paginya sebenarnya engga sakit. Tapi sorenya beliau terpeleset di toilet, terus ga sadarkan diri. Dibawa ke rumah sakit, terus sempat sadar sebentar, saat menyaksikan saya menikah siri, beliaupun meninggal mas." jawab Melati.


"Yaa Allah. Jadi kamu pernah nikah siri dulu?" tanya Melati.


"Iya. Nenek yang meminta agar Melati segera menikah, setelah nenek pergi. Nenek merasa sangat kehilangan sosok mas Latif, sehingga saat nenek akan pergi pun, nenek masih memikirkan nanti Melati akan di jagain siapa, akhirnya nenek meminta Melati untuk menikah dengan mas Ugi. Suami Melati." jelas Melati.


"Oh, begitu?" Latif janggut-manggut.


"Tapi sepertinya kalian belum menggelar resepsi ya?" tanya Latif.


"Belum mas. " jawab Melati.


"Kenapa?" tanya Latif.


"Rencananya menunggu ibu pulang dari Malaysia mas. Tapi ini kemarin, saat ibu sudah pulang, ternyata ada masalah kecil, yang membuat ibu memutuskan untuk tidak jadi menggelar resepsi." jawab Melati.


"Bukan kok mas."


"Ehm... Terus, maaf ini kalo boleh tau, Melati sepertinya masih belum diberi amanah ya?" tanya Latif sangat berhati-hati.


"Belum mas. Mohon tambah do'anya saja." jawab Melati.


"Sebenarnya engga kamu halangi kan ya?" tanya Latif.


"Maksud mas Latif?"


"Maksudnya, kamu engga KB kan ya?"


"Engga mas. Justru kami sangat menantikan kehadiran tangisan bayi ditengah-tengah hubungan kami." kata Melati.


"Ya, semoga segera diberi amanah ya Mel. Semoga keluarga kecilmu Sakinah Mawaddah Warohmah." kata Latif.

__ADS_1


"Aamiin. Makasih mas." jawab Melati.


"Ehm, maaf mas. Kalau mas Latif, sudah nikah belum?" tanya Zia.


"Belum." jawab Latif to the poin.


"Oh... oya, mas Latif ga pingin pulang ke Soko?" tanya Zia.


"Ehm, pingin sih, tapi ga tau mau kemana. Soalnya rumah itu udah bukan rumahku. Dan beberapa usaha ATKku, sudah berpindah tangan." jawab Latif.


"Kok bisa gitu mas?" tanya Melati heran.


"Ya itulah, penyebab saya memilih untuk ikut pak Richard lagi. Karena semua asetku dan keluargaku di jual. Papaku mengalami kebangkrutan, dia kena tipu besar-besaran." jawab Latif.


"Astaghfirullah." gumam Melati dan Zia bersama.


"Aah, sudahlah. Ga usah dibahas." kata Latif.


"Ya kalau mas Latif masih pingin kembali ke Solo, mas Latif boleh lho mampir ke rumah ku, kalau ke rumah Melati sungkan, ga enak sama suaminya Melati." kata Zia.


"Oh ya? Boleh?" tanya Latif.


"Boleh. Boleh banget. Mau nginep juga boleh, di rumah ada beberapa kamar nganggur, karena kakakku sudah menikah." jawab Zia.


"Kalau untuk tinggal di rumahmu beberapa waktu, boleh?" tanya Latif.


"Boleh kok mas, seumur hidup juga boleh." sindir Zia yang memang sudah menyukai Latif sejak awal ketemu di terminal dengan rona wajah malu-malu.


"Sungguh?" tanya Latif.


"Cie...Zia sama mas Latif nih..." goda Melati.


"Baik. InshaaAllah nanti saya akan bilang pak Richard, saya akan minta tolong beliau untuk menemui orang tua mu dan melamarmu." jawab Latif.


"Ha? Mas Latif....?" tanya Zia yang masih tak percaya.


"Gimana? Mau ga? Umur saya udah ga muda lagi soalnya, harus segera menikah ini, khawatir kalau nanti anak saya masih kecil, bapaknya udah tua." jawab Latif.


"Ehm, mau mas." jawab Zia dengan menunduk.

__ADS_1


Akhirnya mereka menghabiskan makanan mereka, lalu kembali beraktivitas. Karena jadwal Melati masih banyak, sehingga mereka harus pandai membagi waktu.


Disela-sela waktu longgar, Latif mengajak Melati dan Zia jalan-jalan di kota metropolitan itu. Dan hal itu disetujui pak Richard yang sudah menganggap Latif sebagai adiknya sendiri.


__ADS_2