
Siang itu setelah menjemput kedua adiknya dari sekolah, Lalu menyiapkan makan untuk mereka, Melati segera bersiap untuk pergi.
"Mbak Melati mau kemana?" tanya Aldo yang sedang makan siang sambil menonton televisi melihat mbaknya mengenakan tas.
"Oiya, mbak mau pergi sebentar sama mas Latif dek. Kalian di rumah dulu ya sama nenek." kata Melati sambi duduk menghadap Aldo.
"Lama ga mbak?" tanya Aldi setelah menelan nasinya.
"InshaaAllah engga kok dek."
"Memangnya kamu mau ke mana Mel?" tanya nenek yang baru datang dari pintu belakang.
"Nenek, ini Melati mau diajak mas Latif untuk pergi ke suatu tempat nek. InshaaAllah cuman sebentar kok Nek. Melati titip adek-adek ya nek." kata Melati.
"Tumben ngajak nya siang-siang begini?" tanya nenek.
"Ehm, iya nek. Karena janjiannya siang nek."
"Mbak, nanti beliin es krim ya." kata Aldi.
"Aldo juga mau mbak." kata Aldo.
"Okey, InshaaAllah nanti mbak beliin." kata Melati.
"Asalkan kalian di rumah ga rewel." kata Melati.
"Iya mbak."
Tak lama kemudian Latif datang,
"Assalamualaikum." sapa Latif.
"Wa'alaikumsalam." jawab seisi rumah.
"Eh, Aldo Aldi. Lagi makan siang ya?" sapa Latif pada kedua adik kecilnya.
"Iya mas. Mas Latif mau makan juga?" tanya Aldo.
"Engga, tadi mas Latif sudah makan." kata Latif dengan full senyum.
"Nenek juga disini?" tanya Latif sambil menyalimi nenek.
"Iya, tadi Melati bilang, kalau dia mau pergi sama mas Latif, jadi nenek diminta nemenin adik-adiknya dulu." kata Nenek.
"Iya nek, ini kita ada perlu sebentar. Melati mau saya daftarin kursus nek, biar nantinya Melati bisa bekerja." kata Latif yang mengetahui nenek Melati selalu memandang sebelah mata tentang sosok Melati.
"Oh. mau kerja?"
"Bukan kerja nek, baru latihan, buat bekal bekerja." kata Latif menjelaskan.
"Oya, gapapa. Diajak aja mas, biar dia ga cuma tiduran terus di rumah. Biar ada kegiatan." kata nenek.
"Siap nek."
"Titip Melati ya mas."
__ADS_1
"Ya nek, InshaaAllah." kata Latif sambil mencium tangan nenek. Begitupun dengan Melati yang berpamitan pada nenek dan kedua adiknya.
"Kita naik motor aja ya Mel." kata Latif sambil berjalan menuju motor gedenya.
"Oh, iya mas. Terserah mas Latif aja." kata Melati.
"Soalnya mobilnya mas, baru mas Service." kata Latif.
"Oh, pantesan ga ada di rumah mas."
"Iya, soalnya besok lusa mau buta ke luar kota, jadi mobilnya di service dulu." kata Latif.
"Ayo Mel, naik. Bisa kan?" tanya Latif menoleh ke boncengan, karena motornya yang besar, khawatir Melati tidak bisa naik.
"Ehm, tinggi banget ya mas."
"Hehe, iya. Itu kaki kirimu naik dulu aja di pancatan, terus kaki kananmu langsung naik." kata Latif mengarahkan.
"Pegangan pundak mas." kata Latif lagi.
"Oh. iya mas. Bentar." kata Melati yang memang dirinya memakai celana kulot berwarna hitam dengan dipadukan tunik polos berwarna navi.
Melatipum mengikuti instruksi dan akhirnya berhasil. Ini adalah kali pertama Latif memboncengkan Melati dengan motor gedenya. Latif meminta Melati berpegangan perutnya, dan Melatipun menurut, meski dia sedikit ragu dan canggung.
Latif merasakan jantungnya berdetak begitu kencang, saat Melati melingkarkan tangannya di perutnya. Ada rasa bahagia pada relung hatinya, Dan Latif tersenyum bahagia.
"Mel, kenapa rasa ini berubah? Aku ingin murni menolongmu, tetapi kenapa rasa ini justru semakin tumbuh? Aku sangat takut kehilanganmu Mel, aku harap, kita kan selalu bersama seperti ini. Jadilah gadis kuat ku selalu Mel." batin Latif dengan sesekali melihat tangan mungil Melati yang melingkar di perutnya.
Bagaimana perasaan Melati? Melati gadis polos, dia sama sekali tidak merasakan getaran apapun bersama Latif, karena baginya, Latif adalah kakaknya. Dia selalu membutuhkan Latif, sehingga dia selalu menganggap Latif sebagai kakaknya sendiri, tidak lebih. Sehingga tidak ada rasa curiga apapun dengan perintah Latif, bahkan semua perhatian Latif, dia anggap sebagai perhatian sosok kakak kepada adiknya.
"Permisi. Assalamualaikum." sapa Latif.
"Wa'alaikumsalam Ya? Silakan masuk." jawab seorang wanita dari dalam.
Saat Latif masuk, dia melihat seorang wanita yang tak asing baginya. Ya, wanita itu adalah teman sekolahnya dulu waktu SMP.
"Latif?" sapa wanita itu ramah.
"Ehm. ya. Ehm, maaf kamu itu, temen SMPku bukan ya? Tapi maaf, aku lupa namamu." kata Latif menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya ampun Tif Latif, kamu ni ya. Sama aja dari dulu, pelupa banget sama temen. Yang diinget cuma Anggita terus ya. hehehehe." goda wanita itu.
"Apaan sih? Engga. Tapi, serius, aku lupa."
"Aku Tsania."
"Ow, Tsania? Ya ya. Maaf. Abisnya sekarang kamu berhijab, jadi sempet pangling." kata Latif.
"Iya, santai aja. Apa kabar kamu Tif?" tanya Tsania.
"Alhamdulillah, baik." jawab Latif singkat.
"Syukurlah. Oya, ada perlu apa nih ke sini? Mau daftrain adeknya ya?" tanya Tsania ramah sambil menoleh ke arah Melati.
"Iya nih. kemarin aku dapet brosur ini, makannya Adikku mau aku daftarin. Karena dia kan ga jadi lanjut sekolah di SMP, makannya ini aku daftarin dia kursus komputer aja, biar sewaktu-waktu dia ada lowongan kerja bisa ada pengalaman." kata Latif.
__ADS_1
"Oh, ya, cantik sekali. Namanya siapa?" tanya Tsania.
"Melati mbak."
"Sudah bawa syarat-syaratnya?" tanya Tsania.
"Sudah mbak." jawab Melati menjadi lebih semangat, dan Melati Segera menyerahkan semua syarat berkas yang harus diserahkan.
Saat Tsania sedang mengecek beberapa berkas, tiba-tiba pintu dibuka, dan sosok seorang laki-laki berparas tampan, masuk ke dalam ruangan itu.
"Eh, mas. Assalamualaikum mas Latif." sapa laki-laki itu sambil menjabat tangan Latif.
"Wa'alaikumsalam mas, ini saya mau daftarin adik saya untuk kursus di sini." kata Latif sambil menunjuk Melati.
Dan saat Melati akan menyapa, dia terkejut dengan laki-laki yang dikenalkan oleh Latif.
"Melati?" spontan laki-laki itu menyebut nama Melati.
"Pak Dewa?" sapa Melati dengan sedikit terkejut.
"Melati? Apa kabar Mel?" tanya Pak Dewa sambil menghampiri Melati.
Dengan sigap Melati mencium tangan Dewa, guru terbaik nya.
"Alhamdulillah Melati sudah membaik pak." kata Melati.
"Alhamdulillah, Melati mau daftar kursus?" tanya pak Dewa.
"Iya pak." jawab Melati sambil melirik ke arah Latif.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Latif.
"Dia ini dulu murid saya di SMP mas." kata pak Dewa.
"Oh..."
"Dunia sempit ya." kata Tsania.
"Latif ini dulu temen sekolah ku di SMP mas, dan ternyata, adiknya Latif, muridnya mas Dewa ya?" lanjut Tsania.
"Oh. kalian dulu temen sekolah?" tanya Dewa.
"Iya." jawab Latif.
Sebelum mendaftar, merekapun saling bercengkrama. Lalu Melati mengisi formulir pendaftaran dan mengumpulkan beberapa berkas syarat pendaftaran.
"Khusus untuk Melati, gratis ya untuk kursus di sini." kata Dewa.
Melati menoleh ke arah Latif dan Dewa.
Mereka mengangguk.
"Kamu berhak mendapatkan pendidikan yang layak Melati." kata pak Dewa mengelus pucuk kepala Melati dengan tersenyum bahagia.
"Terimakasih pak." jawab Melati.
__ADS_1