
Selesai makan.
Latika menghantarkan piring ke dapur.
Afriadi mengambil air minum, matanya melirik Latika yang tengah memikirkan sesuatu.
Batin Latika berkata, "Seperti ada yang terlupa. Tapi, apa ya?"
"Kenapa Dek?" tanya
Afriadi meletakkan gelas di meja.
Latika menggelang.
"Oh, ya sudah, tidur lagi yuk sudah malam betul ini," ajak Afriadi.
Latika mengikuti Afriadi dari belakang, Afriadi mematikan lampu-lampu di ruangan tertentu.
Ketika sampai di depan kamar saat mau pisah.
Tiba-tiba saja Latika terperanjat kaget.
"Astaghfirullah." Mata Latika melihat ke depan.
"Ada apa Dek?" tanya Afriadi. Ia kira Latika lihat sesuatu.
"Banga." Wajah Latika serius.
"Ye."
"Adek lupa mengkerjakan pr akutansi. Besok lagi di antarnya."
"Kenapa siang tadi tidak di kerjakan?"
"Adek lupa." Latika kaku.
"Mana pr-nya. Sini Abang bantu."
"Tak boleh, yang diberikan tugas itu Adek, bukan Abang. Abang istirahat dulu saja."
"Banyak kah tugasnya?"
"Lumayan."
"Hah, sama saja banyak. Abang batu tujukan caranya. Mana pr-nya?" Afriadi masuk ke kamar Latika.
"Hem, di mana bukunya.
Ayo kerjakam sama-sama biar cepat selesai dan cepat tidur.
Sudah hampir jam 11.
Ayo mana bukunya." Afriadi mengeledah meja belajar Latika. Ia menukan buku Akuntansi Latika.
Afriadi berjalan menuju tempat tidur sebelum naik ia menepuk-nepuk berberapa kali kasur Latika. Lalu naik ke tempat tidur.
"Maaf merepotkan Abang." Latika ikut naik membawa peralatan belajarnya.
Afriadi meriksa buku Latika, "Tidak masalah. Jadi hanya menyambung latihan kemaren."
"Iya."
"Yang harus di buat laporan laga rugi, laporan perubahan modal, neraca. Hanya tiga ini?"
"Iya."
"Oke." Afriadi meletak buku di atas tempat tidur.
"Apa yang di buat dulu?" tanya Afriadi pada Latika, meambil guling memeluknya.
"Cari pendapatan," jawab Latika.
"Kotak dulu Dek. Buat kotaknya. Setelah itu nama perusahaannya apa?
Taruh di atas."
"Setelah itu di bawahnya laporan laba rugi, kan." Latika menyambung.
"Di bawanya lagi, untuk periode berakhir. Kapan?"
"31 desember."
"Terus."
"Akun yang di perhitungkan dalam laba rugi."
"Apa saja?" tanya Afriadi
"Pendapatan dan beban."
"Em..." Afriadi meangguk.
Menit demi berlalu.
Satu persatu, tugas dapat di selesaikan. Tinggal neraca saja lagi. Mata Afriadi sudah tinggal berapa watt saja lagi
"Em, begini," guma Latika hampir selesai dengan tugasnya.
Jam sudah menujukan pukul 11 lewat.
Afriadi tidak kuat lagi menahan kantuknya, buku yang ia pegang terjatuh perlahan dari tangannya.
Mata Latika juga sudah berat.
"Ye~~~ Selesai. Hooo..." Latika menguap. Akhirnya ia selesai juga dengan tugasnya.
Dia melihat Afriadi tidur terduduk memeluk bantal guling. Olo, lucunya gaya tidur Afriadi persis baby. Latika geram mau cubit itu pipi, tapi ia tak tega nanti membangunkan Afriadi.
Latika mengemasi peratan belajarnya, lalu menumbangkan tubuh Afriadi, menarik selimut, menyelimuti Afriadi.
Melihat Afriadi baring Latika ikut baring du sebelahnya, ia menatap lamat-lamat wajah Afriadi wajah pria yang kelelahan.
Tidak lama ia memejamkan mata ikut tertidur.
***
Subuh menjelang.
Mata Afriadi terbuka perlahan.
Cahaya lampu kamar yang tak di matikan Latika membuatnya matanya silau.
Perlahan ia bangun, tak sengaja ia tersentuh tangan Latika.
"Hem, Adek." Matanya sipit melihat Latika di sampingnya.
"Sejak kapan aku ada di sini?" tanyanya dalam hati, memperhatikan Latika.
Tangannya bergerak mengelus pipi yang mulus itu.
"Mochi," gumanya seraya mencubit pipi Latika.
"Lembut. Kalau di cium pasti-"
Plaaak ...
Afriadi menampar pipinya sendiri.
"Jagan pikir yang macam-macam Af. Masih sekolah," kata batinya mengomeli dirinya sendiri.
"Dek, bangun. Sudah Azan. Dek, bangun." Suara Afriadi lembut membangunkam Latika. Namun
Latika tidak bangun juga ia masih malas malasan membuka matanya.
"Dek, bangun Dek." Suara Afriadi mulai berubah.
"5 menit," tawar Latika pindah posisi tidurnya.
"Hem... 5 menit. Bangun sekarang atau sebelum Abang ambil tindakan," ancam Afriadi.
Mata Latika langsung melek, bangun, Menatap Afriadi.
"Bangun juga akhirnya. Yuklah Sholat," ajak Afriadi.
"Adek tidak boleh." Latika kembali menumbangkan dirinya setelah mengatakan kalau dirinya halangan.
"Ups, Abang lupa." Afriadi benar-benar lupa soal itu.
***
Berkat Afriadi membantu Latika mengerjakan pr-nya, nilai latihannya dapat yang terbaik.
Di kantor Afriadi.
"Kau tenang ya Viana.
Aku segera ke sana.
Kau di mana sekarang?"
Afriadi mendapat telpon dari Viana
Ekpresi wajanya tegang sekali saat bicara dengan Viana.
Suara isakan tangisan Viana terdengar di dalam ponsel. Apa yang terjadi dengan Viana? Kenapa dia menangis?
Afriadi memutus panggilan.
Tanpa pikir panjang Afriadi langsung pergi menuju Rumah Sakit bbb.
Saat sampai di tempat tujuan, ia bertanya pada perawat minta tunjukkan di mana ia bisa menemukan korban kecelakaan pagi tadi, Prawat itu menujukkan tempatnya.
Langkah Afriadi panjang berlari menuju tempat yang di tunjuk Perawat tadi.
Langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita menangis di luar Ruangan Oprasi. Wanita itu kelihata tak asinh di matanya.
Afriadi mendekati Wanita itu.
"Viana," panggil Afriadi.
Viana meangkat wajahnya, melihat siapa yang memanggilnya. Afriadi duduk di sebelahnya.
"Sabar Vi, dia akan baik-baik saja."
"Af, dia Af dia. Hiks..."
"Tenang Viana. Tidak akan terjadi apa-apa dengan dia. Insya Allah, dia akan baik-baik saja." Afriadi menenangkan Viana.
Tidak lama Qilan datang.
"Vi, apa kau baik-baik saja?" Qilan lari tergesah-gesah menghampiri mereka, "Bagaimana keadaan dia?"
Qilan mendapat kabar dari Afriadi, tadi waktu di perjalanan Qilan menelpon Afriadi, awalnya ia mau meminjam leptop Afriadi sebab leptopnya rusak, jadinya ia tahu mengenai Nandi.
Cepat Qilan berangkat menaiki Taksi menuju tempat tujuan.
__ADS_1
"Lagi di tangani dokter," jawab Afriadi.
"Oh, Kok, bisa Vi?" tanya Qilan. Banyak tanya.
"Itu..." Viana menceritakan hal yang terjadi dengan dia.
Kemarin, di bandara Viana dan dia baru saja kembali, lalu hari ini dia mengajak Viana ketemu, Viana mau-mau saja. Mereka berjanji temuan di caffe dekat Apartemen Viana.
Viana menunggu sekian lama, sampai 1 jam ia menunggu.
Tiba-tiba datang telpon dari dia, tapi suaranya berbeda ternyata orang lain yang memberikan kabar kalau dia mengalami kecelakaan mobil.
Sontak Viana terkejut, dan langsung pergi menuju Rumah Sakit tempat di mana dia di bawa.
Karena panik ia menelpon Afriadi, lalu keluarganya yang berada di luar kota.
Sekarang dia terbaring di Ruang Oprasi.
"Af, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Viana, nada suaranya gemetar.
"Insya Allah dia akan baik-baik saja." Afriadi menjawab.
"Iya, Vi. Mas Nandi orang yang kuat, dia pasti bisa bertahan." Qilan meyakinkan Viana.
Nandi nama Tunangan Viana. Pria yang sedang terbaring di Ruang Oprasi.
***
Sedangkan di Sekolah, Latika bisa bercanda lagi dengan teman-temannya, ia bisa dekat lagi dengan mereka.
Sekarang mereka di Kantin, biasa isi perut sudah jam istirahat kedua perut pada demo semua.
"Eh, Latika. Mas Afri itu orangnya pendingin ya," kata Nana menyumbat mulutnya dengan bakso.
"Tidak tuh." Latika menggeleng sambil mengunyah makanan.
"Apa pula tidak. Kami bicara dengan dia, di kacangi," sahut Salasiah.
"Iya. Kau jumpa di mana dia?" Hana ikut-ikutan juga.
"Ha'ah, jumpa di mana kau?" tanya Hana.
"Di kutup utara," jawab Nana namun dia kagumi juga si Afri, "Tapi, orangnya romantis juga, boleh lah."
"Iya, iri aku. Pacar aku saja tidak seperti itu." Salasiah mengkagumi Afriadi juga.
"Ngomong-ngomong Pak kepsek tidak kelihatan selepas keluar dari Kelas 11 A," kata Nana melihat-lihat sekitar.
"Iya." Hana menyengir.
"Abang ke mana?" tanya batin Latika, tangannya meaduk-aduk makanan.
Waktu berlalu begitu saja.
Jam sudah menunjukan pukul 13:15 siang.
"Adek." Afriadi tiba-tiba teringat pada Latika.
"Sudah pulang ini." Ia melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kirim pesan saja."
Afriadi mengetik kayboard ponselnya, membuat pesan, lalu di kirimnya pada Latika.
Triing...
Pesan masuk ke ponsel Latika.
Latika yang masih berada di perjalanan pulang, melihat pesan tersebut.
"Dari Abang," guma batin latika, membaca isi pesan.
—————————————————————
La**
Dek, Abang pulang lambat hari ini.
Abang lagi di Rumah Sakit, temani Viana tunangannya mengalami kecelakaan.
—————————————————————
Alama, itu nama kontak Afriadi di ponsel Latika. Hohoho.. emang Afriadi di jual di toko klontong Latika? ^∆^
Mata Latika membulat setelah baca pesan dari Afriadi, menepuk pelan bahu Mas Samsul, "Mas Mas Mas.."
"Ada apa Non?"
"Mas, kita ke Rumah Sakit bbb."
"Kenapa ke sana Non?"
"Ke sana saja Mas, cepat."
"Oke. Oke Non."
Latika yang ingin pulang ke Rumah memgubah tempat tujuannya ke Rumah Sakit, ia langsung menuju ke sana.
Saat sampai di sana.
"Kak Viana!" panggil Latika.
Mereka kaget dengar suara Latika. Kenapa dia ke sini?
Latika berlari ke arah Viana.
"Tenang kak." Latika megusap lembut punggung Viana.
Tidak lama Dokter keluar.
Mereka segera berdiri menghampiri Dokter.
Kabar baik yang di berikan Dokter. Mas Nandi calon Suami Viana, berhasil melewati masa keritisnya.
Sujud syukur Viana atas keselamatan calon Suaminya
Viana memeluk Latika dengan erat.
Ia bahagia.
Jam berlalu.
Hari mulai Sore.
Hasan datang menjenguk Nandi.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Hasan pada mereka nafasnya tak berturan habis lari.
"Alhamdulillah, sudah lewat masa keritis," jawab Afriadi.
Hasan duduk di dekat Afriadi, "Alhamdulillah, pasti Nandi banyak kehilangan darah, dan sulit cari golongan darah O."
"Tentu saja sulit, apalagi Runah Sakit ini tak punya stok darah O."
"Jadi?"
Afriadi menceritakan pihak Rumah Sakit sudah menghubungi cabang Rumah Sakit lainnya, meminta stok darah. Mereka kehabisan stok darah O. Untung saja Qilan golongan darahnya O jadi ia mendonorkan darahnya untuk Nandi. Syukurlah berkat pengorbanan Qilan Oprasi berjalan lancar dan sekarang Qilan lagi istirahat.
"Kalau gitu aku mau lihat Qilan. Temani aku yuk." Hasan berdiri mau menemui Qilan.
Afriadi memonyongkan bibirnya, menunjuk seseorang di belakang Hasan.
Hasan menoleh melihat siapa yang Afriadi tunjuk.
"Huh." Hasan kaget mengusap dada lihat Qilan muncul di belakangnya, wajahnya pucat persis mayat hidup.
"Qilan, are you oke?" tanya Hasan.
Lemah Qilan mengajukan jempol, "Apa dia baik-baik saja?"
Afriadi meangguk.
"Di mana Viana?" tanya Qilan lagi.
"Di dalam sama Latika," jawab Afriadi.
"Loh, kok mereka bisa di dalam. Bukanya-"
Afriadi memotong kalimat Hasan, "Namanya juga Viana, kau pahamlah. Dokter saja sanggup ia tentang, padahal belum boleh masuk itu."
Hasan meangguk ia tahu sifat Viana macam mana, dengan kemampuan debat mengalahkan orang-orang di atasnya.
"Kenapa Latika ikut-ikutan juga masuk ke dalam?" Qilan duduk di samping Afriadi.
"Ia menjaga Viana, takunya nanti Viana emosi lagi lihat Nandi."
"Ooooh..." Panjang Oh Qilan.
"Ayo masuk. Aku mau lihat," ajak Qilan.
"Aku di sini saja. Jangan masuk banyak-banyak," larang Afriadi.
Sedangkan di dalam.
Tangan Nandi bergerak, Mata Nandi mulai terbuka.
Latika yang melihat menepuk bahu Viana, memveritahunya. Viana kaget, ia gembira cepat keluar teriak memanggil dokter. Namanya juga Viana gitulah, heboh Rumah Sakit bikinnya.
Tiga sohibnya sampai keget dengan kemunculan Viana yang tiba-tiba pangsung teriak panggil Dokter.
***
"Heeem...
Di mana Aku?" Nandi melihat sekelilingnya, rada-rasanya pandangannya masih kabur.
"Ah, Mas. Syukurlah Mas sadar." Latika mendekat.
Nandi meamati Latika, ia tak kenal dengan Latika.
"Kam-" kalimat Nandi terpotong dengan kehadiran Dokter dan perawat.
Dokter dan Perawat sibuk menjalankan pekerjaannya.
Latika tersenyum, mundur membiarkan Dokter meriksa Nandi.
***
Sekitar jam Limaan sore.
Viana menangis tersedu-sedu duduk di sebelah Nandi.
"Viana." Nandi masih lemah meraih tangan Viana, tangannya yang berinfus itu mengusap tangan Viana menenangkannya, "Jangan nangis Vi, aku baik-baik saja."
"Baik-baik bagaimana? Bukan Mas kecelakaan! Sudah berapa kali Vi bilang hati-hati! Mas sih tidak hati-hati!
__ADS_1
Jadi begini kan jadinya!"
"Af, tolong." Nandi minta bantuan tenangkan Viana.
Mas Nandi dimarah Viana habis-habisan, baru sadar sudah dapat hadiah dari calon Istri.
"Vi-" Afriadi menghentikan kalimatnya, ia dapat pelototan dari Viana.
"Kak Viana.
Kasihan Masnya dimarahi.
Dia baru sadar."
Nandi meangguk pelan setuju dengan Latika.
Qilan menangapi Latika, "Haha, betul itu, Vi."
"Jangan marah-marah Vi.
Lekas tua nanti.
Nanti Mas Nandi pergi cari yang lain," goda Hasan, menyerngir.
Viana melototi Qilan dan Hasan.
2 laki-laki tidak berkutip setelah di pelototi Viana.
Afriadi, Latika, dan Nandi hanya menahan tawa melihat itu.
"Siapa gadis itu?"
"Dia istrinya Afriadi," jawab Viana.
"Oh, cantik juga."
"Ehem..." Viana berdehem, tangannya sudah siap mau menjewer telinga Nandi.
Tangan Viana sudah siap untuk menjewer kuping Nandi.
"Tapi, di sampingku ini lebih cantik dan imut." Nandi merayu Viana.
"Bohong." Viana menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona.
Tidak lama keluarga Nandi datang dari luar Kota. Mereka terkejut saat dapat kabar dari Viana kalau Nandi kecelakaan Ibu Nandi sampai pingsan dapat kabar dari Viana, kulang kabut keluarga Nandi mana yang harus di urus Nandi atau Ibunya, terpaksa mereka menunggu Ibu Nandi samapai sadar dan menunggu Papa Anan pulang beserta keluarganya untuk pergi ke Kota.
Ketika mereka keluar dari Rumah Sakit langit sudah gelap.
"Af, antar aku pulang," pinta Qilan saat Afriadi mau meambil Mobilnya.
"Pulang sendiri kenapa," suruh Afriadi.
"Aduh Af, aku tadi ke sini tergesa-gesa mobilku tinggal di Rumah tidak kubawa, aku ke sini naik taksi."
"Ikut dengan aku saja." Hasan tiba-tiba muncul di belakang Qilan. Dia juga mau pulang.
"Anatar aku pulang." Mata Qilan menatap Hasan penuh harapan.
Hasan menyengir, "Kantor polisi. Mau?"
Cepat Qilan menggeleng, "Tidak."
"Ajak saja Bang. Kasihan Mas Qilan.
Sudah malam begini," kata Latika mengedipkan beberapa kali matanya sambil tersenyum.
"Betul itu. Kita sudah lama berteman, apa salahnya juga antar aku pulang."
Afriadi menghela nafas, "Ya udahlah. Ayo ikut."
Akhirnya mereka pulang bersama. Qilan ikut bersama mereka.
Hasan kembali ke kantor polisi ia tugas malam ini.
Selama perjalanan.
Latika duduk di sebelah Afriadi ia tertidur, Afriadi tersenyum tipis melihat Latika tidur, Qilan di belakang menatap ke luar jendela.
"Af, sekarang umur Latika berapa?" tanya Qilan tiba-tiba.
"18 tahun mungkin."
"Sudah pas itu buat KTP.
Kapan di urus?"
"Rencananya liburan ini."
"Oh, urus lagi cepat.
Surat nikahya. Biar cepat bisa ehem..."
Afriadi menggeleng pelan, apalah yang ada di pikiran temannya.
"Bukanlah Af, takutnya nanti ada apa-apa.
Apalagi orang-orang belum tahu kalau status kalian Suami Istri, takutnya nanti timbul finah lagi."
Afriadi tersenyum tipis, sampai juga temanya pikir ke situ biasanya sulit kalau di ajak bicara ke sana, "Nantilah aku urus."
Suasana jadi hening.
"Af, kalau di lihat sekarang kau banyak berubah. Apa karena dia?"
"Ya, dia yang membuatku berubah."
"Dia yang menumbuhkan rasa cintamu lagi, yang bertahun-tahun mati, tidak kenal dengan rasanya cinta."
Kejadian 5 tahun lalu kecelakaan maut yang merengut nyawa Keluarga Besarnya. Oh, bukan itu tepatnya berapa bulan kemudian setelah kejadian itu ia di tinggal pergi oleh seorang yang berharga baginya, Naila.
Naila, sosok wanita yang dulu hadir dalam kehidupan Afriadi, meninggalkan kenangan yang sangat berkesan bagi Afriadi. Dia juga membantu Afriadi dalam masalahnya,
selama satu berbulan bulan Naila sering berkunjung melihat keadaannya dan memberi warna kembali di hidupnya.
Selama itu Afriadi menaruh rasa padanya, mulai ada rasa di antara mereka. Ketika mereka saling mengetahui kalau mereka saling menyukai satu sama lain. Dan Afriadi mengajaknya ke jenjang yang lebih serius.
Namun sayangnya mereka tidak berjodoh, tepatnya seminggu sebelum pernikahan. Naila sudah pergi terlebih dahulu meninggalkan Afriadi. Ia meninggal karena kecelakaan jatuh dari atas gedung apartemennya, sempat di bawa ke Rumah sakit namun naas nyawa Naila tak tertolong.
Hatinya kembali hancur, ia harus melepas lagi orang yang paling ia sayangi yang selalu ada di sampingnya saat ia susah dan senang, yang memberi warna dalam hidupnya.
Kini sudah pergi meninggalkan ia selamanya.
Hari-hari yang berwarna kembali buram, sifat Afriadi berubah menjadi pendiam dan pemurung. Sifatnya yang dulu ia kubur dalam-dalam sampai satu hari nanti akan ada yang mengembalikan sifatnya.
Itulah kejadian masa lalu Afriadi yang masih membekas di ingatannya, kajadian 5 tahun yang lalu yang menewaskan orang tuanya beserta keluarga besarnya dan kekasihnya.
"Mungkin agak susah untuk mengontrol dia karena ia masih labil, ingin bebas dan tahu ini itu ini itu. Jadi wajar saja, kau saja lagi yang paham dan bimbing dia. Aku sarankan kau jangan melepas ikatan kalian.
Apapun yang terjadi. Mungkin dialah wanita yang di kirim untukmu."
"Siapa juga yang mau munutuskan ikatan kami."
"Bukan begitu, Af. Mana tahu nanti ke depannya, kau kan gak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Mana tahu pelakor muncul macam Kina tu."
Afriadi berpikir iya tak iya juga kata Qilan, di balik kasus Latika masih belum di ketahui titik terangnya. Kenapa Kina melakukannya? Siapa yang menyuruhnya?
"Of of of..." Qilan meminta Afriadi berhenti, "Turunkan aku disini."
Qilan keluar dari mobil Afriadi, "Terimakasih sudah antarkan aku."
Jendela mobil Afriadi turun perlahan, melihatkan wajah Afriadi.
"Sama sama. Titip salam buat keluarga." Afriadi tersenyum.
Qilan meangguk, melambaikan tangan, "Hati-hati di jalan."
Setelah mengantar Qilan pulang.
Afriadi membawa Latika pulang.
Sesampainya di Rumah.
"Dek, bangun." Afriadi menepuk pelan pipi Latika, yang di tepuk tidak sadarkan diri lagi, tidur mati.
"Hah." Afriadi menghela nafas.
"Oke. Tak ada jalan lain." Ia mengacak pinggang, dan...
"Hup." Afriadi mengengkat Latika, membawanya masuk ke dalam Rumah.
Saat sampai di Kamar.
Afriadi sadar sesuatu, masalah wanita.
"Dek Dek Dek.. Bangun Dek." Afriadi membagunkan Latika dengan menepuk pelan pipinya.
"Em..." Latika membuka matanya, sayu-sayu menatap wajah Afriadi yang tidak jelas.
"Sudah sampai." Mata latika kedap kedip persis lampu desko.
"Adek tadi sudah ganti?"
"Ganti apa?" Suara Latika serak tidak jelas. Mencoba bangun dan duduk tegap.
"Itu Dek. Sudah lama tidak di ganti.
Nanti lecet. Ayo ganti dahulu."
"Em..." Latika tumbang lagi.
"Cepat," kata Afriadi menarik Latika memaksannya bangun, "Cepat Dek, ganti dulu."
"Iya." Latika berjalan sepoyongan menuju kamar mandi.
Afriadi menggeleng duduk di tempat tidur, ia masih kepikiran kata-kata Qilan.
Dan kejadian di masa lalu membuatnya mengantuk.
Tidak lama Latika kembali, ia mendapati Siaminya tertidur pulas di atas Tempat Tidur dengan jas yang belum di buka.
Sebentar Latika mengurus Suaminya sebelun kembali tidur.
Ia melepas Jas, Sepatu, Dasi, Jam, dan dompet Afriadi.
Lalu menyelimutinya, Latika merebahkan dirinya di samping Afriadi. Sebelum ia tertidur sempat mengelus kepala Suaminya raut wajah Afriadi tegang sekali, setidaknya menghilangkan ketegangan Afriadi. Apa dia memimpikan hal yang buruk?
***
Halo semua.
Maaf ya saya tak up selema beberapa minggu ini.
Author gak mood, dikacangi terus sama si doi.
//Gplak...
__ADS_1
Aduh, pakai curhat segala.
Ya, udah selamat baca semua.