Seputih Melati

Seputih Melati
Belajar Naik Motor


__ADS_3

Keesokan harinya motor pesanan bu Fatma sudah dikirim ke rumah Melati, dan sesuai amanah pak Wahid, Latif mendampingi Melati ketika pihak diler datang ke rumah. Setelah menerima motor itu, Latif segera mengurus surat-suratnya. Beberapa hari kemudian, Latif membantu Melati untuk belajar mengendarai motor.


Suatu pagi, di hari minggu, sebelum Latif berangkat ke tokonya, Latif menyempatkan diri untuk mengajari Melati mengendarai motor di jalan sepi yang jauh dari kampung mereka tinggal.


"Jadi, ini kamu pegang gasnya, pelan-pealn aja tapi jangan tegang. Jari-jari siap memegang Rem. Ketika mau berhenti, gas dikurangi dan jari memegang rem untuk mengerem." kata Latif memberi teori sambil menyebutkan beberapa bagian yang harus di pegang Melati saat mengendarai motor matic.


Saat Melati mulai untuk bermain gas motor, tangannya memegang stang kanan dengan tegang, Melati duduk di di depan, dan Latif duduk di belakang sambil tangannya juga mengarahkan tangan Melati. Jarak mereka sangat dekat, hati Latif berdegup tak karuan, namun dia berusaha untuk menetralkannya. Tangan Melati juga mau tak mau disentuhnya, untuk membantu mengatur kecepatan motor. Hingga beberapa kali latihan, akhirnya satu jam Melati berlatih, dan sudah dirasa cukup mahir. Akhirnya Latif meminta Melati untuk belajar mengendarai motornya sendiri, tanpa dia duduk di kok belakang.


"Okey, Melati sudah bagus mengatur gas, sekarang coba sendiri ya Mel. Mas tunggu di sini." kata Latif.


"Tapi mas...Melati masih takut." kata Melati dengan wajah cemas.


"Tenang aja. InshaaAllah gapapa." kata Latif meyakinkan Melati sambil memegang pundak Melati.


"Ehm..." Melati masih ragu.


"Selama ini, Melati berani menjalani kehidupan dengan mandiri, Melati kuat menahan sakit ketika pasca kecelakaan dan ketika syaraf tangan Melati sakit. Berarti untuk belajar motor ini, harusnya Melati juga berani dengan segala resikonya dong. Tapi, mas Latif yakin, Melati pasti bisa." kata Latif.


"Ayolah. Semangat. Katanya mau bisa segera naik motor sendiri?" kata Latif sambil tersenyum.


"Ehm, iya mas."


Melatipun menaiki motor matic itu sendiri, dan dengan hati yang dag dig dug, dia berusaha untuk berani mengendarai motor sendiri. Melati memegang stang dengan tegang dan was was.


"Santai aja Mel, jangan tegang gitu dong tangannya. Yang lemes." kata Latif.


"Iya mas."


"Ayo, bismillah." kata Latif.

__ADS_1


Melatipun memainkan gas motornya, lalu motornya melaju perlahan, dan di belok kan, sampai akhirnya tiba kembali di depan Latif dengan berhasil.


"Yeah, mas Latif bilang juga apa? Kamu itu bisa Mel." kata Latif positif thingking sambil mengepalkan tangannya ke atas.


"Alhamdulillah..." kata Melati sambil berjingkark kegirangan.


"Makasih ya mas." kata Melati sambil memegang tangan Latif.


Latif terdiam dan menatap tangannya yang dipegang Melati. Melati yang kegirangan tak sadar dengan gerakan refleksnya.


"Mel, ingin sekali rasanya kita terus bergandengan tangan seperti ini. Ingin rasanya ku selalu memandang wajah manismu. Senyum dan tawamu. Kini, kamu sudah bisa mengendarai motor sendiri, itu berarti aku tak bisa lagi berkesempatan untuk memboncengkanmu kemana-mana. Tak ada alasan lagi bagiku untuk dekat denganmu. Sungguh, kamu adalah wanita terhebat ku, dan kau adalah wanita impianku Mel." batin Latif sambil terus menatap wajah Melati yang sedang asyik menatap motor mati nya dan sesekali melihat ke sekelilingnya.


"Alhamdulillah ya mas, akhirnya Melati bisa naik motor. Itu berarti, Melati udah ga ngerepotin mas Latif lagi." kata Melati polos.


"Ehm, iya Mel, alhamdulillah."


"Iya Mel, sama-Sama.


"Kita pulang ya Mel. mas Latif hari ini ada janji ketemu klient."


"Oh iya maaf ya mas, Melati udah ngerepotin." kata Melati tidak enak hati.


"Santai aja Mel, maksud mas acara janji sama klient itu setelah ini." kata Latif.


Merekapun pulang dengan berboncengan. Kalau berangkat tadi Latif yang didepan, saat pulang ini, Latif meminta Melati yang di depan. Namun, saat mau masuk kampung mereka, banyak warga yang melihat Melati dan Latif berboncengan dengan Melati di depan. Dan hal itu justru membuat Melati grogi, dan akhirnya saat akan masuk halaman rumahnya, Melati kehilangan kendali, hingga akhirnya dia terlalu kencang memainkan gas. Latif yang merasa motor itu mulai tidak stabil, segera mengambil alih kendali, dia memajukan badannya dan memegang tangan Melati di stang gas, dan mengerem mendadak motor itu agar tidak jatuh. Tubuh mereka sangat dekat, hembusan nafas Latif begitu terasa di telinga Melati yang mengenakan hijab instan berwarna navy. Tangan Mereka masih dengan posisi saling bersentuhan, dan seketika tatapan mereka bertemu. Entah datang dari mana rasa itu, Jantung Melati berdegup dengan kencang tak berirama. Begitupun dengan Latif yang memang sejah beberapa hari lalu dia merasakan perasaan aneh itu.


Seketika beberapa tetangga Melati termasuk nenek nya melihat adegan itu.


"Ehem, ehem." deheman nenek berhasil membuat dua insan itu terkaget. Melati segera melepaskan pegangannya. Dan Latif perlahan mundur menjaga jaraknya.

__ADS_1


"Ehm, maaf." kata Latif.


"Ehm, i iya mas." jawab Melati gugup.


"Melati, masuk!" titah neneknya. Tampak raut wajah amarah dari neneknya.


Melatipun menurut, dia turun dari motornya dan berjalan masuk ke rumah.


"Maaf mas, Melati masuk dulu."


"I iya Mel. Ehm, motornya biar mas yang urus." kata Latif masih tetap diatas motor milik Melati.


"Terimakasih mas. Assalamualaikum." kata Melati sambil menunduk.


"Wa wa'alaikumsalam." jawab Latif masih gugup. Dia pura-pura tidak melihat beberapa warga yang melihat ke arahnya. Latif segera membawa motor Melati ke teras rumah Melati dan mengecek ada beberapa yang lecet atau tidak. Sama-samar dia mendengar, Melati di marahi neneknya di dalam rumah.


"Dasar anak ga tau malu, sadar Mel, sadar! Kamu itu siapa? mas Latif itu siapa. Kalian itu berbeda!" kata nenek menginterogasi cucunya.


"Maaf nek." kata Melati sambil menangis.


"Nenek malu. Malu. Mel. Tetangga sudah banyak yang membicarakan kalian. Mau ditaruh mana muka nenek? Hah? Kamu itu bocah ingusan, dengan kondisi fisikmu yang ga sempurna, kamu sekolah juga ga selesai. Bisa-bisanya kamu deket-deketan sama anaknya pak Hermawan, pengusaha elektronik yang kaya itu. Dia itu pinter, ganteng, anak orang kaya, apa kata keluarganya kalau tau kalian dekat begitu?" omel neneknya lagi.


"Tapi sungguh nek, Melati sama mas Latif ga ada hubungan apapun. Kami cuma sekedar kakak adik seperti biasanya, yang nenek lihat." kata Melati menjelaskan.


"Pokoknya, Mulai sekarang, kamu ga usah lagi deket-deket sama mas Latif. Nanti nenek yang kena imbasnya. Ibunya Latif pasti akan marah pada keluarga kita!" kata Nenek dengan nada tinggi.


"Ya nek." jawab Melati dengan lemah.


Latif yang mendengar itu, hatinya ikut sakit. ada Bagian dari tubuhnya yang merasa perih, entah kenapa, dia begitu bersedih mendengar kata neneknya Melati. Awalnya Latif ingin berpamitan, menyerahkan motor milik Melati, tetapi karena mendengar introgasi dari nenek Melati, akhirnya Latif memilih untuk segera kembali ke rumahnya, tanpa berpamitan.

__ADS_1


__ADS_2