Seputih Melati

Seputih Melati
Transfusi Darah


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Dewa langsung menggendong Dirga yang sudah lemas ke ruang IGD. Para petugas jaga segera mengecek keadaan Dirga dan menanyakan keluhannya. Petugas IGD segera mengambil alat medis untuk melakukan tindakan, dan salah satunya mengambil Sempel darah.


"Ditunggu dulu ya pak." kata seorang perawat yang masih muda dan cantik, setelah mengambil Sempel darah Dirga dan memasang kan infus di tangan kirinya.


"Ya sus, terimakasih." kata Dewa dengan wajah cemas.


Dewa mengamati wajah Dirga yang masih menutup mata, memang sudah tiga hari ini Dirga panasnya naik turun, dan dia lebih banyak terfokus pada keadaan Dirga, sehingga Tsabita mungkin protes hingga seharian tadi dia rewel. Dewa sangat khawatir dengan keadaan Dirga tatkala Dirga mimisan siang tadi, dan dia mendengar dari tetangganya bahwa ada anak tetangga yang beda komplek dengannya juga terserang penyakit Demam Berdarah. Sehingga Dewa segera memutuskan untuk membawa Dirga ke IGD.


Satu jam menunggu hasil pemeriksaan, akhirnya sudah jelas bahwa Dirga terserang penyakit Demam Berdarah, yang mau tak mau Dirga harus di rawat inap. Dewapun segera menelpon Melati, untuk titip Tsabita hingga keadaan Dirga membaik.


"Maafkan ayah Jagoan. Dirga kuat ya nak. Kita harus kuat tanpa mama." batin Dewa sambil menatap iba putra sulungnya.


"Tsania Sayang... kenapa kamu harus pergi secepat ini? mas belum bisa melupakanmu. mas masih sangat mencintaimu. Banyak hal yang belum kita jalani bersama sayang. Banyak cita-cita kita yang belum kesampaian. Kau bilang, kalau kita akan rawat buah hati kita sama-sama. Tapi kenapa kamu pergi lebih dulu dan meninggalkan aku seorang diri? mas bener-bener butuh kamu sayang... mas butuh kamu..." tangis Dewa dalm hati.


"Dengan anak Dirgantara Putra Saghara?" tanya seoang dokter jaga berhasil membuyarkan lamunan Dewa.


"Ya dok. Saya ayahnya." jawab Dewa.


"Ini... dari hasil lab, trombosit putra bapak sangat rendah, hanya ada 80.000 mikroliter pak. Sehingga ananda harus segera di transfusi malam ini juga. Adakah golongan darah yang sama dengan putra bapak atau mungkin bapak sendiri?" tanya dokter.


"Golongan darahnya apa dok?" tanya Dewa.


"B resus positif pak." jawab dokter.


"Ehm, ternyata golongan darahnya sama dengan almahrumah mamanya dok. Saya AB." jawab Dewa lesu.


"Ehm, coba saya cek dulu ke bank Darah ya pak." kata Dokter Fandi selaku dokter jaga.


"Saya ada teman yang bertugas di PMI dok. Coba saya hubungi teman saya juga dok." kata Dewa.


"Oh, ya pak. Lebih baik begitu." jawab dokter Fandi.


"Coba saya telfon dulu ya dok." kata Dewa.


"Silakan pak." kata Dokter Fandi.


Dewapun menelpon sahabatnya yang bertugas di PMI.


"Halo bro, gue mau minta tolong nih bro." kata Dewa to the Point.


'Minta tolong apa?' tanya orang diseberang.


"Jagoan gue kena DB, dia butuh transfusi darah, di PMI ada golongan darah B resus positif ga? Soalnya yang segolongan darah sama dia itu almahrumah mamanya. Beda sama gue." kata Dewa.


'Oh, ya, coba gue tanyain temen gue dulu yang jaga malam. Ini kebetulan gue lagi ga di kantor soalnya.' jawab orang diseberang.


"Oh, okey. Gue tunggu secepatnya." kata Dewa.


Sambil menunggu jawaban, dokter Fandi meminta Dewa untuk mengisi beberapa berkas administrasi rumah sakit. Karena Dirga sudah dipastikan rawat inap.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, ponsel Dewa kembali berdering,


'Halo bro, alhamdulillah ada dua kantong bro. Malam ini juga akan diantar ke rumah sakit tempat jagoan lo dirawat. Di Rumah sakit mana?' tanya Orang di seberang.


"Rumah sakit PKU." jawab Dewa.


'Siap. Meluncur.'


"Okey, thank's."


Kemudian Dewa mengabarkan pada pihak rumah sakit. Dan tak berapa lama kemudian, ponsel Dewa berdering lagi.


'Posisi dimana bro?' tanya orang di seberang.


"Masih di IGD." jawab Dewa yang setia menemani Dirga di ruang IGD karena masih menunggu kamar rawat.


'Ok. Gue ke sana.'


Tak berapa lama kemudian pintu diketuk, dan muncullah sosok sahabatnya. Guntur.


"Hai bro. Gimana keadaan Dirga sekarang?" tanya Guntur.


"Ya seperti ini. Masih lemes. Belum mau melek." jawab Dewa.


"Hem... nyariin mamanya ga?" tanya Guntur sambil mengelus kepala jagoan sahabatnya.


"Oh... ya. Semoga ga rewel ya." kata Guntur.


"Dirga memang ga rewel. Tapi Tsabita yang rewel seharian tadi." kata Dewa sambil mengelus keningnya yang terasa pusing.


"Oya, terus si cantik sama siapa?" tanya Guntur baru sadar kalau sahabatnya sudah punya dua anak.


"Sama bunda PAUD yang biasa mengasuhnya." jawab Dewa.


"Oh... mau dia jagain anakmu malem-malem gini?"


"Mau, kebetulan dia masih single."


"Oh, kebetulan dong. Sikat aja, jadiin bini lo. gantiin Tsania." usul Guntur.


"Gila lo, kuburan bini gue aja belum kering, masa' iya gue mau nikah lagi? Suami macam apa gue?" sewot Dewa.


"Ya kan keadaan bro. Elo ngurusin dua bocil sendirian, ortu lo ga bisa bantuin lo, mertua lo juga ga bisa. Lo jauh dari sanak sodara lo. Mau bayar orang lo? Jadi PNS aja baru, gaji lo mending buat beli susu si cantik 'kan? Dah, mending kawin lagi aja lo." kata Guntur.


Dewa hanya menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan menanggapi kata-kata sahabatnya yang mantan play boy... eh, bukan cuma mantan, sekarang pun masih, bahkan kabarnya kalo sudah kaya, dia bakal poligami. Dasar emang si Guntur.


Belum sempat Guntur berkata lagi, ponselnya Guntur berdering. Tanda ada panggilan masuk.


"Halo Gi, ada apa?" tanya Guntur.

__ADS_1


'Dimana Bang? Ane ada di Rumah sakit nih. Katanya ente di sini juga?'


"Oh, ya. Gue masih di IGD. Nemenin temen gue."


'Ok. Ane ke sana.'


Tak berapa lama kemudian, orang itu juga datang ke IGD, menyusul Guntur.


"Assalamualaikum bang." Salamnya.


"Wa'alaikumsalam Gi. Sini lo. Udah beres ya yang nganterin darah?" tanya Guntur.


"Udah bang. Palingan bentar lagi dokter sama perawat nya kesini buat transfusi darah buat anaknya sahabat ente bang." kata Ugi. Ya. Ugi, teman dekat Guntur di PMI adalah Ugi. Ugi sudah seperti adik sendiri bagi Guntur. Dan Guntur juga sangat dekat dengan Dewa, karena mereka sahabatan saat di Jakarta. Saat mereka masih SMA.


"Oh. okey. Thank's ya bro." kata Guntur.


"Oya, kenalin, ini sahabat gue, namanya Dewa. Dia ini duda, beranak dua. Yang sakit ini yang gede, yang kecil di rumah." kata Guntur memperkenalkan Dewa kepada Ugi.


"Oh, ya mas. Salam kenal. Saya Ugi temennya bang Guntur." kata Ugi.


"Oh, ya. Senang berkenalan dengan mas Ugi." kata Dewa.


Saat baru berkenalan, Seorang dokter dengan didampingi seorang perawat datang, untuk memberikan transfusi darah untuk Dirga. Guntur dan Ugi keluar ruangan untuk menunggu. Sedangkan Dewa tetap diruangan untuk menjaga dan mendampingi putranya.


"Kasian ya bang, mas Dewa. Masih ganteng gitu udah duda. Emang istrinya kemana bang?" tanya Ugi saat mereka duduk di kursi tunggu.


"Istrinya udah duluan ke sorga. Pas ngelahirin anaknya yang kedua." jawab Guntur.


"Terus, mas Dewa ini ngurusin anak-anaknya sama siapa bang?" tanya Ugi.


"Sendiri lah. Masak sama selingkuhan nya? Dewa itu tipe orang yang susah jatuh cinta sama sembarang wanita. Sama kaya elo." kata Guntur sambil menunjuk Ugi.


"Lho? kok bawa-bawa ane sih bang?" tanya Ugi protes.


"Iya, kalian tu sama-sama bucin!" kata Guntur.


"Kok bisa?"


"Iya lah. Buktinya, setelah cewek bernama Maryam itu nikah, emang elo udah punya gebetan lagi? Udah tiga tahun lho, elo ngejomblo, padahal dulunya elo 'kan lumayan play boy juga kaya gue. Kenapa sekarang jadi kadal?"


"Kadal? Apa hubungannya sih bang?"


"Iya kadal. Kalo play boy itu buaya darat. Nah, elo sekarang kadal. Karena kalo liat cewek, elo sembunyi ga punya nyali."


"Ya ga gitu juga kali bang."


"Mau sampe kapan lo begini ha? Elo beneran mau nunggu cewek idaman lo itu menjanda? Jangan berharap sama Milik orang bro, ya kalo dia bakal menjada? kalo kebalikannya? Kaya nasibnya si Dewa? Suaminya yang justru menduda? Gimana coba?" tanya Guntur.


Ugi hanya diam membisu. Memang benar adanya, selama ini dia masih menjaga hatinya untuk Maryam. Gadis yang dia cintai sejak Masa di Aliyah. Sudah tiga tahun sejak pernikahan Maryam dengan laki-laki pilihannya, Ugi memilih sendiri tanpa mencari pengganti sosok Maryam. Ingatannya kembali pada sosok gadis ayu berjilbab lebar hang selalu ngomel-ngomel kalau dia sentuh tangannya. Ah, Maryam...dosa ga ya kalau Ugi bayangin wanita bersuami seperti sahabatnya itu?

__ADS_1


__ADS_2