
Waktu terus berlalu, Satu bulan setelah pernikahan Ugi dan Laili, Melati dan Dewa menghadiri pernikahan Zia dan Latif. Melati sangat bahagia, akhirnya sahabatnya sudah menikah dengan orang baik di masa lalunya. Melati kembali teringat akan kebaikan Latif padanya selama ini, tanpa Latif, mungkin Melati tidak akan mendapatkan kesuksesan menjadi seorang penulis dan mendapatkan ijazah SMP dan SMA. Dan kalau bukan Latif yang mengajari nya mengendarai sepeda motor, Mungkin Melati juga belum bisa mengendarai sepeda motor sampai sekarang.
Hari ini, Melati dengan perut buncitnya yang sudah memasuki usia delapan bulan, sedang sibuk membungkus sebuah kado untuk di bawa ke acara resepsi pernikahan sahabatnya yang satunya, siapa lagi kalau bukan Satria. Ya, Satria besok akan melangsukan akad nikah dengan mantan adik iparnya yang tak lain adalah Muna.
"Duh, duh...kadonya gede bener, apaan sih itu sayang?" tanya Dewa saat melihat Melati sedang asyik membalut sebuah kardus besar dengan kertas kado bermotif batik
"Cuma bed cover aja kok mas." jawab Melati dengan matanya masih fokus pada tangannya yang cekatan melipat dan menempelkan solatip di kertas kado itu.
"Kenapa juga harus segede itu kadonya? Dulu pas Zia, kayaknya ga segede gitu kan?" tanya Dewa.
"Kan kalo Zia dulu aku kado lingerie sama pakaian cowoknya, buat bekal malam pertama. Nah, ini ga enak kalau mau kasih itu mas. Jadi ya begini, kasih bed cover aja, biar anget pas udah selesai bermalam pertama, hehehe." kata Melati bercanda.
"Ish, istriku ini sekarang suka mesum ya." goda Dewa.
"Bukan mesum mas... tapi ini tu salah satu ikhtiar untuk membuat mereka saling cinta gitu lho." kata Melati membela diri.
"Yah, terserahlah. Ngalah aja lah sama bumil." kata Dewa.
"Jadi, besok kita beneran datang nih ke acara pernikahan Satria di Wonogiri?" tanya Dewa memastikan.
"Ya jadi dong mas, ga enak kalo ga dateng." jawab Melati.
"Sayangku gapapa? Perut udah segede gitu? Gedenya Sama tuh sama kadonya." goda Dewa.
"Iya, biarin. Lagian kita kan naik mobil." jawab Melati.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga." kata Melati dengan senyum mengembang yang membuat Dewa gemash dengan istrinya, karena selama hamil, Melati justru kelihatan lebih gemuk, pipinya juga gembul, karena katanya gampang laper.
"Alhamdulillah..."
"Udah malem, bobok yuk." ajak Dewa.
"Emang anak-anak udah bobok mas?" tanya Melati.
"Udah dong, makannya mas nyusulin sayangku ke kamar." jawab Dewa.
"Oh, gitu? Okeylah, alhamdulillah, iya, capek. Ini juga pegel banget ini pinggangku mas." keluh Melati.
"Mau dipijit?" tawar Dewa.
"Boleh." jawab Melati memasangkan badan untuk siap dipijit.
"Pundak juga ya mas. Pegel banget ini." keluh Melati.
"Seharian ngapain aja kok sampe pegel-pegel begini?" tanya Dewa sambil memijit-mijit pundak Melati.
"Sebenarnya juga ga ngapa-ngapain kok mas. Cuma beres-beres seperti biasanya." jawab Melati.
"Lain kali di rem dong, kalau kiranya capek, istirahat gitu." nasehat Dewa.
__ADS_1
"Iya mas."
"Pinggul ini juga ya mas, pegel banget ini." keluh Melati.
"Siap nyonya besar." kelakar Dewa yang justru membuat Melati tersipu malu.
Setelah dirasa enakan badannya, Dewa memeluk Melati dari belakang dengan meletakkan dagunya di pundak Melati, sambil menyesap leher Melati dan tangan kanannya mengelus perut Buncit Melati.
"Ga kerasa ya, perutmu udah segede gini, pasti berat ya sayang?" tanya Dewa.
"Engga kok mas." jawab Melati.
"Kalau sama mas, beratan siapa?" tanya Dewa.
"Maksudnya?" tanya Melati.
"Ya, kalau mas tindih gitu, beratan mas apa adek?" tanya Dewa yang sudah bermain di gunung kembar Melati.
"Ish, mulai deh..."
"Sayang...kan tadi udah mas pijitin, sekarang giliran mas dong...mas mau..." kata Dewa manja.
"Hem... gitu ya?"
"Heem." jawab Dewa sambil mengangguk.
"Tapi pelan-pelan aja ya mas." kata Melati.
Melati mengangguk dan tersenyum tulus.
Malam itu akhirnya Melati dan Dewa melakukan ritual pasutri dengan hati-hati, karena perut Melati yang sudah semakin besar.
Tengah malam, Melati terjaga dari tidurnya, dia merasakan sakit di bagian perutnya, seperti di remas-remas.
"Ssss....Astaghfirullah..." rintih Melati setiap rasa sakit itu terasa, sambil mengelus perut nya.
"Melati masih bersandar di kepala ranjang dengan menutup bagian dadanya dengan kaos yang ada di dekat nya, karena semalam mereka melakukan malam panas, hingga Melati hanya berselimut saja, tanpa memakai baju.
"Sayang...kamu kok udah bangun? Jam berapa ini?" tanya Dewa saat akan memeluk, ternyata orang yang dipeluk sudah posisi duduk. Dewa mengubah posisinya dengan duduk di samping Melati, dengan bertelanjang dada.
"Masih tengah malam. Kamu kenapa bangun sayang?" tanya Dewa sambil mengelus perut Melati.
"Ga tau mas, tiba-tiba perutku sakit." kata Melati.
"Ini udah sembuh?" tanya Dewa.
"Udah." jawab Melati.
"Ya udah, bobok lagi aja ya. Mungkin itu karena kamu terlalu kecapekan, jadi adek di dalem juga kecapekan, bobok nya engga tenang." kata Dewa.
__ADS_1
"Iya kali ya mas?"
"Ya udah, ayo bobok lagi sayang." ajak Dewa. Melati pun menurut, Namun dia minta perutnya di elus-elus oleh Dewa, hingga akhirnya Melati tertidur pulas.
Keesokan harinya, Melati sudah mandi junub dan seperti biasa, dia telah menyiapkan baju ganti untuk suaminya di nakas, dan dia melanjutkan aktivitasnya dengan sholat malam lanjut sholat subuh. Saat Adzan subuh, Dewa terjaga, lalu mandi dan berkaitan ke masjid.
Sekembalinya dari masjid, tidak seperti biasanya, Dewa tidak melihat Melati di dapur, diapun segera masuk kamar, dan dilihatnya Melati sudah duduk bersandar dengan masih mengenakan mukena, sambil mengelus-elus perutnya yang buncit.
"Sayang, sayang...kamu kenapa?" tanya Dewa panik.
"Ga tau mas, ini tadi pas sholat, perutku sakit banget..." jawab Melati.
"Ini masih sakit?" tanya Dewa.
"Tadi sih udah sempet sembuh mas, pas aku do'a. Tapi, tiba-tiba ini sakit lagi." jawab Melati sambil merintis mengelus perut buncitnya.
"Jadi, sakitnya datang hilang, gitu?" tanya Dewa. Melati mengangguk.
"Kalau dari ciri-cirinya sih, kayaknya adek mau lahir deh sayang." kata Dewa.
"Ha? Lahir? Tapi kan ini baru delapan bulan mas." kata Melati.
"Iya, biasa, namanya anak lahir itu ada yang sembilan bulan, ada yang delapan bahkan ada yang tujuh bulan udah lahir " kata Dewa.
"Masa'?" tanya Melati tak percaya.
"Iya." jawab Dewa.
"Terus gimana dong mas?" tanya Melati.
"Ya udah, sayangku istirahat dulu aja, mas siapin pakaian ganti untuk sayangku dan baju bayinya ya." kata Dewa.
"Ya mas." jawab Melati.
Tak lama, saat Melati baru mengambil koper, tiba-tiba Melati merintih kesakitan lagi.
"Sssss...huh...Astagfirullah..." rintih Melati sambil menahan rasa sakit di perut nya.
"Gimana sayang?" tanya Dewa siaga.
"Sakit mas..." jawab Melati.
"Sayangku minum dulu ya. Pagi ini kita ke dokter." kata Dewa sigap. Ya, Tentunya Dewa lebih berpengalaman mendampingi istrinya yang akan melahirkan, karena dia sudah menghadapi istri lamanya yang hamil dua kali.
Dewapun langsung menghubungi bu Fatma, untuk menitipkan Dirga dan Tsabita pada ibunya di rumah.
Jam enam pagi, Bu Fatma sudah tiba di rumah Dewa dan mengurus Dirga dan Tsabita yang masih tidur. Sedangkan Melati yang masih menahan rasa sakit sesekali, dituntun Dewa menuju mobil, setelah Dewa memasukkan koper dan tas-tasnya ke dalam bagasi. Dewapun melajukan mobilnya menuju klinik bersalin, untuk bertemu dokter spesialis kandungannya.
πππ
__ADS_1
Maaf ya reader, lama up nya... kemarin fokus beres beres dan masak-masak. dan mumpung kumpul keluarga juga...
selamat hari raya idul fitri ya reader tercinta, mohon maaf lahir batinππ