
Papa Hadi menarik kerah baju Afriadi, membawanya menjauh dari keramaian.
Satu Keluarga yang laki-laki turun tangan, membuntuti Papa Hadi. Takutnya akan terjadi kekerasan.
Para temu berdiri memanjangkan kepala mereka, kepo.
Salasiah berdiri, "Alama, habis sudah."
"Genit sih." Nana tidak berdiri ia duduk, memonyongkan mulutnya.
Hana mau lihat, tapi di tahan 2 Sohibnya.
"Tuh orang genit juga."
"Gawat Had," kata Sahril wajahnya serius, dengan kedua tangan yang mengepal saling di adu memberikan gambaran, "Papamu."
Hadi menyusul papanya.
Latika juga menyusul di ikuti Mama Hadi di belakangnya, anaknya Suni mau ikut lihat untung saja di tahan sama Suni.
Lily mau lihat juga tapi, di tahan sama Ari.
"Serahkan sama kami, biar kami yang selesaikan kalian di sini saja temani para tamu," kata Ari pada Keluarga besarnya.
Para Wanita di minta tinggal bersama anaknya, akan ada kekerasan tak baik untuk di lihat anak mereka.
"Ah, semuanya silahkan nikmati kembali pestannya. Ada urusan sebentar," kata Ari dengan mekropon, "Musiiiiiik, mainkan. Selamat menikmati pesta."
Ari berlari menyusul Papa Hadi setelah musik di mainkan.
"Apa yang mau kau lakukan, ha? Berani kau melecehkan anakku, di sini.
Cari mati ini orang.
Belum jadi Suami sudah seperti ini." Urat tegang Papa Hadi keluar, mencengkram kerah baju Afriadi.
Papa Hadi begitu peduli dengan Latika, sampai membela Latika yang di lecehkan sama Afriadi.
"Kamu kenapa begitu? Mau cari masalah dengan kami?" Salah seorang pria berkaca mata muncul, mencengkram kerah bahu Afriadi, tangannya sudah mengempal bersiap meninju wajah Afriadi.
"Beraninya kau lakukan itu pada Latika? Bosan hidup?"
Afriadi di kepung sama mereka.
"Dasar Pria hidung belang." Kakek Hadi muncul, menerobos masuk, tongkatnya mearah ke wajah Afriadi.
Afriadi berusaha tenang, kalau dia bertingkah sedikit saja bisa repot nantinya.
"Hiiii..." Papa Hadi mau meninju wajah Afriadi untung sempat di cegat Hadi.
"Pa, sudah Pa," kata Hadi menurunkan tangan Papanya, "Paman, Kakek sudah. Bicarakan baik-baik di dalam."
"Apanya yang mau di bicarakan?" sahut Ari.
"Ya, setidaknya masuk ke dalam lah. Jangan di depan Rumah apa kata tetangga nanti," kata Hadi.
"Hiiii..." Papa Hadi geram tangannya gatal sudah mau meninju wajah Afriadi.
"Om!" Latika meneriaki Papa Hadi yang sudah beraksi mau meninju wajah Afriadi.
Semua menoleh ke arah Latika.
"Menjauh Latika, biar Paman yang beri pelajaran pada dia," kata Mama Hadi menahan Latika yang ingin mendekat.
"Lebaskan Tan,
Afri tidak ada niat buruk, Ia melindungi Latika." Latika menunjuk bokongnya yang tertitup jaket Afriadi.
Mama Hadi langsung paham maksud Latika tanpa banyak tanya lagi. Toh, Mama Hadi kan wanita jadi ia tahulah walau lewat isarat.
"Pa Pa Pa..."
Mama Hadi membisikan hal tersebut. Papa Hadi mengedipkan matanya sama Mama Hadi, apa benar?
Mama Hadi meangguk yakin.
Para laki-laki yang mengepung Afriadi saling pandang satu sama lain.
"Astaghfirullah."
Segera Papa Hadi melepaskan cengkramannya.
"Maaf ya Nak."
Afriadi meangguk.
Semua mata tertuju pada Mama Hadi, minta jawaban.
"Urusan Wanitam," sembur Mama Hadi. Tak berkutip mereka jika menyangkut masalah wanita, paham-paham saja jika banyai tanya habis itu mulut di subat cabe rawit.
"Latika, cepat ikut bibi. Ganti pakaianmu," ajak Mama Hadi.
Latika mengikuti Mama Hadi, menganti pakaiannya.
Untung saja Latika cepat menjelaskan sama Mama Hadi kalau tidak, jadi perkedel Afriadi di keroyok Keluarga besar Hadi.
"Ahaha... Sekali lagi maaf ya nak." Papa Hadi tersenyum menepuk-nepuk bahu Afriadi.
Yang lainnya juga meinta maaf sebelum pergi.
Afriadi meangguk.
__ADS_1
Di balik senyum Papa Hadi, ada rasa malu yang mendalam. Batinnya berkata, "Aduh malu aku."
Tidak lama kemudian.
Afriadi duduk di ayunan jauh dari suasana pesta, menunggu Latika, rasa-rasanya ia ingin segera pergi dari sana.
"Oi, kenapa di sini? Ayo kesana," ajak Papa Hadi yang tiba-tiba muncul di belakang Afriadi.
"Tidak Om, di sini saja."
"Banyak nyamuk di sini. Ayo ke sana saja.
Maaf ya, kamu pasti masih malu gara-gara sikap Om tadi." Papa Hadi duduk di sebelah Afriadi.
"Tidak Om."
"Ha. Tidak di sangka Latika akan bertemu dengan dirimu. Hah, dulu dia kecil sekarang sudah besar.
Tidak terasa.
Apa lagi sekarang ia sudah punya pacar."
Afriadi tersenyum di balik Maskernya.
"Oh iya, umurmu berapa sekarang?"
"26"
"Oh, Bujang masih. Kerja apa?"
"Pengurus yayasan pendidikan SMA."
"Oh, Bagus juga.
Ada kerja sampingan?"
"Tidak. Hanya menginvestasi saja."
"Waw, beduit ini orang," batin Afriadi berkata.
"Umurmu dan Latika jauh berbeda. Apa Latika yang mengejarmu?"
"Em, bukan. Aku lah yang mengejarnya."
"Kenapa kau mengejarnya?"
"Entahlah, awlanya aku tidak begitu tertarik tapi lama-kelamaan aku mulai menyukainya. Cinta ada karena terbiasa."
"Latika sepertinya tidak pantas di sisimu. Dia terlalu spesial untuk dirimu."
Kata SPESIAL menunjukkan tingkat ekonomi Latika dengan Afriadi jauh berbeda.
"Aku tidak memandang Latika dari segi ekoniminya, yang kupandang adalah ahlaknya yang membuatku kagum."
Aku juga kagum dengan dia. Walau, Anak itu memiliki keunikan, Kau paham sendiri."
"Nanti setelah nikah," bisik Papa Hadi.
"Ehem... Kapan mau di ikat ini?" tanya Papa Hadi.
Afriadi tersenyum kaku di balik Masker, mereka sudah di ikat.
"Nanti undang ya." Papa Hadi menyenggol bahu Afriadi.
Tidak lama kemudian Latika keluar, mencari Afriadi. Ia bertanya dengan salah satu keluarga besar Hadi, dan katanya dia melihat Afriadi di halaman depan duduk di ayunan. Latika cepat pergi ke sana.
Yang benar saja ternyata dia benar ada di sana berama Papa Hadi dan Mama Hadi. Pantasan tadi waktu keluar dari kamar Mama Hadi sudah hilang. Latika menghampirinya.
"Sudah?" tanya Afriadi pada Latika yang mendekatinya.
Latika meangguk.
"Om, Tan kami pulang dulu," kata Afriadi menyalami Papa Hadi.
"Eh, cepat sekali.
Nanti saja," larang Mama Hadi.
"Hari sudah semakin malam."
"Iya, Ma tidak baik," ucap Papa Hadi.
"Kalau begitu Latika tidur di sini saja," usul Mama Hadi.
Langsung di tolak mentah sama Afriadi, "Tidak."
Cuy, kaget Mama dan Papa Hadi.
Cepat Latika mencari alasan, "Latika ada tugas sekolah yang belum selesai."
Langsung oh Mama dan Papa Hadi.
"Kami pamit pulang," sambung Latika.
"Assalamu'alaikum," salam mereka berdua sebelum pergi.
"Wa'alaikumssalam," jawab Orang Tua Hadi melambaikan tangan pada mereka berdua.
Latika dan Afriadi pergi menginggalkan Rumah itu.
Di perjalanan pulang Latika memainkan Ponselnya.
__ADS_1
Lampu merah.
Kendaraan berhenti.
Afriadi melepas maskernya yang terasa basah.
Kruuuk...
Perutnya demo minta makan.
"Lapar," guma hatinya.
Awalanya berjalan lancar.
Namun naas mereka bertemu seorang.
"Pak," panggil seseorang yang menganali Afriadi.
Latika menoleh ke samping, baru melihat sekilas siapa yang memanggil Afriadi cepat Latika memalingkan wajahnya, menyembunyikan wajahnya dari orang itu.
"Habislah. Pak Kamarudin," kata Latika dalam hati.
Afriadi melihat ke samping, matanya melotot lihat Kamarudin, terlihat berkendara dengan motornya.
"Masalah apa lagi ini," guma Afriadi. Latika menutup kaca helem.
"Eh, betullah Bapak. Dari mana Pak?" tanya kamarudin.
"Habis temai dia," jawab Afriadi.
"Oh. Pacar ya Pak. Tapi, kok gak asing ya." Kamarudin, memperhatikan Latika.
Kamarudin mencoba melihat wajah Latika, Latika berusaha menyembunyikan wajahnya.
"Lihat apa?" tegur Afriadi.
"Itu, Pak. Sepertinya saya kenal dengan cewek di belakang Bapak. Dia siapa Pak?"
Lampu hijau.
"Cepat pergi bang." Latika menepuk bahu Afriadi pelan, memintanya cepat pergi.
"Kekasihku," kata Afriadi sebelum pergi.
Kamarudin mau menyangah keburu Afriadi memacu motornya, pergi mengnggalkan Kamarudin.
"Eh, Pak," panggil Kamarudin, "Aduh gawat.
Aku terlalu banyak tanya."
Teet...
Klakson kendaraan lainnya meminta Kamarudin cepat jalankan motornya.
***
Sesampainya di Rumah.
Afriadi seperti zombi yang masuk ke Rumah siap makan siapa saja.
Ia duduk di sofa Ruang Tamu. Macam tak bernyawa lagi Afriadi, bengong. Banyak yang terjadi padanya malam itu.
"Dek." Afriadi menarik tangan Latika.
Wajahnya serius.
"Dek lapar."
"Eh." Latika kaget, di sana Afriadi tidak makan. Bagaimana mau makan mulut di tutup pakai Masker. E
"Mau makan," pinta Afriadi lemah.
"Mau makan apa?"
"Nasi goreng saja. Biar cepat."
"Tunggu ya." Latika cepat pergi ke Dapur
Afriadi meangguk, lemah.
Berapa menit kemudian.
Latika membawa nasi goreng satu piring besar.
"Harum." Afriadi mengendus bau nasi goreng
"Aduh, Banyak," kaget Afriadi lihat Nasi goreng di sajikan di depannya, "Banyak sekali Dek."
"Ha, iya ya. Kalau gitu Adek bantu habiskan."
"Iya."
Latika pergi ingin mengambil piring dan sendok.
"Mau ke mana dek?" tanya Afriadi menghentikan langkah Latika.
"Ambil piring dengan sendok."
"Tidak usah," larang Afriadi, menepuk-nepuk Sofa menyuruhnya duduk di sebelahnya. Tanpa di suruh dua kali Latika duduk di sampingnya, "Sini saja. Cukup 1 piring berdua. Adek dulu aaa..."
Latika menerima suapan dari Afriadi.
__ADS_1
Gantian-gantian yang suapnya kadang Latika yang menyuapi Afriadi, kadang Afriadi yang menyuapi Latika.