
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga." kata Ugi yang sudah sampai di kosan nya.
"Fiuh...kalo ga inget sahabat, wegah aku jemput ente jauh-jauh sambil hujan-hujanan Gi." keluh Bambang sahabatnya, sambil mengibaskan jas hujan yang dia kenakan tadi.
"Hehe, ya sorry, sorry. Ganggu waktunya. InshaaAllah nanti ane traktir di angkringan nya pak Paijo deh, bebas mau makan apa aja sesukamu." kata Ugi sambil memeras kaos oblongnya yang basah kuyub.
"Heleh, nraktir kok cuma di angkringane pak Paijo, ya kalo niat nraktir itu, sekali-kali diajak ke Kafe gitu, apa ke restoran gitu. Ini, cuma di angkringan." ejek Bambang.
"Yo, di syukuri to. Lumayan lho, minum susu rasa mbayar. Ya to?" kata Ugi sambil merangkul sahabatnya.
"Weleh weleh weleh, lumayan yo lumayan bro, tapi modusmu ngrangkul aku itu lho, bikin aku merinding...Kedinginan. Lha yo bajuku jadi ikutan basah to kalo begini!" omel Bambang lagi.
"Hahahaha... Sengaja. Kita 'kan sahabat, yo jiwa korsa to, yang satu basah, yo harus basah semua." goda Ugi lagi.
"Wegah!" tolak Bambang menjauh dari Ugi.
"Eh, tapi ya lumayan juga sih kalau di traktir. Hehehe, tau aja kalo isi dompetku tinggal nipis." kata Bambang meringis, yang teringat dengan isi dompetnya yang tinggal beberapa lembar uang dua ribuan dan limaribuan.
"Nah, iya to? Selain dapet pahala nolongin shabat, juga dapet rejeki buat isi perut to?" kata Ugi sambil menarik turunkan alisnya.
"Iyo, iyo." jawab Bambang.
"Eh, bro. Tapi ini motor siapa? Lha motormu mana?" tanya Bambang heran, karena tadi Ugi belum memberi penjelasan apa-apa padanya.
"Motor temen. Wis, nanti saja ceritanya, udah adzan maghrib tu, ayo sholat dulu." ajak Ugi sambil berjalan menuju kamar mereka masing-masing.
"Jadi penasaran lho aku..." keluh Bambang.
"Ditahan." jawab Ugi sambil memasukkan motor matic ke tempat parkir para orang yang ngekos di sana.
Ugi dan Bambang segera masuk kos Meraka masing-masing, untuk mandi dan ganti pakaian. Setelah segar, Ugi sudah siap dengan sarung dan baju koko nya berwarna biru, Ugi segera keluar dari kosnya, dan memanggil sahabatnya untuk berangkat ke mushola bersama.
Setelah sholat maghrib, Bambang yang sejak tadi masih penasaran dengan pemilik motor matic berwarna biru itu, terus bertanya pada Ugi.
"Gi, itu motor punya siapa?" tanya Bambang lagi.
"Santai aja kali bro, nanti juga aku ceritain. Aku laper banget ini, ayo kita makan dulu di angkringan Pak Paijo." ajak Ugi sambil merangkul pundak sahabatnya.
__ADS_1
Sesampainya di angkringan pak Paijo, seperti yang sudah dikatakan Ugi, Bambang yang memang sudah sangat lapar, langsung mengambil empat bungkus nasi kucing dan Dua mendoan dan bakwan. Serta memesan susu jahe rasa Mbayar tentunya.
Sedangkan Ugi, juga mengambil dua bungkus nasi kucing, dan satu mendoan dan bakwan, serta memesan teh panas tawar.
"Subhanallah, sohibku ini beneran laper apa kelaperan sih? Apa karena mumpung semua makanan disini rasa mbayar, sampe Ambil nasi kucing sebegitu banyaknya." kata Ugi terheran heran sampe geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang kalau dapet traktiran selalu mengambil kesempatan untuk mengenyangkan perutnya.
"Wealah. Lha piye to bro, katanya sesukaku mau makan apa aja bebas." kata Bambang sambil mengunyah, dengan mulutnya yang masih penuh dengan nasi yang tadi dia suapkan ke dalam mulutnya.
"Iya beneran. Tapi kok ya sebegitu banyak? Perut kecil begitu, apa cukup buat nampung masi kucing empat bungkus?" tanya Ugi.
"Jangan ka empat bungkus, Sepuluh bungkus nasi kucing aja dia kuat mas Gi." kelakar pak Paijo pemilik angkringan.
"Mosok to pak?" tanya Ugi keheranan.
"Asalkan rasa Mbayar Bro." jawab Bambang sambil terkekeh.
"Hahaha, ada ada aja kamu ni Mbang." kata Ugi sambil geleng-geleng kepala.
"Eh, bro. Ente belum cerita tentang pemilik motor itu. Penasaran banget ini, nanti kalau aku kekenyangan, terus mati penasaran gimana hayo?" kata Bambang sambil menggigit mendoan di tangan kirinya.
"Ih, Na'udzubillah. Emang ente mau mati sekarang?" tanya Ugi.
"Justru itu, karena ente masih jomblo, yang kehilangan ente cuma bapak ibu aja. Kalau udah nikah, kan repot ninggalin anak istri. Entar istri ente jadi janda, anak ente jadi yatim." kata Ugi lagi.
"Hem...iya juga ya?" sahut Bambang sambil setengah mikir dengan kepala menerawang ke tenda angkringan melihat cicak yang sedang berkejaran.
"Itu tadi, pas pulang dari kantor PMI, ane tadinya mau ada acara rapat koordinasi sama pengurus karangtaruna di daerah Alas karet, tapi, pas dijalan malah anengelihat ada akhwat, nuntun motornya, padahal hari udah mulai malam, mana langit gelap banget, mendung nya tebel, angin gede, dan bakal hujan lebat. Ya udah, ane nawarin bantuan aja buat dia. Ternyata bener dugaan ane, olinya telat diganti. Dan harus dibawa ke bengkel." kata Ugi menjelaskan.
"Terus, ente pinjemin motor ente gitu aja?" tanya Bambang yang tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya.
"Iya lah."
"Dasar Ugi... pasti tu akhwat cantik sampe ente rela minjemin motor, terus ente hujan-hujanan sama ane." kata Bambang.
"Ehm... cantik? Cantik itu relatif sih, kalo menurut ane... biasa aja tuh." kata Ugi sambil membayangkan gadis yang tadi sore ia tolongin.
"Masa'? Wajah gadis itu biasa kenapa ente rela basah kuyub begitu, sampe nuker motor segala lagi. ya kalo tu akhwat beneran orang butuh bantuan, kalo dia cuma modus, gimana hayo?" kata Bambang lagi.
__ADS_1
.
"Wallahu'alam. Ane cuma berusaha untuk berbuat baik aja kok." kata Ugi sambil menyapu habis nasi kucing di bungkus pertamanya, lalu membuka bungkus keduanya.
"Emang ente Mbang, kalau mau bantuin orang kudu liat cashingnya dulu. Ya parasnya, ya isi dompetnya, ya kerjaannya, pakaiannya. Nolong tu ya harusnya kaya mas Ugi, ga pandang bulu." komentar pak Paijo yang sedang membuatkan kopi untuk pelanggan lainnya.
"Ye...emang kucing mandang-mandang bulu segala. Yang ada bulu kuduk pak." kata Bambang horor.
Ugi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal menanggapi ocehan sahabatnya.
"Terus, ente kenal sama tu akhwat?" tanya Bambang lagi.
"Namanya Melati."
"Apa? Melati? Cakep juga namanya. Pasti orangnya cantik."
"Udha kubilang kan, Cantik itu relatif."
"Iya...iya. Karena hati ente udah terisi nama Maryam kan sebagai gadis cantiknya?" kata Bambang yang sudah tau kisah cinta Ugi.
"Ralat. Maryam bukan gadis cantik. Tapi wanita cantik. Karena dia sudah tidak gadis lagi. Dia udah punya anak." jawab Ugi yang dadanya kembali berdebar ketika nama yang dia rindu kembali hadir menyapa hatinya.
"Wo...dia udah punya anak?" tanya Bambang.
"Iya."
"Cowok apa cewek?"
"Cowok."
"Sabar ya bro, ane yakin, ente pasti bakal segera dapet penggantinya kok. Harus move on lah...masa' iya ente mau nunggu jandanya?" canda Bambang.
"Ya kalau jodoh ga kemana Mbang. Sulit buat ngelupain dia mbang." kata Ugi sambil menggigit bakwan dengan rasa yang berbeda. Ya, karena merica sudah berhasil menyelip di gigi gerahamnya membuat dia sedikit kepedasan.
"Hem, ya siapa tau, malah si pemilik matic biru ini jodohmu." kata Bambang lagi.
Seketika Ugi terkesiap dengan kata-kata sahabatnya.
__ADS_1
"Ah, masa' iya? Aku sama sekali ga ngerasain perasaan apapun pas ketemu dia." batin Ugi.
Merekapun melanjutkan makan mereka dengan sesekali mengobrol ringan sampai akhirnya empat bungkus nasi kucing Bambang berhasil masuk perutnya dengan leluasa, hingga mengeluarkan suara menggelegar dari mulutnya alias bersendawa. Kemudian mereka melanjutkan kegiatannya dengan menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim ke masjid. Sholat Isya'.