
Malam itu, setelah selesai sholat isya', Melati tidak keluar dari kamarnya. Dia menunggu suaminya dengan harap-harap cemas. Karena tadi siang, saat Ugi menjemput dia, Ugi membisikkan sebuah kalimat yang membuatnya salah tingkah hingga malam ini.
"Sayang, misal malam nanti, kita mulai percintaan kita, bagaimana? Sayangku siap belum?" kata Ugi sambil berbisik di telinganya saat setelah selesai menunaikan sholat dzuhur bersama di rumah.
Ceklek...
Terdengar suara hendel pintu dibuka, dan tampak oleh Melati, sosok laki-laki tampan, dengan baju koko berwarna navy, dengan sarung kotak-kotak berwarna biru dan peci hitam dikepala nya, membuat pria itu lebih terlihat menarik dan memikat hati, apalagi saat pria itu tersenyum saat menatap istrinya, Melati.
Melati yang duduk dikursi tempat biasa dia mengerjakan tugas, tampak tertunduk malu. Namun kemudian Melati berdiri dan berjalan menghampiri Ugi, untuk mencium tangannya.
"Assalamualaikum sayangku." salam Ugi sambil mengusap pucuk kepala istrinya.
"Wa'alaikumsalam mas." jawab Melati.
"Ehm, mas Ugi mau langsung tidur, atau mau ada keperluan dulu?" tanya Melati. Karena malam itu, mereka sudah makan ba'da Maghrib tadi.
"Mau...apa ya?" kata Ugi menggoda, sambil mengamati tubuh Melati dari atas ke bawah.
Melati yang merasa diperhatikan seperti itu, merasa salah tingkah. Dadanya berdegup kencang, badannya terasa bergetar. Melati seperti mengerti apa yang sedang Ugi pikirkan.
"Ehm, mas pingin ngobrol dulu deh." kata Ugi sambil tersenyum, lalu berjalan ke dekat lemari yang ada gantungan baju di sana. Ugi melepas pecinya, lalu melepas baju kokonya dan terakhir melepas sarungnya. Dan menggantungkan ketiganya di gantungan baju. Sedangkan tubuhnya masih terbalut celana kolor selutut dan kaos oblong yang ngepas dengan badannya yang sispac.
Melati hanya diam. Namun tidak dengan hatinya, dia masih berfikir, apa yang akan diobrolkan suaminya? Eh, tapi ya siapa tau cara Ugi untuk lebih mengenal Melati.
"Sayangku..." Panggil Ugi yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Melati sambil memeluk tubuh Melati dengan Mesra.
"Eh..." Melati terkejut.
"Kita duduk di sana ya, mas pingin tiduran di pangkuanmu." kata Ugi berkata dengan manja sambil menunjuk ranjang tempat mereka tidur.
"Eh, ehm...Ya mas." jawab Melati. Lalu Ugi menggandeng tangan Melati, dan menuntun istrinya untuk duduk di ranjang.
Melati duduk di tepi ranjang, dengan hati yang bergemuruh hebat, sedangkan jantungnya berdetak tak karuan iramanya.
Ugi menatap istrinya dengan intens, tetapi Melati justru masih menunduk malu. Ugi semakin gemas dibuatnya, dengan sikap Melati yang malu-malu.
Kemudian Ugi duduk di dekat Melati, lalu membaringkan tubuhnya dengan meletakkan kepalanya di pangkuan Melati. Namun, Melati tak bereaksi sesuai harapan Ugi, lalu dengan perlahan, tangan kanan Melati diraihnya, lalu diletakkannya tangan Melati di kepalanya, dan meraih tangan kiri Melati untuk dia genggam, dan dia letakkan di atas dadanya.
"Di elus dong kepala mas, biar enakan dikit ini kepala mas." kata Ugi sambil tersenyum menatap wajah kemerahan istrinya.
Melati pun mengikuti kata Ugi, tanpa berkata-kata. Dia elus kepala Ugi dengan lembut dan dia juga tidak melepaskan tangan kirinya.
__ADS_1
"Sayang...mas boleh tanya sesuatu ga?" tanya Ugi.
"Ehm... boleh mas." jawab Melati.
"Ehm...sayangku, sebelum menikah sama mas, pernah punya pacar ga?" tanya Ugi.
Melati terperanjat dengan pertanyaan Ugi.
"Kenapa mas tanya begitu?" tanya Melati heran.
"Gapapa, mas cuma pingin kita bisa saling terbuka, sebelum kita menjadi satu. Mas ga mau, kamu menjalani hubungan ini karena terpaksa. Karena pernikahan kita yang mendadak ini 'kan karena nenek yang minta." kata Ugi.
Melati membenarkan kata Ugi, namun memang sejak nenek menginginkan Ugi menjadi cucu nantinya, Melati sudah belajar untuk menerima itu dengan ikhlas, terutama saat setelah sah menjadi istri Ugi.
"Sayang?" tanya Ugi.
"Eh, ehm...Eng ...Engga mas. Melati ga pernah punya pacar." jawab Melati.
"Serius?" tanya Ugi masih ragu.
"Iya mas. Tapi... kalau cinta pertama, Melati punya." jawab Melati.
Ugi mendongak, menatap wajah Melati.
Melati tersenyum.
"Laki-laki itu, adalah cinta pertamaku mas, tetapi sayangnya, Allah lebih mencintainya. Aku terpaksa merasakan patah hati, karena ditinggal mati." kata Melati dengan mata mulai berkaca-kaca.
Seketika Ugi teringat dengan cerita neneknya tentang pria yang meninggal, padahal Melati masih sangat membutuhkannya. Dia ingat betul kata nenek Melati, bahwa laki-laki itu adalah tetangga Melati yang baik hati.
"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." gumam Ugi sebagai respon atas cerita Melati.
"Dia begitu mencintaiku melebihi dirinya sendiri. Dia selalu ada untukku disaat senang maupun sedih. Dia tak pernah memperhitungkan apapun demi kebahagiaanku. Dia selalu berusaha untuk menghiburku, memberiku yang terbaik, dan selalu menemaniku dikala aku sendiri." lanjut Melati.
Tiba-tiba dada Ugi terasa sesak, ini permintaannya, tak bisa dia menyalahkan Melati yang bercerita tentang cinta pertamanya. Ada rasa cemburu yang menyeruak, meskipun orang yang dimaksud sudah meninggal.
Tak terasa, setetes air jatuh di wajah Ugi, saat Ugi mendongak, ternyata istrinya sedang menangis tersedu.
"Sebegitu cintanya kamu sama dia, sampai kamu begitu pilu saat mengingatnya." batin Ugi.
"Maaf, jika pertanyaan ku membuatmu menangis, sayang..." kata Ugi sambil bangun dari posisinya yang berbaring. Dihapusnya air mata istrinya yang di sembunyikan dalam tundukan kepalanya.
__ADS_1
Melati menggeleng.
"Mas ga salah. Aku yang salah. Harusnya aku bisa mengikhlaskannya, tetapi sampai saat ini, kau belum bisa merelakan nya begitu saja. Aku benar-benar terpuruk kala itu, dan aku harus bangkit demi kedua adikku. Aku bingung, nanti siapa yang akan menemani hari-hariku, mendampingiku, menjagaku. Tapi qodarullah, Allah kirimkan orang-orang baik di sekitar ku yang peduli denganku, peduli dengan adik-adik dan nenekku. Dan sampai saat ini, aku berusaha untuk merelakan nya, apalagi, setelah ada cinta kedua yang membuatku nyaman, dan merasa aman." kata Melati sambil masih menunduk.
"Ehm...kalau mas boleh tau, siapa cinta pertamamu itu sayangku?" tanya Ugi penasaran, karena dalam benaknya, dia menebak laki-laki itu adalah Latif.
"Cinta pertamaku adalah...Bapak." jawab Melati sambil kembali menangis dengan tubuhnya yang berguncang. Membuat Ugi terkejut, ternyata dugaannya salah. Cinta pertama Melati adalah bapaknya sendiri, yang memang sudah meninggal dunia.
"Aku kangen bapak mas...bapak pergi gara-gara aku. Harusnya aku ga usah minta dianter ke sekolahan itu untuk daftar, harus nya aku ga egois untuk minta sekolah lagi. Hingga membuat bapak mengalami kecelakaan dan membuat bapak meninggal." kata Melati menangis histeris, sambil menutup wajahnya. Ugi benar-benar tak kuat melihat istrinya yang menangis seperti itu, hingga refleks, dia peluk tubuh istrinya, dia kecup kepala Melati dengan lembut, dia elus lengan atas Melati. Tak terasa, mata Ugi pun berkaca-kaca.
"Sabar...Setiap yang bernyawa pasti mati, begitupun dengan kita, suatu saat kita juga akan menyusul bapak. Kamu tenang, mas akan jagain kamu, lindungi kamu, sayangi kamu, sepeti bapak memperlakukan mu. Mas sangat menyayangimu dan mencintaimu sepenuh hati mas." kata Ugi.
"Huhuhuhu...." Melati masih terus menangis.
Hingga beberapa saat, Melati sudah tenang, lalu Melati melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Maaf ya mas." kata Melati sambil mengusap air matanya.
Ugi tersenyum, dan mengusap air mata Melati dengan tangannya dengan hati-hati.
"Kamu berhak menangis, luapkan semua aoa yang kamu rasa, mas siap mendengar nya. Jika kamu butuh sandaran, ada mas sekarang yang siap menjadikan tubuh mas untuk menjadi sandaran hatimu." kata Ugi sambil kembali menarik tubuh Melati ke dalam pelukannya.
"Terimakasih mas." kata Melati.
"Sama-sama." jawab Ugi.
"Ehm, apakah Melati mencintai Mas?" tanya Ugi masih dengan mengelus kepala Melati, dimana wajah Melati masih bersandar di dada Ugi.
Melati mengangguk.
"Mas adalah orang kedua yang hadir di hati Melati setelah bapak." kata Melati.
Ugi menegakkan tubuh Melati, dan menatap mata Melati. Ugi mencari kejujuran disudut mata istrinya. Dan sudah jelas, mata itu tulus mengatakan hal yang sama dengan bibir istrinya.
"Akupun sangat mencintaimu sayangku..." kata Ugi yang kemudian mendekatkan wajahnya kepada Melati, dia cium bibir ranum istrinya, lalu perlahan, Melati pun membuka mulutnya, sehingga lidah mereka bertemu. Ugi semakin beringas dengan respon istrinya. Lalu Ugi melepaskan ciumannya, karena mereka mulai ngos-ngosan, kehabisan oksigen.
"Maaf sayang. Apakah sayangku sudah siap?" tanya Ugi dengan wajah panik karena hasratnya sudah mulai memuncak.
Melati kembali mengangguk.
"Bismillahirrahmanirrahim." kata Ugi, lalu Ugi melepas kaosnya, dan dia mulai menggerayangi tubuh istrinya dengan beringas. Dia kecup seluruh tubuh Melati setelah dia menanggalkan seluruh pakaian Melati dan pakaiannya sendiri.
__ADS_1
Malam panas itu akhirnya terjadi, setelah beberapa hari mereka masih saling malu-malu dan sungkan. Malam itu Ugi dan Melati telah menjadi satu dalam blautan cinta yang suci.
Hingga bercak darah menjadi saksi atas percintaan mereka malam itu. Ugi memeluk erat istrinya dibawah selimut lebar berwarna jingga, hingga akhirnya mereka terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.