Seputih Melati

Seputih Melati
Bintang Tamu


__ADS_3

Sebelum menuju lokasi bedah buku, Melati memang menginginkan mampir ke suatu tempat terlebih dahulu. Sudah lama Melati sangat menginginkan berkunjung ke Malioboro, ke masjid agung kraton Jogja, sehingga Ugi menuruti keinginan istrinya itu. Setelah menunaikan ibadah sholat dzuhur, Mereka duduk sejenak di teras masjid sambil bercerita.


Melati menyandarkan kepalanya di pundak Ugi, dan tangan kiri Ugi merangkul lengan Melati dan mengelusnya. Perjalanan menuju lokasi bedah buku memerlukan waktu sekitar satu jam, sehingga rencananya mereka sholat ashar di masjid itu sekalian.


"Sayang." panggil Ugi.


"Hem?" jawab Melati.


"Mas boleh tanya sesuatu?" tanya Ugi.


"Boleh."


"Apa keinginan terbesar Sayangku, setelah menikah?" tanya Ugi.


"Keinginan terbesar?" tanya Melati bingung.


"Ya. Sayangku pingin apa jika sudah bersuami?" tanya Ugi.


Melati masih berfikir.


"Mau punya rumah sendiri? Mau diajak bulan madu ke luar negeri? atau mau apa?" tanya Ugi.


"Ehm, Melati cuma pingin punya suami yang cinta sepenuhnya sama Melati, bisa jagain Melati, mau menerima kelebihan dan kekurangan Melati, Bertanggung jawab dunia akhirat, dan suatu saat, Melati pingin ke mekkah bersamanya." jawab Melati.


Ugi menatap wajah Melati. Melati juga menatap Ugi dengan intens.


"Apa aku mampu wujudkan keinginanmu itu?" tanya Ugi.


"InshaaAllah bisa." jawab Melati.


Ugi tersenyum, lalu menarik kepala Melati dan menghujani wajah Melati Dengan ciuman.


"Terimakasih sayangku." kata Ugi.


"Kalo mas?" tanya Melati.


"Mas... mas pingin punya anak." jawab Ugi dengan tatapan genit nya.


"Ish, mas Ugi mulai deh."


"Serius. Setiap orang menikah, pasti yang diinginkan itu keturunan bukan?" tanya Ugi.

__ADS_1


"Iya, iya. Percaya."


"Kita terus berusaha untuk bikin ya." kata Ugi menarik turunkan alisnya.


"Ini di masjid mas, apaan sih kok ngomongin itu?" tanya Melati.


"Hehe, ya wajar dong. Abisnya istri mas ini bikin gemes, pingin makan terus."


"Mesum aja terus." omel Melati.


"Hahaha, jangan ngambek dong." rayu Ugi.


"Ehm...tapi sayang..." kata Ugi terhenti.


"Kenapa?" tanya Melati.


"Kita sudah enam bulan menikah, dan belum ada tanda-tanda sayangku hamil. Ehm...kalau..." lagi-lagi Ugi tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kalau diantara kita ada yang mandul, gimana?" tanya Ugi pesimis.


"Jangan bicara seperti itu mas. Allah lebih tau yang terbaik. Lagipula, ini juga baru enam bulan 'kan?" tanya Melati.


"Iya sih..."


Merekapun membicarakan tentang isi Novel milik Melati, untuk sarana Melati nanti ketika maju di depan umum. Hingga adzan ashar berkumandang, Melati dan Ugi ikut berjamaah sholat ashar di masjid kraton, sampai akhirnya selesai lalu Melati dan Ugi melajukan motornya menuju gedung pertemuan di pusat kota jogja untuk memenuhi undangan sebagai Pembicara.


Sesampai nya di lokasi, Melati segera disambut hangat oleh panitia dan diajak ke ruang panitia dan berbincang dengan penanggung jawab acaranya. Ugi yang mengikuti Melati, namun kemudian Ugi terhenti di luar ruangan, sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba dia dipeluk oleh seseorang,


"Mas Ugi..." teriak Muna.


"Muna? Kamu disini juga?" tanya Ugi terkejut.


"Iya mas. Kan lumayan deket dari kosan Muna." jawab Muna.


"Masa' sih? Naik apa kamu ke sini?" tanya Ugi.


"Naik motor." jawab Muna.


"Motor? Motor siapa?" tanya Ugi heran. Karena Muna di Jogja tidak di fasilitasi motor oleh orangtuanya. Muna kuliah ke jogja dengan mengendarai kendaraan umum.


"Tuh." kata Muna sambil menunjuk seseorang yang sedang membeli lemon tea di kedai yang tak jauh dari mereka berdiri.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Ugi.


"Temen. Kita boncengan. Kebetulan, Dia itu temennya kakak ipar juga, dia pingin mengikuti acara bedah bukunya kakak ipar juga." kata Muna.


Lalu laki-laki itu tampak berjalan ke arah Muna sambil menenteng dua cup berisi lemon tea.


"Ni Mun." kata Satria sambil menyodorkan cup itu kepada Muna.


"Satria?" gumam Ugi yang sudah mengenal Satria.


"Mas." sapa Satria dengan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan kakak dari sahabatnya, sekaligus suami dari sahabat lamanya. Ugi pun menerima uluran tangan itu dengan canggung.


"Ya udah yuk, langsung cari tempat. keburu di dudukin orang lain." ajak Muna sambil menarik tangan Satria menuju kursi di depan panggung.


Satria dan Ugi menuruti kemauan Muna yang bersikeras untuk segera duduk di depan panggung. Dan benar dugaannya, Hampir saja kursi paling depan terisi penuh, karena setelah mereka duduk, banyak pengunjung pameran buku yang ternyata juga menanti acara bedah buku ini. Tak berapa lama kemudian, acara dimulai. Melati sudah dipanggil untuk naik ke atas panggung, dan duduk di kursi bintang tamu.


Sambutan dan ramah tamah serta pembacaan biografi oleh moderator sudah dibacakan, dan tiba saatnya Melati menyapa seluruh audien yang hadir di acara bedah buku karyanya yang berjudul 'Sekeping Hati'.


"Jadi, Hati itu, penting banget untuk kita jaga. Dan, jangan pernah kita bermain-main dengan Hati, karena dampaknya akan sangat terasa. Bisa menyebabkan banyak penyakit, baik fisik, maupun psikis." kata penutup Melati setelah membedah bab demi bab pada novel karyanya.


"Baik, seperti itu ya hadirin, penjelasan isi dari buku novel berjudul 'Sekeping Hati' karya 'Sekar Melati'. Kita beri uplouse duku buat bintang tamu kita, Sekar Melati." kata Moderator dengan semangat menggebu, lalu diikuti pula oleh tepuk tangan riuh para hadirin.


"Sebelum mbak Melati kembali ke kota asalnya nih, ada pertanyaan dulu, seputar Novel Karya mbak Sekar Melati ini?" tanya Moderator.


Kemudian ada beberapa orang mengangkat tangannya, sebagai tanda bahwa dirinya akan bertanya.


"Ya, silakan kak, bisa disebutkan nama dan pertanyaannya?" tanya moderator.


"Nama saya Sari, saya mau bertanya. Menurut mbak Melati, perbedaan antara Cinta dan Sahabat itu apa? Jika sahabatnya itu berlawanan jenis dengan kita." kata peserta bedah buku.


"Ehm, Sahabat, adalah orang luar, yang bukan dari keluarga kita, tetapi dia selalu ada buat kita. Nah, karena pembahasan kita adalah masalah hati, maka perbedaan Cinta dan sahabat itu juga ada pada Hati. Mereka beda tipis. Kalau Cinta itu lebih condong pada sebuah perasaan, dan ada rasa memiliki. Kalau sahabat itu lebih condong pada rasa simpati dan empati." jelas Melati, dan tak sadar matanya tertuju pada sosok Satria. Sahabatnya yang dulu pernah mengisi cerita hidupnya di masa lalu.


Penanya tampak mengangguk-angguk mengerti.


"Ada tips ga mbak, buat mengetahui, apakah sahabat kita itu suka sama kita apa engga?" tanya orang lain.


"Ehm, Kebetulan, saya baru saja menikah sih, jadi sedikit banyak saya tau rasanya mencintai dan dicintai." kata Melati yang kemudian menoleh ke arah Ugi, suaminya.


"Yang jelas, cinta itu sangat erat hubungannya dengan yang namanya Cemburu. Seperti halnya sepasang suami istri yang saling cinta, maka di antara mereka akan merasakan rasa cemburu, jika ada sesuatu hal yang mengusik hatinya. Pun begitu dengan orang yang ngakunya sahabat, tetapi hatinya bergejolak, merasa cemburu, berarti dia itu ga cuma menganggap kita sahabat, tetapi juga Cinta sama kita." kata Melati memberi penjelasan.


Kemudian muncullah banyak pertanyaan dari kawula muda terkait masalah cinta dan sahabat. Baik dari laki-laki maupun perempuan, hingga akhirnya waktu sharing sudah habis, dan Melati berpamitan kepada audien. Banyak para peserta bedah buku yang membawa bukunya, dan meminta tandatangannya. Akhirnya adzan maghrib sudah terdengar, membuat Melati memohon diri untuk pergi ke masjid dulu untuk sholat.

__ADS_1


Melati bersama Muna, dengan didampingi Ugi dan Satria berjalan menerobos lautan orang di sekitar area pameran buku. Muna dan Melati memasuki tempat wudlu putri, sedangkan Satria dan Ugi masuk ke tempat wudlu putra.


__ADS_2