
Kepala Latika tertunduk mengikuti Afriadi dari belakang.
Afriadi mengajaknya keruangannya menyuruhnya bekerja sedikit.
"Hah." Mulut Latika sedikit terbuka, melihat meja yang berserak dengan kertas-kertas, map, berkas dan lainnya.
Afriadi memintanya merapikan itu. Latika melirik Afriadi, yang di lirik menggaryuk kepalanya yang tak gatal, "Hem... Itu habis mencari sesuatu tadi."
Latika bergegas bekerja membersihkan di bantu Afriadi.
Hanya perlu waktu sebentar bagi mereka untuk merapikannya kembali.
Afriadi duduk di kursinya menatap Latika yang berdiri di hadapannya.
"Maaf," kata Latika menundukan kepalanya.
"Lain kali jangan mengkagetkan orang seperti itu.
Jika orang itu ada riwayat sakit jantung bagaiman?" Afriadi menasehati Latika.
Latika meangguk sambil bilang maaf.
"Hem..."
Afriadi berpikir, melihat sekeliling ruangannya, semua tertutup rapat tak ada celah. Kecuali itu cctv, cepat Afriadi mengetik komputernya meatur cctvnya di ruangannya. Sekarang kesempatan baginya, ia tersenyum melihat Latika penuh arti.
Perasaan Latika mulai tak enak,
"Boleh saya pergi sekarang?"
"Tunggu." Afriadi memarik tangan Latika. Latika kaget melepas tangan Afriadi dari tangannya.
Afriadi mengambil cemilan kue kering yang disediakan di Mejanya.
"Aaak..."
Kue kering itu sudah berada di depan bibir Latika. Latika engan membuka mulutnya membiarkan kue itu masuk ke mulutnya.
"Aaak... Buka mulutmu." Afriadi memaksa, Latika melangkah munudr, "Kau belum makan bukan? Setelah ini boleh pergi."
Mendengar itu Latika cepat membuka mulutnya biar cepat pergi.
Afriadi memasukan kue tersebut ke dalam mulut Latika.
"Enak," batin Latika meangguk meanjukan jempol.
Afriadi berdiri dari duduknya, Latika di suruhnya duduk, disorongnya kue kering tersebut.
Latika lupa ingin pergi secepatnya malah makan cemilan tersebut.
Afriadi duduk di meja tersenyum tipis.
"Di perhatikan, di beri perhatian," batinya berkata, memperhatikan Latika makan.
Tidak sangka kuenya malah habis dimakan Latika.
"Nih minum." Afriadi memberikan air minumnya pada Latika. Ia mengambil beberapa helai tisu, selesai Latika minum. Ia bergeser mendekat tangan kiri mengangkat dagu Latika, lalu tangan kanan membersihkan sisa remahan kue dan air di sekitar mulutnya.
"Lain kali jangan main kejut seperti itu."
Latika tersipu, mukanya memerah menatap mata Afriadi yang hangat.
"Kenapa?," tanya Afriadi.
"Separti Oppa," suaranya pelan.
"Siapa dulu yang memilihkan baju ini. U-"
Pujian Afriadi di potong bel Sekolah.
Teng... Tong...
"Ganggu saja lonceng ini," gerutu Afriadi.
"Cepat pergi Latika," batin Latika mendorongnya untuk cepat pergi dari sana.
"Ah... Bel sudah bunyi. Saya pergi dahulu."
Latika menjauhkan tangan Afriadi dari dirinya, bergegas keluar dari sana, berlari menuju Kelasnya.
"Pergi lagi." Afriadi kembali duduk, memainkan gelas bekas Latika, "Latika, apakah masih ada perasaanmu untukku sedikt saja? Jika kau menjauh terus aku akan semakin dekat denganmu."
Afriadi menghela nafas, mengetik komputernya mendekati cctv pura-pura meriksa apa ada kerusakan pada cctv.
Waktu berlalu dengan cepat.
Afriadi keluar dari kelas 12 IPS C perhatiannya teralihkan pada 2 insan di seberang kelas berduaan, Afriadi mengerutkan dahinya melihat dari kejauhan itu Latika di beri coklat sama Hadi pakai surat warna pink lagi di depan Kelas.
Latika menerimanya dengam senyuman yang merekah.
"Surat apa itu? Apa surat cinta lagi. Tidak kusangka kau seperti itu," batinya berkata.
Afriadi berbalik, menuju parkiran, menaiki motornya dan langsung pergi.
Jam 14:45 siang.
Latika sudah sampai di rumah.
Latika kira Afriadi ada di Rumah namun kenyataannya Afriadi tidak ada di Rumah.
Awan hitam mengelilingi angkasa menutupi cahaya matahari, kilat menyambar di atas sana, tidak lama hujan turun deras.
Afriadi kehujanan di jalan ia lupa membawa jas hujan, ia melaju dengan cepat tiba-tiba motornya melambat mati dengan senirinya kehabisan bengzin.
Tukang julan bengzin tidak ada di sekitar, terpaksa ia mendorong motornya mencari tempat untuk berteduh.
Sedangkan Latika di rumah sedang asik dengan Bu kost nonton Drakor.
Dalam filem, pemeran utama Pria kehujanan mendorong motornya.
__ADS_1
Mereka berdua sampai tak tega melihat itu.
Sekitar jam 17:55 sore.
Hujan sudah reda dan Afriadi sampai di rumah dengan mendorong motornya, ia tidak bisa beli bengzin karena tas pakai tinggal segala di kantor, di dalam tas ada dompet dan ponsel, jadi tidak bisa beli bengzin lagian ia tak jumpa toko yang jual begzin buka.
Latika tidak menyadari kalau Afriadi baru pulang ia di kamar main ponselnya.
Malamnya Afriadi mulai batuk-batuk dan flu ringan.
"Ini tadi ada yang antarkan katanya ketinggalan," kata Bu Kost menunjukkan tas kantor Afriadi, "Yang meantarkan namanya tak salah tadi Kodir."
"Oh... Taruh di Kamar saja."
Afriadi mengetik leptopnya di Ruang Santai.
Bu Kost pergi menjalankan perintah.
Tak lama ia kembali.
"Sudah saya letakan. Sekarang saya permisi pulang dulu."
"Em... Uhuk..." Afriadi meangguk terbatuk-batuk.
"Haduh... Jangan lupa minum obat, nanti semakin parah," kata Bu Kost sebelum pergi.
Seperti biasa Afriadi pergi ke Rumah Kina untuk mengajarinya, sebelum pergi Afriadi minum obat.
Jam 20:45 malam.
"Wah... Ceritanya bagus." Latika menutup leptop miliknya, melihat jam di dinding, "Em... Sudah jam segini. Apa dia sudah pulang? Hem..."
Apa kalian menyadarinya selama ini Latika dan Afriadi telah mengubah panggilannya dari Latika yang dulu memanggil dirinya Adek sekarang diganti saya, aku, dan panggilan nama. Latika yang dulu memanggil Afriadi Abang sekarang diganti kau, dia, dan kamu. Begitu juga Afriadi yang dulu memanggil dirinya saya, aku, dan panggilan nama. Afriadi yang dulu memanggil Latika Adek kini diubah kau, dia, kamu, dan panggilan nama.
Latika keluar dari kamarnya menuju pintu depan.
"Belum pulang juga."
"Hah..."
Latika kembali masuk, langkahnya terhenti melihat kolam renang, ia bediri di bibir kolam renang.
Melihat di dalam air bayang-bayang bintang di langit.
"Cantik."
"Malam ini bintang sangat indah."
Wusss...
Angin membelai lembut pipi yang kenyal tersebut.
"Huh... Dingin."
"Em... Latika apa jalan yang kau ambil benar?"
"Dengan menjauh bukanya dia semakin menjauh juga dan tidak perhatian lagi pada dirimu."
"Kina semakin dekat saja dengan dia."
"Apa kau akan membiarkan itu?"
"Hem... Aku bisa berbuat apa?
Ini semua demi dia."
Mata Latika berkaca-kaca. Ia bicara sendiri.
"Aku tidak tahu jalan yang aku ambil ini salah atau tidak, aku hanya tidak ingin dia... Aku tidak ingin..."
'Hiks..."
Latika kembali menangis lagi.
"Aku juga sebenarnya tidak ingin ia menjauh dariku, aku tidak ingin dia sering pergi ke sana, sungguh aku tidak ingin."
"Apa yang bisa aku perbuat.
Ya Allah berikanlah hamba kemudahan, kesabaran, ketabahan dalam melewati ini semua.
Ya Allah semoga jalan yang hamba ambil ini tidak salah.
Ya Allah tuhan yang maha memberi petunjuk. Berikanlah jalan ke luar kepada hamba dari ini semua. Hiks..."
Tiba-tiba...
Ada sesuatu yang melayang, mendarat di bahu Latika.
"Em..." Latika menoleh melihat bahu Kanannya. Seekor binatang bewarna coklat memainkan tanduknya, seakan ia tertawa licik penuh arti.
"Kyaaa..."
Latika menepis kecoa tersebut dari bahunya, langkahnya termundur sehingga...
Byuuurrr....
Latika terjatuh ke kolam.
Afriadi yang baru datang bicara sebentar dengan penjanga rumah sewaannya itu, mendengar suara teriakan Latika.
"Hah..."
Afriadi langsung berlari menuju sumbar teriakan tersebut, di ikuti oleh Satpam baru itu.
Betapa terkejut Afriadi melihat Latika berenang batu, tak tidak bisa berenang.
Langsung Afriadi melompat ke kolam.
Namun naas belum sempat Afriadi meraih tangannya, Latika sudah tengelam.
__ADS_1
Satpam celengak celengok melihat adegan mendebarkan.
Afriadi berusaha menangkap Latika dan membawanya ketepi kolam di sambut Satpam baru itu.
Ia keluar dari air memghampiri Latika, Satpam yang siap memberi pertolongan pertama keburu di cegah Afriadi. Ia tak mau Istrinya di sentuh orang lain.
Afriadi menekan-nekan dada Latika tepat di jantungnnya berharap Latika memuntahkan air.
Namun Latika tidak kunjung memuntahkan air.
Saran dari stapam itu untuk memberi napas buatan.
Tampa pikir panjang lagi tangannya menutup hidung Latika dan yang satu lagi menarik dagu sehingga mulutnya terbuka sedikit.
Tampa pikir dua kali Afriadi menempelkan bibirnya ke bibir Latika memberikan napas buatan.
Itu mata Satpam sudah bulat sempurna melihat adegan itu.
Afriadi melepaskan dan Latika memuntahkan air.
"Uhuk..."
Pandangannya raum melihat sekitar.
Afriadi menepuk-nepuk pelan pipi Latika, "Latika kau bisa dengar aku."
Suara Afriadi terdengar samar-samar, ia melihat wajah khawatir itu tergambar jelas.
"Uhuk..."
"Kenapa bisa terjatuh? Jangan main di kolam jika tidak bisa bernang.
Kalau tadi tidak ada orang di sini bagamana? Sudah tahu berbahaya..."
Afriadi memerahi Latika yang lemah.
Rasa khawatirnya pada Latika tidak bisa di sembunyikan. Itu Satpam memberanikan diri memberi nasehat agar Afriadi tidak memarahi Latika sekarang karena kondisinya.
Latika hanya diam omelan Afriadi tak terlalu jelas samar-samar ia masih lemas, menggigil kedinginan.
Afriadi mengendongnya membawanya masuk ke dalam.
Tangan Latika menggengam erat meniup-niup menghangatkan, merapat pada pelukan Afriadi yang hangat walau terasa basah.
Afriadi meantar Latika masuk ke Kamarnya.
Oh iya, tak lama mereka berdua sadar kalau itu merupakan kedua kalinya mereka kiss.
Afriadi masih bisa merasakan lembutnya bibir Latika.
***
Jam 05:55 pagi.
Tring...
Pesan masuk di ponsel Afriadi.
"Em..." Afriadi mengucak matanya, meraih ponsel di meja kecil sebelah tempat tidurnya.
Mata Afriadi langsung melek melihat pesan tersebut.
Bergegas ia keluar dari kamar berlari menuju Ruang Ramu, di lihatnya Latika mau membuka sebuah paket.
"Berhenti!!!"
Latika kaget di teriaki.
Afriadi mau merebut paket tersebut. Tapi, Latika tidak mau memberikan paket tersebut.
"Berikan," pinta Afriadi.
Latika menggeleng memeluk paket itu.
"Berikan." Afriadi memaksa mambil paket itu, Latika mempertahankannya.
Perebutan paket pun terjadi, saling tarik menarik.
"Berikan."
Latika menggeleng.
"Berikan Latika."
"Tidak mau."
Mereka persis bocah berebutan mainan tak mau mengalah satu sama lain.
Latika pura-pura terkejut melihat ke arah belakangn Afriadi.
Afriadi ikut kaget, tangannya terlepas, menoleh. Tidak ada apa-apa di belakangnya.
"Apa?" Tanda tanya memenuhi kepalanya.
Saat Afriadi menoleh, Ia kaget lihat Latika sudah tak ada di sana dia sudah kabur keluar membawa paket tersebut.
"Eh... Jangan bawa lari. Kembalikan."
Afriadi mengejar Latika dari belakang,
"Kembalikan."
"Tidak."
"Kembalikan."
"Tidak."
Mereka berkejar-kejaran di halaman rumah. Itu Satpam baru melihatkan saja tak ikut campur.
__ADS_1