Seputih Melati

Seputih Melati
Firasat


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Melati tampak murung, dia lebih banyak diam dengan pandangan jauh ke depan dan terkadang melihat ke jendela. Sama sekali dia tidak melihat ke arah suaminya. Sedangkan bu Fatma yang mengerti perasaan putrinya, memilih diam tak membahas apapun. Si kembar tertidur di pangkuan ibu mereka, setelah tadi sempat bermain berdua di kursi belakang.


Sampai di rumah, Ugi mendapat telpon dari temannya, bahwa malam ini Ugi diminta untuk masuk malam. Karena temannya yang masuk malam sedang sakit.


"Mas tinggal dulu ya sayang." kata Ugi berpamitan.


"Ya mas. Hati-hati." kata Melati.


Sepeninggal Ugi, Melati di kamar kembali berkutat dengan leptopnya. Dia harus mengerjakan tugas yang harus dia kumpulkan besok di SKB. Sejak menikah, Melati mengambil program percepatan, sehingga perkiraan tahun ini Melati akan lulus. Hal ini membuat tugas Melati sangat banyak, dengan materi yang tidak sedikit.


"Masih sibuk Nduk?" sapa bu Fatma sambil membelai rambut putrinya.


"Eh, ibu. Sebentar lagi bu. InshaaAllah. Ada apa bu?" tanya Melati.


"Ibu mau bicara. Tapi kamu selesaikan dulu saja tugasmu." kata bu Fatma.


"Baik bu." jawab Melati.


Melatipun menyelesaikan tugasnya dengan baik, hingga akhirnya jam sepuluh malam, Melati menyusul ibunya yang sedang duduk di kursi ruang TV sambil menyaksikan acara televisi.


"Nduk."


"Ya bu?"


"Apa kamu bahagia Selama ini?" tanya bu Fatma dengan tatapan tajam.


"Alhamdulillah, Melati bahagia bu." jawab Melati tulus.


"Pernikahan ini atas permintaan nenek bukan?" tanya bu Fatma.


Melati mengangguk.


"Bukan karena terpaksa?" tanya bu Fatma dengan menatap intens mata putrinya, Bu Fatma mencoba mencari kejujuran dari mata putrinya.


Melati menggeleng.


"Apakah Ugi juga mencintaimu?" tanya Bu Fatma.


"Iya bu. Mas Ugi sangat mencintai Melati, dan menyayangi Melati. Melati bisa merasakannya." jawab Melati jujur.


"Sungguh?"


"Ya bu."


"Ehm...sudah enam bulan kalian menikah. Tentunya sudah banyak yang menanyakan kehamilanmu nak. Bagaimana perasaanmu tadi saat kamu diintrogasi oleh orangtua Ugi?" tanya Bu Fatma.

__ADS_1


"Ehm, ya... hal yang wajar sih bu. Karena memang enam bulan itu bukan waktu yang sebentar. Itu waktu yang cukup lama untuk suatu hubungan suami istri yang belum ada tanda-tanda kehamilan." jawab Melati.


"Tapi mereka kelihatan banget kalau mereka kecewa sama kamu nduk." kata bu Fatma.


"Yang penting bagi Melati, mas Ugi tetap mencintaiku bu." jawab Melati.


"Tapi kalau ternyata Ugi sudah menemukan wanita lain dari masa lalunya, atau masa depannya yang lebih baik darimu, lalu benar adanya bahwa kamu mandul, bagaimana? Apa kamu akan mempertahankan nya?" tanya bu Fatma.


"Kenapa ibu berkata seperti itu?" tanya Melati.


"Nduk, ibu hanya ingin melihat anak ibu ini bahagia. Ibu tidak ingin putri ibu ini bersedih dan sengsaram. Sudah cukup nduk perjuanganmu selama ini, dengan hidup yang berat bersama kedua adik kembarmu tanpa bapak dan ibu. Kini ibu di sini, sangat ingin melihatmu bahagia." kata Bu Fatma.


"Melihat dari cara bicara orang tua Ugi, ibu merasa kecewa nduk. Mereka bukan tipe orang tua yang baik. Mereka terlalu mengedepankan ego mereka. Tadinya ibu berniat ke sana untuk silaturahmi dan membicarakan perihal rencana resepsi kalian, namun ternyata, justru perbincangan tadi terasa tidak nyaman, sehingga ibu urungkan untuk pembicaraan serius itu." kata bu Fatma.


"Ya sudahlah bu. Melati 'kan menikahnya sama mas Ugi, bukan sama keluarganya mas Ugi." jawab Melati.


"Iya juga sih." jawab bu Fatma tanpa banyak berdebat dengan putrinya. Kemudian Bu Fatma dan Melati beranjak beristirahat ke kamar mereka masing-masing.


Sesampainya di kamar, bu Fatma belum bisa tidur. Bu Fatma memikirkan Melati, dan masih memikirkan perkataan Besannya, ada rasa tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu oleh basannya. Dan ada rasa ragu pada hubungan dua keluarga besar ini, akankah dia bisa menjalani hubungan besanan dengan mereka terus menerus? Hingga akhirnya bu Fatma bisa tertidur dengan sendirinya.


💞💞💞


Keesokan harinya, Ugi sudah pulang dari tugas malamnya, sedangkan Melati bersiap untuk berangkat mengajar. Namun kemudian, ponsel Melati berdering, sebuah panggilan dari nomer tak dikenal, Melatipun mengangkatnya.


"Ya saya sendiri." kata Melati, membuat Ugi penasaran dengan siapa yang menelpon.


"Baik, InshaaAllah bisa pak. Ya, ya. Baik Terimakasih." jawab Melati, lalu menutup ponselnya.


"Siapa?" tanya Ugi.


"Salah satu menejer dari stasiun TV mas, dia minta Melati untuk mengisi acara talkshow di stasiun televisi swasta di Bogor, dan sekaligus diminta untuk mengikuti acara syuting film yang diambil dari novel Melati mas." kata Melati.


"Kamu serius sayang?" tanya Ugi berbinar.


"Serius." jawab Melati.


"Boleh ga mas? Nanti sekitar satu minggu di sana." kata Melati.


"Satu minggu?"


"Iya."


"Kapan?"


"Minggu depan." jawab Melati.

__ADS_1


"Ehm, baiklah. Tapi mas ga bisa nemenin tuh. Ehm, kira-kira siapa ya yang bisa nemenin?" tanya Ugi berfikir.


"Emang mas Ugi kenapa ga bisa nganterin?" tanya Melati.


"Karena mas ada acara pelantikan pengurus PMI pusat." jawab Ugi.


"Ehm, gitu ya? Apa Melati tolak aja?" tanya Melati dengan murung.


"Jangan. Nanti sayangku bisa ajak Muna, atau siapa gitu buat nemenin. Mas ridhoi." jawab Ugi.


"Ehm, Sama Zia boleh ga? Zia kebetulan Free katanya."


"Boleh. Kalau Muna, khawatirnya ganggu jam kuliah dia sih." kata Ugi.


"Ya udah, berarti Melati berangkat sama Zia aja ya mas."


"Iya sayang. Tapi bener kan, gapapa ga mas anterin?" tanya Ugi ragu.


"Iya, beneran, gapapa kok mas. Asal mas Ridho."


"Mas Ridho kok. Pokoknya, kejar impianmu. Ini karier kamu udah bagus banget lho, harus diperjuangkan, dan dipertahankan." kata Ugi.


"Ya mas. InshaaAllah."


💞💞💞


Hari yang ditunggu telah tiba, Melati dan Zia sudah diantar Ugi bersama bu Fatma sampai di terminal. Melati berpamitan pada ibunya, lalu pada suaminya.


"Jaga diri kamu baik-baik di sana ya nak." kata bu Fatma sambil mencium kening Melati.


"Ya bu, InshaaAllah."


"Jangan lupa sholat, ngaji dan terua berbuat baik pada semua orang ya. Jangan sombong, jangan angkuh, dan jangan mudah marah." pesan bu Fatma.


"InshaaAllah bu. Melati akan menjaga amanah dari ibu." kata Melati.


"Zia, titip Melati ya nak." kata bu Fatma.


"Ya bu, InshaaAllah." jawab Zia.


"Hati-hati ya sayangku. Jaga diri baik-baik." kata Ugi mengusap kepala Melati yang mencium punggung tangan suaminya dengan khidmat.


"Ya mas. InshaaAllah. Mas juga hati-hati ya." kata Melati.


"InshaaAllah. Mas akan selalu merindukanmu. Mas sayang sama kamu." kata Ugi mengecup kening Melati dengan cukup lama. Ada rasa berat untuk berpisah diantar keduanya. Melati memeluk erat tubuh Ugi, Melati merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan pelukan itu. Rasanya berat bagi Melati meninggalkan suaminya, tetapi dia juga harus memenuhi undangan dan menepati janji, demi masa depan kariernya.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, Melati dan Zia masuk bus setelah meletakkan koper dan tas besar mereka di bagasi bus. Melati dan Zia melambai mengucapkan kata perpisahan pada suami dan ibunya melalui jendela bus. Bus yang dinaiki Melati dan Zia pun melaju meninggalkan kota tempat tinggal Melati.


Kemudian Ugi dan bu Fatma pun kembali pulang ke rumah Bu Fatma. Namun, setelah menurunkan bu Fatma, Ugi pamit pergi dulu ke rumah temannya.


__ADS_2