
Di dalam mobil, bu Siti yang duduk sendiri di kursi belakang, masih tak habis pikir dengan suaminya yang meminta orang lain yang tak dikenal untuk menemani Melati. Widi terus mengemudikan mobil sambil bercakap dengan bapak mertuanya.
"Bah, laki-laki tadi itu siapa sih bah, kenapa abah titipkan Melati padanya, emang abah kenal sama dia?" tanya bu Siti.
"Bukannya tadi abah sudah bilang, dia itu temannya Melati." kata pak Wahid.
"Iya, umi tau. Tapi kenapa harus dia yang disuruh jagain Melati?"
"Lha terus siapa? Widi? Bisa-bisa Najwa ngamuk dong kalo Widi yang nemenin Melati." kata pak Wahid. Widi tersenyum mendengar kata-kata mertuanya, karena Widi tau betul sifat istrinya itu.
"Tapi kita 'kan ga kenal sama dia bah."
"Bukan ga kenal, tapi belum kenal." ralat pak Wahid.
"Terserah abah aja wis." bu Siti pasrah dengan bibir mengerucut karena kecewa dengan suaminya.
"Yang jelas, Kalau dari bahasa tubuhnya, Laki-laki tadi itu ada hubungan khusus dengan Melati umi. Sepertinya, dia pacarnya Melati, atau calon suaminya." kata Widi mencoba memberi pengertian.
"Pacar? Calon suami? Melati 'kan masih muda. Dia anak rumahan, masa' iya punya pacar?" bu Siti masih mendebat.
"Muda gimana to Mi? Melati itu umurnya sudah duapuluhan tahun, hal yang wajar kalau dia udah punya pacar atau calon suami." kata pak Wahid.
"Oh, iya ya. Aduh, umi pikir tu Melati masih kecil aja." kata bu Siti.
"Hem, makannya, up date dong mi." kelakar pak Wahid.
💞💞💞
Sepeninggal pak Wahid sekeluarga, Melati masih teduduk di kursi tunggu di depan ruang ICU sambil terus beristighfar dan melantunkan do'a-do'a terbaik untuk neneknya. Tentunya dengan air mata yang berlinang di wajah cantiknya.
Ugi yang duduk di sebelahnya, hanya mampu menatap gadis itu dengan miris. Hati nya pun ikut sakit saat melihat air bening keluar dari kedua mata gadis ayu itu. Ada keinginan dalam dirinya untuk memeluk gadis itu, berusaha mengurangi bebannya, dan memberikan tempat ternyaman untuknya disaat rapuh. Tetapi, Ugi kembali ingat akan pesan ustadz nya, bahwa dia tidak boleh bersentuhan dengan wanita lain yang bukan mahromnya. Ugi berusaha menjaga kehormatan gadis itu, dengan tetap bertahan di tempat duduknya, tanpa menggeser dan menyentuh bagian tubuh gadis itu sedikitpun.
"Keluarga ibu Sri Rejeki." panggil seorang perawat dari dalam ruang ICU.
"Saya cucunya sus." kata Melati sambil berdiri.
"Pasien sudah sadar, anda dipersilakan masuk." Kata Perawat bermata sipit.
"Alhamdulillah, terimakasih sus." kata Melati dengan menghapus air matanya dan tertarik bibirnya menampakkan sedikit senyum pengharapan di sana.
Saat Melati akan masuk, Ugi mengekor dibelakangnya.
"Melati, saya ikut ya." kata Ugi.
Melati hanya mengangguk.
Merekapun masuk ke dalam ruang penanganan, dan disana tampak selang-selang medis menancap di beberapa bagian tubuh nenek.
"Nenek..." sapa Melati sambil memeluk neneknya yang telah sadar dari komanya.
Nenek tersenyum melihat kedatangan Melati bersama Ugi di sana.
"Nek, ini Ugi. Nenek lekas membaik ya." kata Ugi sambil meraih tangan nenek dan menciumnya dengan takzim.
Nenek kembali tersenyum. Lalu tangan Melati yang memegang tangan nenek sebelah kiri didiletakkan di atas tangan Ugi yang masih memegang tangan kanan nenek.
Seketika, Ugi terperanjat dengan apa yang dilakukan nenek. Semenjak dia lulus kuliah, dan memutuskan untuk tidak pacaran lagi, Ugi merasa tubuhnya memanas dan gemetar saat tangannya bersentuhan dengan tangan Melati. Pun begitu dengan Melati yang terkejut dengan sikap nenek, dia belum pernah bersentuhan dengan Ugi, membuatnya merasa canggung dengan sikap neneknya. Namun dia memilih diam dan menurut dengan apa yang dilakukan nenek.
__ADS_1
"Nduk..." kata Nenek dengan suara sangat lemah.
"Ya nek...?" jawab Melati dengan bergetar, menahan tangis.
"Bersatulah... sama...nak Ugi..." kata nenek dengan nafas terengah.
Melati yang tadinya menatap nenek, menoleh kearah Ugi, laki-laki yang dimaksud Nenek.
Tampak, Ugi mengangguk. Kemudian, Melati juga mengangguk sambil sesenggukan menahan tangis.
"Iya nek... Melati akan menikah sama mas Ugi, seperti apa yang nenek mau." kata Melati.
"Se...ka...rang..." kata nenek.
"Hah? Sekarang?" Melati tak percaya dengan pernyataan nenek.
"Nenek meminta saya untuk menikahi Melati sekarang?" tanya Ugi lagi untuk memastikan.
Nenek Mengangguk.
"Ta...tapi nek..." kata Melati ragu.
"Baik nek. Saya akan menikahi Melati sekarang, saya siapkan syarat sah nya pernikahan dulu." jawab Ugi.
Lagi-lagi nenek menjawab dengan mengangguk dan tersenyum.
Ugi melepas tangan nenek dan Melati, lalu keluar dari ruang ICU, dengan maksud akan menelpon beberapa orang yang akan dimintai nya tolong menjadi saksi dan wali nikah Melati.
Kemudian Melati juga ijin keluar dari ruangan itu, menyusul Ugi. Nenek mengangguk dan tersenyum puas, disisa-sisa tenaganya.
"Mas." panggil Melati saat Ugi sedang sibuk mencari nama orang di ponselnya.
"Mas Ugi serius?"
"Iya."
"Tapi mendadak banget mas. Ini juga udah malem." kata Melati.
"Ga masalah. Yang penting nenek senang dan tenang." kata Ugi.
Melati berfikir, ada benarnya juga kata Ugi. Yang penting nenek senang dan tenang.
"Siapa walimu?" tanya Ugi.
"Wa Wali? Aku ga punya wali mas. Bapakku anak tunggal. Saudara kandungku laki-laki masih kecil, belum baligh." kata Melati tergagap.
"Yang bertanggung jawab atas kamu siapa?" tanya Ugi.
"Pak Wahid. Pak Wahid masih kerabat dari almarhum kakek." jawab Melati.
"Okey, kamu hubungi pak Wahid sekarang." perintah Ugi yang juga sedang sibuk dengan ponselnya.
"Mas..."
"Ya?
"Apa harus sekarang?" Melati masih ragu.
__ADS_1
"Iya."
"Nenek...sudah tidak ada harapan lagi." jawab Ugi.
Melati menggeleng, dia tidak percaya, tangisannya kembali pecah.
"Aku pinjam ponselmu." kata Ugi.
Melati menyerahkan ponselnya, lalu berlari ke dalam ruang ICU lagi untuk memeluk neneknya. Sejak kecil, Melati sangat menyayangi neneknya, meski neneknya seringkali melukai hatinya. Tetapi bagi Melati, nenek adalah sosok ibu yang senantiasa menemani hari-harinya selama ditinggal ibunya menjadi TKW.
Ugipun menelpon beberapa orang yang dirasa penting. Ugi menelpon pak Wahid sekeluarga. dan memberikan kabar terbaru, lalu Ugi menelpon sahabatnya, Ayub untuk mengajak serta bapak mertuanya untuk menyaksikan pernikahan mereka, agar mudah diproses untuk pernikahan resminya di KUA.
Sekitar satu jam menunggu orang-orang penting yang ditelpon, Ugi kembali teringat bahwa dirinya belum menyiapkan mas kawinnya. Lalu Ugi membuka isi dompetnya. Ada beberapa lembar uang disana dan sebuah cincin yang dia bawa kemana-mana. Cincin itu adalah cincin yang hendak dia berikan pada Maryam saat dia lulus wisuda waktu itu, tetapi sayangnya, Maryam sudah lebih dulu menerima pinangan orang lain, sehingga cincin itu masih dia simpan di dompetnya, untuk sekedar menyimpan cintanya.
"Nak Ugi, ini semua sudah lengkap?" tanya pak Wahid.
"Sudah pak."
"Mas kawinnya sudah ada belum?" tanya pak Wahid.
"Ehm, saya...saya cuma punya ini pak." kata Ugi memperlihatkan isi dompetnya, ada uang tunai yang dia bawa senilai dua ratus duapuluh dua ribu ruapiah.
"Ya sudah, itu saja jadikan mahar untuk pernikahan kalian." kata pak Wahid.
"Baik pak."
Ugi dan orang-orang yang ditelpon nya tadi bersiap masuk ke dalam ruang ICU, dengan didampingi beberapa perawat dan seorang dokter.
Melati duduk di samping hospital bad, dengan didampingi bu Siti. Bu Siti juga tak henti mengeluarkan air matanya, dia terus mengelus punggung Melati yang tak Henti menangis. Kedua adik Melati ikut serta di acara sakral itu didampingi Mas Widi. Ponsel Melati sudah siap Video call dengan ibunya, karena ibunya di tanah rantau juga ikut serta menjadi saksi.
Pak Wahid siap menjabat tangan Ugi, sebagai wali nikah Melati, sedangkan Widi, dan Ayub menjadi saksi nikah Mereka.
"Saudara Mugi Raharja bin Slamet." kata pak Wahid.
"Ya, saya." jawab Ugi tegang.
"Saya nikah kan dan saya kawinkan anda, dengan keponakan saya, Sekar Melati Sukma binti Wahyudi, denga mas kawin uang senilai dua ratus dua puluh dua ribu rupiah, dibayar tunai." kata pak Wahid.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sekar Melati Sukma binti Wahyudi dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai." kata Ugi lantang lancar tanpa cacat.
"Bagaimana, para saksi? Sah?" tanya pak Haji Karyo yang juga seorang Modin di desanya.
"Sah..." jawab semua orang yang hadir.
Setelah ikrar Suci dibacakan, Seketika Melati menoleh ke arah neneknya. Dan tampak neneknya tersenyum bahagia, Melati langsung mengecup tangan kanan neneknya dengan penuh khidmad.
"Nenek..." panggil Melati setelah mencium tangan neneknya, dia mendekatkan wajahnya pada wajah neneknya.
"Apa nenek bahagia?" tanya Melati dengan wajah penuh air mata.
Nenek mengangguk.
"Te...ri...ma...ka...sih." jawab nenek dengan nafas mulai tersengal.
Nafas nenek mulai tak beraturan, suara komputer mulai berbunyi, pertanda keadaan nenek sedang tidak baik-baik saja. Perawat dan dokter yang menjadi saksi, segera melakukan pemeriksaan dan penanganan.
Malam itu, adalah malam panjang bagi Melati. Tepat jam Sembilan malam, dia telah sah menjadi istri Ugi dan disaat yang bersamaan, dia juga kehilangan neneknya.
__ADS_1
"Nenek..." jerit Melati saat selimut ditutupkan pada wajah neneknya.