Seputih Melati

Seputih Melati
Berhenti Sekolah


__ADS_3

Diruang rawat inap, Melati baru saja tiba, dengan diantarkan oleh perawat dan dokter jaga. Tak ketinggalan juga pak Dewa selaku orang yang dititipi bapaknya, selama bapaknya di ruang dokter.


"Jika nanti butuh bantuan mendesak, bisa langsung pencet tombol hijau ini ya pak. Dan ini ada beberapa fasilitas bisa dipakai, toiletnya di sebelah sana, serta kalau ada masalah infus, atau masalah dengan keadaan pasien. bisa langsung hubungi petugas yang berjaga. Ada pertanyaan?" kata perawat jaga yang mengantarkan Melati.


"Tidak ada sus, terimakasih." jawab pak Dewa ramah.


Sepeninggal perawat jaga, Melati di ruangan itu ditemani pak Dewa yang begitu perhatian dengan Melati.


"Untuk sementara, istirahat lah dulu, tidak perlu memikirkan urusan sekolah. Tadi sudah sarapan belum?" tanya pak Dewa.


"Belum pak." jawab Melati.


"Ini tadi, bapak beli makanan di depan rumah sakit, bapak rasa kamu membutuhkannya. Dimakan dulu ya." kata pak Dewa sambil meletakkan beberapa makanan dalam kresek plastik.


"Terimakasih pak." jawab Melati.


"Ehm, pak Dewa ga kembali ke sekolahan?" tanya Melati.


"Nanti saja, menunggu bapak mu sampai di sini." kata Pak Dewa.


"Oh..."


"Masih sakit tangannya?" tanya Pak Dewa menyentuh tangan Melati yang diinfus.


"Tidak pak."


"Masih lemes?"


"Iya pak." jawab Melati.


"Kalau kata dokter tadi, tangan kamu ini ga boleh banyak aktivitas. Ya begini jadinya kalau tanganmu terlalu kecapekan, jadi sakit, panas dan lemas." kata pak Dewa yang tadi sudah mendapatkan penjelasan dari dokter jaga.


"Iya pak." jawab Melati.


"Bapak suapin ya." kata pak Dewa menyuapi roti untuk Melati. Dan Melati menurut saja, karena memang dirinya sangat lapar, dan kedua tangannya sedang tak berdaya.


"Yaa Allah, kenapa kau timpakan penyakit seperti ini pada gadis seperti Melati? Kasihan dia, dia gadis baik, cerdas, pintar, dan sholehah." batin Dewa sambil menatap gadis yang dia suapi.


Tak berapa lama kemudian, pak Yudi datang.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, eh, bapak." kata Melati saat menyadari bapaknya datang.


"Lagi makan mbak?" tanya pak Yudi yang mengetahui Melati masih makan.


"Iya pak, ini tadi dibelikan pak guru" kata Melati.


"Terimakasih pak guru, sudah membelikan makanan untuk Melati." kata Pak Yudi.

__ADS_1


"Sama-sama pak." jawab pak Dewa.


"Ya sudah, kalau begitu, saya pamit dulu ya pak, saya masih harus kembali ke sekolahan." kata pak Dewa.


"Ehm, pak Guru. Begini, saya sekalian mau bicara pak." kata pak Yudi mendekati pak Dewa.


"Ya pak? Ada apa?" tanya pak Dewa.


"Begini pak, ini tadi saya berbincang sama dokter, dan ternyata, penyakit Melati ini sudah termasuk cukup serius pak, sehingga Melati disarankan dokter untuk berhenti sekolah dahulu, sampai tangannya benar-benar pulih. Karena mengingat kegiatan seorang pelajar adalah menulis, sedangkan menulis adalah kegiatan yang cukup berat bagi tangan Melati. " kata pak Yudi.


Seketika Melati terkejut dengan kabar yang disampaikan bapaknya, namun tidak dengan pak Dewa yang juga mengharapkan Melati untuk istirahat terlebih dahulu.


"Baik pak, nanti akan saya sampaikan ke pihak sekolah. Memang sebaiknya Melati fokus dengan kesehatannya dulu." kata pak Dewa sambil melihat ke arah Melati yang tampak kaget dengan wajah kecewa. Pak Dewapun kembali mendekati Melati.


"Jangan bersedih hati Melati, waktu untuk belajar masih panjang, kamu punya potensi. Belajar tak harus di sekolahan, dan umurmu juga masih muda, masih banyak kesempatan untukmu belajar nantinya. Yang terpenting sekarang adalah kesehatanmu, karena dengan kamu sehat. kamu akan mampu melakukan apapun yang kamu mau, termasuk belajar." kata Pak Dewa memotivasi.


"Kamu anak hebat, kamu pasti bisa meraih mimpimu, meski harus berhenti sekolah dahulu." kata pak Dewa menatap kedua mata Melati dengan penuh kepercayaan.


"Tapi..."


"Kamu bisa, pasti bisa. Semangat ya." kata pak Dewa lagi sambil memegang tangan kanan Melati.


Melati menatap pak Dewa, dan pak Dewa mengangguk, memberikan semangat padanya.


"InshaaAllah pak, do'akan Melati ya pak." kata Melati sendu.


"Ya sudah ya, bapak pamit dulu." kata pak Dewa lagi.


"Ya pak."


"Lekas sembuh ya." kata pak Dewa mengelus kepala Melati yabg berbalut jilbab putihnya.


"Aamiin. terimakasih pak."


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya pak." kata Melati.


"Ya." jawab pak Dewa sambil menyalami pak Yudi, lalu keluar dari kamarnya Melati.


Sepeninggal gurunya, Melati kembali disuapi bapak nya, dan dirawat bapaknya dengan penuh kasih sayang.


"Pak, adek-adek sama siapa?" tanya Melati.


"Mereka sama nenek. Tadi juga ditemani bu Imah." kata pak Yudi.


"Sudah ya, mbak Melati ga usah mikirin mereka. Mbak Melati fokus sama kesembuhan mbak Melati aja ya." nasehat pak Yudi.


"Ya pak." jawab Melati yang sebenarnya hatinya tak menentu yang terus memikirkan nasib adik adiknya.

__ADS_1


💞💞💞


Di sekolahan, pada jam istirahat


Satria dan Zia langsung ke ruang guru untuk mencari pak Dewa, mereka ingin mengetahui kabar Melati setelah Melati pingsan di halaman upacara tadi.


"Maaf Pak, Pak Dewa nya ada?" tanya Satria kepada pak Hendro, guru Bahasa Inggris.


"Pak Dewa... belum nampak tuh. Sepertinya belum kembali dari rumah sakit. Kenapa Satria?" tanya Pak Hendro yang juga sudah mengenal anak berkacamata si kutu buku itu.


"Hm... belum ya?" gumam Satria menoleh ke arah Zia.


"Kenapa memangnya?" tanya pak Hendro.


"Gapapa pak." jawab Satria yang kemudian akan pamit dari ruang guru.


Namun saat keduanya akan keluar dari ruang guru, tampak pak Dewa akan masuk keruang guru melalui pintu barat.


"Pak Dewa." panggil Satria yang kemudian berlari ke arah pak Dewa dan diikuti pula oleh Zia.


"Eh, Satria, Zia? Kalian kenapa ada di sini?" tanya pak Dewa.


"Bagaimana keadaan Melati pak?" tanya Satria to the poin. Dan Zia juga hanya diam dengan harap-harap cemas.


"Alhamdulillah, Melati sudah mendapat penanganan yang baik dari rumah sakit." jawab Dewa dengan senyum ramahnya.


"Tangannya pak?" tanya Melati.


"Tangannya... baru diobati juga." kata pak Dewa yang juga masih bingung harus menjawab apa.


"Tapi Melati masih tetap bisa sekolah kan pak?" tanya Satria.


Dan untuk pertanyaan Satria kali ini, Tenggorokan pak Dewa seperti tercekat. Pak Dewa tau, kedua orang dihadapannya adalah sahabat Melati, seorang Murid yang berhasil menarik hatinya. Sebenarnya, hati pak Dewa juga sangat sedih ketika mendengar kabar bahwa Melati harus berhenti sekolah, tetapi memang tidak ada jalan lain selain Melati harus berhenti dulu sekolahnya, karena ini demi kebaikan Melati.


"Pak?" panggil Satria lagi sambil menggoyang tangan pak Guru TIKnya.


Pak Dewa menggeleng, mulutnya terasa kelu untuk mengatakan yang sebenarnya. Dan seketika Satria melepas kan tangannya yang memegang tangan gurunya itu.


"Melati harus berhenti sekolah dulu, karena dia harus menjalani tetapi setiap dua pekan sekali, dan tangannya juga belum boleh untuk berkegiatan yang cukup berat seperti menulis." kata pak Dewa menjelaskan.


"Kalau hal itu tetap di lakukan, untuk kedepannya, akan mempengaruhi syaraf yang lain.


Seketika Satria dan Zia saling berpandangan, dengan wajah penuh kekecewaan. Kemudian mereka pun undur diri dari ruang guru.


💞💞💞


Maaf ya reader tercinta, Author baru bisa up. Qodarullah anak saya kemarin baru sakit, demam tinggi sampai kejang, sehingga ini baru bisa lanjutin. Alhamdulillah adek sudah sehat ...


mohon dukungannya selalu ya thor... jangan lupa tinggalkan jejak🙏

__ADS_1


__ADS_2