
Satu minggu setelah bu Fatma menelpon, akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Ugi meminjam mobil milik pak Haji Karyo untuk menjemput ibu mertuanya bersama dengan istri dan kedua adik kembarnya.
Sesampainya di bandara, pemandangan haru biru tampak jelas didepan mata Ugi. Dimana bu Fatma di peluk erat oleh si kembar Aldo dan Aldi yang baru duduk dibangku kelas 4 SD. Melatipun juga langsung tersungkur memegang kaki ibunya, lalu dipeluk ibunya dengan penuh kehangatan. Waktu dan jarak yang membuat mereka melepas rindu dan saling menumpahkan air mata.
"Assalamualaikum bu." salam Ugi sambil mencium punggung tangan Bu Fatma dengan takzim saat bu Fatma sudah melepas pelukan Melati dan si kembar.
"Wa'alaikumsalam nak Ugi." jawab bu Fatma dengan tangan kirinya mengusap kepala Ugi.
"Sehat bu?" tanya Ugi.
"Alhamdulillah nak. Terimakasih banyak, nak Ugi telah menjaga anak-anak ibu." kata bu Fatma sambil merangkul si kembar yang keduanya memegang tas dan koper milik ibunya.
"Sama-sama bu. Sudah menjadi tanggung jawab saya, sebagai suami dari Melati." kata Ugi.
"Ibu senang, Melati dan nak Ugi bisa menjalani pernikahan ini dengan harmonis dan romantis, meski menikahnya mendadak. Terimakasih juga sudah Mencintai dan memilih putri saya untuk dijadikan istrimu nak." kata bu Fatma.
"Saya yang beruntung bu, memiliki istri secantik dan sebaik putri ibu." kata Ugi.
"Ah, Ya sudah, ayo kita pulang, ibu sudah tidak sabar ingin segera sampai rumah." ajak bu Fatma.
Merekapun menuju mobil yang sudah diambil oleh Ugi. Setelah semua barang dimasukkan bagasi, si kembar tak mau jauh dari ibu mereka sehingga mereka memeluk bu Fatma dengan erat di kursi belakang. Sedangkan Melati duduk di depan bersama Ugi.
Merekapun berhenti disebuah rumah makan padang, atas rekomendasi bu Fatma, karena bu Fatma tidak ingin Melati repot-repot memasak untuk mereka, karena bu Fatma ingin berbagi cerita dulu dengan keempat anaknya. Aldo dan Aldi tampak sangat bahagia makan bersama ibunya.
"Mbak, udah ada tanda-tanda kehidupan cucu buat ibu belum?" tanya Bu Fatma dengan hati-hati, khawatir menyinggung perasaan putrinya.
"Ehm, belum bu. Mohon tambah do'anya saja." kata Melati sambil menyeruput lemon tea pesanannya.
"Kamu terlalu banyak kegiatan mungkin mbak, jadinya belum bisa jadi." kata bu Fatma.
"Apa itu ngaruh bu?" tanya Melati.
"Ya, bisa jadi." jawab Bu Fatma.
"Ehm, ya InshaaAllah nanti Melati akan kurangi kegiatan Melati bu " kata Melati.
"Oya. Gimana dengan rencana resepsinya? Ini ibu udah ga balik ke Malaysia lho." kata bu Fatma.
Ugi dan Melati hanya saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak berniat menggelar acara resepsi.
__ADS_1
"Ehm, Kita sih ngikut aja bu." jawab Melati.
"Ugi juga?"
"Iya bu, saya ngikut aja." kata Ugi.
"Kalau begitu, kapan waktu ibu mau ketemu bapak ibumu dulu ya nak, biar kami para orang tua yang membicarakan hal ini. Bagaimana baiknya gitu." kata bu Fatma.
"Bagaimana kalau besok minggu bu? Karena adek-adek libur sekolah, Melati libur ngajar, dan saya InshaaAllah juga bisa meliburkan diri." kata Ugi.
"Oh. ya gitu juga gapapa."
Merekapun makan bersama sampai selesai dengan berbincang ringan, kemudian mereka lanjut pulang ke rumah.
💞💞💞
Tak terasa waktu yang dinanti telah tiba, waktu dimana Keluarga Melati berkunjung ke keluarga Ugi di Wonogiri. Kali ini Ugi meminjam mobil milik Guntur, karena kebetulan mobil pak Haji Karyo baru dipakai.
Sepanjang perjalanan bu Fatma terus berbincang dengan ketiga anaknya. Si kembar terus bercerita tentang sekolahnya, dan kehidupan mereka selama tinggal bersama Melati dan Ugi.
Sesampainya di rumah joglo dengan halaman yang cukup luas, Keluarga Ugi menyambut kedatangan keluarga Melati dengan suka cita.
"Wa'alaikumsalam bu...Yaa Allah, akhirnya bisa ketemu besan." kata bu Yani sambil memeluk bu Fatma dengan penuh kehangatan.
Bu Fatma menangkupkan kedua tangannya saat berhadapan dengan pak Slamet, bapaknya Ugi.
Seperti biasa, Melati segera ke dapur bersama dengan Nur setelah tadi Nur menyalami bu Fatma. Melati membantu Nur untuk menyiapkan minuman dan makanan kecil yang ternyata sudah disiapkan bu Yani. Karena Muna bel bisa pulang hari ini, sehingga Nur lah yang membantu ibunya di dapur. Begitupun dengan Wawan dan Ugi juga ikut serta membantu di dapur.
"Mbak, ibu belum masak apa-apa lho untuk makan siang. Ibu sengaja nunggu mbak Melati, karena ibu kangen masakaannya mbak Melati." kata Nur.
"Waduh, jadi ga enak dek. Masakan ibu bukannya lebih enak lho." kata Melati sungkan.
"Ish, engga mbak. Bener kata mas Ugi, masakan mbak Melati tu bikin ketagihan. Jadi kita pingin makan masakannya mbak Melati." kaya Wawan.
"Ya udah nanti mbak buatin." kata Melati.
Kemudian Melatipun memasak bahan-bahan yang sudah disiapkan bu Yani. Dengan dibantu Nur dan Ugi, Melati memasak masakan yang dia bisa. Sedangkan, di ruang tamu, para orangtua sedang saling bercengkrama karena sudah besanan selama enam bulan, tetapi mereka baru bertemu.
Saat masakan sudah matang, Merekapun makan bersama di ruang tengah, dengan menggelar tikar.
__ADS_1
"Oh ya nak Melati, ngomong-ngomong sudah ada tanda-tanda belum ini di perutnya?" tanya bu Yani.
"Ehm, belum bu, mohon tambah do'anya saja." jawab Melati sungkan.
"Lhoh, sudah enam bulan lho kalian menikah. Apa nak Melati masih banyak kegiatan, jadinya sering kecapekan?" tanya bu Yani.
"Engga juga sih bu." jawab Ugi.
"Tapi katanya, Melati kalau pagi mengajar, siangnya sekolah, dan masih mengerjakan cerita kalau malam. Belum lagi beres-beres rumah, ya to? Berarti harusnya nak Melati tu mengurangi kegiatannya, biar ga kecapekan." kata bu Yani.
"Tetangga dan teman-temanmu sudah pada punya anak dua Gi. Mereka suka nanyain kamu. Katanya sudah menikah, sudah hamil belum istrinya, begitu." kata Bu Yani lagi.
"Ya, baru juga enam bulan bu. Banyak kok yang dua tahun baru dikasih anak." kata Ugi mulai merasa dihakimi.
"Apa kalian periksa dulu aja, cari tau ada masalah engga diantara kalian." kata bu Yani lagi.
"Baru juga enam bulan bu. Toh, kita juga belum ngadain resepsi." kilaah Ugi.
"Tapi ya ga ada salahnya to le, periksa dulu kalian itu. Nanti kejadiannya kaya si Topik itu, mundur-mundur waktu periksa karena lama ga punya anak, ternyata bener, istrinya yang bermasalah. Istrinya mandul. Kan tiwas berharap, ternyata memang ada masalah. Akhirnya dia mengangkat anak." kata bu Yani memberi gambaran.
"Ya, nanti gampang lah, bisa ku agendakan." jawab Ugi sambil melihat istrinya yang wajahnya sudah berubah. Ugi yakin, Melati merasa tak nyaman dengan obrolan ini, karena mengarah pada hal sensitif terkait keturunan.
"Ibu tu sudah ga sabar pingin punya cucu kaya ibu-ibu di sini. Yah, sayangnya kamu nikahnya telat, Muna juga malah masih kuliah Segala, jadinya kan ibu sampe umur segini belum bisa kaya temen-temen yang lain, kemana-mana gendongin cucu mereka." kata bu Nur dengan logat cerewetnya.
Bu Fatma hanya diam menyimak obrolan keluarga Ugi yang menyinggung urusan keturunan.
"Lha, nanti kalau Melati hamil, Melati tinggal disini saja ya. Kan bu Fatma sudah di rumah, sudah ada yang mengurus adik kembarmu." usul bu Yani.
"Ya ga bisa to bu. Aku kan tugas di Kota, Melati juga mengajar di sana." Sanggah Ugi.
"Ya kan Melati bisa keluar dari tempatnya ngajar. Kalian bisa berjauhan gapapa, nanti Melati biar ibu yang ngurusin." kata bu Yani.
"Ga bisa ibu. Ugi ga mau jauh-jauh lah dari istri Ugi." kata Ugi.
"Halah, kamu itu dari dulu selalu ngebantah kata orangtua aja Gi." kata pak Slamet dengan nada tidak suka.
"Bukan maksud Ugi ngebantah pak, tapi..." kata Ugi belum selesai.
"Wis, wis. Bapak mau ngasih makan sapi dulu." kata pak Slamet berdiri dan pergi meninggalkan ruangan setelah menghisap rokoknya sampai habis.
__ADS_1
Seketika diantara mereka berasa canggung. Terutama bu Fatma yang tadinya berencana membicarakan acara resepsi, ternyata ada hal yang membuat dirinya kurang nyaman. Hingga setelah adzan ashar, rombongan keluarga Melati berpamitan untuk pulang.