Suamiku Guruku

Suamiku Guruku
KB


__ADS_3

"Yok Bang, pergi." Latika menarik lengan Afriadi menyuruhnya cepat.


Bik Ipah yang lagi membersihkan ruang keluarga, menahan tawa lihat Latika menarik suaminya yang lagi pakai celana.


"Sabar dulu Dek, Abang belum siap lagi pakai celana ni, jangan tarik tarik," kata Afriadi terjingkit jingkit sambil melompat dengan kaki sebelah mengenakan celana. Ia kesulitan memakai celana gara-gara tarik kan Latika.


"Ala, cepat Bang nanti Rumah Sakitnya tutup," kata Latika mendesak Afriadi untuk cepat pergi ke Rumah Sakit atau puskesmas.


"Iya, tunggu dulu selesaikan Abang pasang celana ni. Rumah Sakit juga gak akan tutup, buka 24 jam."


Mendengar itu Latika melepas cengkraman tangannya, menatapnya horor. Afriadi tak peduli dengan tatapan horor Latika, ia memasang celananya cepat ketika sadar Bik Ipah yang berada tak jauh dari mereka tengah ketawa pelan lihat Afriadi tak mengenakan sempurna celananya terlihat celana 'Katok' yang panjangnya sepaha itu, berwarna pink lagi.


Ya ya ya ya...


Itu kado ulang tahun Afriadi dari Latika


<( ̄︶ ̄)>


Gara-gara waktu itu Latika gak punya banyak waktu lagi ditambah panik akhirnya dia membeli celana 'Katok' itu lagian uangnya pas-pasan gak bawa uang lebih, padahal waktu itu teman bulenya mau minjami uang tapi Latika tolak.


Yang penting bagi Latika adalah hadiah itu tak perlu mahal yang penting terpakai dan ada manfaatnya.


"Abang sih cari celana lama pakai pilih-pilih segala lagi, jadinya lama. Yuk Bang cepat lah, keburu kabur dokternya," kata Latika memaksa Afriadi untuk cepat.


"Mau ke mana Non?" tanya Bik Ipah disela tawanya.


"Mau KB." Latika menjawab dengan riangnya.


Bik Ipah tertegun dengan jawaban Latika, ia menatap Afriadi dengan tatapan penuh kesenangan, seakan tatapan itu berkata padanya 'Anak'


Afriadi tak merespon ia keburu ditarik Latika.


1 yang lalu.

__ADS_1


Saat Afriadi menyetujui akan kemauan Latika yang ingin punya anak, walau ia agak sedikit khawatir dengannya takut Latika belum siap tapi semua kekhawatirannya seketika hilang saat Latika meyakinkannya.


"... Bang Adek, kita lewati semua bersama. Jika sama-sama kita menjalaninya InsaAllah semua akan baik-baik saja. Biarkan yang di atas membantu, kita ikuti saja alurnya... Selagi kita bersama semua akan terasa mudah," kata Latika.


Hem, Afriadi berbincang dengan Latika sebentar.


"Adek mau anak kita nanti seperti apa? Dia mau jadi orang apa? Sekolah di mana?..."


Waw, Afriadi bertanya seperti itu pada Latika. Latika bingung dengan Afriadi, kenapa harus membahas itu.


"Kenapa Abang tanya kan itu?" Latika balik tanya, "Itu urusannya nanti."


Alis Afriadi terangkat sebelah dengan ekspresi tidak setuju dengan Latika.


"Ini dia, kebanyakan orang tua di luar sana tidak memiliki rencana untuk menjadikan anaknya seperti apa di masa depan. Apakah anaknya mau seperti artis? Atau multi bahasa? Semua itu harus rencana dan kiat apa yang harus mereka lakukan agar agar anak mereka menjadi seperti yang mereka inginkan. Jika tidak ada itu, orang tua mengabaikan anaknya seterah itu anak mau jungkir balik, mau jadi apa itu anak? Bisa-bisa itu anak jadi brutal..." Afriadi menjelaskan panjang lebar mengenai rencana mau menjadikan anak seperti apa kelak.


"Adek mau anak kita seperti apa?" tanya afriadi dikala selesai menjelaskan.


Latika tersenyum, "Adek mau anak kita seperti ayahnya tahu ilmu agama, hapal Al-Qur'an dan hadits, berpengetahuan... Apa sama dengan Abang? Kalau saja iya, Adek ikut Abang saja, sebab Adek tahu Abang pasti sudah ada rencana yang matang soal mendidik anak kita,"


Afriadi tersenyum ternyata istrinya bisa membaca jalan pikirannya.


"Abang mau anak kita jadi anak yang Sholeh Sholehah berbakti kepada orang tua, sama seperti yang Adek sebut tadi... Kalau lah mau dapat anak seperti itu, perlukah mendidiknya dengan benar. Orang tua dan anak erat kaitannya jadi ada beberapa kebiasaan yang harus di ubah dan menambah kebiasaan yang baru..."


Latika cengengesan ia sadar dirinya masih banyak yang dirubah dari kebiasaan memotong pembicaraan dan lainnya, tapi sepertinya akan sulit untuk mengubah kebiasaan.


"Adek mau punya anak berapa?" tanya Afriadi.


"1 lusin." Latika menjawab riang. Ia tak tahu susahnya merawat anak.


Afriadi menghela nafas berat, menggeleng kepala, "Jalani aja dulu. Nanti baru tahu sudah atau senangnya."


"Yuk, ke Rumah Sakit," ajak Latika menarik tangan Afriadi, "KB."

__ADS_1


Latika serius sekali mau punya anak.


Afriadi meangkat alis sebelah, seperti ada yang salah. Ia ikut saja, tapi sebelum pergi ia mau pakai celana panjang dulu sebab dia pakai celana selutut cuman.


Akhirnya Latika nunggu beberapa menit, karena tidak sabaran Latika menarik paksa suaminya yang tengah mau pakai celana, berkibar kibar celana ketika menuruni anak.


Sari yang kebetulan lewat melotot lihat pemandangan yang luar biasa. Ia Afriadi hanya menggunakan celana 'Katok' warna pink yang ia dapatkan dari hadiah ulang tahun dan memegang celana hitam yang belum sempat terpakai olehnya.


Latika terburu-buru sekali ia takut Dokter kandungan pergi jika ia terlambat.


Yah, begitulah.


Sampai Bik Ipah yang lagi membersihkan ruang keluarga, menahan tawa lihat Latika menarik suaminya yang lagi pakai celana.


Sampai Afriadi sadar Bik Ipah melihatnya pakai celana 'Katok' pink cepat ia mengenakan celana itu.


Afriadi keburu ditarik lagi sama Latika ketika ia sudah selesai pakai celana.


Dan mereka pergi ke Rumah Sakit atau puskesmas.


***


Hem, jadi gini ya untuk pengumuman itu.


author mau bagi tahu kalau episode anak itu terkirim setengah dan yang pembaca awal-awal pasti merasa pendek


lah emang setengah, itu sebab author lupa kirim yang setengahnya.


jadinya episode 'anak!' itu author kirim ulang, jadinya tidak setengah lagi episode itu di perbaharui ulang. jadi pengumuman itu author rujuk kan untuk pembaca yang membacanya awal sebab itu Episode terpotong dan sekarang sudah di perbaharui. jadi silahkan baca.


sorry ya kemarin author ngantuk jadinya terkirim setengah cuman.


😁

__ADS_1


__ADS_2