Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
Hantu di Sekolah 3


__ADS_3

Ini kisah hantu yang diceritakan Kodir.


Waktu itu sekitar habis maghrib Kodir mengunci semua ruangan dan sekalian patroli ketika Kodir ingin pulang Kodir mendengar suara langkah kaki, dan keresak-keresuk dari dalam gudang.


Kodir memeberanikan untuk memeriksa.


Suasana sepi, lengang. Suara angin terdengar berbisik di telinga Kodir, hawa dingin dapat ia rasakan.


Kepalanya celengak-celengok melihat gudang. Ketika Kodir melihat dari jendela. Melihat isi dalam gudang.


Tiba-tiba...


BAAA... Muka yang menyeramkan ada di hadapannya.


Kaki - kaki Kodir dibuatnya bergemetar, dan mati rasa, mau lari saja susah, kalian bayangkan saja kaki yang sudah gemetar ketakutan, mati rasa, di bawa berlari pula, berjalan saja susah terpatah-patah, apa lagi berlari.


Begitulah cerita hantu yang Kodir ceritakan pada anak murid lainnya, dan Latika mendengarnya dari Salasiah, di kantin tadi.


Menurut Latika yang nasip baiknya, untung tidak terkenjing dalam celana.


***


Hosh... Hosh... Napas hadi dan sahril tak beraturan, terhengah - hengah .


"Berhenti - berhenti dulu... Hosh..." Hadi menghentikan langkahnya, terduduk di lantai depan kelasnya, "Hantunya tidak mengejar lagi, dah... hosh..."


Sahril berhenti, menghepas dirinya duduk di sebelah Hadi, nafasnya tak beraturan.


tiba - tiba...


"Kyaaaa...


Adudududuhhh... Sakit... Sakit... Sakit... Sakit...," teriak Hadi, menahan sakitnya jeweran Nana.


Tangan Nana menjewer telinga Hadi dengan kuat, "Kenapa tinggalkan kami tadi, ha? Penakut betul jadi laki - laki itu." Nana seperti mak-mak memarahi anaknya yang bandel.


Hadi bangkit dari duduknya mengikuti jeweran Nana yang memaksanya naik.


"Ha’ah... Kenapa tinggalkan kami?." Salasiah datang menyetang mereka berdua.


"Kami kira kalian ikut kami lari juga." Sahril langsung berdiri dari duduknya.


Nana dan Salasiah memarahi Hadi dan Sahril, yang di marahi diam tak bisa komen.


Hana datang napas yang tidak beraturan meleraikan mereka berempat, "Udahlah lagi, jangan berdepat lagi."

__ADS_1


Salasiah dan Nana masih geram dengan 2 orang cowok ini, mulut mereka yang pedas tak henti menyebuti mereka berdua.


"Hana mana Latika?," tanya Nana pada Hana, melihat-lihat sekitar mereka.


"Ha’ah... Latika.


Mana latika Hana?." Salasiah ikut bertanya baru sadar kalau Latika tak ada bersama mereka.


"Aku tidak tahu, aku kira dia bersama. kalian?." Hana juga baru sadar kalau Latika tak ada bersama mereka, celengak-celengok melihat ke belakang Hadi dan Sahril tetap tidak ada.


'Tidak ada, dia tidak bersama kami." Salasiah mulai panik, melihat ke arah gudang, menduga kalau Latika tertinggal di sana, "Kalau begitu..."


"Kyaaaaaa... Tolongggg...," teriakan Latika terdengar oleh mereka.


"Latika..." serempak mereka menyebut nama Latika, melihat ke arah gudang.


Tampa tunggu lama lagi mereka segera berlari kembali ke gudang, bukan hanya mereka, Pak Kodir yang sedang berjalan menuju kantin mendengar teriakan Latika dan segera mencari asal suara itu.


Anak murid lainnya yang ada di sekitar sana malah kabur, dikiranya itu suara teriakan hantu.


Sedangkan Latika yang masih ketakutan melihat itu,itu yang keluar dari gudang, menutup matanya.


Latika memberanikan dirinya membuka mata, ketika ia membuka mata.


BAAA...


Menjulurkan tangannya.


AAAAAAA.... Teriakan Latika terdengar lagi di telinga mereka yang sedang menuju ke gudang.


Langkah mereka terhenti.


"Latika..." Hati Hadi memanggil Latika.


"Ha... Latika teriak lagi, jangan - jangan..." pikiran Salasiah sudah melayang menduga Latika kena tangkap hantu.


"Husss... Jangan bilang macam itu," kata Hana.


Hadi sudah lari dulu.


"Eh... Cepatlah kita tolong dia." Sahril mengikutinya dari belakang, di ikuti mereka bertiga dari belakang.


Mereka mempercepat langkah mereka.


***

__ADS_1


"Adek..." Afriadi tiba-tiba muncul di belakang sosok itu.


"Ha... Abang..." Latika segera berdiri, berlari melewati sosok itu, berlindung di belakang Afriadi, tangannya mencengkram kuat bahu dan lengan Afriadi.


"Hantu...," suara Latika pelan.


"Hantu, mana?," tanya Afriadi menoleh ke arah Latika.


Latika menunjuk ke arah dia.


"Dia..." Afriadi menunjuk ke arah dia sosok yang ada di hadapnya itu, Latika mengangguk mengiyakan.


"Ha... Saya???." sosok itu menujuk dirinya.


Tak lama datang teman Latika dan Kodir.


Baru datang mereka sudah mau kabur, keget melihat sosok itu yang melihat balik mereka. Salasiah sudah melangkah mundur, Hana menggenggam tangan Salasiah menahannya untuk kabur lagi. Mereka memberanikan diri untuk mendekat.


Kodir yang datang berlawanan arah dengan teman Latika, mendekati Afriadi bersembunyi di belakangnya, menepuk pelan bahu Afriadi, tangannya menunjuk sosok itu, "Ha... Pak, inilah dia hantunya pak."


"Latika..." Hadi menunjuk Latika yang berlindung di belakang Afriadi.


"Aaaa.. Hantu." Salasiah menutup matanya tak mau melihat sosok itu, menepuk bahu Sahril di depannya, bersiap mau kabur kapan saja.


"Masa hantu mijak tanah," guma Hadi berseru dalam hati.


"Em... Dia bukan hantu, dia manusia," kata Afriadi membuat mereka semua yang menyangka sosok itu hantu tercengang.


"Seriusan pak?," tanya Kodir di sebelahnya.


"Haduh... Neng, walaupun wajah saya begini, saya ini manusia, Neng," kata sosok itu.


"Dia pak wali," kata Afriadi menunjuk sosok itu yang bernama Wali, rupanya memang menjijikan di mata orang dengan rupa yang seperti itu sering di sangka hantu, karena dia dulu merupakan korban kebakaran, "Saya memintanya untuk membersihkan gudang-" perkataan Afriadi dipotong Kodir, "Semalam itu saya lihat Pak, dia ada di gudang waktu mangrib."


"Oh... Itu, waktu itu saya hanya ke sini sebentar, ya... Saya juga takut awalnya, makanya saya mengintai di jendela, tidak tahunya anda juga ada di jendela, jantung saya hampir copot semalam," sahut wali.


"Jadi tadi yang kain putih dan tengkorak berdarah itu?," tanya Latika tetap berlindung di belakang Afriadi.


"Ah... Itu, tadi tidak sengaja bapak ini mejatuhkan, patung itu, jadi saya angkat...," kata Wali tapi, tak di dengarkan Latika kalimat akhirnya.


"Jadi Abang... Eh... Maksudnya Bapak kenapa bisa ada di sini?," tanya Latika dengan intonasi suara yang rendah.


"Latika tadi kenapa sebut abang." Kodir berkata dalam hati, ia mendengar kata Latika tadi.


"Oh... Itu... Tidak ada apa - apa hanya melihat kerja dia saja..." Afriadi menjawab ringan.

__ADS_1


Ternyata ini hanya kesalah pahaman saja, Latika dan lainnya meminta maaf karena telah menyangka dia hantu.


"Em... Dek bisa dilepas cengkramannya, nyeri nih," bisik Afriadi membuat Latika terkejut dan segera melepaskan cengkramannya.


__ADS_2