
POV Satria
Hari ini aku menguatkan hati untuk pergi menghadiri acara pernikahan sahabatku. Eh, apa ya, apakah iya sahabat, ataukah lebih dari itu? Terserahlah, biarkan hati yang menentukan. Ya, anggao saja sahabat, sahabatku Melati. Bagaimana perasaanmu jika kamu ada di posisiku? Mencintai seorang sahabat, namun sahabat kita tak pernah tau tentang perasaan kita yang sesungguhnya. Nyesek.
Setelah ku bertemu dengan Melati, mengucapkan selamat untuk yang kedua kalinya, sekaligus menyampaikan duka atas dua musibah yang menimpanya, hingga akhirnya lisanku tak dapat aku tahan untuk melontarkan perasaanku yang sebenarnya. Ya, aku keceplosan mengatakan, bahwa aku mencintainya.
Seperti dugaan ku, Melati tak pernah mencintaiku, dia hanya menganggap ku sahabatnya, dan tidak pernah lebih, begitu pikirku. Sejak SMP, gadis itu telah berhasil mengusik hatiku, mengusik hidupku. Senyuman dan kekuatan jiwanya, mampu mengembalikan semangatku ketika aku merasa terpuruk oleh sikap kedua orangtuaku. Gadis itu berbeda, dan dialah gadis yang ku suka.
Satria, ini ada titipan buat kamu ya.
Sebuah pesan dari Zia yang membuatku penasaran. Kubuka sebuah gambar yang dia kirimkan melalui aplikasi hijau, dan ku baca sampulnya,
"Undangan pernikahan?" gumamku waktu itu.
Aku kaget saat sebuah nama tertulis di kertas undangan itu. Sebuah Nama yang selalu kusebut disetiap doaku. Ya, Nama gadis yang menguatkan jiwaku hingga detik ini.
Melati, tetapi aku heran dengan sebuah nama mempelai laki-lakinya, nama ini tak asing ditelinga, tetapi nama ini bukanlah nama suami Melati yang beberapa waktu lalu dikenalkan padaku.
"Dewantara Ash Saghara?" gumamku.
Seketika aku teringat dengan sosok laki-laki dewasa waktu aku masih SMP, laki-laki dewasa itu begitu tampan, dan karisma nya begitu terasa dan mampu memikat para kaum wanita. Ramah, santun, murah senyum, baik dan sabar, itu yang ku kenal dari sosok seorang pak Dewa, guru TIKku yang senantiasa menolong Melati setiap kali Melati membutuhkan pertolongan, dan guru yang paling care dengan kami, para murid-muridnya.
"Kenapa Melati menikah dengan Pak Dewa? Bukankah pak Dewa sudah berkeluarga? Lalu bagaimana dengan mas Ugi?" banyak pertanyaan yang hadir dalam pikiranku.
Akupun teringat dengan sikap Muna beberapa waktu lalu, bahkan hingga kini. dia tampak berbeda, dan seolah selalu menghindariku, padahal sejak awal kami kenal, Muna bukan tipe orang yang cuek dan diam padaku, justru dia sangat ramah dan supel.
"Ah, ya, gue tanya Muna aja." gumamku.
Akupun menghubungi Muna, dan mengajaknya bertemu. Aku ingin tau banyak hal tentang kakaknya dan tentang Melati, lalu kemudian, setelah bertemu Muna, rencananya aku ingin bertemu dengan Zia juga.
Keesokan harinya, aku bertemu Muna di kampus, kami janjian untuk ketemuan di kantin.
"Mun. Gue mau nanya sesuatu." kataku dengan menatap Muna dengan tatapan mengintrogasi.
"Nanya apa?" tanya Muna cuek.
"Elo bisa jelasin ini sama gue kan?" tanyaku sambil menyodorkan ponselku kepada Muna dengan menampilkan picture undangan pernikahan Melati.
Munapun mengambil ponselku dan melihat picture yang ku maksud. Tampak raut wajah Muna berubah, ada wajah kekhawatiran di sana.
__ADS_1
"Kenapa Melati menikah sama laki-laki bernama Dewa? Bukankah masmu bernama Ugi?" tanyaku.
"Ehm. anu Sat,...ehm maaf." kata Muna tergagap, dia bingung ingin mengawalinya dari mana.
"Nama mas Ugi tu aslinya siapa?" tanyaku.
"Sebelum gue cerita, gue harap elo mau janji dulu sama gue." pinta Muna.
"Janji apa?"
"Janji agar elo bisa menahan emosi elo." kata Muna.
"Ya, gue janji." jawabku.
"Ehm,...jadi...sebenarnya, semenjak elo balik ke Irian jaya waktu itu, ada sesuatu hal yang terjadi." kata Muna mengawali.
"Apa?" tanyaku tak bisa menutupi rasa penasaran ku.
Akupun jadi teringat, saat dimana tengah malam Muna menelponku dan memintaku untuk mengantarkannya ke Solo. Dan diwaktu itu, aku merasakan sesuatu hal aneh, aku merasakan ada sesuatu diantara aku dan Muna. Tetapi entah, rasa apa itu.
"Mas Ugi mengalami kelumpuhan, dan setelah mbak Melati pulang dari luar kota, mas Ugi telah membuat mbak Melati dan semua orang kecewa." kata Muna dengan kata-kata yang tecekat di tenggorokan.
Aku benar-benar semakin penasaran dengan cerita Muna.
"Apa?" sungguh aku tak bisa menutuoi rasa keterkejutanku.
"Melati dicerai? Kenapa elo ga bilang sama gue Muna?" tanyaku protes.
Muna hanya menangis, dan tangisan Muna membuat hatiku semakin teriris. Sungguh aku tak bisa melihat wanita-wanita yang dekat dengan ku harus menangis mengeluarkan air matanya dihadapan ku.
"Terus? Giman ceritanya Melati kini bisa menikah dengan pak Dewa?" tanya Satria.
"Apa kalau mengenal calon suaminya mbak Melati ini?" tanya Muna.
"Ya. Sangat mengenal nya. Dia adalah guruku waktu kami masih SMP." jawabku.
Munapun menceritakan alasan Ugi menceraikan Melati, dan alasan Melati menikah dengan Dewa. Selain itu, Muna juga menceritakan tentang Melati yang hamil dan akhirnya keguguran. Aku semakin terkejut dibuatnya, ujian apa lagi yang menimpa Melati. Sahabat macam apa aku yang tak tau apa-apa tentang kehidupan sahabatku? Kenapa Zia tidak mengabariku?
Gigiku gemeretak, sungguh kalau sosok laki-laki lumpuh itu ada dihadapan ku, ingin sekali aku menghajarnya saat ini juga. Tetapi, mengingat laki-laki itu adalah kakak kandung sahabatku, aku urungkan niatku, terlebih aku sudah berjanji padanya kalau aku akan menahan emosiku.
__ADS_1
"Kenapa elo baru cerita sama gue?" protesku dengan dingin tanpa menatap wajah Muna.
"Karena..."
"Kenapa elo sering menghindar dari gue? Kenapa?" tanyaku.
"Sat...elo marah sama mas Ugi?" tanya Muna.
"Jelas!"
"Kenapa?"
"Ugi telah menyakiti sahabatku Melati."
"Sahabat? Jangan lo pikir gue ga tau Sat. Selama ini elo suka kan sama mbak Melati? Elo cinta kan sama dia?" tanya Muna.
"Elo tau alasannya kenapa gue sembunyiin kabar ini dari elo? Kenapa gue ngehindar? Itu karena gue berat menahan beban ini Sat. Gue terlalu lemah untuk menahan rasa ini sendiri." kata Muna sudah mulai menangis lagi.
"Gue ga ngerti maksud elo." kataku.
"Elo...elo tu pengecut. Sahabat yang munafik! Elo suka sama Melati tetapi elo ga pernah menyatakan perasaan elo ke dia, tapi elo menyalahkan orang lain yang mencintai dia."
"Dan asal elo tau. gue ga mau jadi orang munafik dan pengecut kaya elo."
Kutatap wajah Muna, aku berusaha mencari arti dari setiap kalimatnya.
"Gue terlalu lemah. Gue ga bisa menahan rasa ini sendiri. Gue...Gue... hiks hiks hiks."
"Elo kenapa sih Mun? Ha? Gue salah apa sama elo?" tanya Satria masih bingung.
"Gue salah. GÃ¥ harusnya rasa ini tumbuh buat cowok pengecut kaya elo!" hardik Muna.
"Maksud lo?"
"Gue suka sama elo, gue cinta sama elo. Gue ga rela elo suka sama mbak Melati, dan gue ga mau elo meneruskan perasaan elo ke dia, makannya, saat gue tau kabar mbak Melati menjanda, gue dengan tutupi kabar itu, supaya elo ga teropsesi buat menjadikan dia pelabuhan hati elo. Tapi gue mau, gue yang jadi pelabuhan hati elo. Sadar ga sih lo?"
Aku bener-bener terkejut lagi dengan kenyataan yang ada. Dulu aku yang menjadikan sahabatku menjadi orang yang kucintai, ternyata kini, sahabatku menganggap ku lebih. Inikah hukum alam? entahlah, yang jelas, karena aku tah Melati akan menikah dengan orang baik dna yang ku kenal, maka aku akan tulus memendam cinta ini, dan menanam tunas cinta untuk orang lain, dan itu adalah Muna. Semoga aku bisa.
POV Satria off.
__ADS_1
💞💞💞
Maaf ya reader, up nya telat. HP aouthor lagi ada masalah. So, ya beginilah lagi ada gangguan bagi aouthor.