
"Permisi pak, saya periksa dulu ya." kata perawat saat sudah berada di dekat hospital bad yang di tempati Dewa.
"Ya sus." jawab Guntur yang kemudian menggeser dirinya agak menjauh dari Dewa.
"Gimana Sus?" tanya Guntur penasaran.
"Suhu tubuhnya sudah turun, sudah kembali normal, tetapi untuk tekanan darahnya masih belum stabil ya pak. Dipakai istirahat dulu saja, jangan begadang dulu ya pak. Makan yang banyak, agar bisa segera pulih." kata perawat sambil menyuntikkan antibiotik pada slang infus Dewa.
"Baik sus. Terimakasih." kata Dewa.
"Oh ya, tadi ada pihak keluarga atau teman bapak, yang mau masuk ke ruangan, tapi kok tidak jadi masuk ya? Apa tadi dari dalam mungkin." kata Perawat.
"Ha? Emang ada orang diluar sus?" tanya Guntur.
"Iya pak. Mas mas gitu, masih muda, ganteng, kaya artis...ehm... Irwansyah." kata perawat itu sambil mengingat-ingat.
"Irwansyah?" gumam Guntur.
Dewa juga mencoba untuk mengingat-ingat beberapa temannya yang mirip artis, atau kerabatnya yang dari keluarga Tsania.
"Ehm, maaf pak. Saya permisi dulu." kata perawat itu setelah membereskan alat-alatnya.
"Oh, ya sus. Terimakasih." kata Guntur.
"Bro, elo punya sanak atau sahabat yang wajahnya mirip artis?" tanya Guntur heran.
"Engga." jawab Dewa juga masih mencoba mengingat-ingat.
"Iya pak. Mas mas gitu, masih muda, ganteng, kaya artis...ehm... Irwansyah."
"Muda, ganteng? Kaya artis, Irwansyah?" batin Guntur masih mencoba mengingat-ingat.
Seketika Guntur teringat, bahwa dia tadi mengabarkan keadaan Dewa kepada sahabatnya yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Bahkan dia minta tolong kepadanya agar segera pulang, karena anak Dewa membutuhkan istrinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Ugi.
"Ehm, bentar Wa, gue cek keluar dulu ya." kata Guntur.
"Okey." jawab Dewa.
Guntur keluar kamar rawat inap Dewa, celingak celinguk mencari sosok orang yang dimaksud perawat tadi. Guntur mencari orang itu bukan hanya sekedar penasaran, apakah itu benar Ugi atau bukan. Tetapi di dalam hatimu, ada kekhawatiran kalau Ugi mendengar percakapannya dengan Dewa tadi yang membicarakan tentang perasaan Dewa kepada Melati.
Namun, setelah Guntur mencari kemana-mana, dia tidak menemukan siapapun yang dikenalinya. Kemudian Guntur kembali ke ruangan Dewa. Ternyata Dewa sudah terlelap tidur, sepertinya karena efek obat yang disuntikkan perawat tadi. Hal itu membuat Guntur leluasa untuk memecahkan misteri tentang laki-laki yang tadi berdiri di pintu ruang rawat Dewa.
Guntur mencoba menghubungi Ugi.
📞Ugi
'Halo bang.'
"Elo dimana?"
__ADS_1
'Ini baru aja nyampe di rumah sakit. Kenapa bang?'
"Ga masu lo?"
'Oh, Mau masuk, tapi kata satpamnya udah bukan jam besuk, gue ga boleh masuk ini.'
"Ya udah, gue aja yang keluar." kata Guntur. Lalu memutuskan panggilannya.
Gunturpun menuliskan sebuah pesan di sobekan kertas, dia tinggalkan di nakas, untuk berpamitan pada Dewa. Karena Dewa tidak membawa ponselnya. Setelah itu, Guntur pun keluar kamar dan menuju lobi untuk mencari Ugi.
💞💞💞
Setelah mendengar percakapan Dewa dan Guntur, Ugi tak tahan dengan percakapan itu, diapun memilih kembali ke luar rumah sakit. Ugi menahan air yang keluar dari matanya. Jantungnya berdegup tak menentu menahan rasa cemburu dan amarah jadi satu. Ugipun segera menuju tempat yang sepi, untuk menenangkan diri.
Sesampainya di sebuah taman, Ugi duduk di kursi taman sambil meluapkan amarahnya. Dia terus memukuli kursi tak bersalah yang dia duduki. Dia merutuki dirinya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan yaa Allah? Apa ini karma untukku? Setelah bertahun-tahun lamanya aku masih menyimpan rasa pada Maryam, dan mengharapkan jandanya Maryam. Dan kini? Istriku diharapkan juga jandanya oleh orang lain. Maafkan aku yaa Allah." tutur Ugi sambil menjambaki rambutnya sendiri.
"Hhhh, kehadiranku sudah mengganggu mereka. Tak seharusnya aku hadir di kehidupan Melati. Melati sangat menyayangi Dirga dan Tsabita. Kedua anak itu juga sangat nyaman dengan Melati, dan ternyata, mas Dewapun juga suka sama Melati? Terus, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyerahkan istriku untuk mas Dewa, ataukah tetap ku pertahankan, tetapi dia masih tetap dekat dengan anak-anak mas Dewa?" gumam Ugi masih dilanda kebingungan. Disaat dia sedang kacau, tiba-tiba ponselnya berdering. Guntur menelponnya.
💞💞💞
Sesampainya di lobi, Guntur tampak sedang mencari seseorang, kemudian Pundak Guntur di tepuk Ugi.
"Bang." panggil Ugi.
"Udah gue anter ke rumah elo bang." kata Ugi.
"Oh ya, syukur deh. Brati udah ketemu anak-anak?" tanya Guntur.
"Udah bang." jawab Ugi dingin.
"Pada rewel engga?" tanya Guntur.
"Yang bayi udah tidur, tinggal yang kakaknya tadi, kata istri elo tadi, ga mau tidur kalau belum ketemu bunda Melati." jawab Ugi.
"Oh. iya. Memang mereka itu nurut nya cuma sama Melati. Sebenarnya juga ayahnya udah memberi pengertian pada anak-anaknya, tapi ya namanya anak-anak, mereka mencari fase ternyaman mereka. Maaf ya, jadi ngerepotin, dan maaf juga, istri lo harus ngurusin anak Dewa." kata Guntur.
"Santai aja bang." jawab Ugi.
"Udah makan belum lo tadi?" tanya Guntur.
"Udah bang, tadi pas elo nelpon, gue juga pas lagi makan." jawab Ugi.
"Ehm, ya udah, temenin gue nyari makan dulu ya. Soalnya tadi makanan datang cuma buat pasien, ga ada pelayanan buat yang menunggu pasien." keluh Guntur.
"Ya dimana-mana juga gitu kali bang. Bisa tekor entar kalo tiap hari, juga melayani yang jaga." kata Ugi cukup terhibur dengan candaan Guntur.
Guntur dan Ugipun menuju sebuah warung yang tak jauh dari rumah sakit tempat Dewa di rawat.
__ADS_1
"Gi."
"Ya bang?"
"Elo beneran tadi tu baru aja nyampe?" tanya Guntur curiga.
"Eh, ehm...i iya."
"Baru banget, apa tadi udah sempet ke atas?" selidik Guntur.
"Kenapa bang Guntur mendesak? Apa perawat tadi cerita?" batin Ugi.
"Ehm, udah agak dari tadi sih bang." jawab Ugi.
"Elo udah ke atas juga?" tanya Guntur.
Ugi mengangguk.
"Elo denger percakapan gue sama Dewa?" tanya Guntur lagi.
Ugi mengangguk.
"Gue tau bang, ga seharusnya gue hadir di kehidupan Melati." kata Ugi.
"Engga Gi, semua ini udah diatur sama yang diatas, elo menikah sama Melati itu ya karena kalian udah berjodoh. Jangan menyalahkan itu." kata Guntur.
"Mungkin ini karma bang. Karena dulu gue pernah mengharapkan jandanya istri orang." kata Ugi.
Guntur terdiam.
"Dan Allah balas apa yang udah gue lakukan, dengan menghadirkan Mas Dewa yang juga mengharapkan Melati. Gue baru tau rasanya bang. Dan gue bingung harus gimana. Secara kan, pernikahan gue sama Melati itu sangat mendadak, dan itu hanya karena permintaan neneknya Melati, sehingga kami menikah." kata Ugi.
"Tapi elo juga suka kan sama dia?" tanya Guntur.
"Ya, iya...tapi..."
"Tapi apa lagi? Elo masih belum bisa move on dari istri orang itu?" tanya Guntur, yang dimaksud adalah Maryam.
"Sedikit. Tapi, yang lebih kuragukan, adalah Melati nya. Apakah dia sungguh mencintaiku apa hanya karena permintaan neneknya. Aku belum menemukan jawaban yang paling jujur." jawab Ugi.
"Terus, kalau elo tau jawaban paling jujurnya, dan ternyata Melati hanya menuruti kemauan neneknya, bukan karena dasar cinta, elo mau apa? Nyeraikan dia, gitu?" tanya Guntur.
Mendengar kata cerai, seketika Ugi terperanjat. Dia belum bisa membahagiakan Melati, akankah dia menceraikan Melati hanya demi menyerahkan Melati untuk orang lain. Apakah itu tidak akan menyakitkan hati Melati? Kegalauan kembali menyeruak hati Ugi. Ugi hanya terdiam mendapati pertanyaan Guntur.
"Pertahankan pernikahan kalian. Akan banyak ujian nanti kedepannya Gi. Gue yakin, elo kuat. Elo pantes kok dapetin Melati. Pertahanin dia." kata Guntur.
"Tapi mas Dewa..." kata Ugi.
"InshaaAllah Dewa bakal menemukan jodohnya juga." jawab Guntur meyakinkan Ugi.
__ADS_1