Seputih Melati

Seputih Melati
Hadiah Ulang Tahun


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Melati menjalani hari-harinya dengan suka cita. Selalu berusaha untuk mengikhlaskan hati, dengan segala ketetapan Allah. Melati meredam hatinya yang bergejolak, dia kembalikan semuanya dengan kata "ikuti air mengalir". Jika dirasakan, anak mana yang tak sedih jika harus berhenti sekolah, disaat usianya masih harus mengenyam bangku sekolah. Setiap melihat kawan seusianya memakai seragam putih biru, air matanya meleleh. Ada rasa rindu untuk kembali mengenakan seragam itu lagi, dan disibukkan dengan berbagai tugas dari sekolahan.


Seperti biasa, siang itu Melati di rumah menemani adiknya bermain. Kemudian, Terdengar suara ketukan pintu, Melatipun membukakan pintu.


"Assalamualaikum Melati." kata Zia sambil memeluk Melati.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Zia, masuk Zi." kata Melati.


Ziapun masuk, dan dia menyapa kedua adik kembar Melati. Semenjak Melati berhenti sekolah, kedua adik Melati tak mau lagi dititipkan nenek mereka, keduanya lebih memilih di rumah bersama mbaknya.


"Lagi repot ya Mel?" tanya Zia.


"Engga kok Zi, ya biasalah, tiap hari kalo dibilang repot, ya repot. kalau dijalani, engga repot, karena mereka anak-anak hebat. Kata Melati sambil mengelus kepala kedua adiknya bergantian dan tersenyum.


"Ehm, gitu ya."


"Kenapa nih? Tumben pulang sekolah langsung ke sini? Biasanya sore, atau kalau ga, pas hari libur." kata Melati.


"Ish, kamu lupa ya. Ini hari apa?" tanya Zia.


"Hari jum'at." jawab Melati.


"Bukan, bukan itu maksudnya..."


"Apa dong?" tanya Melati.


Kemudian Zia membuka tasnya, dan memberikan sesuatu kepada Melati.


"Selamat Ulang Tahun Melati." kata Zia sambil menyerahkan hadiah berbentuk kotak kepada Melati, untuk yang kesekian kalinya disetiap momen ulang tahunnya.


"Yaa Allah Zi, kamu ini... Makasih ya." kata Melati langsung memeluk tubuh sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu masih inget tanggal ulang tahunku? Aku sendiri justru lupa tau Zi." kata Melati.


"Coba dibuka Mel." kata Zia.


Melati pun membuka kado itu dengan hati-hati. Tampak olehnya sebuah buku Diary yang cukup tebal, terdapat tempelan foto mereka sedang bersama di depan sebuah toko buku dengan berpelukan di sana yang dihiasi bunga dan pita.


"Yaa Allah Zi, bagus banget Makasih ya Zi." kata Melati berjikrak kegirangan.


"Kamu suka?" tanya Zia.


"Suka banget." kata Melati sambil memeluk buku diary itu.


"Oya Mel, ini aku ada titipan juga dari seseorang." kata Zia yang lagi -lagi merogoh isi tas nya.

__ADS_1


"Ini." kata Zia menyerahkan sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado.


"Apa ini Zi?" tanya Melati.


"Aku juga ga tau Mel." jawab Zia.


"Itu dari Satria." Zia.


"Satria?"


"Iya. Tadi pas pulang sekolah, dua nunggu aku di parkiran, terus nitipin ini buat kamu." kata Zia.


"Dibuka nanti juga gapapa kok Mel." kata Zia.


"Mbak Ati, mbak ati, Adi nakal." kata Aldo yang berlari ke arah Melati sambil menangis dan menunjuk Aldi.


"Nakal gimana Do?" tanya Melati sambil menghapus air mata adiknya.


"Tadi Adi ambil mainan Ado." kata Aldo.


"Oya, mainan bareng-bareng yang Di..." kata Melati kepada Aldi. Lalu Melati mengajak Aldo dan Aldi untuk saling bermaafan.


"Ayo, anak anak Sholih, maafkan dulu, lalu mainan bareng-bareng ya." kata Melati mengajak Aldo mendekati Aldi dan menyalamkan Tangan mereka.


Zia yang melihat pemandangan itu ikut terharu, kembali dia teringat kata-kata Melati, kalau dirinya harus berhenti sekolah, dengan air mata yang tertahan.


"Ada sih Mel, tapi mereka ga mau sama nenek, kalau liat aku ada dirumah." kata Melati.


"Oh,... tapi tangan kamu gimana?"


"Selama ga buat beraktivitas yang berat, ga ada masalah kok Zi." jawab Melati.


"Hem. gitu ya?"


"Oya, kemarin pak Dewa nanyain kamu juga, gimana perkembangan kesehatan kamu." kata Zia.


"Pak Dewa?"


"Iya. Pak Dewa itu, guru yang sangat baik ya Mel. Sampe sebegitu perhatiannya sama kamu." kata Zia.


"Alhamdulillah Zi."


"Mel, maaf ya, dihari ulang tahunmu, aku ga bisa kasih kue ulang tahun buat kamu." kata Melati.


"Ga papa Zi, inj kamu udah kasih aku hadiah ini aja, aku udah seneng banget kok." kata Melati.

__ADS_1


Merekapun bercerita dan saling curhat seperti biasanya kalau mereka bertemu, sambil Melati tetap mengawasi kedua adiknya yang bermain lego.


💞💞💞


Sore harinya, sepeninggal Zia, dan kedua adiknya sudah dimandikan Melati, lalu Melati menyuapi keduanya. Tak lama kemudian bapaknya pulang dan kedua adiknya beralih mencari perhatian pada bapak mereka.


Begitulah rutinitas Melati setiap sorenya. Hingga ba'da isya' Melati mengaji, sedangkan kedua adiknya sudah tidur nyenyak.


Melati teringat sebuha kotak kecil yang diberikan Ziatadi siang dari Satria. Melatipun membukanya perlahan.


Sebuah kotak kecil, berwarna merah, dibukanya kotak itu, ada sebuah benda didalamnya. Sebuah kalung tetapi bukan kalung emas, kalung itu berliontin huruf inisialnya. M. dan Didalam kotak itu, ada sebuah surat. dibukanya surat itu.


To: Melati


Hai Melati. selamat Ulang tahun ya. Ini ada sedikit hadiah kecil dariku, semoga kamu suka ya. Jangan pernah lupakan aku, orang yang selalu ingin bersahabat denganmu. Semoga, lain waktu, kita bisa bersama-sama lagi ya Mel. Semoga kamu cepat sembuh.


From: Satria.


Surat itu dia dekap bersama kalung berliontin itu, Melati merasakan terharu oleh sikap orang yang baru saja dia kenal, tetapi orang itu menganggap dirinya sebagai sahabat. Melati kembali teringat masa-masa bahagianya dulu, saat dia masih mengenakan seragam putih biru, dan sering bermain bersama Satria dan Zia. Dia rindu dengan omelan Satria yang selalu memintanya untuk beristirahat, dan dia juga rindu senyuman laki-laki itu setiap Melati merasa berputus asa. Satria memang sahabat yang baik, dia begitu tulus menerimanya sebagai sahabat. Tak jarang, Melati pergi bersama Satria ke perpustakaan sekolah, untuk melahap banyak buku di dan, terutama di jam kosong. Satria adalah si kutu buku, maka tak banyak orang yang suka berteman dengannya, karena dia memang kurang nyaman jika bermain dengan teman yang lain.


Saat Melati sedang membayangkan masa-masa silamnya saat masih bersekolah, tiba-tiba pintu kamar Melati ada yang mengetuk.


Tok tok tok


"Mbak, boleh bapak masuk?" tanya pak Yuda.


"Boleh pak." jawab Melati sambil menyembunyikan dua benda yang dia peluk tadi ke bawah bantalnya.


"Selamat ulang tahun sayang." kata pak Yudi yang masuk sambil membawakan sebuah cake sederhana, yang sudah diberiblilin di atas nya.


"Bapak..." kata Melati yang terkejut sambil menutup mulutnya.


"Slamat ulang tahun, slamat ulang tahun, slamat ulang tahun sayang, slamat ulang tahun." kata pak Yuda sambil menyanyi. ternyata pak Yuda juga memasang ponselnya, yang sedang bertelponan dengan ibunya di negeri orang.


"Selamat ulang tahun sayang" kata bu Fatma, ibunya Melati.


"Bapak sengaja memberikan hadiah ulang tahunmu ini setelah adek-adek tidur, karena kalau mereka belum tidur, bapak ga yakin kue ini masih berwujud sempurna." kata pak Yudi yang sudah mengelus kepala putrinya dengan penuh Cinta, lalu menciumnya. Sedangkan Melati dengan posisi memeluk tubuh bapaknya dari arah samping.


"Iya pak, gapapa kok pak. Melati ngerti." jawab Melati.


"Tiup lilinnya nak." kata pak Yudi.


Melatipun meniup lilin itu dengan berdoa terlebih dahulu.


"Bapak dan Ibu, sayaaaang Melati." kata pak Yudi.

__ADS_1


"Melati juga sayang bapak sama ibu." kata Melati sambil memeluk bapaknya.


__ADS_2