
Sudah satu bulan lamanya Melati menjalani rutinitas barunya menjadi seorang siswi di Sanggar Kegiatan Belajar dengan jadwal siang hingga sore, sekaligus menjadi pengasuh anak balita di sebuah Taman Penitipan Anak di pagi harinya. Dan selama itu pula, Melati menjalani kepadatan jadwalnya dengan suka cita, karena baginya, kini kebahagian nya adalah bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin dimasa mudanya.
Melati selalu ingat dengan pesan guru ngajinya yang senantiasa terngiang di telinga, suara khas itu, wajah tampan itu, dan nasehat-nasehat dari bibir yang tak pernah henti menebar senyuman, terutama untuk dirinya. Yang tak menyangka, guru ngajinya harus tutup usia dengan kejadian tak terduga. Pesan yang selalu terngiang dari Latif adalah tentang nasehat dari sebuah hadist. Lima perkara, sebelum datangnya lima perkara.
Sehat sebelum sakit, Muda sebelum tua, Kaya sebelum Miskin, Lapang, sebelum sempit dan Hidup sebelum Mati.
Sore itu, Melati sudah bersiap untuk pulang dari SKB, kebetulan hari ini pembelajarannya full sampai sore. Namun saat keluar dari ruangan, Melati melihat ke arah rumahnya, mendung gelap telah menyelimuti bumi tempat dia berpijak. Angin besar tak sepoy sepoy seperti siang tadi juga mulai membuat hatinya risau, karena tadi setelah pembelajaran Melati menghabiskan waktunya untuk berdiskusi dengan salah satu gurunya terkait pelajaran Fisika yang sempat membuatnya bingung.
"Allahuakbar..." gumam Melati saat akan melajukan motornya, namun tiba-tiba hembusan angin cukup kencang membuatnya mengurungkan niatnya untuk melaju.
"Mel, saya duluan ya." kata salah seorang teman sekelasnya.
"Oh, iya mbak." jawab Melati sambil melambaikan tangan.
Saat angin sudah cukup jinak, tak sekencang tadi, Melati mulai menyalakan mesin motornya.
"Bismillahirrahmanirrahim." ucap Melati sambil melajukan motornya keluar dari area parkir di SKB.
Motor Melati melaju menembus terpaan angin yang cukup kencang. Hingga tiba di area persawahan, yang cukup jauh dari pemukiman, tiba-tiba motornya mogok. Sepanjang jalan tadi Melati tak henti mengucap kalimat toyibah, karena rasa takutnya pada terpaan angin yang kencang. Hingga motornya berhenti mendadak, membuat jantungnya hampir berhenti mendadak juga, karena saking gusarnya dia. Melati sangat panik. Melihat mendung yang sangat gelap di hadapannya, dan angin yang juga cukup kencang berhembus menabrak tubuhnya yang kecil, mengibarkan ujung jilbabnya yang cukup lebar. Melatipun turun dari motornya, karena beberapa kali di stater tidak bisa menyala. Kemudian Melati mencoba untuk mendobel standar, lalu mencoba untuk menggenjot motor maticnya.
"Allahumma sholi'aal Muhammad. Yaa Allah, kenapa disaat cuaca kaya gini malah mogok sih? Aduh, gimana ini?" Melati semakin gundah. Sebenarnya jalan yang dia lewati ini adalah jalan raya, banyak lalu lalang kendaraan lewat, tetapi Melati tak berani meminta tolong pada sembarang orang.
Melatipun kemudian menurunkan motornya dari double standarnya, lalu menuntun motor matic nya dengan mencoba mengingat-ingat, kira-kira apa penyebab motornya mogok. Namun, saat Melati sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba sebuah motor legend berwarna hijau putih berjalan perlahan di dekatnya.
"Assalamualaikum ukhti, motornya kenapa?" tanya seorang laki-laki berbadan kurus tinggi, dengan helm vespa, dengan Outfit jaket jins biru dan celana outdoor, dengan kaos hitam dan sling bag yang menggantung di pundaknya.
"Eh, Ehm, Wa-Wa'alaikumsalam. Anu, ehm, ini mas. Mogok mas." jawab Melati tergugup karena saking kagetnya. Sekilas Melati menoleh ke arah laki-laki itu, lalu menunduk.
Laki-laki itu mengangguk, lalu melajukan motornya sedikit di depan motor Melati, lalu berhenti di depan Motor Melati. Laki-laki itupun berjalan menghampiri Melati.
"Ehm, maaf, boleh saya coba cek dulu?" tanya laki-laki itu ramah sambil menoleh ke arah Melati.
Melati yang merasa takut dan khawatir, dia hanya diam saja tanpa merespon. Sepertinya laki-laki ini paham dengan kondisi Melati dan apa yang sedang di fikirkan Melati.
"InshaaAllah, saya tidak ada niat jahat terhadap anda ukhti. Saya hanya ingin mencoba meringankan beban ukhti, karena cuaca gelap seperti ini, dan pasti sebentar lagi akan turun hujan lebat." kata Laki-laki itu dengan tersenyum.
"Oh, ehm...ya... Mas. Ma-maaf." kata Melati masih canggung.
Laki-laki itu tersenyum mendapati wajah gadis itu tertunduk malu dan merasa bersalah. Namun, belum sempat laki-laki itu mengecek motor Melati, hujan dengan butiran yang cukup besar telah turun secara keroyokan. Melati dan Laki-laki itu yang masih berada di tepi jalanan sawah, merasa panik dengan hadirnya hujan yang mulai lebat, karena suara gemuruh hujan dari arah depan sudah terdengar.
"Ukhti naik motor saya saja, ini kuncinya. Biar motor anda ini saya bawakan saja." kata Laki-laki itu sembari memberikan kunci motornya.
__ADS_1
"Eh, jangan mas. Mas nya nanti kehujanan." kata Melati menolak.
"Gapapa ukhti, udah sana, keburu hujan lebat. Ukhti segera naiki motor saya, dan tunggu saya di..." kata Laki-laki itu sambil mencari tempat berteduh yang paling dekat dari tempat mereka berdiri.
"Di sana." tunjuk laki-laki itu pada sebuah bangunan yang masih cukup jauh dari tempat mereka berdiri.
"Tapi mas..." Kata Melati yang masih mencoba untuk menolak.
"Sudahlah, ukhti langsung ke sana saja ya." pinta laki-laki itu lagi.
"Ehm...Di jok ada jas hujan mas, mas pake dulu aja ya." kata Melati yang juga mengkhawatirkan laki-laki itu.
"Okey." jawab laki-laki itu mengacungkan jempolnya.
Melatipun menerima kunci dari laki-laki baik itu, lalu mengontak motor legend milik orang itu, kemudian di genjotnya lalu melaju perlahan. Ya, motor legend memang tidak bisa ngebut bukan? Sehingga Melati yang nyamperin hujan, akhirnya basah kuyub juga. Diapun berhenti di bangunan yang tadi ditunjuk laki-laki tadi. Dia segera turun dan melihat ke arah laki-laki itu, yang sedang menuntun motornya yang mogok. Laki-laki itu tidak mengambil jas hujan dari motornya, sehingga dia kehujanan.
"Yaa Allah, lindungi mas nya itu. Lindungi saya juga ya Allah, semoga memang benar, mas nya itu orang baik." do'a Melati sambil kedua tangannya di lipat di depan dada menahan dingin.
Tak berapa lama kemudian, Laki-laki itu sudah sampai di tempat Melati berteduh.
"Ah...akhirnya sampai juga." kata laki-laki itu.
"Ya Ampun mas, kenapa jas hujan saya tidak dipakai?" tanya Melati.
"Ehm...ini motor, terakhir ganti oli kapan ukhti?" tanya laki-laki itu.
"Itu dia mas, kayaknya masalah oli deh, soalnya saya juga lupa, kapan terakhir kali saya gantiin oli, udah lama banget mas kayaknya." jawab Melati.
"Oh, ya coba saya cek ya." kata Laki-laki itu sambil mengecek bagian oli.
"Ehm... bener. Olinya sudah habis ukh. Harus dibawa ke bengkel kalau ini." kata Laki-laki itu.
"Oh, gitu ya? Ehm, bengkel deket sini mana ya mas?" tanya Melati dengan gusar.
"Tenang aja ukh, kebetulan saya ini punya temen yang kerja di bengkel. Kalau ukhti berkenan, ini motor ukhti saya bawa dulu ke bengkel, biar nanti saya dijemput teman saya. Nah, mending ukhti naik motor saya dulu aja untuk pulang. Karena ini sudah hampir malam ukh, bengkel mana-mana pasti sudah pada tutup. Apalagi cuaca hujan begini." kata Laki-laki itu memberi saran.
Melati tampak berfikir keras, dia benar-benar takut jika ini adalah sebuah kejahatan. Namun tampaknya laki-laki itu bisa membaca bahasa tubuh Melati.
"Saya Ugi. Nama lengkap saya, Mugi Raharja. Saya kerja di PMI kota ini." kata Ugi sambil menempelkan telapak tangan kanannya di dada kirinya sambil tersenyum.
Lalu Ugi merogoh sling bag nya, diapun mengambil sesuatu dari tasnya.
__ADS_1
"Ini kartu nama saya." kata Ugi menyodorkan kartu nama berwarna merah putih kepada Melati.
Melatipun menerima kartu nama itu dengan ragu-ragu.
"Ukhti namanya siapa?" tanya Ugi.
"Ehm...sa-saya... Melati. Sekar Melati Sukma." jawab Melati masih dengan menunduk, kedua tangannya memegang kertas kecil berwarna merah putih yang dia terima dari Laki-laki yang baru dikenalnya.
"Salam kenal ukhti. Nanti tolong ukhti hubungi saya ya, biar nanti saya save nomer ukhti, dan saya kabari jika motor ukhti sudah beres." kata Ugi sopan.
Melati berusaha untuk mencoba berprasangka baik terhadap laki-laki yang baru dikenalnya itu.
"Hujannya masih lebat banget, tunggu sampai reda saja ukh. Nanti jas hujan ukhti bisa dipakai saja, nanti saya gampang, saya akan hubungi teman saya untuk menjemput saya."kata Ugi.
"Ehm, tapi pasti merepotkan anda mas." kata Melati tak enak hati.
"Tidak ukhti. Yang penting ukhti aman. Kalau malam begini, ukhti nuntun motor sendirian, ditengah cuaca hujan seperti ini, justru sangat berbahaya. Akan banyak kejahatan yang mengintai ukhti." jelas Ugi.
Melati masih tampak berfikir.
"Saya punya adik perempuan juga ukhti, dia sedang kuliah di luar kota. Saya selalu berharap, adik saya di sana juga dipertemukan dengan orang-orang baik." kata Ugi sambil menatap hujan.
Melati menoleh ke arah Ugi.
"Ehm, sepertinya sudah lumayan reda ukh, silakan ukhti duluan saja, bawa motor saya." kata Ugi, lalu membuka jok motor Melati, lalu menyerahkan Jas hujan kepada Melati.
"Ini, ukhti pakai saja. Nanti ukhti sakit." kata Ugi sambil tersenyum.
"Ehm... Tapi..."
"Sudah, dipakai saja." kata Ugi.
"Te-Terimakasih mas." kata Melati.
"Yup, sama-sama."
Kemudian Melati menaiki motor Legend milik Ugi, dengan mengenakan jas hujannya, karena meski sudah cukup reda, tetapi hujannya masih lumayan membasahi pakaian jika jarak tempuhnya masih sekitar lima kilometer.
Setelah kepergian Melati, Ugi segera menghubungi temannya yang bekerja di bengkel. Setelah menunggu tigapuluh menitan, akhirnya Ugi dijemput juga oleh temannya, lalu motor Melati di gledek di bawa ke bengkel.
๐๐๐
__ADS_1
Buat yang sudah pernah membaca Novel Dede yang lain, mungkin tak asing dengan nama laki-laki baik ini kan?
Iya, bener banget, laki-laki baik ini ada di cerita Titip Dia Yaa Allah๐๐ buat yang belum baca novel Dede yang bersampul merah mudah itu, boleh kok mampir di sana, jangan lupa tinggalkan jejak... bukan jejaka lho ya... karena saya sudah bersuami dan dua jagoan...hehehe๐